RUZKA INDONESIA – Pemerintah memperkuat implementasi pelabelan gizi pada bagian depan kemasan atau Front-of-Pack Nutrition Labelling (FOP-NL) dan logo Pilihan Lebih Sehat untuk mendorong konsumsi pangan yang lebih sehat. Kebijakan ini dibahas dalam diskusi Future Foods Forum (FFF) yang menghadirkan akademisi, think tank, swasta, dan regulator termasuk BPOM, Minggu (15/6/2026).
“Informasi nilai gizi dan pelabelan gizi pada bagian depan kemasan ini merupakan kebijakan yang disusun untuk memudahkan masyarakat dalam memahami informasi terkait kandungan gizi pangan olahan, sehingga konsumen bisa memilih produk sesuai dengan kebutuhan gizinya masing-masing,” kata Direktur Standardisasi Pangan Olahan BPOM RI, Dwiana Andayani.
Momentum Hari Gizi Dunia dan Hari Susu Sedunia jadi pengingat pentingnya peningkatan kualitas gizi lewat kebijakan yang mudah dipahami. Pelabelan gizi disebut bukan sekadar instrumen informasi, tetapi alat bantu masyarakat membuat pilihan pangan lebih sehat.
Kerangka regulasi terus diperkuat, antara lain lewat Peraturan BPOM Nomor 26 Tahun 2021 tentang Informasi Nilai Gizi pada Label Pangan Olahan dan PP Nomor 28 Tahun 2024. Regulasi itu mengatur kewajiban pencantuman informasi kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) pada produk pangan olahan.
Pemerintah akan menerapkan kebijakan pelabelan FOP-NL berupa Nutri Level secara bertahap, diawali pada produk minuman, lalu dikembangkan ke jenis pangan lain.Komite Regulasi Teknis Pangan GAPMMI, Arum Maryudiani, menekankan edukasi publik sebagai bagian penting implementasi untuk mendukung pencegahan penyakit tidak menular. “Perlu edukasi dan sosialisasi membaca label untuk memberikan manfaat bahwa dalam label itu ada informasi yang perlu dan penting bagi konsumen,” ujarnya.
Arum menyebut sejumlah perusahaan sudah melakukan reformulasi produk untuk mengurangi kandungan GGL serta meningkatkan kualitas gizi pangan.
Studi Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menemukan efektivitas kebijakan pelabelan gizi dapat diperkuat lewat pendekatan menyeluruh yang mempertimbangkan kesiapan industri sekaligus pemahaman konsumen. Associate Principal Manager Food & Drink Mintel Consulting, Michelle Teodoro, mengatakan pengalaman internasional menunjukkan sistem pelabelan gizi yang lebih sederhana membuat konsumen mengambil keputusan lebih cepat dan terinformasi.
“Tantangannya bukan terletak pada kurangnya minat masyarakat terhadap kesehatan, melainkan bagaimana membuat informasi kesehatan menjadi lebih mudah dipahami oleh konsumen,” kata Michelle.
FFF mendorong kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, industri, akademisi, ahli gizi, dan masyarakat agar pelabelan gizi tidak hanya kuat secara desain kebijakan, tetapi juga mampu mendorong perilaku konsumsi lebih sehat dan mendukung transformasi sistem pangan Indonesia.***
Editor: Yoyok Bepe
Email: yoyokbp@gmail.com






Komentar