RUZKA INDONESIA — Penari Indonesiana Ayuningtyas mempresentasikan sebuah tarian Sunda bernama Tari Ratu Graeni dalam acara Majelis Nyala Purnama dengan tema โJadilah Pemenang, Bukan Penaklukโ, di Makara Art Center Universitas Indonesia, Selasa 7 April 2026.
Pada acara yang diselenggarakan oleh Komoenitas Makara bersama Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia, sekitar 50an hadirin menyimak serius tarian yang dibawakan oleh penari Indonesiana, atau biasa dipanggil Nesia, siswi kelas 8 SMP Negeri 2 Depok.
Tari Ratu Graeni merupakan salah satu repertoar tari kreasi Sunda yang sangat ikonik yang diciptakan oleh Raden Tjetje Somantri pada tahun 1949.
Tari Ratu Graeni menceritakan tentang Ratu Graeni dari Kerajaan Medang Kamulan yang sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi musuhnya, Prabu Gandawikalpa, yang akan menginvasi negerinya.
Gerakan Tari Ratu Graeni merupakan perpaduan antara kelembutan putri Sunda dengan ketangkasan seorang prajurit.
Melalui gerakannya, tarian ini menunjukkan sisi kebijaksanaan, kewibawaan, dan kemahiran sang Ratu dalam olah keprajuritan. Meskipun ia seorang perempuan, ia memiliki semangat pantang menyerah dan tanggung jawab besar sebagai pemimpin kerajaan.
Dalam tari Ratu Graeni terdapat beberapa ragam gerak utama: Calik Ningkat yaitu Posisi duduk dengan satu kaki terangkat sedikit yang menunjukkan kesiagaan; Sembahan yaitu Gerakan hormat yang dilakukan di awal atau akhir tarian; Ngolah Keris yaitu Gerakan inti di mana penari memainkan sebilah keris dengan lincah, menggambarkan teknik bela diri; Cingeus yaitu Gerakan kepala dan badan yang gesit dan antusias dalam menghadapi tantangan.
Setiap gerakan melambangkan bahwa wanita juga memiliki ketangguhan, jiwa patriotisme, dan kemandirian yang sejajar dengan pria dalam menghadapi persoalan hidup.
Sejumlah tokoh hadir sekaligus menyaksikan pertunjukan ini antara lain Direktur Kebudayaan Universitas Indonesia Dr. Ngatawi Al Zastrouw, Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia Dr. Untung Yuwono, Wakil Dekan 2 FIB UI Dr. Lily Tjahjandari, Pendiri Urban Spiritual Indonesia Dr. Turita Indah Setyani, Pakar Geopolitik Hendrajit, dan Akademisi dari Nahdlatul Ulama Dr. Ali M. Abdillah, MA. (***)
Sumber: Humas Komoenitas Makara
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com


Komentar