Galeri
Beranda ยป Berita ยป Film Pesta Babi: Pekik Perlawanan Akrivis Banten

Film Pesta Babi: Pekik Perlawanan Akrivis Banten

Pemutaran film Pesta Babi di Padepokan Bumi Alit Padjadjaran, Cikeusal, Serang, Banten. (Foto: Dok RUZKA INDONESIA)

RUZKAINDONESIA.ID, SERANG — Saat gelombang represi terhadap pemutaran film dokumenter berbagai daerah, Padepokan Bumi Alit Padjadjaran, Cikeusal, Serang.

Tempat tersebut menjadi titik temu perlawanan intelektual dan aktivisme.

Para aktivis Banten berkonsolidasi untuk menyoroti potret buram proyek strategis nasional tanah Papua. Ini sebagai bentuk kolonialisme modern.

Pengasuh Padepokan Bumi Alit Padjadjaran, Abah Elang Mangkubumi, melontarkan kritik terhadap arah pembangunan pemerintah.

Menurutnya, arahnya yang semakin menjauh dari nilai-nilai kemanusiaan dan pelestarian ekosistem.

Sekretaris Watimpres RI Muhammad Qodari Pastikan Hadir di Gelaran Harmoni Angklung PWI Depok

Jerit di Balik Proyek Ketahanan Pangan Film dokumenter bertajuk “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” menjadi pemantik diskusi.

Film ini memotret nestapa suku-suku asli Papuaโ€”Marind, Yei, Awyu, dan Muyuโ€”yang ruang hidupnya terhimpit oleh eksploitasi lahan berskala besar.

“Film ini bukan hiburan. Ini adalah jerit masyarakat adat Papua yang tanahnya tergilas atas nama ketahanan pangan dan transisi energi,” ujar Abah Elang dalam wawancara eksklusif, Selasa (12/05/2026).

Kekhawatiran atas Rencana Konversi

Data yang terungkap dalam diskusi tersebut menunjukkan kekhawatiran atas rencana konversi 2,5 juta hektar hutan Papua menjadi perkebunan sawit dan tebu.

Abah Elang mempertanyakan fundamental dari proyek tersebut: “Pembangunan ini sebenarnya untuk siapa?”

Kolaborasi Winky, Afgan dan Maxime Hasilkan Single Dengan Sound Funk-Dance Berjudul AURA

Empat Poin Gugatan untuk Penguasa
Dalam pernyataannya, Abah Elang menyampaikan empat poin krusial yang ditujukan langsung kepada Presiden dan jajaran kabinetnya:

  1. Paru-Paru Dunia Bukan Aset Dagang: Hutan Papua bukan sekadar komoditas. Merusaknya berarti mengundang bencana iklim global yang dampaknya akan terasakan hingga anak cucu di masa depan.
  2. Masyarakat Adat adalah Penjaga, Bukan Penghambat: Masyarakat adat telah menjaga ekosistem ribuan tahun sebelum Republik ini berdiri. Menstempel mereka sebagai penghambat pembangunan adalah kekeliruan sejarah yang fatal.
  3. Pembangunan vs Perampasan: Tanah adat memiliki nyawa dan identitas. Mengambilnya tanpa restu masyarakat lokal bukan lagi disebut pembangunan, melainkan perampasan hak hidup.
  4. Kebenaran yang Tak Bisa Dibubarkan: Menanggapi maraknya pembubaran acara serupa di Ternate hingga Mataram, Abah Elang menegaskan bahwa represi justru memvalidasi kebenaran isi film tersebut. “Kalian bisa membubarkan nobar, tapi tidak bisa membubarkan kebenaran,” tegasnya.

Pesan Moral untuk Pemimpin

Menutup pernyataannya dengan nada yang dalam dan filosofis, tokoh kharismatik Banten ini mengingatkan bahwa kedaulatan sebuah negara terukur dari caranya memperlakukan alam.

“Jaga tanah ini bukan karena tekanan dunia, tapi karena tanah ini adalah ibu kita. Seorang pemimpin yang baik tidak akan pernah menjual ibunya,” pungkas Abah Elang.

Konsolidasi aktivis Banten ini terprediksi akan terus berlanjut sebagai bagian dari solidaritas nasional menolak perampasan ruang hidup masyarakat adat di seluruh penjuru nusantara. (***)

Jurnalis: Egi
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com

Bawakan Karya Sunan Kalijaga dan Sultan Agung, Swara SeadaNya Hadirkan Bunyi Nusantara di Tengah Parade Band

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

05

Galeri Indonesia Kaya, Gelar Konser Kidung Natal Indonesia, Semangat Inklusivitas Berjalan Beriringan dalam Harmoni Musik Keroncong

06

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Primaya Hospital Bekasi Barat Luncurkan Wellness Center

07

Komunitas Bakul Budaya Meriahkan Pembukaan Pameran Arsip Bagong Kussudiardja

Sorotan



Yogi Kurniawan, dari Suporter Jadi CEO Klub




Kolom