
RUZKA INDONESIA — Di sebuah lorong hotel di pusat Kota Depok, lampu-lampu koridor tetap menyala, tetapi pintu-pintu kamar berdiri seperti deretan kursi penonton tanpa pertunjukan.
Buku check-in di meja resepsionis tampak menipis, dan beberapa pegawai duduk sedikit lebih lama dari biasanya di balik meja operasional.
Tidak ada hiruk-pikuk koper diseret atau tamu yang terburu-buru bertanya arah lift. Ada sunyi yang merambat pelan.
Kesunyian itu bukan perasaan, ia berakar dari data. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Depok merilis data mengenai kinerja sektor perhotelan per September 2025.
Tingkat Penghunian Kamar (TPK) tercatat hanya 50,38 persen, turun 9,30 poin dibanding periode yang sama pada 2024. Rata-rata lama menginap tamu juga mengalami penurunan menjadi 1,70 malam, baik untuk tamu domestik maupun mancanegara.
Fluktuasi okupansi sepanjang tahunโyang sempat naik pada Juli dan Agustus namun kembali turun pada Septemberโmenunjukkan adanya dinamika signifikan dalam aktivitas perjalanan, bisnis, dan kunjungan ke Kota Depok.
Dalam situasi ini, perspektif dari pelaku industri perhotelan menjadi penting untuk memahami tantangan di lapangan sekaligus membaca arah perubahan perilaku tamu.
Sementara grafik hunian sempat menanjak pada Juli dan Agustus, September kembali merosotโseolah industri perhotelan Depok dipaksa menyesuaikan langkah dengan ritme baru yang tak lagi stabil.
Durasi Singkat, Gerak Cepat
Savero Hotel Depok termasuk yang paling merasakan pergeseran itu. Suharyani Ayu Lestari, Senior Secretary GM & Marcom Savero Hotel, melihat fenomena ini sebagai peringatan sekaligus pemantik untuk beradaptasi.
โSavero Hotel Depok turut merasakan dampaknya, namun kami melihatnya sebagai momentum untuk terus kreatif, berinovasi dan memperkuat strategi pemasaran,โ kata Ayu kepada Ruzka Indonesia di Depok, Kamis (4/12/2025).
Menurutnya, perubahan paling nyata terlihat pada panjang tinggal tamu.
โKami melihat adanya pergeseran tren, banyak tamu memilih menginap 1 malam saja, baik perjalanan bisnis singkat maupun kebutuhan transit,โ ujarnya.
Namun, bagi Ayu, tren ini tidak harus dimaknai sebagai ancaman permanen. Savero memilih bergerak cepat. Promo short-stay, paket meeting & room, serta program weekend diluncurkan untuk mempertahankan length of stay yang kian terpangkas.
Segmen keluarga dan leisure justru menunjukkan stabilitas, terutama pada akhir pekan. โTingginya minat masyarakat untuk short break atau staycation menjadi peluang yang tetap kami jaga,โ katanya.

Kolaborasi dan Kreativitas Menjadi Nafas Baru
Selain strategi pemasaran, Savero memperluas ekosistemnya melalui kolaborasi. โSaat ini kami menjalin kolaborasi dengan sekolah, kampus, dan komunitas kreatif. Melalui kegiatan tersebut, kami tidak hanya mendorong okupansi kamar, tetapi juga meningkatkan trafik meeting room, ballroom, dan F&B,โ jelas Ayu.
Ayu menambahkan bahwa perubahan perilaku tamu membuat hotel harus lebih kreatif dalam menciptakan alasan bagi tamu untuk masukโdan bertahanโdi hotel.
Menurutnya, tamu kini tidak lagi mencari kamar semata. Mereka mencari pengalaman: kegiatan tematik, ambience, pelayanan personal, hingga suasana yang dirancang membuat mereka merasa "pulang" meski hanya singgah.
Di internal, Savero juga mulai meningkatkan sentuhan layanan yang lebih personal. Ayu menjelaskan, โKami memperkuat training hospitality untuk memastikan setiap interaksi memberikan kesan. Karena tamu yang puas, meski hanya menginap satu malam, berpotensi menjadi tamu tetap di lain waktu.โ
Hotel juga memperluas fokusnya ke acara keluarga, gathering komunitas, hingga event bertema.
