Bisnis
Beranda ยป Berita ยป 70 Tahun Gobel Group Terlewati, 100 Tahun Sedang Ditanam

70 Tahun Gobel Group Terlewati, 100 Tahun Sedang Ditanam

Thayeb Mohammad Gobel bersama sang istri, Annie Nento Gobel. Dari pengamatan sederhana terhadap rumpun pohon pisang di Tinombo, Sulawesi Tengah, lahir sebuah Falsafah Pohon Pisang tentang manfaat, pengabdian, dan regenerasi yang kemudian menuntun perjalanan Gobel Group selama 70 tahun. (Foto: Arsip Keluarga Gobel/ Dokumentasi Gobel Group)

Dari sebuah rumpun pisang di Tinombo, Thayeb Mohammad Gobel menemukan pelajaran tentang manfaat dan regenerasi. Puluhan tahun kemudian, pelajaran itu tumbuh menjadi filosofi yang membantu Gobel Group menatap usia satu abad.

RUZKA INDONESIA โ€”  Setiap pagi, sebelum mesin-mesin mulai berputar di lingkungan pabrik dan jarum jam kantor bergerak menuju angka delapan, sebuah ritual berlangsung di Gobel Group. Para karyawan berkumpul bukan untuk rapat mendadak atau agenda darurat. Mereka berdiri bersama untuk menjalankan apel pagi, tradisi yang tidak pernah terhenti selama tujuh dekade.

Di sana, sebelum hari kerja dimulai, nilai-nilai yang dirumuskan pendiri perusahaan diulang kembali. Bukan sebagai hafalan, melainkan sebagai cara hidup yang diperbarui setiap hari.

Di era kecerdasan buatan dan otomatisasi industri yang mengubah cara orang bekerja dalam hitungan bulan, ritual seperti ini mungkin tampak sudah ketinggalan zaman. Namun bagi Mohammad Arif Rachmat Gobel, atau yang biasa dipanggil Arif Gobel,  cucu dari pendiri Gobel Group Thayeb Mohammad Gobel, ritual itu adalah salah satu penjelasan mengapa perusahaan ini masih berdiri kokoh di usia ketujuh puluh tahun.

Transformasi yang paling sulit, menurut Arif, bukan soal mengganti proses manual menjadi otomatis atau memindahkan aktivitas ke platform digital. Transformasi terberat justru terletak pada perubahan pola pikir manusia. Dan perubahan pola pikir tidak terjadi melalui pembaruan sistem. Ia hanya tumbuh melalui nilai yang berulang kali diyakini, dipraktikkan, dan diwariskan, hari demi hari, generasi demi generasi.

PLN Jakarta Peringatkan Penipuan โ€œListrik Hemat Instanโ€, Transaksi Hanya Lewat PLN Mobile

Ketika banyak perusahaan keluarga di Indonesia masih berjuang melewati pergantian generasi kedua, Gobel Group justru berbicara tentang target yang jauh lebih ambisius: usia seratus tahun. Dalam sejarah bisnis dunia, tidak banyak perusahaan yang mampu bertahan melewati satu abad. Sebagian tumbang karena perubahan zaman. Sebagian lagi kehilangan arah ketika generasi pendirinya telah pergi. Ada pula yang tumbuh besar tetapi kehilangan relevansi, lalu perlahan ditinggalkan.

Keyakinan Gobel Group untuk bertahan melintasi generasi dan waktu tidak bertumpu pada besarnya aset atau panjangnya daftar anak usaha yang dibangun selama tujuh dekade. Keyakinan itu berakar pada sebuah filosofi yang lahir jauh sebelum Gobel Group berkembang menjadi kelompok usaha nasional. Filosofi yang terinspirasi dari sesuatu yang tumbuh sederhana di pekarangan rumah-rumah Indonesia: pohon pisang.

