RUZKA INDONESIA — Lupus merupakan penyakit autoimun kronis yang hingga saat ini belum dapat tersembuhkan secara total.
Namun, dengan perkembangan terapi dan penanganan yang tepat, banyak penderita
lupus tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan baik dan memiliki kualitas hidup yang optimal.
Lupus terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuh sendiri sehingga menimbulkan peradangan pada berbagai organ tubuh.
Kondisi ini dapat memengaruhi kulit, sendi, ginjal, paru-paru, jantung, hingga otak.
Jenis lupus yang paling sering tertemukan adalah Systemic Lupus Erythematosus (SLE), yaitu jenis lupus yang dapat mengenai berbagai organ tubuh.
SLE lebih banyak dialami wanita usia produktif, tetapi juga dapat terjadi pada pria maupun anak-anak.
Selain itu, terdapat lupus kutaneus yang menyerang kulit dan lupus imbas obat yang dapat membaik setelah penghentian obat pemicu.
Karena gejalanya beragam dan sering menyerupai penyakit lain, lupus terkenal sebagai โpenyakit seribu wajahโ.
Gejala Berbeda
Gejala yang muncul pada setiap pasien dapat berbeda, seperti mudah lelah, nyeri sendi, ruam kulit, rambut rontok, sariawan yang tak kunjung sembuh terutama di atap rongga mulut, hingga demam berulang.
Saat ini belum ada penemuan terapi yang dapat menyembuhkan lupus.
Meski demikian, lupus dapat terkontrol melalui pengobatan rutin dan pemantauan berkala sehingga gejala dapat tertekan dan risiko komplikasi dapat terminimalkan.
Pada beberapa pasien, lupus juga dapat memasuki fase remisi, yaitu kondisi ketika gejala sangat ringan atau tidak muncul dalam periode tertentu.
Pengobatan lupus bertujuan untuk mengurangi peradangan, mengontrol gejala, mencegah kerusakan organ, dan membantu pasien tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari.
Dengan penanganan yang tepat, banyak penderita lupus tetap dapat bekerja, belajar, berolahraga, serta merencanakan kehamilan dengan pengawasan dokter.
Kekambuhan lupus atau flare dapat terpicu oleh beberapa faktor, seperti stres, kurang istirahat, paparan sinar matahari, infeksi, perubahan hormon, maupun ketidakpatuhan minum obat.
Jaga Pola Hidup Sehat
Oleh karena itu, penderita lupus dianjurkan menjaga pola hidup sehat dan rutin berkonsultasi dengan dokter.
Deteksi dini lupus juga penting agar penanganan dapat terlakukan lebih cepat dan tepat.
Beberapa gejala yang perlu terperhatikan antara lain nyeri sendi berkepanjangan, ruam kulit, kelelahan berlebihan, sariawan berulang, sesak napas, hingga bengkak pada kaki atau wajah.
Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) menyediakan layanan pemeriksaan dan penanganan penyakit autoimun.
Tentu hal itu dapat tertangani oleh dokter spesialis penyakit dalam konsultan reumatologi.
Layanan meliputi konsultasi penyakit autoimun dan reumatologi, pemeriksaan laboratorium penunjang lupus.
Lalu, monitoring kondisi pasien, edukasi pasien, serta pendampingan terapi sesuai kebutuhan pasien.
Melalui layanan yang terintegrasi, RSUI berkomitmen membantu pasien lupus mendapatkan diagnosis.
Kemudian dapat penanganan yang tepat agar tetap dapat menjalani aktivitas dengan optimal. (***)
Jurnalis: Risjadin Muhammad
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah@gmail.com



Komentar