Kolom
Beranda ยป Berita ยป SMAN 1 Pontianak Tolak Tanding Ulang: Pelajaran Harga Diri yang Tidak Ada di Buku MPR RI

SMAN 1 Pontianak Tolak Tanding Ulang: Pelajaran Harga Diri yang Tidak Ada di Buku MPR RI

SMAN 1 Pontianak menyatakan sikap tegas, bermartabat, dan menjunjung sportivitas dalam polemik LCC 4 Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat. (Ilustrasi: Ai generated)

RUZKA INDONESIA โ€”  MPR RI rupanya menawarkan tanding ulang. Baca kalimat ini sekali lagi, perlahan. Biarkan ironinya meresap.

Institusi yang jurinya gagal mendengar jawaban benar seorang pelajar. Institusi yang MC-nya menutup protes sah dengan kalimat “itu cuma perasaan adek-adek saja.” Institusi yang baru bergerak setelah video viral tiga hari lamanya. Institusi itu kini datang membawa tawaran: mari kita ulangi lombanya. Seolah-olah tanding ulang adalah tombol undo yang bisa menghapus semua yang sudah terjadi.

Dan hari ini, Kamis, 14 Mei 2026, SMAN 1 Pontianak melalui akun Instagram resminya @ smansaptk.informasi, menjawab dengan dua kata yang paling bermartabat dalam polemik ini:

Tidak, terima kasih.

Ketika ‘Korban’ Menolak Belas Kasihan

Catatan Cak AT: Mata Digital Abad Ini

Pernyataan sikap Kepala SMAN 1 Pontianak, Indang Maryati, S.Sos., M.Si., adalah dokumen yang perlu dibaca lebih dari sekali. Bukan karena bahasanya berapi-api, justru sebaliknya. Bahasanya santun, terstruktur, dan berhati-hati. Tapi di balik ketenangan itu, ada satu pernyataan di poin keenam yang berbunyi seperti pukulan pelan namun tepat sasaran:

Pernyataan sikap resmi SMAN 1 Pontianak dalam polemik LCC 4 Pilar MPR RI 2026. Dengan sikap tenang dan tegas, sekolah memilih menjunjung sportivitas, klarifikasi, dan integritas di atas sekadar kemenangan.
(Sumber: akun Instagram resmi @ smansaptk.informasi)

“SMAN 1 Pontianak menyatakan tidak akan terlibat dalam pelaksanaan lomba cerdas cermat (LCC) yang diulang, sebagaimana informasi yang disampaikan oleh MPR RI.”

Mereka menolak tanding ulang. Bukan karena tidak mau menang. Bukan karena tidak percaya diri. Tapi karena mereka paham satu hal yang tampaknya luput dari perhitungan MPR RI: yang mereka butuhkan sejak awal bukan kesempatan kedua melainkan pengakuan bahwa kesempatan pertama mereka dirampas secara tidak adil.

Tanding ulang tidak memberikan itu. Tanding ulang hanya memberikan ilusi penyelesaian.

Apa yang Sebenarnya Diminta SMAN 1 Pontianak

Catatan Cak AT: Rumah Tanpa Tiang Kepercayaan

Baca poin keempat pernyataan sikap itu: “Sejak awal, SMAN 1 Pontianak tidak memiliki maksud untuk menganulir hasil lomba, melainkan semata-mata untuk memperoleh kejelasan melalui klarifikasi terhadap poin-poin yang dipersoalkan.”

Ini penting. Selama polemik ini bergulir, ada narasi yang coba dibangun bahwa Ocha (Josepha Alexandra) dan timnya sekadar tidak terima kalah. Bahwa protes itu adalah ekspresi kekalahan yang dikemas ulang menjadi soal prinsip.

Pernyataan ini membantah narasi itu dengan telak.

Yang diminta SMAN 1 Pontianak sejak menit pertama bukan piala. Bukan tiket nasional gratis. Yang mereka minta adalah klarifikasi penjelasan yang jujur tentang mengapa jawaban identik dinilai berbeda oleh juri yang sama. Itu bukan permintaan yang berlebihan. Itu permintaan yang sangat wajar dari peserta yang merasa diperlakukan tidak setara.

Dan permintaan sesederhana itu pun tidak dipenuhi di hari lomba. Baru dipenuhi sebagian setelah tiga hari viral.

Catatan Cak AT: Agama Sampah

Tentang Tawaran Tanding Ulang yang Salah Alamat

Saya ingin bertanya kepada siapa pun di MPR RI yang mencetuskan ide tanding ulang ini: apa yang sebenarnya ingin diselesaikan?

Kalau jawabannya adalah keadilan maka tanding ulang bukan solusinya. Keadilan yang sesungguhnya adalah mengakui bahwa pada lomba 9 Mei lalu, terjadi inkonsistensi penilaian yang merugikan satu tim secara nyata. Itu yang perlu diakui secara resmi, bukan sekadar permintaan maaf generik yang mengatakan “ada kelalaian dewan juri.”