Tinombo: Sebelum Ada Pabrik, Ada Pelajaran

Jauh sebelum nama Gobel dikenal sebagai pelopor industri elektronika Indonesia, sebelum radio transistor pertama diproduksi dan televisi buatan dalam negeri hadir di tengah masyarakat, ada seorang anak laki-laki yang tumbuh di lingkungan sederhana di Tinombo, Sulawesi Tengah. Anak itu bernama Thayeb Mohammad Gobel. Kawan-kawannya memanggilnya Ebu.

Di sela hari-harinya menggembalakan kambing dan belajar di Volksschool Tinombo, Ebu kecil memperhatikan sesuatu yang tampak paling biasa: rumpun pohon pisang yang tumbuh di sekitar rumahnya. Ketika guru-guru sekolahnya mengajarkan cara bercocok tanam, Ebu justru menemukan pelajaran yang berbeda dari pohon pisang yang tumbuh di sekitarnya. Bukan tentang teknik pertanian, melainkan tentang cara hidup yang utuh.

AFTECH: Rp1.388 Triliun Pindar Tersalurkan, 40% ke UMKM yang Pertama Kali Dapat Akses Modal

Ia memperhatikan bagaimana pohon itu tumbuh, berbuah, lalu melahirkan tunas-tunas baru sebelum batang induknya ditebang. Ia melihat bahwa hampir tidak ada bagian yang terbuang sia-sia: batangnya digunakan masyarakat untuk berbagai keperluan, daunnya menjadi pembungkus makanan, jantungnya diolah menjadi sayuran, buahnya menjadi sumber pangan.

Dan yang paling membekas bagi Ebu adalah satu kenyataan yang terus ia renungkan: sebelum satu batang menyelesaikan tugasnya, kehidupan baru telah bersiap tumbuh di sekelilingnya. Tidak ada jeda. Tidak ada kekosongan. Regenerasi sudah disiapkan jauh sebelum batang induknya selesai.

Puluhan tahun kemudian, ketika namanya dikenal sebagai pelopor industri elektronik nasional, kenangan masa kecil itu tumbuh menjadi sebuah falsafah usaha. Dalam buku Gobel: Pelopor Industri Elektronika Indonesia dengan Falsafah Usaha Pohon Pisang, Ramadhan K.H. menulis bahwa kesan mengenai pohon pisang membekas begitu kuat dalam diri Thayeb hingga ketika dewasa ia menjadikannya panutan sekaligus referensi dalam berusaha. Gagasan itulah yang kemudian dikenal sebagai Falsafah Pohon Pisang.

Falsafah Pohon Pisang menjadi landasan nilai yang diwariskan Thayeb Mohammad Gobel kepada perusahaan. Seperti pohon pisang yang seluruh bagiannya bermanfaat dan selalu menyiapkan tunas baru sebelum batang induknya berakhir, Gobel menempatkan manfaat dan regenerasi sebagai inti keberlanjutan usaha. (Ilustrasi: RUZKA INDONESIA)

Bagi Thayeb, pohon pisang bukan sekadar tanaman yang akrab dengan kehidupan masyarakat kampung. Ia melihat bagaimana pohon itu memberi manfaat pada setiap bagiannya, berbuah sebelum mati, dan meninggalkan tunas sebagai penerus kehidupan.

Ramadhan K.H. mencatat, Thayeb berulang kali menceritakan kekagumannya terhadap pohon pisang kepada rekan kerja, sahabat, maupun wartawan. Di berbagai lahan miliknya, ia bahkan menanam pohon pisang sebagai pengingat akan nilai-nilai yang pertama kali dipelajarinya di Tinombo, tentang kebermanfaatan, regenerasi, dan kesinambungan.

PLN Listriki Data Center Digital Edge 2×725 MVA, Jadi Pasokan Terbesar untuk Pusat Data di RI

Kekagumannya pun terumuskan dalam kata-katanya sendiri:

“Walaupun batang pohon pisang itu dipangkas berkali-kali, ia akan tumbuh terus sebelum menghasilkan buah. Kalau sudah ada buahnya yang dapat dimakan manusia atau makhluk hidup lain, baru dia siap mati.”