"Kami melihat tren event kecil dan intimate gathering mulai meningkat belakangan ini,โ tambahnya.
Dari Jungle Fest ke Strategi 2026
Untuk menyambut pergantian tahun 2025, Savero menyiapkan perayaan โSavero In Jungle Festโโsebuah pesta keluarga dengan gala dinner, live music, interactive games, dan ambience yang dirancang agar tamu merasakan pengalaman yang hangat dan berbeda.
โKami ingin menghadirkan suasana tahun baru yang seru dan penuh kehangatan keluarga,โ kata Ayu.
Namun lebih dari sekadar acara akhir tahun, konsep-konsep tematik seperti ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang Savero untuk menghadapi tahun 2026 yang penuh tantangan.
Hotel harus menciptakan alasan agar tamu tidak sekadar menginap, tetapi juga menikmati momen. Ayu menegaskan, 2026 akan menjadi tahun penting bagi industri hotel untuk membaca apa yang benar-benar dibutuhkan tamu urban di kota satelit seperti Depok.
Ketika Data dan Lapangan Bertemu
Jika angka 50,38 persen hanya terlihat sebagai statistik dingin, suara pelaku perhotelan seperti Ayu memperlihatkan lapisan ceritanya: industri ini bergerak, menyesuaikan, mencari celah di tengah ritme hidup masyarakat yang semakin cepat.
Data BPS Kota Depok memperlihatkan fluktuasi okupansi yang tidak linearโJuni turun tajam, Juli dan Agustus naik, lalu September kembali merosot. Perubahan pola kunjungan, tren perjalanan bisnis singkat, serta mobilitas masyarakat yang dinamis ikut membentuk lanskap baru perhotelan Depok.
โข Juni 2025: 45,01 persen
โข Juli: naik ke 58,31 persen
โข Agustus: sedikit turun ke 55,68 persen
โข September: jatuh ke 50,38 persen
Perubahan tajam ini menggambarkan betapa sensitifnya sektor perhotelan terhadap ritme kegiatan bisnis, mobilitas masyarakat, hingga event-event yang berlangsung di kota.
Di tengah perubahan itu, hotel-hotel seperti Savero tampil dengan strategi yang lebih fleksibel, lebih kreatif, dan lebih berorientasi pada pengalaman tamu. Jika 2025 adalah tahun membaca perubahan, maka 2026 akan menjadi tahun menjawabnya.
Dan di balik pintu-pintu kamar yang kadang lebih sering tertutup daripada diketuk, tampak upaya tanpa henti untuk memastikan setiap kedatangan tamuโbetapa pun singkatnyaโselalu berarti.
Sementara itu, rata-rata lama menginapโyang sebelumnya mendekati dua malamโkini menyusut menjadi 1,70. Angka kecil ini membawa dampak besar.
Dengan tamu yang cepat pergi, hotel perlu mengisi kekosongan itu dengan memperkuat pendapatan dari sektor lain: ruang rapat, katering, acara keluarga, hingga kolaborasi komunitas.

Menyongsong 2026
Tahun 2026 tampaknya akan menjadi tahun penentu bagi sektor perhotelan di Depok. Jika 2025 adalah fase membaca perubahan, maka tahun mendatang adalah fase meresponsnya secara nyata. Hotel-hotel kini tidak lagi menjual kamar saja; mereka menjual pengalaman, paket fleksibel, ruang komunitas, hingga ruang acara.
Ke depan, strategi adaptif seperti yang dilakukan Savero Hotel Depok akan menentukan apakah grafik hunian kembali naik atau semakin tergerus.
Di tengah pintu-pintu kamar yang lebih jarang diketuk, industri perhotelan Depok sedang belajar agar setiap ketukan berikutnya tidak lagi singkatโtetapi menjadi pengalaman yang membuat tamu ingin kembali. (***)
Penulis: Djoni Satria/Wartawan Senior

