Jadi Tribut Sutradara untuk Tanah Kelahiran Leluhur Film Pasukan 1000 Janda tayang
mulai 12 November 2026 di bioskop Indonesia
RUZKA INDONESIA — Film Pasukan 1000 Janda persembahan Manara Films mengangkat sosok pahlawan Aceh, Laksamana Malahayati. Disutradarai oleh Archie Hekagery, film ini juga menjadi penghormatan untuk tanah leluhur Archie,
yang berasal dari Aceh.
Digarap dengan genre fantasy action, film Pasukan 1000 Janda diharapkan bisa
mengenalkan sosok Malahayati ke masyarakat Indonesia dan generasi muda secara luas.
Dengan sosok pahlawan Aceh yang diangkat ke dalam film, Pasukan 1000 Janda juga mendapatkan dukungan secara penuh oleh warga Aceh, melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bersama Organisasi Taman Iskandar Muda (TIM) sebagai naungan paguyuban warga Aceh seluruh Indonesia.
Penandatanganan MoU dilakukan sutradara Archie Hekagery bersama Ketua TIM
Masa Bakti 2026โ2030, Ir. H. Muslim Armas.
โKami merasa bangga ada film tentang Malahayati lewat film Pasukan 1000 Janda. Saya merasa gemas, karena Malahayati ini sebenarnya juga tidak kalah dengan Cut Nyak Dhien. Kalau Cut Nyak Dhien itu berjuang di daratan dan pegunungan, sementara Malahayati di pesisir. Semoga film Pasukan 1000 Janda membanggakan
warga Aceh dan Indonesia dengan perjuangannya bersama pasukan Inong Balee,โ ujar Dewan Kehormatan PP Taman Iskandar Muda (TIM) Dr. Ir. H. Mustafa Abubakar dalam siaran pers yang diterima, Selasa (27/10/2026).

Dukungan TIM
Taman Iskandar Muda sebagai paguyuban masyarakat Aceh di perantauan mendukung penuh film ini, tidak saja karena berlatar belakang pahlawan Aceh, tetapi juga karena film ini memilih pendekatan yang berbeda.
“Ini yang membuat generasi muda penasaran ingin menyaksikan film yang berlatar sejarah tetapi action-nya digarap seperti layaknya film luar negeri,โ jelas Ketua Umum PP Taman Iskandar Muda, Ir. H. Muslim Armas.
Film Pasukan 1000 Janda menggunakan pendekatan fantasy action, karena
diharapkan film ini juga bisa menyentuh ke penonton muda.
Harapannya, film ini bisa membuat pahlawan dari Aceh yang demikian hebat menjadi lebih dikenal olehgenerasi muda di seluruh dunia.
โAyah saya, nenek saya orang Aceh asli. Jadi saya membuat film Pasukan 1000 Janda juga untuk kampung halaman nenek saya,โ ungkap sutradara Archie Hekagery.
Cut Mini mengutarakan, ingin memperlihatkan bahwa Aceh itu indah, kuat, dan kokoh.
“Film ini menunjukkan bahwa perempuan-perempuan Aceh itu hebat,โ ungkap pemeran
Maesaroh, yang menjadi salah satu sosok Inong Balee ini.
Atiqah Hasiholan Dipercaya Sebagai Laksamana Malahayati
Disutradarai Archie Hekagery, film ini diproduseri oleh Yuda Wirafianto dengan ko-produser Mifta Nur Rizki, dan produser eksekutif Bunga Mentari.
Film ini dibintangi oleh jajaran aktris ternama dan berbakat Indonesia.
Atiqah Hasiholan dipercaya sebagai Laksamana Malahayati yang perkasa dan berani memimpin pasukan.
Sementara itu, para pasukan Inong Balee di antaranya diperankan oleh Cut Mini, Tasha Siahaan, Fergie Brittany, dan Ully Triani.
Turut bergabung di jajaran pemeran di film ini, Emil Kusumo, Vincent Verhaag, Hans de
Kraker, Dafina Jamasir, Syaura Salsabila, Muzakki Ramdhan, dan Ron Smoorenburg, aktor laga internasional aktor internasional asal Belanda yang pernah menjadi lawan Jackie Chan di film Who Am I?
Film Pasukan 1000 Janda akan tayang di bioskop Indonesia mulai 12 November 2026.
Terinspirasi dari kisah Laksamana Malahayati dan pasukan Inong Balee, film Pasukan 1000 Janda akan menghadirkan kisah epik pertempuran para perempuan yang kehilangan melawan penjajah.
Sinopsis
Selat Malaka pada 1599. Beberapa tahun sebelumnya, ketika ancaman Portugis mengoyak perairan Selat Malaka, armada Kesultanan Aceh Darussalam di bawah komando seorang laksamana perempuan legendaris, Malahayati, bangkit melawan.
Dengan keberanian dan kecerdikannya, dia berhasil menghancurkan armada Portugis dan mengusir mereka dari perairan Aceh.
Namun setelah kemenangan itu, Malahayati menghilang tanpa jejak. Tidak ada yang tahu ke mana perginya sang laksamana.
Dia lenyap seolah ditelan bumi, meninggalkan sebuah pertanyaan yang tak pernah terjawab, siapa yang akan berdiri ketika musuh
berikutnya datang?
Tahun 1599, ancaman baru muncul dari seberang lautan. Jauh dari Eropa, armada Belanda berlayar menuju Selat Malaka untuk merebut jalur perdagangan yang menjadi urat nadi Nusantara.
Di bawah pimpinan Cornelis, seorang Admiral yang kejam dan tak kenal ampun, pasukan Belanda mulai menebar teror di tanah Aceh.
Desa-desa dibakar. Rakyat diburu. Para lelaki tewas di medan perang, meninggalkan perempuan-perempuan yang kehilangan
suami dan keluarga.
Ketika harapan nyaris padam dan tidak ada lagi pasukan yang mampu menghadang Belanda, para
perempuan bangkit dari duka mereka, dan membentuk pasukan yang belum pernah ada sebelumnya.
Pasukan para janda. Satu tekad. Untuk mempertahankan rumah yang mereka cintai.
Dari laut hingga daratan Aceh, mereka
bersiap menghadapi pasukan Belanda yang jauh lebih kuat.
Dan, ketika sejarah menuliskan bahwa Malahayati telah menghilang, mungkin sejarah belum mengetahui satu hal: Malahayati tidak pernah benar-benar pergi! (***)
Jurnalis: Koesbiantoro
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com/Hl: 0818701344



Komentar