Menjelang ulang tahun ke-10 PT National Gobel tanggal 30 Oktober 1980 yang dirayakan di Balai Sidang Senayan, Jakarta, pemikiran itu dituangkan secara sistematis ke dalam Falsafah Pohon Pisang dan Tujuh Prinsip Perusahaan.

Di dalamnya terdapat ajakan untuk berbakti kepada negara melalui industri, berlaku jujur dan adil, membangun kerja sama yang harmonis, melakukan perbaikan berkesinambungan, menjunjung kerendahan hati, menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman, serta selalu bersyukur dan berterima kasih. Bukan sekadar prinsip berbisnis, melainkan panduan tentang bagaimana memandang peran perusahaan di tengah masyarakat.

Bagi Thayeb, industri bukan sekadar aktivitas ekonomi. Industri adalah medan pengabdian kepada bangsa. Perusahaan, karenanya, harus dibangun di atas nilai yang mampu bertahan lebih lama dari produk yang dihasilkannya.

Di sinilah akar perjalanan Gobel sesungguhnya ditanam. Sebelum ada pabrik. Sebelum ada radio. Sebelum ada televisi. Sebelum ada kerja sama dengan siapapun. Ada seorang anak di Tinombo yang belajar tentang manfaat, pengorbanan, dan regenerasi dari sebatang pohon pisang.

Radio, Televisi, dan Cara Sebuah Rumpun Berkembang

Pada 1954, Thayeb Mohammad Gobel bersama sejumlah rekannya mendirikan PT Transistor Radio Manufacturing Company, perusahaan radio transistor pertama di Indonesia. Pada masa itu, radio bukan sekadar barang elektronik. Radio adalah jembatan informasi yang menghubungkan masyarakat dengan dunia di luar lingkungannya. Sarana untuk menyatukan anak bangsa yang tersebar di ribuan pulau, untuk memastikan suara para pemimpin negara bisa menjangkau desa-desa yang belum dialiri listrik sekalipun.

Radio transistor merek Tjawang produksi Gobel, salah satu tonggak awal industri elektronika nasional. Bagi Thayeb Mohammad Gobel, teknologi bukan sekadar produk, melainkan sarana menghadirkan manfaat bagi masyarakat hingga ke pelosok yang belum terjangkau listrik. (Foto: Dokumentasi Gobel Group)

Di balik keputusan memasuki industri radio, tersimpan keyakinan yang sama dengan yang pernah ditangkap Ebu kecil dari pohon pisang di Tinombo: teknologi harus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Delapan tahun kemudian, ketika Indonesia tahun 1962 menjadi tuan rumah pertama Asian Games ke-4, semangat yang sama kembali terpancar. Televisi masih menjadi barang langka saat Gobel mendapat kepercayaan memproduksi ribuan unit televisi hitam-putih agar masyarakat Indonesia dapat menyaksikan pesta olahraga terbesar di Asia itu. Jika radio menghadirkan suara, televisi membuka pengalaman baru: bangsa ini kini bisa melihat dunia dengan cara yang belum pernah ada sebelumnya.

Perjalanan berikutnya membawa Gobel bertemu dengan Konosuke Matsushita, pendiri Matsushita Electric Industrial Co., Ltd., yang kemudian dikenal dunia melalui merek Panasonic. Di balik kemitraan strategis yang mengubah wajah industri elektronika Indonesia itu, sesungguhnya terjadi perjumpaan dua cara pandang yang berbagi kesamaan mendasar.

Ilustrasi kemitraan Gobel dan Panasonic mempertemukan dua falsafah yang lahir dari latar budaya berbeda: Falsafah Pohon Pisang yang menekankan manfaat dan regenerasi, serta filosofi Air Mengalir dari Konosuke Matsushita menekankan pemerataan kesejahteraan. Pertemuan nilai inilah yang kemudian menjadi fondasi kerja sama jangka panjang kedua perusahaan.
(Ilustrasi: RUZKA INDONESIA)

Jika Thayeb Gobel menemukan inspirasi dari pohon pisang yang mengajarkan manfaat dan regenerasi, Matsushita mengembangkan filosofi โ€œair mengalirโ€ yang menekankan pemerataan manfaat dan kesejahteraan bersama. Dua falsafah dari dua belahan dunia yang berbeda bertemu dan saling menguatkan.

