Menulis adalah Ekspresi Diri, Penyembuh Trauma Psikologis

RUZKA-REPUBLIKA NETWORK -- Di dunia ini banyak pekerjaan yang menyenangkan dan mampu membuat seseorang bahagia. Namun bagi saya ada pekerjaan lain yang mengasyikkan, yaitu menulis.
Menulis dalam hal ini memiliki pengertian yang lebih spesifik, yaitu menulis karya sastra seperti cerita pendek, puisi, novel, esai, artikel, penulisan jurnalistik juga biografi dengan tetap berpatokan pada kaidah-kaidah yang dicanangkan oleh pemerintah yaitu memakai aturan Tata Bahasa dan Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan.
Menulis karya sastra khususnya, bagi saya juga merupakan sebuah proses dari pengerahan segala macam persoalan yang ada di benak yang didapat melalui pengamatan sekitar, kehidupan sosial, intuisi kreatif serta kepiawaian di dalam merangkai kata-kata yang dipelajari serta latihan selama berpuluh-puluh tahun.
Dan tentang pertanyaan mengapa saya menulis, saya kerap terpesona akan kata yang diucapkan oleh seorang filsuf yang bernama Albert Camus, yaitu tentang absurditas.
Baca juga: Catatan Cak AT: Polisi Awasi Jurnalis Asing
Sekilas informasi tentang beliau, Albert Camus adalah sastrawan penerima hadiah Nobel di bidang sastra, ia lahir di Aljazair tepatnya di kota Mondoci pada 7 November 1913.
Ia diakui sebagai penulis eksistensialisme namun kemudian lebih dikenal sebagai penulis dengan jargon absurdisme. Tulisan-tulisannya memiliki minat kuat tentang etika, kemanusiaan, keadilan, cinta dan politik.
Camus kemudian pindah dan melanjutkan studinya ke Prancis, di sana ia bersabat dengan filsuf Jean Paul Sastre seorang sastrawan eksistensialis dan tokoh feminis Simone de Beauvoir.
Bagian pendapatnya tentang absurditas membuat semangat saya untuk terus menulis terus terpelihara.
Absurditas itu sendiri menurut Camus berkaitan erat dengan kehidupan manusia, di satu sisi manusia hidup mengarah atau menuju pada masa depan, sementara di sisi lain masa depan itu makin mendekatkan manusia pada kematian.
Baca juga: Catatan Cak AT: Merebus Air, Mengusir Mikroplastik
Biasanya, untuk menghadapi absurditas, manusia kerapkali berlari atau melarikan diri atau bersalto dengan menenggelamkan diri pada pelukan agama, ideologi tertentu atau melakukan bunuh diri.
Mengapa manusia melakukan hal itu semua? Sebab terkadang di kehidupan ini manusia kerapkali mengalami penolakan.
Hingga akhirnya di dalam menghadapi kehidupan, mereka mencari solusi dengan melakukan revolusi dan saat menghadapi hidup, tak perlu takut pada bahaya kematian yang bisa datang setiap saat tanpa diketahui oleh manusia itu sendiri.
Ungkapan Albert Camus tentang absurditas ini tertulis di dalam sebuah buku yang berjudul Le Mythe de Sisyphe yang terbit tahun 1942.
Kalimat yang tertulis ‘hanya ada satu masalah filosofis yang sangat serius dan itu adalah bunuh diri’ menjadi sangat terkenal di masanya.
Baca juga: Usai Libur Lebaran 2025, Ini Sanksi ASN yang Tidak Masuk Kerja
Berangkat dari narasi yang ditulis oleh Albert Camus, saya mulai merenungi bahwa hidup ini sesungguhnya absurd dan absurditas itu harus diperangi dengan bersalto di dalam kita menghadapi kehidupan yang keras dan penuh persaingan ini.
Perjalanan hidup yang dilalui tiap manusia dengan segala pernak-perniknya sejak usia mereka kanak-kanak hingga dewasa, akan menjadi sebuah catatan penting yang sayang sekali apabila semua itu berlalu dengan begitu saja.
Maka seperti yang sudah saya tuliskan, saya mulai menarasikannya ke dalam beragam bentuk tulisan, mulai dari cerita pendek, artikel, novel hingga menuliskan biografi seseorang.
