RUZKA INDONESIA — Gelombang keresahan petani di Kabupaten Bogor memuncak. Sedikitnya ratusan petani yang berasal dari lima desa di Kecamatan Tanjungsari menggelar aksi unjuk rasa di halaman kantor Kecamatan Tanjungsari, pada Kamis (23/04/2026).
Para petani menuntut langkah nyata pemerintah atas rusaknya saluran irigasi Cikumpeni yang kini terkubur material longsor.
Tersumbatnya aliran air tersebut mengancam mata pencaharian utama warga di Desa Sirnarasa, Sirnasari, Tanjungsari, Pasirtanjung, dan Tanjungrasa.
Koordinator aksi, Syarif, mengungkapkan bahwa aksi turun ke jalan ini adalah jalan terakhir. Selama empat bulan, para petani telah mencoba menempuh jalur birokrasi, namun pengajuan perbaikan tak kunjung membuahkan hasil.
“Aksi ini bentuk keprihatinan kami. Saluran irigasi tertutup material dan longsor, air tidak mengalir maksimal ke sawah. Sudah empat bulan kami ajukan, tapi belum ada realisasi,” ujar Syarif.
Ia memperkirakan sekitar 600 hingga 700 petani kini berada di ambang krisis. Jika irigasi tidak segera diperbaiki, mereka terancam gagal tanam total karena pasokan air yang mati suri.
Dalam orasinya, para petani menyampaikan poin-poin krusial yang harus segera dibenahi oleh pemerintah, Perbaikan pintu irigasi dari hulu hingga hilir, Pembangunan Tembok Penahan Tanah (TPT) yang kokoh agar longsor tidak berulang, Penanganan segera pada tanggul-tanggul yang telah jebol, Pengerukan sedimentasi di bagian hulu bendung yang mengalami pendangkalan parah.
Tak tanggung-tanggung, para petani meminta perhatian langsung dari pimpinan tertinggi di Jawa Barat dan Kabupaten Bogor. Syarif mendesak Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi, untuk meninjau langsung lokasi longsoran.
“Kami minta Pak Dedi Mulyadi turun langsung. Ini bukan sekadar soal irigasi, tapi soal perut masyarakat, sumber kehidupan petani di lima desa,” tegasnya.
Senada dengan hal tersebut, massa juga mendesak Bupati Bogor, Rudy Susmanto, agar menginstruksikan dinas terkait untuk membangun infrastruktur yang permanen dan berkualitas, bukan sekadar perbaikan “asal-asalan” yang mudah rusak kembali.
Meski aksi berlangsung tertib di bawah pengawalan ketat aparat, para petani memberikan peringatan keras. Jika dalam waktu dekat tidak ada langkah konkret atau alat berat yang diturunkan ke lokasi, mereka mengancam akan kembali melakukan unjuk rasa dengan massa yang jauh lebih besar.
Kini, nasib ratusan hektare sawah di Tanjungsari bergantung pada seberapa cepat respons pemerintah dalam menyelamatkan jantung kehidupan para petani ini. (***)
Jurnalis: Dwi Retno Sari
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com






Komentar