Di lantai produksi, ribuan pekerja berdiri di sepanjang jalur perakitan. Suara mesin bercampur dengan ritme pekerjaan yang berlangsung nyaris tanpa henti. Dari ruang-ruang produksi seperti itulah industri elektronika nasional tumbuh perlahan, menghadirkan lapangan kerja sekaligus mentransfer kemampuan manufaktur yang sebelumnya sangat bergantung pada luar negeri.

Namun ada satu kisah kecil dari lingkungan pabrik itu yang mungkin paling jelas mencerminkan cara pohon pisang tumbuh menjadi rumpun. Ketika ribuan pekerja setiap hari datang bekerja, tidak sedikit yang berangkat tanpa sempat sarapan atau kesulitan memperoleh makanan layak di tengah jam kerja. Melihat kondisi itu, keluarga Gobel mulai melibatkan para istri karyawan untuk menyediakan makanan bagi para pekerja. Kepedulian yang lahir dari keprihatinan sederhana itu kemudian berkembang menjadi unit usaha katering yang melayani kebutuhan yang jauh lebih luas.

Pola ini terus berulang. Sebuah kebutuhan muncul di dalam ekosistemnya, solusi dibangun, lalu solusi itu tumbuh menjadi tunas bisnis baru yang memiliki kehidupan dan kontribusinya sendiri. Sebagaimana rumpun pohon pisang yang tidak pernah berhenti pada satu batang, dari akar yang sama kemudian tumbuh berbagai lini usaha yang menjangkau sektor jauh melampaui elektronika: energi, logistik, properti, infrastruktur, makanan dan hospitality, hingga pengembangan sumber daya manusia.

1998: Ketika Badai Menguji Akar

Nilai yang baik tidak pernah benar-benar terbukti ketika keadaan berjalan normal. Ia baru menunjukkan kekuatannya ketika berhadapan dengan guncangan yang tidak bisa dihindari.

Ketika krisis ekonomi Asia menghantam Indonesia pada 1998, hampir tidak ada kelompok usaha besar yang tidak terdampak. Nilai tukar rupiah terjun bebas dalam hitungan minggu. Pasar menyusut. Beban utang membengkak. Nama-nama besar yang bertahun-tahun tampak kokoh mendadak kehilangan pijakan. Tidak sedikit yang akhirnya tumbang, terpecah, atau terpaksa melepas satu per satu asetnya untuk bertahan.

Pada saat itulah kepemimpinan Gobel berada di tangan Rachmat Gobel, anak kelima dan putra laki-laki pertama dari pasangan Thayeb Mohammad Gobel dan Annie Nento Gobel. Tantangan yang dihadapi generasi kedua ini berbeda secara mendasar dari tantangan generasi pendiri.

Thayeb membangun perusahaan dari nol, dari keterbatasan yang jelas dan tujuan yang sederhana. Rachmat menghadapi ujian yang jauh lebih pelik: memastikan pohon yang telah tumbuh besar itu tidak tumbang diterpa badai krisis ekonomi, sementara hampir seluruh perusahaan di lingkungan sekitarnya sedang runtuh.

Ini bukan soal ekspansi atau inovasi. Ini soal bertahan. Dan mempertahankan kepercayaan.

Di banyak ruang produksi di Indonesia ketika itu, ketidakpastian terasa hampir setiap hari. Nilai tukar rupiah yang sebelumnya berada di kisaran Rp2.000-an per dolar Amerika Serikat melonjak berkali-kali lipat. Bagi industri yang masih bergantung pada bahan baku, komponen, dan teknologi impor, lonjakan itu bukan sekadar angka di layar monitor ekonomi. Ia langsung menghantam biaya produksi, arus kas, dan kemampuan perusahaan mempertahankan operasi.

