RUZKA INDONESIA — SMK Forward Nusantara (Fornus), Sukatani, Kecamatan Tapos, Kota Depok kembali membuat gebrakan dalam dunia pendidikan kejuruan.
Berbeda dengan sekolah pada umumnya yang kerap menggunakan sistem laporan kelompok, SMK Fornus mewajibkan setiap siswanya menempuh Sidang Praktik Kerja Industri (Prakerin) secara individu guna menjamin objektivitas dan kualitas lulusan.
Kepala SMK Forward Nusantara, Danan Wuryanto Pramono, menegaskan bahwa sistem ini dirancang agar setiap siswa benar-benar mempertanggungjawabkan pengalaman mereka selama 6 hingga 9 bulan di dunia industri.
Pramono, menjelaskan bahwa meski ada siswa yang magang di perusahaan yang sama, tema laporan yang diangkat wajib berbeda. Hal ini dilakukan untuk menggali pemahaman spesifik yang didapat masing-masing individu.
“Di tempat lain mungkin masih ada laporan kelompok, tapi di kami satu anak satu laporan. Kami ingin melihat sejauh mana pemahaman pribadi mereka,” ujar Pramono, Senin (04/05/26).
Tak main-main, setiap siswa harus berhadapan dengan panel penguji yang terdiri dari empat orang, meliputi Unsur Struktural Sekolah, Guru Produktif, Pihak Eksternal Industri/Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP).
Kehadiran penguji eksternal, seperti pakar kecantikan dr. Vanesa Kusumawardhani, Dipl. Cidesco, Dipl. Cibtac dan Desy Restiani, SS., Dipl. Cidesco, memastikan penilaian berjalan ketat sesuai standar industri global.
Tiga Senjata Utama Lulusan: Laporan, Wirausaha, dan LinkedIn. Selain laporan Prakerin, siswa SMK Fornus dibekali dengan dua kewajiban tambahan yang menjadi syarat mutlak kompetensi.
Proyek Kewirausahaan Siswa wajib menyusun rencana bisnis (business plan) yang matang, termasuk menghitung aspek finansial seperti BEP (Break Even Point) dan ROI (Return on Investment).
Portofolio Digital (LinkedIn) Sebagai rekam jejak selama tiga tahun, siswa wajib memiliki profil LinkedIn profesional yang dilengkapi minimal 10 sertifikat kompetensi.
“LinkedIn ini adalah ‘wajah’ mereka. Perusahaan bisa langsung memvalidasi kompetensi siswa tanpa perlu ragu, karena rekam jejaknya jelas dan tidak bisa dibuat mendadak,” tambah Pramono.
Kualitas pendidikan di SMK Fornus tidak hanya diakui secara lokal. Untuk jurusan Tata Kecantikan, standar yang digunakan mengacu pada Cidesco (standar internasional), sementara jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) menggandeng jejaring industri kreatif global.
Sertifikat Prakerin yang didapat siswa pun memiliki bobot tinggi karena ditandatangani langsung oleh pihak industri, menjadikannya modal kuat untuk langsung terserap di dunia kerja.
Bagi orang tua dan calon siswa yang mengincar pendidikan berkualitas ini, nampaknya harus bergerak cepat. Pramono mengungkapkan bahwa SMK Fornus menerapkan seleksi ketat dengan kuota hanya 25 siswa per jurusan.
“Saat ini, lebih dari 60% kuota telah terpenuhi. Seleksi itu penting jika kita ingin menjaga kualitas hasil didikan,” pungkasnya. (***)
Jurnalis: Dwi Retno Sari
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com




















Komentar