RUZKA INDONESIA — Masjid Wak Tanjong di Singapura menjadi salah satu contoh inspiratif dalam pengelolaan masjid modern.
Meski tidak berukuran besar, masjid ini mampu menjangkau jamaah hingga ke berbagai negara melalui program pengajian berbasis digital.
Masjid Wak Tanjong (Wak Tanjong Mosque) merupakan salah satu masjid bersejarah yang terletak di kawasan Paya Lebar, Singapura.
Masjid yang telah berdiri selama lebih dari 150 tahun ini dikenal memiliki lokasi yang strategis, nyaman, serta menjadi pusat kegiatan keagamaan bagi masyarakat di sekitarnya.
Secara historis, masjid ini bermula dari sebuah surau kayu yang didirikan pada tahun 1933 oleh Wak Tanjong. Seiring waktu, masjid ini terus berkembang dan melayani komunitas Muslim lintas generasi.
Dari sisi arsitektur, Masjid Wak Tanjong mengusung perpaduan gaya Melayu dan Indo-Saracen, yang kemudian diperkaya dengan sentuhan modern setelah renovasi besar pada tahun 1998. Paviliun berkubah asli dari era 1930-an tetap dipertahankan sebagai bagian dari warisan sejarahnya.
Anggota Dewan Pengurus (Board of Directors/BOD) Masjid Wak Tanjong, Nailul Hafiz, menyampaikan bahwa upaya memakmurkan masjid harus dimaknai secara luas, tidak hanya sebatas aktivitas fisik di dalam bangunan.
โMasjid itu ibarat bintang-bintang di langit. Cahayanya menerangi langit. Maka kita perlu berusaha agar masjid bisa memberikan cahaya dan manfaat yang luas,โ ujar Nailul Hafiz dalam keterangan yang diterima, Rabu (22/04/2026).
Masjid Wak Tanjong merupakan satu dari 71 masjid yang ada di Singapura. Di tengah keterbatasan ruang dan padatnya aktivitas perkotaan, pengurus masjid berupaya menghadirkan solusi bagi masyarakat yang tidak dapat hadir langsung ke masjid.
Menurut Nailul Hafiz, inisiatif digital yang dilakukan berawal dari kebutuhan jamaah sekitar, khususnya mereka yang memiliki keterbatasan untuk keluar rumah.
โKami melihat ada kebutuhan masyarakat yang belum terpenuhi. Banyak yang ingin ke masjid, tetapi tidak punya kesempatan. Dari situ kami mulai dengan langkah kecil,โ jelasnya.
Pengurus kemudian memanfaatkan platform digital seperti WhatsApp dan Telegram untuk menyebarkan materi Al-Qurโan dan kajian keislaman. Langkah sederhana tersebut mendapat respons positif dan berkembang hingga menjangkau jamaah dari berbagai negara.
โAwalnya hanya untuk masyarakat sekitar, tetapi ternyata banyak juga dari luar negeri yang membutuhkan layanan seperti ini,โ tambahnya.
Seiring waktu, program tersebut berkembang menjadi platform pembelajaran Al-Qurโan berbasis daring bernama QuranBit yang dapat diakses secara global.
Dalam kesempatan tersebut, Nailul Hafiz juga tampak menerima kunjungan rombongan dari QU Institut di Masjid Wak Tanjong sebagai bagian dari silaturahim dan pertukaran pengalaman pengelolaan masjid.
Ia menegaskan bahwa kunci keberhasilan program tersebut adalah memulai dari kebutuhan nyata masyarakat, kemudian mengelolanya secara konsisten dan penuh keikhlasan.
Ia juga berpesan kepada para pengurus masjid di berbagai daerah agar tetap sabar dan istiqamah dalam memakmurkan masjid.
โMenjadi pengurus masjid bukan perkara mudah, tetapi surga Allah juga tidak murah. Maka perlu kesabaran, keikhlasan, dan pengorbanan dalam menjalankannya,โ katanya.
Menurutnya, setiap upaya di jalan Allah akan mendapatkan pertolongan dan kemudahan dari-Nya.
Kisah Masjid Wak Tanjong ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pengurus masjid di Indonesia dan dunia untuk terus berinovasi, khususnya dalam memanfaatkan teknologi digital guna memperluas jangkauan dakwah dan pelayanan kepada umat. (***)
Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com


Komentar