Industri elektronika termasuk yang paling merasakan tekanan tersebut. Permintaan pasar melemah ketika daya beli masyarakat merosot. Di saat yang sama, biaya produksi meningkat tajam. Banyak perusahaan memilih menunda ekspansi, memangkas kegiatan usaha, bahkan menghentikan operasionalnya. Di berbagai kawasan industri, suasana optimisme yang sebelumnya mewarnai awal dekade 1990-an berubah menjadi kecemasan.

Dalam situasi seperti itu, tantangan terbesar bukan hanya menjaga neraca perusahaan tetap sehat. Tantangan yang lebih sulit adalah menjaga keyakinan ribuan orang yang menggantungkan hidupnya pada roda usaha yang terus berputar. Filosofi yang selama puluhan tahun ditanamkan Thayeb Gobel tidak diuji melalui pidato atau slogan, melainkan lewat keputusan-keputusan nyata yang harus diambil di tengah tekanan yang datang setiap hari.

Ketika badai datang, yang dipertaruhkan bukan hanya kinerja perusahaan, melainkan juga kepercayaan. Kepercayaan ribuan karyawan yang memilih bertahan meski ketidakpastian membayangi. Kepercayaan para mitra bisnis yang memilih tidak pergi.

Hasilnya menjadi salah satu penanda terpenting dalam sejarah Gobel. Ketika kondisi mulai pulih, kemitraan antara PT Gobel International dan Matsushita Electric Industrial Co., Ltd. diperpanjang tanpa batas waktu pada tahun 2000. Di tengah kondisi ketika banyak perusahaan kehilangan kepercayaan mitra strategisnya, Gobel justru mempererat ikatan yang telah terjalin selama puluhan tahun.

Keberhasilan melewati krisis bukan sekadar persoalan strategi bisnis. Krisis ekonomi 1998 menjadi pembuktian bahwa nilai yang ditanamkan sejak masa pendirian perusahaan mampu bertahan ketika hampir semua yang lain goyah.

Rachmat Gobel berjalan di antara jejak pemikiran Thayeb Mohammad Gobel dan Konosuke Matsushita. Sebagai generasi kedua, ia memimpin perusahaan melewati krisis ekonomi tahun 1998 sekaligus menjaga agar nilai-nilai yang diwariskan pendiri tetap hidup dan relevan bagi generasi berikutnya. (Foto: Dokumentasi Instagram @rachmatgobel_rg)

Rachmat adalah mata rantai yang memastikan nilai itu tidak putus di saat tekanan datang paling keras. Ia tidak membangun dari nol seperti Thayeb, dan tidak menerjemahkan nilai untuk masa depan seperti generasi ketiga. Perannya yang paling sunyi itu justru yang paling menentukan: menjaga agar benang merah itu tidak terputus di tengah badai.

Ketika Generasi Ketiga Menyiapkan Masa Depan

Generasi ketiga hadir dengan tantangan yang berbeda lagi. Arif Gobel mewarisi perusahaan yang sudah jauh lebih kompleks dari yang pernah ada di tangan kakeknya. Gobel bukan lagi produsen radio atau televisi semata. Ia telah berkembang menjadi kelompok usaha yang bergerak di berbagai sektor kehidupan, sementara dunia tempat Gobel beroperasi pun sudah berubah total. Kompetisi tidak lagi datang hanya dari dalam negeri. Teknologi digital mengubah cara orang bekerja, berbelanja, bahkan mengambil keputusan dalam hitungan bulan, bukan lagi dekade.

Mohammad Arif Rachmat Gobel berdiri di antara jejak sejarah yang membentuk perjalanan Gobel Group sejak 1954. Setelah tujuh dekade terlewati, generasi ketiga ini mengemban tugas menyiapkan fondasi menuju usia satu abad melalui nilai, inovasi, dan regenerasi yang diwariskan lintas generasi. (Foto: Anggie Ariesta)

Jika Thayeb membangun dari keterbatasan dan Rachmat menjaga perusahaan melewati krisis, maka tantangan yang dihadapi Arif jauh lebih kompleks. Ia lahir ketika fondasi perusahaan sudah berdiri. Ia tidak mengalami masa menggembalakan kambing di Tinombo seperti kakeknya, dan tidak menghadapi gejolak krisis ekonomi 1998 sebagai pengambil keputusan utama seperti ayahnya. Namun justru karena itu tantangannya berbeda: memastikan warisan pemikiran pada abad ke-20 tetap relevan di abad ke-21.

