Lingkungan Nasional
Beranda ยป Berita ยป Pentingnya Keterlibatan Masyarakat, Pramono Terbitkan Instruksi Pilah Sampah dari Rumah

Pentingnya Keterlibatan Masyarakat, Pramono Terbitkan Instruksi Pilah Sampah dari Rumah

Menurut Fahira Idris, menjadikan pemilahan sampah sebagai gerakan sosial berbasis komunitas dengan belajar dari berbagai kota dunia, keberhasilan pengelolaan sampah sangat ditentukan oleh keterlibatan aktif masyarakat. (Foto: Dok RUZKA INDONESIA)
Menurut Fahira Idris, menjadikan pemilahan sampah sebagai gerakan sosial berbasis komunitas dengan belajar dari berbagai kota dunia, keberhasilan pengelolaan sampah sangat ditentukan oleh keterlibatan aktif masyarakat. (Foto: Dok RUZKA INDONESIA)

RUZKA INDONESIA โ€“ Langkah Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang menerbitkan Instruksi Gubernur (Ingub) tentang pemilahan sampah dari rumah sebagai upaya memperbaiki tata kelola sampah di Jakarta, mendapat sambutan positif dari Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta Fahira Idris.

Menurut Fahira Idris, kebijakan ini merupakan langkah tepat dan mendesak, mengingat kapasitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang yang semakin terbatas serta meningkatnya volume sampah perkotaan yang tidak lagi dapat ditangani dengan pendekatan lama.

โ€œIni langkah strategis dan harus kita dukung bersama. Pemilahan sampah dari sumber adalah kunci utama. Tanpa itu, seberapa besar pun investasi di hilir tidak akan menyelesaikan persoalan secara berkelanjutan,โ€ ujar Fahira Idris di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, sebagaimana disampaikan kepada RUZKA INDONESIA, Selasa (05/05/2026).

Fahira Idris menilai, keberhasilan kebijakan ini akan sangat ditentukan oleh konsistensi implementasi di lapangan, kesiapan infrastruktur, serta perubahan perilaku masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang komprehensif agar gerakan ini tidak berhenti sebagai imbauan, tetapi menjadi budaya baru warga Jakarta.

Untuk itu, Fahira Idris menyampaikan sejumlah strategi agar kebijakan pemilahan sampah dari rumah berjalan efektif dan berdampak nyata.

Pada Kegiatan TMMD ke-128, Polres Garut Perkuat Kesadaran Hukum dan Kamtibmas di Malangbong

Pertama, memastikan konsistensi dari hulu ke hilir yang ditegaskan bahwa sampah yang sudah dipilah dari rumah tidak boleh kembali tercampur dalam proses pengangkutan hingga pengolahan. Konsistensi sistem menjadi kunci membangun kepercayaan publik.

Kedua, memperkuat infrastruktur pemilahan di tingkat komunitas. Menurut Senator Jakarta ini, setiap RW harus benar-benar didukung dengan fasilitas pemilahan, bank sampah aktif, serta sistem pengelolaan yang memadai agar warga tidak kesulitan dalam menjalankan kewajiban ini.

Ketiga, mengkombinasikan insentif dan disinsentif secara tegas. Fahira Idris mengapresiasi skema insentif bagi RW yang berhasil, namun juga menekankan pentingnya penerapan sanksi yang adil bagi yang tidak patuh agar tercipta kedisiplinan kolektif.

Keempat, mendorong edukasi masif dan berkelanjutan, karena menurutnya, perubahan perilaku tidak bisa instan. Diperlukan kampanye publik yang konsisten, berbasis komunitas, sekolah, hingga tempat ibadah agar kesadaran memilah sampah menjadi bagian dari budaya sehari-hari.

Kelima, mengintegrasikan teknologi dan inovasi dalam pengelolaan sampah. Fahira Idris mendorong pemanfaatan teknologi seperti sistem pelaporan digital, tracking pemilahan, hingga inovasi pengolahan seperti kompos, maggot, Refuse Derived Fuel (RDF), dan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) agar pengelolaan sampah lebih modern dan efisien.

MUI Depok Telah Syahadatkan Ratusan Masyarakat, Cari Kebenaran

Keenam, menjadikan pemilahan sampah sebagai gerakan sosial berbasis komunitas dengan belajar dari berbagai kota dunia, keberhasilan pengelolaan sampah sangat ditentukan oleh keterlibatan aktif masyarakat. Karena itu, gerakan ini harus didorong menjadi gerakan kolektif, bukan hanya program pemerintah.

Fahira Idris menambahkan, berbagai kota di dunia telah membuktikan bahwa pemilahan sampah dari sumber adalah kunci keberhasilan pengelolaan sampah. Kota seperti Kamikatsu di Jepang mampu mendaur ulang lebih dari 80 persen sampah melalui pemilahan ketat di tingkat warga.

Sementara Seoul dan banyak kota lain di Korea Selatan berhasil mengelola hampir seluruh sampah makanan dengan sistem berbasis teknologi. Praktik-praktik ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku masyarakat yang didukung sistem yang konsisten adalah kunci keberhasilan.

โ€œKalau kita serius membenahi dari hulu, maka beban di hilir akan jauh berkurang. Tapi kalau tidak, persoalan sampah akan terus menjadi krisis berulang. Semoga instruksi ini menjadi momentum perubahan bersama. Jakarta butuh kolaborasi semua pihak agar bisa menjadi kota yang bersih, sehat, dan berkelanjutan,โ€ pungkas Fahira Idris.

Sebagai informasi, Gubernur Pramono Anung telah menandatangani Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber sebagai upaya memperbaiki pengelolaan sampah di Jakarta. Melalui kebijakan ini, warga diminta mulai memilah sampah ke dalam empat kategori, yakni sampah organik, sampah anorganik, sampah bahan berbahaya dan beracun atau B3, serta sampah residu. (***)

Pengadilan Kabulkan Penetapkan Pelaksanaan Eksekusi Pengosongan Hotel Sultan Jakarta

Editor: Ao S Dwiyantho Putra
Email: aodwiyantho@gmail.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Berlaku Nasional, Polres Garut Imbau Masyarakat Manfaatkan Layanan Gratis Contact Center 110

05

Suzuki Carry Minivan 2026, Irit dengan Kegagahan dan Kenyamanan

06

Depok akan Bangun Pabrik Pengelolaan Sampah RDF di TPA Cipayung

07

Meluncur Toyota Kijang Super 2026: Tampil Gagah dan Fitur Canggih, Harganya Terjangkau

Sorotan






Kolom