RUZKA INDONESIA — Universitas Indonesia (UI) melalui Fakultas Teknik (FTUI) membuka Seminar Nasional dan Industri Exhibition bertajuk “Engineering Innovations for Sustainable Industry and Future Society” di Gedung K.301 IDE FTUI, pada Kamis (03/09/2026).
Seminar ini merupakan salah satu raagkaian peringatan Dies Natalis ke-62 FTUI, sekaligus menjadi momentum peresmian Indonesia-China Center for Education, Science, and Technology (ICCEST), yang diharapkan menjadi pusat kolaborasi akademik dan inovasi antara Indonesia dan Tiongkok.
Dekan FTUI, Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, S.T., M.Sc., Ph.D., menyampaikan bahwa seminar dan exhibition ini bukan hanya menjadi ruang untuk berbagi pengetahuan dan mempresentasikan hasil penelitian, tetapi juga untuk mempertemukan gagasan, membangun jejaring, dan membuka peluang kolaborasi baru.
“FTUI memiliki komitmen untuk terus memperkuat hubungan antara pendidikan, penelitian, inovasi, dan kebutuhan industri. Kami ingin memastikan bahwa penelitian yang dilakukan di perguruan tinggi tidak berhenti pada publikasi, inovasi tidak berhenti pada prototipe, dan teknologi tidak berhenti sebagai sebuah konsep,” ujar Prof. Kemas dalam siaran pers yang diterima, Senin (07/09/2026).
Pada kesempatan tersebut, FTUI juga meresmikan Indonesia-China Center for Education, Science and Technology (ICCEST). Pusat ini diharapkan menjadi platform yang menghubungkan akademisi, industri, dan pemerintah Indonesia dan Tiongkok.
ICCEST mengusung visi untuk menjadi gerbang akademik dan inovasi antara kedua negara, dengan misi menumbuhkan kepemimpinan rekayasa, memperkuat integrasi industri dan pendidikan, serta memperluas kerja sama teknologi dan inovasi secara berkelanjutan.
Apresiasi Konsistensi FTUI
Menanggapi peresmian tersebut, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D., mengapresiasi konsistensi FTUI dalam mencetak insinyur dan menghasilkan inovasi bagi Indonesia selama lebih dari enam dekade.
Ia menyambut baik kehadiran ICCEST dan berharap pusat ini menjadi wadah nyata bagi penguatan riset bersama, pertukaran talenta, serta transformasi teknologi antara Indonesia dan Tiongkok.
“Kerja sama internasional harus meninggalkan jejak kapasitas bagi Indonesia, mulai dari lahirnya talenta unggul, riset dan paten bersama, hingga inovasi yang dapat dimanfaatkan langsung oleh industri dan masyarakatz,” jelas Prof. Brian.
Acara kemudian dilanjutkan dengan Seminar Nasional yang menghadirkan tiga pembicara kunci dari unsur pemerintah, perguruan tinggi, dan industri. Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Fauzan Adziman, membuka sesi dengan mengangkat pentingnya membangun ekosistem inovasi berbasis talenta.
Berbekal pengalamannya mengembangkan perusahaan rintisan berbasis riset di Oxford University, ia memaparkan bagaimana talenta dan kemampuan mempercepat skala komersial menjadi kunci daya saing perusahaan teknologi mendalam (deep tech).
Investasi Riset dan Pengembangan di Indoensia
Ia juga mengingatkan bahwa investasi riset dan pengembangan di Indonesia masih perlu ditingkatkan untuk mendukung transformasi dari negara berpendapatan menengah atas menuju negara berpendapatan tinggi.
Penguatan ekosistem inovasi tersebut juga berkaitan erat dengan penyiapan sumber daya manusia. Wakil Rektor Bidang Akademik UI, Prof. Ir. Mahmud Sudibandriyo, M.Sc., Ph.D., dalam paparannya menekankan bahwa penyiapan sumber daya manusia teknik menjadi salah satu faktor penting menuju Indonesia Emas 2045.
“Kita harus memastikan bahwa lulusan kita memiliki kompetensi, karakter, dan kemampuan untuk memberikan dampak. Pada akhirnya, engineering harus dapat menjawab persoalan nyata dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” papar Prof. Mahmud.
Ia merumuskan tiga kompetensi yang perlu dimiliki insinyur masa depan, yakni kompetensi (competence), karakter (character), dan kemampuan menghasilkan dampak (impact).
Menurutnya, pengembangan talenta tersebut perlu didukung kolaborasi antara kampus, industri, pemerintah, masyarakat, dan lingkungan melalui pendekatan Quintuple Helix.
Gejolak Geopolitik Global
Persoalan penguasaan teknologi dan inovasi juga menjadi perhatian dari sisi industri. Direktur Teknologi Pengembangan dan Manajemen Risiko PT Pindad (Persero), Prima Kharisma I.Y., S.Si., M.Sc., Ph.D., memaparkan tantangan ketergantungan terhadap bahan baku impor, seperti propelan amunisi dan brass cup, yang harganya meningkat akibat gejolak geopolitik global.
Kondisi tersebut mendorong PT Pindad untuk mengembangkan bahan baku dalam negeri, termasuk melalui riset propelan berbasis tandan kosong kelapa sawit, sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian industri pertahanan nasional.
Seminar Nasional ini akan berlanjut hingga hari kedua, Jumat (04/09/2026) di Gedung K.301 IDE FTUI, dengan agenda diskusi lanjutan bersama para narasumber dan mitra industri.
Melalui Seminar Nasional ini, UI menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi antara pendidikan, riset, inovasi, dan kebutuhan industri, baik di tingkat nasional maupun internasional, sebagai bagian dari kontribusi nyata menyiapkan sumber daya manusia teknik unggul menuju Indonesia Emas 2045. (***)
Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com



Komentar