Nasional
Beranda ยป Berita ยป Jamiluddin Ritonga: Tak Perlu Ubah Gaya Pidato, Prabowo Cukup Sesuaikan Karakteristik Audiens

Jamiluddin Ritonga: Tak Perlu Ubah Gaya Pidato, Prabowo Cukup Sesuaikan Karakteristik Audiens

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan sambutannya saat meresmikan pembangunan lima bendungan yang tersebar di sejumlah wilayah di Indonesia, di Bendungan Meninting, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Jumat, 10 Juli 2026. (Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr/Dok RUZKA INDONESIA)
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan sambutannya saat meresmikan pembangunan lima bendungan yang tersebar di sejumlah wilayah di Indonesia, di Bendungan Meninting, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Jumat, 10 Juli 2026. (Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr/Dok RUZKA INDONESIA)

RUZKA INDONESIA โ€“ Saat meresmikan lima bendungan di Lombok Barat, NTB, Jumat (10/07/2026), Presiden Prabowo Subianto mengaku tidak lagi bisa berbicara secara sembarangan setiap kali menyampaikan pidato di hadapan wartawan.

Hal senada juga disampaikan Prabowo saat menghadiri Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo pada 24 Juni 2026. Prabowo mengaku harus mengatur gaya berbicaranya ketika banyak wartawan meliput karena khawatir bagian pidato yang bernada keras justru menjadi perhatian.

Menurut Pengamat Komunikasi Pokituk Universitas Esa Unggul Jakarta M Jamiluddin Ritonga, gaya pidato Presiden Prabowo Subianto memang cenderung asertif, populis, spontan, dan kerap meledak-ledak.

“Disebut asertif, karena Prabowo saat berpidato selalu menunjukkan sikap tegas dalam menyampaikan pendapat. Sikap demikian wajar saja karena Prabowo lama di dunia militer. Pengalaman Prabowo di militer tampaknya membuat pidatonya menjadi sangat lugas, tanpa tedeng aling-aling. Prabowo juga sangat percaya diri dalam mengungkapkan pikiran, perasaannya secara langsung dan jelas,” ungkap pengamat yang biasa disapa Jamil ini, Jumat (10/07/2026) petang.

Menurut Jamil, dalam pidatonya Prabowo kerap memadukan ketegasan militer dengan pendekatan yang komunikatif, direct, dan kadangkala diselingi humor. Tujuannya tampaknya untuk membangun kedekatan emosional dengan audiens.

Lewat Pengawalan Komisi III DPRD, Proyek Jembatan Cijurey Rp19 Miliar Masuk Tahap Pembangunan

“Untuk menekankan pentingnya suatu isu, Prabowo sering menaikkan intonasi suara dan diikuti gestur tubuh yang tegas. Dalam situasi demikian Prabowo kerap mengeluarkan diksi yang tak terduga. Contohnya, “ndasmu” dan “orang desa gak pakai dollar”,” jelasnya.

Penggunaan diksi semacam itu mengindikasikan Prabowo lebih menggunakan pendekatan emosional. Pendekatan semacam ini memang mampu mengikat simpati dan dan membangunan ikatan (chemistry) dengan rakyat kecil atau pendukungnya.

“Jadi, pesan-pesan emosional memang cocok untuk rakyat kecil dan berpendidikan relatif rendah. Pesan-pesan yang cenderung satu sisi (one side issue) hanya memaparkan sisi positif atau negatif saja, juga akan efektif untuk pendukungnya atau yang menyukainya. Namun pesan-pesan semacam itu tampaknya tak cocok untuk audiens yang terdidik. Kelompok audiens ini lebih menyukai pesan-pesan rasional yang dikemas dalam format dua sisi (both sides issue), yaitu pesan yang memuat aisi positif dan negatif,” papar Jamil.

Dilihat dari sisi itu, kiranya wajar bila respons audiens, termasuk wartawan, berbeda terhadap pidato Prabowo. Dengan menggunakan diksi “ndasmu” misalnya, memang dapat membuat audiens kurang terdidik dan pendukungnya akan tertawa.

Namun bagi sebagian audiens lainnya yang terdidik mereka sulit untuk memahami dan menerima presiden mengeluarkan diksi semacam itu.

Gubernur Pramono Luncurkan Mobil Klinik Hewan Keliling, Layani Anabul di Lima Wilayah Jakarta

Karena itu, lanjut Jamil, dapat dipahami bila pidato Prabowo disinyalir memberikan sentimen negatif terhadap situasi politik dan ekonomi. Pelaku politik dan pelaku pasar yang umumnya terdidik akan sulit memahami gaya pidato Prabowo yang meledak-ledak dan dikemas dalam imbauan pesan emosiomal yang hanya menonjolkan one side issue saja.

“Pesan-pesan seperti itu secara rasional kurang dapat menyakinkan pelaku politik dan pelaku pasar. Kelompok segmen ini lebih memerlukan pesan rasional yang dikemas dalam penyajian both sides issue. Dengan begitu, tidak ada gaya pidato yang efektif untuk semua karakteristik khalayak. Gaya pidato tertentu akan efektif untuk karakteristik audiens tertentu saja,” lanjut mantan Dekan Fikom IISIP Jakarta ini.

Karena itu, terang Jamil, gaya pidato Prabowo tidak bisa dibandingkan dengan gaya pidato presiden terdahulu. Karena gaya pidato bersifat personal yang terbentuk dari pengalamannya.

“Atas dasar itu, tentu pidato Prabowo tak elok bila dibandingkan dengan pidato Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo. Karena gaya pidato yang berbeda hanya akan cocok untuk karakteristik khalayak tertentu. Jadi, Prabowo tak perlu mengubah gaya pidatonya, apalagi takut bila berpidato apa adanya di hadapan wartawan. Prabowo lebih baik mengubah imbauan pesan yang digunakan berdasarkan segmen audiens,” tandas Jamil.

“Bila audiensnya kurang terdidik, Prabowo dapat menonjolkan pesan-pesan emosional yang dikemas dalam one side issue. Sementara bila audiensnya relatif terdidik, Prabowo sebaiknya menekankan.pesan rasional yang dikemas dalam both side issue,” pungkas Jamil. (***/Jie)

Dugaan Gratifikasi Raja Juli: KPK Koordinasikan Laporan Menhut dengan Tim Penindakan

Editor: Ao S Dwiyantho Putra
Email: aodwiyantho@gmail.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Berlaku Nasional, Polres Garut Imbau Masyarakat Manfaatkan Layanan Gratis Contact Center 110

05

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

06

Sekolah dan Upaya Membumikan Gapura Pancawaluya di SMAN 1 Cikijing

07

Galeri Indonesia Kaya, Gelar Konser Kidung Natal Indonesia, Semangat Inklusivitas Berjalan Beriringan dalam Harmoni Musik Keroncong

Sorotan






Kolom