Perjalanan karier sebagai penulis ini saya akui erat kaitannya dengan factor genetik yang berasal dari ayah saya Gerson Poyk, seorang sastrawan peraih penghargaan sebagai Maestro Seni dan Budaya asal Nusa Tenggara Timur.
Menulis kemudian berlanjut hingga saya dewasa, menikah, menjadi jurnalis dan pekerjaan lainnya. Perjalanan karier kepenulisan saya ini berlangsung hingga sekarang, hal itu sudah berjalan sekitar 55 tahun.
Tentunya dengan menulis saya memperoleh beragam penghargaan dan pemasukan finansial yang disesuaikan dengan beragam proyek kepenulisan yang saya dapatkan.
Baca juga: Libur Lebaran di Kota Religius, Mares Depok Dipadati Pengunjung, Antri Seperti 'Beli Daging' Dipasar
Saya bahagia sekaligus gembira dengan hal itu. Namun, seperti idealisme awal mengapa saya menulis; bahwa melalui menulis segala hal tentang peristiwa di bumi bisa saya gambarkan melalui kata-kata.
Secara psikologis menulis juga mampu menyeimbangkan emosional, karakter dan beragam masalah kejiwaan lainnya yang ada di diri sendiri.
Manfaat dari menulis bila ditinjau dari sisi kejiwaan ini banyak, di antaranya memungkinkan seseorang untuk melepaskan emosi yang terpendam dan mengekspresikan diri mereka pada kata-kata.
Menulis mampu membuat seseorang memperoleh wawasan tentang nilai-nilai kehidupan serta menjadi barometer di dalam mengambil sikap untuk menceritakan segala hal yang terjadi bersama nilai-nilai kehidupan dengan pemikiran yang netral tanpa menghakimi.
Menulis juga bisa menjadi kontrol terhadap emosi si penulis itu sendiri, menghilangkan trauma dari pengalaman-pengalaman yang traumatis dan menjadi tempat untuk berdamai dengan diri sendiri.
Dengan menulis, seseorang diyakini akan memiliki kekuatan untuk menyembuhkan, mengubah dan memberdayakan kemampuan intelektualitas dan berpikir serta menuangkannya melalui kata-kata.
Filsuf beraliran rasionalisme Rene Descartes menuliskan ‘Cogito Ergo Sum’ yang artinya aku berpikir maka aku ada, menyiratkan bahwa dengan berpikir lalu dari hasil pemikirannya itu dituangkan ke dalam tulisan, maka orang tersebut akan eksis, terlebih lagi bila karya orang tersebut dipublish lalu dibaca banyak orang.
Dan, pada akhirnya, kalimat mengapa aku menulis, tak sekedar kalimat kosong tanpa makna, namun dia telah menjadi perjalanan transformasi dari kisah kehidupan manusia di bumi ini.
Selamat menulis.
Baca juga: Dipandang Inferior, Indonesia Perlu Galang Dunia Lawan Kebijakan Tarif Resiprokal AS
Biodata Fanny J Poyk
Fanny memulai karir menulis sebagai penulis cerita anak, remaja di berbagai majalah dan suratkabar sejak tahun 73-an.
Juga menulis biografi dan memberikan pelatihan menulis di berbagai provinsi di Indonesia dan luar negeri.
Beberapa novel, buku motivasi, buku profil wilayah, antologi cerpen dan puisi telah diterbitkan secara mayor maupun independen.
Puisi Fanny pernah dimuat di Suratkabar Sinar Harapan, Media Indonesia dll. Cerpen-cerpennya pernah dimuat harian Suara Pembaruan, Suara Karya, Sinar Harapan, Pikiran Rakyat, Kompas, Jawa Pos, Singgalang, Bali Pos, Timor Ekspres, Jurna Nasional dan berbagai majalah.
Salah satu cerpennya terpilih sebagai cerpen pilihan Kompas 2016, masuk dalam 10 besar lomba cerpen Koran Media Indonesia, dan sepuluh besar lomba cerpen Koran Ekspres Sabah, Malaysia. Fanny kini tinggal di Depok, Jawa Barat. (***)
Penulis : Fanny J Poyk