RUZKA INDONESIA — Ada yang berubah di Alun-Alun Majalengka. Bukan, bukan karena tiba-tiba dipindahkan ke tempat lain. Rumput sintetis yang sempat robek dan rusak kini mulai diganti dengan yang baru.
Pantauan di lokasi, Kamis (03/09/2026) menunjukkan sejumlah bagian rumput sintetis sudah terpasang. Beberapa pekerja tampak sibuk mengerjakan bagian lainnya, termasuk memasang drainase sell.
Pelan-pelan, wajah Alun-Alun Majalengka kembali hijau
Bagi warga Majalengka, perubahan ini tentu bukan perkara rumput semata. Alun-alun sudah menjadi semacam ruang tamu bersama.
Tempat orang olahraga, anak-anak bermain, keluarga duduk-duduk, anak muda nongkrong, sampai komunitas yang entah sedang membicarakan agenda penting atau sekadar mencari colokan dan tempat yang enak untuk foto-foto.
Letaknya pun strategis. Tepat di depan Masjid Al-Imam dan Pendopo Bupati Majalengka. Jadi kalau ada yang berkunjung ke pusat kota, rasanya kurang afdal kalau belum mampir ke kawasan ini.
Alun-Alun Majalengka sendiri dibangun melalui program Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada 2021 sebagai salah satu ruang publik modern di pusat kota.
Masalahnya, fasilitas publik yang ramai dipakai manusia memang punya satu kelemahan: bisa rusak.
Dan rumput sintetis di alun-alun ternyata tidak kebal dari hukum alam tersebut.
Kondisinya sempat mendapat sorotan Bupati Majalengka Eman Suherman ketika mengikuti kegiatan Geber Jumat pada 29 Mei 2026 lalu. Sejumlah bagian rumput terlihat robek dan mengalami kerusakan.
Kini pemerintah daerah mulai membenahinya
Berdasarkan papan informasi yang terpasang di lokasi, perbaikan rumput sintetis tersebut menelan anggaran Rp399.517.915 yang bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU) Tahun Anggaran 2026.
Angka hampir Rp400 juta tentu bukan uang receh yang bisa ditemukan terselip di bawah bantal.
Karena itu, selain berharap rumput kembali bagus, pemerintah juga berharap warga tidak memperlakukannya seperti rumput sungguhan di halaman rumah: diinjak sesuka hati, dibuang sampah, atau dicabuti kalau sedang iseng.
Warga Senang, Anak-Anak Bisa Main Lagi
Perbaikan ini mendapat sambutan positif dari warga.
Anisa (42), warga Majalengka, mengaku hampir setiap sore mengajak anak-anaknya bermain di alun-alun.
Menurutnya, keberadaan ruang publik seperti ini sangat membantu warga karena bisa menjadi tempat rekreasi keluarga tanpa harus mengeluarkan uang.
“Hampir tiap sore saya sering ajak anak-anak bermain di sini. Selain bersih dan rapi, juga gratis. Alhamdulillah sekarang dengan kondisi rumput yang baru lebih indah dan nyaman lagi,” ujar Anisa.
Sementara bagi generasi yang lebih muda, alun-alun tentu punya fungsi yang sedikit berbeda.
Bukan cuma tempat duduk dan ngobrol. Ada juga urusan dokumentasi.
Nada (17), warga Kecamatan Talaga, mengaku kerap nongkrong bersama teman-temannya di kawasan tersebut.
“Bangga sih, Alun-Alun berbenah. Saya biasa nongkrong sama teman-teman. Dengan wajah baru tentunya bisa jadi tempat swafoto yang lebih menarik buat di-upload di Instagram sama TikTok,” kata Nada.
Namun Nada juga punya satu permintaan sederhana.
“Saya berharap semua warga bisa menjaga kebersihan,” katanya.
Alun-Alun Milik Siapa?
Pertanyaan ini sebenarnya tidak sulit dijawab.
Milik pemerintah? Iya, secara pengelolaan.
Tapi yang menggunakan siapa?
Ya warga.
Karena itu, Bupati Eman Suherman mengingatkan bahwa menjaga fasilitas publik bukan hanya pekerjaan pemerintah. Warga juga punya tanggung jawab.
“Kita semua punya tanggung jawab menjaga fasilitas publik ini. Jangan sampai cepat rusak karena kurangnya kepedulian. Alun-alun ini milik masyarakat, jadi harus dirawat bersama,” kata Eman.
Pesannya sederhana: pemerintah memperbaiki, masyarakat ikut menjaga.
Sebab kalau setiap beberapa tahun rumput harus diganti karena rusak, uang yang keluar tentu bukan sedikit.
Dan pada akhirnya, rumput sintetis itu memang bisa dibuat baru lagi.
Tapi anggaran publik tidak tumbuh seperti rumput.
Jadi, kalau nanti Alun-Alun Majalengka sudah kembali hijau, mungkin ada satu hal yang lebih penting daripada sekadar berfoto dengan latar rumput baru: jangan ikut membuatnya cepat rusak lagi. (***)
Jurnalis: Eko Widiantoro
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com



Komentar