RUZKA INDONESIA — Komunitas Serambi Disertasi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) menyelenggarakan diskusi publik bertajuk โSungai ang Bermasalah, Ikan Sapu-sapu ang Disalahkanโ di Serambi Disertasi FIB UI, pada Jumat (22/05/2026) mulai pukul 17.00 WIB.
Diskusi ini mengangkat ironi pengelolaan sungai di Indonesia, di mana ikan sapu-sapu kerap diposisikan sebagai penyebab utama rusaknya ekosistem sungai.
Padahal, keberadaan spesies invasif tersebut justru menjadi indikator dari persoalan yang jauh lebih mendasar, seperti pencemaran air, hilangnya vegetasi riparian, sedimentasi, perubahan tata ruang, hingga lemahnya tata kelola daerah aliran sungai dan lingkungan perkotaan.
Melalui forum ini, sungai terpahami bukan hanya sebagai ruang ekologis, tetapi juga sebagai ruang sosial, budaya, ekonomi, dan politik yang mengalami tekanan akibat pembangunan yang tidak terkendali.
Dalam konteks tersebut, ikan sapu-sapu menjadi simbol bagaimana krisis ekologis sering kali tersederhanakan melalui pencarian โkambing hitamโ, sementara akar persoalan struktural justru terabaikan.
Pembuka acara dengan performance art oleh seniman teater Herdiaz Sihombing atau Mbeing yang mengilustrasikan gerakan-gerakan ikan sapu-sapu sebagai metafora makhluk yang tersudutkan dan kesalahan.
Pertunjukan ini teriringi pembacaan puisi yang merefleksikan relasi manusia dengan sungai, memori kota, dan kegelisahan ekologis masyarakat urban.
Pembicara Diskusi
Diskusi menghadirkan para pembicara dari lintas disiplin dan pengalaman lapangan, yaitu: Endra Saleh Atmawidjaja/Ketua Umum Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia.
Lalu, M. Mohamad Hasan/Letnan Jenderal TNI, Dankodiklatad sekaligus Pendiri Relawan Indonesia Pembela Alam.
Saat menjabat sebagai Danrem Bogor, terjun langsung dalam berbagai gerakan penyelamatan sungai, khususnya Sungai Ciliwung.
Forum ini juga menghadirkan Prof. Manneke Budiman sebagai penanggap sekaligus penyimpul diskusi.
Ketua Komunitas Serambi Disertasi FIB UI, Nanang Asfarinal, menyampaikan bahwa diskusi Jumatan kali ini ingin mengajak masyarakat melihat persoalan lingkungan secara lebih terbuka dan multidimensional.
โForum ini mengajak kita melihat persoalan dari beragam sudut pandang dan mengedepankan kajian untuk mendalami serta memahami persoalan sebelum mengambil tindakan yang sporadis. Melalui ruang intelektual ini, kita bertukar pikiran dengan kewarasan dalam berpikir untuk memahami kompleksitas persoalan sungai dan lingkungan,โ ujarnya.
Sebagai bagian dari simbolik acara, panitia akan menyajikan menu siomay dalam forum diskusi ini.
Pilihan tersebut menjadi bentuk refleksi sosial atas dampak isu ikan sapu-sapu terhadap para pedagang makanan berbasis ikan, khususnya pedagang siomay, yang sempat mengalami tekanan ekonomi dan stigma di tengah berkembangnya informasi yang tidak utuh di ruang publik.
Melalui simbol kuliner ini, penyelenggara ingin menunjukkan bahwa sebuah isu ekologis tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga menyentuh kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat kecil.
Dengan memadukan diskusi akademik, seni pertunjukan, refleksi publik, dan simbol budaya keseharian, harapannya forum menjadi ruang dialog yang lebih manusiawi, kritis, dan berkeadaban dalam membaca persoalan sungai dan krisis lingkungan di Indonesia. (***)
Sumber: Humas Komunitas Serambi Disertasi FIB UI
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com



Komentar