Kalau jawabannya adalah citra maka ini lebih memprihatinkan lagi. Artinya tanding ulang bukan tentang Ocha. Tanding ulang adalah tentang MPR RI yang ingin terlihat sudah berbuat sesuatu. Ini namanya manajemen krisis, bukan penegakan keadilan. Dan SMAN 1 Pontianak, dengan menolak terlibat, secara efektif mengatakan: kami tidak mau jadi alat cuci muka kalian.

Saya tidak bisa tidak kagum dengan keputusan itu.

Poin Kelima yang Sering Dilewatkan

Di antara semua poin dalam pernyataan sikap SMAN 1 Pontianak, ada satu yang menurut saya paling mencerminkan karakter institusi ini: mereka secara eksplisit menyatakan dukungan penuh kepada SMAN 1 Sambas sebagai perwakilan Kalimantan Barat di tingkat nasional.

Berhenti sejenak di sini.

SMAN 1 Sambas adalah tim yang tidak bisa dipungkiri diuntungkan oleh inkonsistensi penilaian yang sama. Mereka mendapat nilai penuh atas jawaban yang identik dengan jawaban Ocha yang dinilai salah. Dalam situasi panas seperti ini, sangat mudah untuk menaruh amarah ke arah tim lawan.

SMAN 1 Pontianak tidak melakukan itu. Mereka memisahkan dengan jernih: masalah ini adalah masalah sistem penyelenggaraan bukan masalah dengan sesama peserta. SMAN 1 Sambas menang dalam kondisi yang ada, dan SMAN 1 Pontianak menghormati itu.

Kalau ini bukan demonstrasi nyata dari nilai Bhinneka Tunggal Ika dan sportivitas yang dikampanyekan oleh lomba ini sendiri, saya tidak tahu apa lagi yang bisa disebut demikian.

Bagi saya, poin kelima pernyataan SMAN 1 Pontianak adalah tampar paling pelan sekaligus paling sakit dalam seluruh polemik ini: mereka yang dizalimi, dengan lapang dada mendukung yang menang. Tidak ada lomba yang mengajarkan itu. Itu namanya karakter dan karakter tidak lahir dari soal pilihan ganda.

Kalimat Penutup Saya

Pernyataan sikap itu diakhiri dengan sebuah kalimat yang saya yakin akan diingat lama:

“Sampai Jumpa di LCC 4 Pilar MPR RI 2027.”

Baca itu sebagai apa adanya dan baca juga subteks yang ada di baliknya.

Di satu sisi, ini adalah pernyataan sportivitas. Kami tidak kapok. Kami tidak putus asa. Kami akan kembali. Di sisi lain, ini adalah peringatan halus yang sangat nyata: kami akan kembali, dan kami akan mengawasi apakah kalian sudah benar-benar memperbaiki sistem yang rusak itu.

Bukan ancaman. Tapi bukan juga basa-basi.

Untuk MPR RI: Ini Bukan Selesai

Saya mengakhiri tulisan ini dengan satu catatan untuk MPR RI bukan untuk menghakimi, tapi karena janji evaluasi yang disampaikan tidak boleh menguap begitu saja setelah sorotan publik mereda.

SMAN 1 Pontianak sudah menutup bab mereka dengan bermartabat. Mereka tidak menuntut piala. Tidak menuntut diskualifikasi lawan. Tidak bawa pengacara. Mereka cukup berdiri tegak, menyatakan sikap, lalu pergi dengan kepala tinggi sambil mengucapkan sampai jumpa tahun depan.

Sekarang bola ada di tangan MPR RI.

Evaluasi yang dijanjikan harus menghasilkan sesuatu yang konkret: mekanisme keberatan yang transparan, sistem verifikasi jawaban yang akuntabel, dan standar kompetensi juri yang tidak bisa dikompromikan. Bukan sekadar rotasi wajah baru dengan sistem lama yang sama.

Karena kalau tahun depan Ocha-Ocha baru datang ke lomba ini dan pulang membawa ketidakadilan yang sama, kali ini tanpa video yang kebetulan viral maka semua permintaan maaf, semua pernyataan evaluasi, dan semua tanding ulang yang ditolak ini tidak berarti apa-apa.

Dan SMAN 1 Pontianak sudah memperingatkan kita semua:

Mereka akan datang lagi tahun 2027. Mengawasi. Dan kali ini, seluruh Indonesia juga akan mengawasi bersama mereka. (***)

Penulis: Djoni Satria/ Kolumnis

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Berlaku Nasional, Polres Garut Imbau Masyarakat Manfaatkan Layanan Gratis Contact Center 110

05

Suzuki Carry Minivan 2026, Irit dengan Kegagahan dan Kenyamanan

06

Depok akan Bangun Pabrik Pengelolaan Sampah RDF di TPA Cipayung

07

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

Sorotan






Kolom