RUZKA INDONESIA — Peresmian (Ground breaking) Pengembangan Pelabuhan Perikanan Internasional Pengambengan di Jembrana, Bali oleh Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Sakti Wahyu Trenggono yang didampingi oleh Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan membuka peluang baru bagi penguatan konektivitas ekonomi, pariwisata, dan kehidupan sosial masyarakat pesisir Jembrana, Selasa (29/09/2026).
Momentum ini juga memperkuat prospek pengembangan Wisata Religi Masjid Pantai Bali di Desa Cupel, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, sebagai destinasi wisata religi “Smart Masjid” yang memadukan nilai ibadah dalam konsep 5 E (edukasi, ekonomi, ekologi, empati dan entertain).
Bali Manasik Center
Masjid Pantai Bali kini semakin dikenal masyarakat luas meskipun pembangunannya masih belum tuntas.
Terbukti dengan mulai ramai dikunjungi oleh wisatawan domestik dan mancanegara, seperti wisatawan dari: Turki, Rusia, Iran, Palestina dan Perancis, dan lain-lain.
Kehadirannya menjadi bagian penting dari pengembangan “Bali Manasik Center”, yaitu Pusat Manasik Haji di Bali. Ikon baru yang diresmikan oleh Ketua DMI dan Mantan Wapres RI Jusuf Kalla tersebut, kini menjadi ruang pembelajaran, persiapan, dan penguatan spiritual bagi calon jemaah haji serta masyarakat luas.
Lokasi wisata religi Masjid Pantai Bali yang berada di kawasan pesisir Jembrana dan berdekatan dengan Pelabuhan Perikanan Internasional Pengambengan, memberikan posisi strategis bagi Masjid Pantai Bali.
Arus pergerakan nelayan, pelaku usaha, akademisi, wisatawan, pekerja, dan masyarakat dari berbagai daerah berpotensi meningkatkan kunjungan sekaligus memperluas manfaat sosial dan ekonomi kawasan.
Kehadiran pelabuhan tidak hanya menghadirkan aktivitas perdagangan dan perikanan, tetapi juga membuka peluang terbentuknya ekosistem wisata yang lebih terintegrasi.
Masjid Pantai Bali dapat menjadi tempat persinggahan, pusat informasi wisata religi, ruang edukasi kemaritiman dan lingkungan, serta lokasi pelaksanaan kegiatan keagamaan dan manasik Haji.
Ini bukan sekadar soal jarak. Di antara aktivitas nelayan, perdagangan, pariwisata, dan pergerakan manusia dari berbagai penjuru, hadir sebuah ruang untuk berhenti sejenak, menunaikan ibadah, mengikuti manasik, menemukan ketenangan, dan membangun silaturahmi secara harmonis.
Eco-Maritime Smart Masjid
Masjid Pantai Bali tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang edukasi, ekonomi, ekologi, ekonomi, empati, dan entertain atau wisata religi yang memberikan benefit bagi masyarakat multikultural.
Ruang wisata religi yang berpadu dengan wisata bahari, yang dekat dengan Pelabuhan Internasional Pengambengan inilah menjadikan Masjid Pantai Bali bisa menjadi sebuah Eco-Maritim Smart Masjid.
Kolaborasi Penthahelix
Pengembangan kawasan ini dapat diarahkan melalui kolaborasi penthahelix antara pemerintah daerah, akademisi, pengelola pelabuhan, desa adat dan desa dinas, pelaku usaha, komunitas keagamaan, nelayan, pelaku UMKM, masyarakat setempat dan media massa.
Kolaborasi tersebut penting untuk memastikan bahwa pertumbuhan kunjungan wisata berjalan tertib, inklusif, ramah lingkungan, dan memberikan manfaat nyata bagi warga sekitar.
Dengan semakin banyaknya kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara, Masjid Pantai Bali diharapkan menjadi salah satu ikon wisata religi di Jembrana sekaligus pusat manasik Haji yang memperkuat citra Bali sebagai destinasi wisata yang harmonis, ramah, indah dan berkelanjutan. (***)
Penulis: Firmansyah Dimmy/Ketua Yayasan Masjid Pantai Nusantara
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com



Komentar