RUZKA INDONESIA โ PERINGATAN Maulid Nabi Muhammad SAW dan momentum kemerdekaan menjadi ruang refleksi bagi ulama dan umat Islam di Kota Depok. Melalui Multaqo Maulid 1448 H, Majelis Arriayah Kota Depok mengajak umat tidak berhenti pada kecintaan kepada Rasulullah SAW secara lisan, tetapi menerjemahkannya dalam ketaatan dan upaya menghadirkan Islam dalam kehidupan.
Multaqo yang digelar di Majelis Arriayah, Cagar Alam, Kota Depok, Rabu (02/09/2026) tersebut mengangkat tema “Maulid Nabi dan Hari Kemerdekaan: Meneladani Nabi SAW, Mengemban Risalah Ilahi, Songsong Masa Depan Cerah dengan Islam.โ Sejumlah ulama dan tokoh masyarakat hadir menyampaikan pandangan tentang kecintaan kepada Rasulullah SAW, kontribusi umat Islam bagi negeri, serta arah masa depan Indonesia.
Acara berlangsung khidmat dalam suasana penuh kebersamaan. Rangkaian kegiatan diawali dengan salat Magrib berjemaah, dilanjutkan dengan pembacaan surah Yasin, dzikir, dan tahlil, serta doa untuk arwah para ahli kubur yang dipimpin oleh Ustadz Dedi Soleh.
Setelah salat Isya berjemaah, suasana semakin semarak dengan pembacaan Maulid Nabi oleh tim hadrah sekitar pukul 20.00 WIB. Lantunan solawat dan pujian kepada Rasulullah SAW mengiringi jemaah dalam suasana penuh penghormatan dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qurโan oleh Ustadz Budi. Acara berlangsung dalam rangkaian Multaqo yang menghadirkan sejumlah ulama dan tokoh sebagai pengisi acara.
Rois Multaqo, Ustadz Fikri Albatawi, membuka rangkaian acara yang dilanjutkan dengan sambutan Khodim Majelis Arriayah Ustadz Daud Sulaiman. Dirangkai sambutan sohibul hajat disampaikan oleh Ustadz Yusuf, kemudian dilanjutkan dengan keynote speech oleh Ustadz Ujang Furqon, S.Pd.
Salah satu agenda utama acara adalah Kalimah Minal Ulama, yang menghadirkan sejumlah ulama dengan pesan yang beragam, tetapi berpijak pada satu semangat: menjadikan kecintaan kepada Rasulullah SAW sebagai landasan kehidupan umat sekaligus menghidupkan kembali perjuangan menegakkan syariah Islam secara kaffah.
KH Hifzillah menyampaikan pentingnya membuktikan kecintaan kepada Rasulullah SAW melalui ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Menurutnya, kecintaan kepada Nabi tidak berhenti pada ungkapan dan perayaan, tetapi harus tercermin dalam sikap, ketaatan, serta kesediaan umat memperjuangkan seluruh tuntunan yang dibawa Rasulullah SAW.
Sementara itu, Kyai Asep menyoroti besarnya jasa umat Islam dalam perjalanan negeri ini. Ia menegaskan bahwa umat Islam memiliki kontribusi besar, baik pada masa lampau maupun dalam kehidupan bangsa saat ini.
โJasa umat Islam sangat besar terhadap negeri ini, baik pada masa lampau maupun saat ini,โ menjadi salah satu pesan Kyai Asep yang mengemuka dalam pertemuan tersebut.
Ia menegaskan bahwa Indonesia merupakan negeri yang memiliki akar kuat dalam kehidupan umat Islam. Karena itu, menurutnya, kecintaan umat Islam terhadap negeri harus diwujudkan dengan menghadirkan solusi Islam bagi berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, bukan sekadar mempertahankan sistem yang terus melahirkan masalah.
Dalam pandangannya, para ulama memiliki tanggung jawab untuk terus menyerukan solusi yang tuntas dengan Islam, termasuk membangun kesadaran umat tentang pentingnya persatuan politik umat dan perjuangan menegakkan Khilafah sebagai institusi yang menerapkan syariah secara menyeluruh.
Sementara KH Dr Ahmad Nawawi, MA, mengangkat tema mengenai sikap ulama dan umat Islam dalam menghadapi kondisi saat ini. Ia menekankan pentingnya peran ulama dan umat dalam mewujudkan penerapan syariah Islam secara kaffah sebagai salah satu bentuk kecintaan terhadap negeri.
Menurutnya, penerapan syariah secara menyeluruh membutuhkan perjuangan yang terarah serta kesungguhan untuk menegakkan Khilafah.
Pesan reflektif juga disampaikan Ustadz Zulfikar Fahmi. Menurutnya, momentum kemerdekaan merupakan kesempatan yang baik bagi umat untuk melakukan muhasabah, mengevaluasi perjalanan yang telah dilalui, sekaligus memikirkan arah masa depan negeri.
โMomentum kemerdekaan adalah momentum yang sangat bagus untuk muhasabah dan bagaimana kita menatap masa depan negeri ini,โ tandas Ustadz Zulfikar Fahmi.
Di tengah rangkaian acara, jemaah juga diajak memperbarui kecintaan kepada Rasulullah SAW melalui pembacaan solawat yang dipimpin Ustadz Jaka Gluduk. Suasana majelis semakin semarak dengan lantunan solawat yang diikuti oleh jemaah.
Pada sesi berikutnya, KH Farhan Suchail menyampaikan pandangan mengenai masa depan Indonesia. Ia menegaskan optimisme bahwa Indonesia dapat menatap masa depan yang gemilang dan mewujudkan generasi emas melalui penerapan syariah Islam secara kaffah dalam bingkai Khilafah.
Ia juga menekankan bahwa cita-cita tersebut menuntut perjuangan umat yang konsisten, terorganisasi, dan berlandaskan dakwah Rasulullah SAW.
Sebelum doa penutup, acara dilanjutkan dengan pembacaan pernyataan sikap yang disampaikan oleh KH Andi Hasyim. Pernyataan tersebut menegaskan komitmen ulama dan umat Islam untuk terus meneladani Rasulullah SAW, mengemban risalah Islam, menatap masa depan negeri dengan Islam, serta seruan memperjuangkan penerapan syariah Islam secara kaffah dalam bingkai Khilafah.
Rangkaian Multaqo Maulid 1448 H kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin KH Sayuti dan dilanjutkan dengan ramah tamah.
Pertemuan tersebut tidak hanya menjadi momentum untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi ruang bagi ulama dan umat untuk melakukan refleksi. Kecintaan kepada Rasulullah SAW, kontribusi umat Islam bagi negeri, muhasabah atas kondisi bangsa, serta seruan untuk memperjuangkan penerapan syariah Islam secara kaffah dalam bingkai Khilafah menjadi benang merah yang mewarnai pertemuan.
Dalam suasana penuh keakraban dan kebersamaan, Multaqo Maulid 1448 H di Majelis Arriayah Kota Depok menjadi pengingat bahwa peringatan Maulid Nabi bukan sekadar mengenang sejarah kelahiran Rasulullah SAW, melainkan juga momentum untuk kembali meneguhkan komitmen meneladani kehidupan beliau, mengemban risalah yang dibawanya, dan melanjutkan perjuangan penerapan Islam secara kaffah melalui jalan menegakkan Khilafah sebagai solusi untuk negeri. (***/DW]
Editor: Ao S Dwiyantho Putra
Email: aodwiyantho@gmail.com



Komentar