RUZKA INDONESIA โ PT PLN (Persero) siap mengakselerasi pengembangan potensi energi panas bumi/geotermal nasional dengan menargetkan peningkatan kapasitas terpasang dari 2,8 gigawatt (GW) saat ini menjadi 7,9 GW pada 2033. Target ini sekaligus berpotensi menjadikan Indonesia sebagai negara dengan kapasitas geotermal terbesar di dunia.
Langkah strategis ini selaras dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025โ2034 dan target bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) nasional.
Hal tersebut disampaikan dalam acara Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 di Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan Pemerintah berkomitmen mendorong terobosan energi bersih demi memperkokoh kedaulatan dan kemandirian energi nasional di tengah dinamika geopolitik global.
Menurutnya, pengembangan energi terbarukan seperti panas bumi sangat krusial untuk meminimalisir ketergantungan pada energi fosil impor.
“Atas dasar pemikiran itu, Bapak Presiden Prabowo memerintahkan untuk segera mencari terobosan-terobosan alternatif dalam rangka mendorong kedaulatan energi kita. Tidak ada cara lain selain melakukan percepatan implementasi geotermal supaya bisa menjadi listrik ataupun menjadi yang lain. Harus ada kolaborasi antara pengusaha dan regulator,” ujar Bahlil.
Ketua Umum Asosiasi Panasbumi Indonesia (API), Julfi Hadi, juga menggarisbawahi pentingnya momentum peringatan satu abad eksplorasi panas bumi Indonesia. Ia mendukung penuh target pemerintah menjadikan Indonesia sebagai raksasa geotermal dunia.
“Indonesia mempunyai local resources, mempunyai indigenous resources, yaitu panas bumi yang terbesar di dunia. Energi panas bumi mempunyai karakteristik spesial bisa menjadi base load yang andal. Satu-satunya base load renewable yang ada pada saat ini juga terbarukan, bersih dan terbentang luas dari Sabang sampai Merauke. Kunci mutlak menuju (Visi Panas Bumi) 30.1 adalah kolaborasi,” kata Julfi.
Melalui Visi Panas Bumi 30.1, Pemerintah menargetkan Indonesia menjadi produsen energi panas bumi nomor satu di dunia pada tahun 2030.
RUPTL 2025-2034: Tambah 5,1 GW Kapasitas Geotermal
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyampaikan PLN siap mendukung kebijakan strategis Presiden Prabowo dalam pengembangan energi terbarukan nasional. Indonesia memiliki potensi panas bumi hingga 23,2 GW.
“Indonesia memiliki peluang emas untuk membawa kekayaan panas bumi menjadi pemimpin energi dunia. Sesuai arahan Pemerintah melalui RUPTL 2025-2034, dari kapasitas 2,8 GW saat ini, ke depan kami akan mendorong penambahan kapasitas sebesar 5,1 GW atau melompat menjadi total 7,9 GW pada 2033 sekaligus berpotensi menjadi yang terbesar di dunia,โ tegas Darmawan.
Sesuai peta jalan RUPTL 2025-2034, kapasitas kumulatif akan naik melalui penambahan 110 proyek, yang terdiri dari 25 unit dengan total kapasitas 0,6 GW akan dikembangkan oleh PLN dan 85 unit dikembangkan oleh Independent Power Producer (IPP) sebesar 4,5 GW.
Guna mempercepat realisasi target, PLN membuka kolaborasi melalui skema:
- GEECA – Geothermal Exploration & Energy Conversion Agreement untuk Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) PLN
- SECA – Steam Sales & Energy Conversion Agreement untuk WKP non-PLN
Dari total rencana 79 proyek – 45 proyek GEECA dan 34 proyek SECA, penambahan kapasitas panas bumi diproyeksikan mencapai 3,1 GW.
โPLN membuka kolaborasi seluas-luasnya bagi para mitra melalui skema GEECA dan SECA. Lewat kolaborasi yang fairness ini, diharapkan dapat mengakselerasi pengembangan panas bumi, sebagai salah satu energi baru terbarukan domestik,โ ucap Darmawan.
Dalam IIGCE 2026, sinergi pengembangan EBT diperkokoh lewat:
- Penyerahan SK Izin Panas Bumi (IPB) WKP Gunung Ungaran dari Kementerian ESDM kepada PLN
- Penandatanganan Deklarasi Kemitraan Strategis untuk proyek PLTP total 453 MW
- LoI antara PLN Indonesia Power dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk untuk pembelian listrik dari Lahendong Binary 15 MW dan Ulubelu Binary 30 MW
โDengan dukungan Pemerintah dan kolaborasi para mitra, PLN siap mengakselerasi pengembangan panas bumi. Ke depan, panas bumi tidak hanya memperkuat pasokan listrik baseload yang andal, tetapi juga sekaligus mendukung swasembada energi, ketahanan energi, dan percepatan transisi energi nasional,” pungkas Darmawan. ***
Editor: Yoyok BP
Email: yoyokbp@gmail.com












