RUZKA INDONESIA — Tradisi pencak silat di Desa Nagarakembang, Kecamatan Cingambul, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, menghadapi tantangan perubahan zaman.
Ruang pertunjukan yang semakin terbatas membuat kesenian warisan leluhur itu membutuhkan wadah baru agar tidak kehilangan penerus.
Persoalan tersebut menjadi salah satu latar belakang penyelenggaraan Festival Kampung Silat Nagarakembang 2026 pada 29โ30 Oktober 2026.
Berlangsung di kawasan sawah terasering Desa Nagarakembang, festival ini mengusung tema โBukan Sekadar Festival, Ini Tentang Apa yang Kita Tinggalkanโ.
Sebanyak 200 pesilat cilik turut ambil bagian dalam rangkaian kegiatan tersebut. Selain pertunjukan pencak silat, festival menghadirkan atraksi topeng versus pencug, pentas seni dan musik, serta pasar tradisional dan kegiatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Namun, bagi para penggagasnya, keberadaan festival tidak semata-mata diukur dari kemeriahan pertunjukan.
Ada persoalan yang lebih mendasar, yakni bagaimana memastikan tradisi pencak silat tetap memiliki ruang hidup dan generasi penerus.
Pembina sekaligus Guru Utama Padepokan Pencak Silat Fajar Kencana Kumpay Kuning Putra (FKKKP), Muhammad Yusnil Azidda, mengatakan gagasan pembentukan Kampung Silat berawal dari keprihatinan terhadap semakin terbatasnya panggung bagi pertunjukan silat tradisional.
Desa Nagarakembang, menurut Yusnil, memiliki sejarah kesenian pencak silat yang panjang. Salah satu jejaknya terlihat dari keberadaan Padepokan Pagar Kencana yang bergerak dalam pertunjukan silat tradisional.
Namun, perkembangan zaman membuat kesenian tersebut semakin sulit memperoleh ruang pertunjukan.
โKarena pertunjukan ini tergilas oleh zaman, mungkin mereka sudah tidak mempunyai tempat untuk panggungannya lagi. Dari dasar itulah kita membuat Kampung Silat,โ kata Yusnil.
Gagasan pengembangan Kampung Silat mulai dirintis pada 2022, ketika para pesilat setempat mengikuti kejuaraan tingkat nasional dan internasional.
Yusnil menyebut sekitar 30 persen warga Desa Nagarakembang terlibat dalam aktivitas budaya silat. Pengajaran pencak silat juga dilakukan di sejumlah sekolah di Kecamatan Cingambul dan Cikijing.
H. Baya: Pencak Silat Tradisional Harus Menembus Kancah Internasional
Upaya menjaga keberlanjutan tradisi tersebut mendapat dukungan dari H. Baya, Dewan Pembina dan Penasihat Federasi Pencak Silat Tradisi Indonesia (FPSTI).
H. Baya menyatakan dukungan penuh terhadap pemajuan budaya lokal, khususnya pencak silat tradisional, agar tidak hanya dikenal di tingkat daerah dan nasional, tetapi juga mampu berkembang hingga kancah internasional.
Menurutnya, pelestarian pencak silat membutuhkan komitmen bersama. Tradisi tidak cukup dipertahankan melalui pertunjukan, tetapi harus dijaga melalui regenerasi, pembinaan, dan keterlibatan generasi muda.
โDengan tegas kami menyatakan siap untuk menjaga tradisi dan budaya. Kami mendukung penuh pemajuan budaya lokal agar tidak hanya dikenal di daerah, tetapi juga mampu menuju kancah internasional,โ tegas H. Baya.
Bersama Presiden FPSTI, H. Baya menegaskan pentingnya membangun gerakan pelestarian pencak silat tradisional secara berkelanjutan.
Upaya tersebut diharapkan dapat menjaga identitas budaya sekaligus membuka kesempatan bagi pencak silat tradisional untuk dikenal lebih luas di tingkat internasional.
Kehadiran 200 pesilat cilik dalam Festival Kampung Silat Nagarakembang menjadi salah satu gambaran keterlibatan generasi muda dalam menjaga tradisi tersebut.
Regenerasi juga dinilai penting untuk menjaring bibit-bibit unggul yang dapat dikembangkan melalui pembinaan, sehingga pencak silat tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga memiliki keberlanjutan dalam dunia olahraga.
Kampung Silat dan Peluang Ekonomi Kreatif
Selain aspek pelestarian budaya dan pembinaan pesilat, H. Baya yang juga menjabat Ketua Komite Ekonomi Kreatif (Ekraf) Majalengka melihat Kampung Silat memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.
Keterlibatan seniman, pelaku UMKM, perajin, hingga masyarakat sekitar dinilai dapat memberikan nilai tambah ekonomi dari aktivitas pelestarian tradisi.
Dengan pendekatan tersebut, pencak silat tidak hanya dipertahankan melalui gerakan dan jurus, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata budaya yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Majalengka, Rachmat Kartono, mengatakan pemerintah daerah mendukung penyelenggaraan Festival Kampung Silat sebagai bagian dari upaya pemajuan kebudayaan.
Festival tersebut telah masuk dalam Calendar of Event Majalengka 2026 dan tercatat dalam agenda kebudayaan Jawa Barat.
Rachmat mengingatkan bahwa pencak silat tidak seharusnya dipahami sebatas gerakan, jurus, dan pertunjukan. Di dalamnya terdapat nilai tradisi yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.
โKalau berbicara silat, jangan sampai hanya berbicara gerak, jurus, dan tontonan. Silat merupakan warisan budaya dan tradisi bangsa yang harus dijaga, dilestarikan, serta diwariskan secara turun-temurun kepada generasi berikutnya,โ ujar Rachmat.
Menurut dia, pelestarian pencak silat membutuhkan keberlanjutan tradisi, peran guru dan padepokan, keterlibatan pelaku budaya, serta regenerasi pesilat.
Rachmat juga berharap festival tersebut memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui pengembangan UMKM, kuliner, kerajinan, dan produk lokal.
Ia menilai Kampung Silat Nagarakembang berpotensi dikembangkan menjadi destinasi wisata budaya. Dengan begitu, manfaatnya tidak hanya dirasakan selama festival berlangsung, tetapi juga dapat menopang kegiatan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
Tantangannya kini adalah memastikan Kampung Silat tidak berhenti sebagai agenda seremonial.
Keberlanjutan pembinaan pesilat, ruang pertunjukan bagi seniman tradisional, serta keterlibatan ekonomi masyarakat akan menentukan sejauh mana warisan budaya tersebut mampu bertahan dan berkembang hingga dikenal di tingkat internasional. (***)
Jurnalis: Eko Widiantoro
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com



Komentar