Galeri Kolom
Beranda ยป Berita ยป Catatan Hendry Ch Bangun: Fenomena K-Pop Menguasai Dunia, Bagaimana Potensi Indonesia?

Catatan Hendry Ch Bangun: Fenomena K-Pop Menguasai Dunia, Bagaimana Potensi Indonesia?

Jungkiu Choi meluncurkan buku Bagaimana K-Pop Menguasai Dunia? yang diluncurkan di toko buku Kinokuniya, Grand Indonesia, Jakarta, Ahad (27/09/2026). (Foto: Dok RUZKA INDONESIA)

RUZKA INDONESIA — Jungkiu Choi lebih tepat disebut sebagai ahli dan praktisi manajemen karena dia bekerja di berbagai lembaga seperti McKinsey, Boston Consultant Group, Standard Chartered.

Tetapi dia barangkali lebih terkenal dan dikenang sebagai penulis budaya K-Pop.

Ya, dia mampu mewujudkan kecintaannya sebagai fandom music dalam bentuk buku, yang dalam Bahasa Indonesia berjudul Bagaimana K-Pop Menguasai Dunia? yang diluncurkan di toko buku Kinokuniya, Grand Indonesia, Jakarta, Ahad (27/09/2026).

Doktor lulusan Singapore Management University (SMU) bermukim di Singapura dalam beberapa tahun terakhir untuk sambil mengajar di National University of Singapore (NUS) dan SMU.

Bukunya diterbitkan Palmerah Syndicate dan sudah beredar di toko buku dan menjadi semacam kisah pengalaman dan pengamatan pribadi dalam menanggapi budaya K-Pop yang terkenal dan tersebar di semua benua.

Manfaatkan Momentum Harvest Moon, Urban Spiritual Indonesia Gelar Meditasi Bulan Purnama

Choi mengaku pada awalnya seperti kebanyakan remaja di tahun 1980an dia lebih sering mendengarkan lagu-lagu dari ABBA atau Queen, grup musik kenamaan Inggris.

Pada suatu saat dia mendengarkan musik Korea dan sejak saat itu dia mulai fanatik. Dia lalu memiliki penyanyi favorit, lagu favorit, dan disana lah mulai terbentuk dirinya sebagai penggemar fanatik, menjadi fangirling/fanboying.

Fanatisme

Fanatisme itu dia terapkan dalam kehidupan mudanya dengan membeli album, cendera mata, menonton pertunjukan, dan bergabung dalam klub penggemar.

Karena pekerjaannya, setelah bekerja 14 tahun di McKinsey & Company setelah meraih gelar Sarjana Ekonomi Internasional tahun 1989 dan MBA dari Haas School of Business (1991), Choi kemudian pindah ke Standard Chartered Bank dan ditempatkan di RR Cina.

Di sini dia mengetahui bahwa di banyak negara sudah muncul penggemar K-Pop dalam semua bentuknya, lagu, penyanyi, film. Di Inner Mongolia, dia mendapati sebagian besar karyawannya penggemar Super Junior.

Catatan Cak AT: Guru(h) Bunyi Indonesia

Maka pada suatu kesempatan mereka menari bersama sambil menyanyikan lagu โ€œSorry, Sorryโ€, menciptakan rasa persaudaraan sekaligus memberi kebanggaan.

Menurut Choi, K-Pop mencapai kedudukan seperti sekarang karena selain faktor kreatifitas para seniman, manajemen terpadu juga support dari pemerintah dalam berbagai bentuk.

Ya karena K-Pop sudah menjadi industry yang menghasilkan milyaran dollar AS pertahun dan memberikan lapangan kerja. Penggemar K-Pop di seluruh dunia diperkirakan tidak hanya mencapai ratusan juta orang, tapi mungkin lebih dari itu.

K-Pop Jadi Besar karena Keputusan Politik

Penanggap Zaini MA, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) yang mendapat magister di sebuah universitas di Korea Selatan, mengatakan K-Pop menjadi besar karena keputusan politik Presiden Kim Dae Jung, sehabis krisis ekonomi akhir 1990an.

โ€œMereka menyadari sumber daya alam Korsel terbatas, jadi budaya dijadikan bernilai ekonomi dan dapat dijual untuk membuka lapangan kerja sekaligus mendatangkan devisa. Berbagai kebijakan dan fasilitas dimudahkan sehingga K-Pop bisa maju. Sebenarnya sejak tahun 1960-an sudah ada berbagai ajang seni, festival, tetapi karena berjalan sendiri-sendiri, majunya ya setelah semua unsur bersatu, bersama-sama memberikan dukungan,” ungkapnya.

Catatan Cak AT: Router Tubuh

Lalu bagaimana dengan peluang Indonesia, yang menurut Choi budayanya lebih beragam, jumlah penduduknya lebih besar, wilayahnya lebih luas.

โ€œSaya berharap Indonesia bisa maju dan mencapai keberhasilan melihat potensinya,โ€ kata Choi si penyuka masakan padang dan mengatakan kalau ke Jakarta, pulang ke Singapura pasti berat badannya bertambah.

โ€œMenurut pendapat saya, semua potensi harus berjalan dulu. Lakukan sesuatu, kreatif, jangan menunggu bantuan, jangan menunggu fasilitas. Kalau semua berkarya, ribuan orang pelaku kreatif bergerak, akan banyak muncul produk dan akan tercipta keadaan kondusif. Nah di situ tentu saja diharapkan ada dukungan dari masyarakat dan pemerintah dalam berbagai bentuknya,โ€ tambah Zaini.

Dengan adanya Kementerian Kebudayaan yang dipimpin DR Fadli Zon yang dirinya sendiri adalah pencinta dan kolektor berbagai produk kesenian dan kebudayaan Tanah Air, peluang ekonomisasi seni budaya, karya cipta, sangat besar.

Diskusi ke arah sana sudah dilakukan, tanggapan dari pemangku kepentingan konon juga positif, tinggal kita tunggu apa dan bagaimana rencana dijalankan, sehingga produk budaya dan seni selain mencerminkan keunggulan olah pikir dan olah rasa sekaligus menjadi sumber devisa dan ladang tenaga kerja. (***)

Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

05

Galeri Indonesia Kaya, Gelar Konser Kidung Natal Indonesia, Semangat Inklusivitas Berjalan Beriringan dalam Harmoni Musik Keroncong

06

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Primaya Hospital Bekasi Barat Luncurkan Wellness Center

07

Komunitas Bakul Budaya Meriahkan Pembukaan Pameran Arsip Bagong Kussudiardja

Sorotan



Yogi Kurniawan, dari Suporter Jadi CEO Klub




Kolom