Home > Kolom

Catatan Cak AT: Bukan Youtuber Biasa

Berpindahnya dari media arus utama seperti Vox ke YouTube bukan sekadar keputusan nekat, tapi juga pertaruhan besar.
Foto ilustrasi Catatan Cak AT: Bukan Youtuber Biasa. (Foto: Dok RUZKA INDONESIA) 
Foto ilustrasi Catatan Cak AT: Bukan Youtuber Biasa. (Foto: Dok RUZKA INDONESIA)

RUZKA-REPUBLIKA NETWORK -- Adam Cole dan Joss Fong bukan sekadar YouTuber biasa. Mereka veteran jurnalisme sains yang, setelah bertahun-tahun bekerja di Vox dan NPR, keluar dari sana, kemudian memutuskan melompat ke samudera digital dengan perahu kecil bernama Howtown, sebuah channel sains di Youtube.

Apakah di sana mereka menemukan pulau harta karun, atau justru hanya berputar-putar di laut tanpa peta? Jawabannya masih belum jelas.

Tapi perjalanan mereka sejauh ini penuh dengan pelajaran menarik —dan tentu saja, eksperimen yang melibatkan vampir kelelawar berlari di treadmill. Kita patut pelajari.

Berpindah dari media arus utama seperti Vox ke YouTube bukan sekadar keputusan nekat, tapi juga pertaruhan besar.

Cole dan Fong sadar bahwa membangun kanal independen berarti meninggalkan kenyamanan gaji tetap dan masuk ke dunia yang diatur oleh algoritma dan kebiasaan scrolling cepat pengguna.

Menariknya, mereka bertekad untuk tetap setia bertahan pada prinsip jurnalisme sejati: berbasis riset, akurat, dan tanpa campur tangan sponsor dalam isi konten. Namun, dunia YouTube punya aturannya sendiri, dan Shorts —video pendek berbentuk vertikal ala TikTok—ternyata menjadi dilema bagi mereka.

Cole dan Fong sadar bahwa _Shorts_ bisa menjadi alat yang ampuh untuk menarik audiens, tetapi ada satu masalah besar: mereka hampir tidak menghasilkan uang. Ini dialami mereka saat membuat video Short tentang vampir kelelawar yang berlari di treadmill (sebuah konten ilmiah yang tentunya sangat penting bagi umat manusia).

Ditayangkan di Youtube, video ini menarik pemirsa, dan mendapatkan 2,6 juta views, tapi hanya menghasilkan $272 dari AdSense.

Sementara itu, video panjang mereka tentang saus pedas _Hot Ones_ dengan 1,5 juta views mendatangkan $5.260 —belum termasuk sponsor tambahan yang memberi mereka beberapa ribu dolar lagi.

Dari pengalaman ini mereka sampai pada kesimpulan: Jika ingin sukses di YouTube, jangan hanya bergantung pada Shorts —kecuali Anda puas menjadi kaya dalam bentuk like dan komentar tanpa saldo rekening yang bertambah.

Mereka pun kini lebih memahami algoritma Youtube terkait pendapatan yang diharapkan dari video mereka.

Sejak awal, Cole dan Fong tidak hanya mengandalkan iklan YouTube. Mereka membangun komunitas di Patreon, di mana penggemar bisa berlangganan mulai dari $4 per bulan.

Manfaatnya? Akses ke Discord eksklusif, newsletter, hingga klub diskusi jurnal ilmiah —tempat di mana orang-orang berkumpul untuk memahami istilah rumit dalam riset sambil mungkin berpura-pura tidak bingung.

Pendekatan ini membuahkan hasil. Pada November 2024, mereka baru memiliki 200 pelanggan Patreon. Setelah video Hot Ones viral, jumlah pelanggannya melonjak menjadi 350. Tidak buruk untuk kanal yang masih dalam tahap meraba-raba model bisnisnya.

Namun, lebih dari sekadar uang, Patreon memberi mereka sesuatu yang lebih berharga: komunitas yang benar-benar peduli. Seperti kata Fong, meskipun ia pernah membuat video dengan jutaan views, tidak ada yang lebih memuaskan daripada melihat emoji reaksi dari sekelompok orang yang benar-benar mendukung mereka.

Selain AdSense dan Patreon, Howtown juga mendapatkan suntikan dana dari Alfred P. Sloan Foundation, sebuah organisasi yang mendukung jurnalisme sains. Hibah ini membantu mereka menutup biaya produksi, dan mungkin, menyewa bantuan untuk tugas berat seperti animasi.

Selama ini, Cole dan Fong harus melakukan segalanya sendiri, dari riset hingga menggambar ilustrasi otak manusia dengan tangan gemetar karena kurang tidur. Berkat suntikan dana hibah tadi, mereka sedikit lega dibantu animator dan kreator konten.

Dalam wawancaranya dengan NewsmanLab, Cole dengan jujur mengakui bahwa mereka masih dalam fase "keluar dari dahan" alias mencoba-coba tanpa jaminan sukses. Mereka tahu bahwa kebanyakan usaha seperti ini berakhir dengan kegagalan.

Tapi, bagi mereka, inilah satu-satunya cara untuk tetap melakukan pekerjaan yang mereka cintai tanpa harus tunduk pada kebijakan perusahaan media besar. Cole dan Fong merasa beruntung dapat berkreasi lebih bebas dalam jurnalisme sains.

Ke depan, mereka masih bereksperimen dengan format video, mencari keseimbangan antara konten pendek yang menarik banyak mata dan konten panjang yang benar-benar bernilai. Mereka belajar bukan hanya dari buku, tapi dari mengalami sendiri.

Apakah mereka akan sukses besar seperti Johnny Harris atau Cleo Abram, yang sudah punya jutaan subscriber? Atau akan tetap menjadi kanal independen dengan komunitas kecil namun loyal? Pengalamanlah yang akan menentukan.

"Kami tidak tahu apakah [strategi ini] akan masuk akal bagi kami dari segi finansial. Saat ini, kami masih dalam tahap 'nekat mencoba', bukan tahap 'menemukan model bisnis baru'." Begitu kata mereka dengan nada optimis.

Yang jelas, selama masih ada orang yang tertarik pada sains, saus pedas, dan vampir kelelawar yang rajin berolahraga, Howtown sepertinya masih punya masa depan yang menjanjikan. Tak hanya bagi Cole dan Fong, tapi juga bagi Anda yang kreatif dan bekerja mendalam. (***)

Penulis: Cak AT - Ahmadie Thaha/Ma'had Tadabbur al-Qur'an, 28/2/2025


× Image