Generasi ketiga sering kali menghadapi paradoks yang tidak mudah. Semakin besar organisasi yang diwariskan, semakin tinggi pula ekspektasi yang harus mereka jawab. Mereka dituntut berinovasi tanpa menghilangkan identitas yang dibangun generasi sebelumnya. Mereka harus bergerak cepat mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan akar yang membuat perusahaan itu bertahan selama puluhan tahun.

Bagi Arif, pertanyaan itu muncul hampir setiap hari. Bagaimana menjaga semangat pengabdian yang diwariskan pendiri perusahaan di tengah dunia yang bergerak semakin digital, serba cepat, dan semakin kompetitif? Bagaimana memastikan bahwa filosofi yang lahir dari pengamatan seorang anak terhadap pohon pisang di Tinombo tetap dapat dipahami oleh generasi muda yang tumbuh di era kecerdasan buatan?

Filosofi itu, menurut Arif, tetap menjadi pegangan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

โ€œPohon pisang itu seluruh bagiannya bermanfaat bagi manusia, dan sebelum mati ia telah meninggalkan generasi penerus,โ€ ujarnya dalam podcast BizzComm yang tayang di kanal YouTube pada 13 Juni 2025.

Bagi Arif, pelajaran itulah yang terus mengingatkan bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab menyiapkan penerus sebelum perannya selesai.

Namun menjaga filosofi yang sama di tengah dunia yang berubah cepat membutuhkan kemampuan untuk terus beradaptasi.

โ€œKita paham perubahan-perubahan yang ada di dunia sekarang itu begitu cepat, begitu masif. Jadi kita dituntut untuk selalu berubah. Jangan malu-malu, jangan segan-segan untuk terus belajar, karena dari situ kita bisa meningkatkan kemampuan kita dan akhirnya bisa berkontribusi terhadap negara ini,โ€ ujarnya.

Namun semakin cepat dunia berubah, semakin kuat keyakinan Arif bahwa teknologi hanya alat. Yang menentukan masa depan perusahaan tetap manusia yang menjalankannya. Fokus transformasi tidak hanya diarahkan pada digitalisasi proses, tetapi secara serius diarahkan pada pengembangan sumber daya manusia. Berbagai program pengembangan kepemimpinan dijalankan. Generasi baru disiapkan. Proses pembelajaran terus diperkuat agar organisasi mampu beradaptasi dengan perubahan yang berlangsung semakin cepat.

Di berbagai ruang pelatihan dalam jaringan Gobel Group, karyawan muda dari berbagai unit usaha duduk bersama mempelajari kepemimpinan, inovasi, dan transformasi bisnis. Sebagian besar dari mereka mungkin tidak pernah bertemu langsung dengan Thayeb Mohammad Gobel.

Namun prinsip-prinsip itu tetap hidup melalui budaya kerja, program pengembangan, dan apel pagi yang terus dijalankan selama tujuh dekade. Di situlah falsafah pohon pisang menemukan bentuk paling konkretnya: regenerasi tidak berhenti pada lingkar keluarga. Setiap karyawan adalah tunas yang berpotensi memperkuat rumpun yang lebih besar.

Masih dalam podcast itu, Arif mengungkapkan bahwa Gobel Group tengah menyiapkan berbagai tonggak perjalanan menuju usia satu abad.

โ€œKami ini sedang menyiapkan juga suatu konsep ataupun suatu milestone, bagaimana Gobel Group ini sampai di 100 tahun,โ€ ujarnya.

Bagi Arif, perjalanan menuju usia seratus tahun bukan semata-mata soal memperpanjang umur perusahaan. Yang lebih penting adalah memastikan nilai dan filosofi yang diwariskan para pendahulunya tetap relevan di tengah perubahan zaman yang berlangsung semakin cepat.

Maka tiga generasi keluarga Gobel pun mewakili tiga peran yang berbeda dalam satu rumpun yang sama. Thayeb menanam fondasi. Rachmat menjaganya ketika badai krisis ekonomi datang. Arif menerjemahkan warisan itu untuk menghadapi masa depan yang belum sepenuhnya dapat diprediksi. Sebagaimana rumpun pohon pisang yang terus tumbuh karena akarnya tetap terhubung, ketiga generasi itu bergerak di atas fondasi yang sama, menuju tujuan yang menjadi warisan bersama.

Ketika Pohon Pisang Menjawab Pertanyaan tentang Seratus Tahun

Setiap kali seseorang bertanya mengapa Gobel Group berani berbicara tentang usia satu abad, jawaban yang paling jujur mungkin tidak akan ditemukan di ruang rapat, laporan keuangan, atau grafik pertumbuhan bisnis.

Jawabannya ada pada sesuatu yang tumbuh paling sederhana di pekarangan rumah-rumah masyarakat Indonesia.

Pohon pisang tidak pernah menjadi tanaman yang menjulang paling tinggi. Ia tidak memiliki batang sekokoh pohon jati atau usia sepanjang pohon beringin. Namun ia memiliki satu keistimewaan yang membuatnya terus hidup dari generasi ke generasi: sebelum satu batang menyelesaikan tugasnya, kehidupan baru telah dipersiapkan. Sebelum induknya rebah, tunas-tunas baru telah tumbuh di sekelilingnya. Dan selama hidupnya, tidak ada bagian dari dirinya yang tidak memberi manfaat.

Pelajaran itulah yang pertama kali ditangkap Thayeb Mohammad Gobel di Tinombo, oleh seorang anak yang masih menggembalakan kambing. Puluhan tahun kemudian, pelajaran yang sama berubah menjadi falsafah perusahaan, menjadi budaya kerja, dan menjadi fondasi yang menghubungkan tiga generasi dalam satu keyakinan.

Tujuh puluh tahun perjalanan Gobel Group terlewati bukan hanya kisah tentang radio transistor pertama, televisi untuk Asian Games, kemitraan dengan Matsushita, atau tumbuhnya berbagai lini usaha yang membentuk ekosistem bisnis nasional.

Di balik seluruh pencapaian itu, ada sebuah gagasan yang terus diwariskan tanpa henti: bahwa keberhasilan tidak diukur dari seberapa besar sesuatu tumbuh untuk dirinya sendiri, melainkan dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada kehidupan di sekitarnya.

Mungkin karena itulah, setiap pagi apel masih dijalankan. Bukan karena perusahaan kekurangan teknologi untuk menyampaikan pesan melalui layar digital atau aplikasi internal. Bukan pula karena tradisi harus dipertahankan apa adanya. Apel itu menjadi pengingat bahwa umur panjang sebuah perusahaan tidak pernah dibangun hanya oleh strategi bisnis, melainkan oleh nilai yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ketika para karyawan berdiri bersama sebelum memulai pekerjaan mereka, sesungguhnya yang sedang dijaga bukan sekadar rutinitas. Yang sedang dirawat adalah akar dari sebuah rumpun yang telah tumbuh selama tujuh puluh tahun. Dan seperti pohon pisang yang pernah diamati seorang anak bernama Ebu di Tinombo puluhan tahun silam, Gobel tampaknya memahami satu hal penting: masa depan tidak dimulai ketika generasi lama selesai. Masa depan dimulai ketika generasi berikutnya sudah disiapkan jauh sebelum waktunya tiba.

Seperti pohon pisang yang tidak pernah menunggu hingga induknya rebah. (***)

Penulis/Editor: Djoni Satria

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Berlaku Nasional, Polres Garut Imbau Masyarakat Manfaatkan Layanan Gratis Contact Center 110

05

Suzuki Carry Minivan 2026, Irit dengan Kegagahan dan Kenyamanan

06

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

07

Sekolah dan Upaya Membumikan Gapura Pancawaluya di SMAN 1 Cikijing

Sorotan






Kolom