RUZKA INDONESIA โ Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta Fahira Idris menilai pasar rakyat harus menjadi salah satu wajah utama ekonomi Jakarta sebagai kota global. Menurutnya, menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-499 Kota Jakarta pada 22 Juni 2026, Jakarta tidak boleh hanya dikenal dari gedung perkantoran, pusat bisnis modern, mal, atau kawasan komersial besar, tetapi juga dari pasar rakyat yang hidup, tertata, inklusif, digital, dan menjadi ruang ekonomi warga.
Fahira Idris mengungkapkan, pasar rakyat memiliki posisi strategis dalam sejarah dan denyut ekonomi Jakarta. Pasar bukan hanya tempat jual beli, tetapi ruang sosial, ruang budaya, ruang interaksi warga, sekaligus simpul ekonomi rakyat yang menghidupi pedagang kecil, pelaku UMKM, pekerja informal, pemasok lokal, hingga keluarga-keluarga Jakarta.
โJelang HUT Ke-499 Jakarta, kita perlu menegaskan bahwa pasar rakyat harus menjadi wajah ekonomi Jakarta kota global. Kota global bukan hanya tentang kawasan bisnis modern dan investasi besar, tetapi juga tentang bagaimana ekonomi rakyat tumbuh, UMKM naik kelas, pasar tradisional hidup, dan warga memiliki ruang ekonomi yang adil,โ ujar Fahira Idris dalam keterangannya, Jumat (19/06/2026) malam.
Menurut Senator Jakarta ini, modernisasi pasar rakyat harus ditempatkan sebagai bagian penting dari transformasi Jakarta menuju lima abad pada 2027. Revitalisasi pasar tidak boleh hanya dimaknai sebagai pembangunan fisik, tetapi harus menjadi upaya menyeluruh untuk meningkatkan kualitas layanan, memperkuat daya saing pedagang, menarik generasi muda, dan menjadikan pasar sebagai destinasi ekonomi, budaya, dan wisata kota.
โPasar rakyat harus naik kelas tanpa kehilangan jiwanya. Tradisionalitas, keramahan pedagang, kekhasan produk lokal, kuliner, dan interaksi sosial harus tetap dijaga. Namun, pada saat yang sama, pasar juga harus bersih, nyaman, aman, digital, ramah disabilitas, mudah diakses transportasi publik, dan relevan bagi generasi muda,โ ungkap Fahira Idris.
Fahira Idris menyampaikan sejumlah strategi agar pasar rakyat benar-benar menjadi wajah ekonomi Jakarta kota global. Pertama, revitalisasi pasar harus berbasis kenyamanan, kebersihan, dan inklusivitas. Setiap pasar rakyat perlu memiliki standar pelayanan minimum mulai dari pencahayaan, sirkulasi udara, sanitasi, pengelolaan sampah, keamanan pangan, jalur ramah disabilitas, ruang laktasi, toilet layak, hingga area yang aman bagi lansia dan anak.
Kedua, pasar rakyat harus masuk ke ekosistem digital. Digitalisasi tidak boleh berhenti pada QRIS atau pembayaran nontunai.
Pasar-pasar rakyat Jakarta perlu memiliki katalog digital, kanal promosi bersama, sistem informasi harga, layanan pesan antar, pusat logistik kecil, serta pelatihan konten digital bagi pedagang. Dengan begitu, pasar rakyat tidak menjadi korban e-commerce, tetapi justru menjadi bagian dari ekosistem perdagangan modern.
โPasar rakyat tidak boleh diposisikan berhadap-hadapan dengan ekonomi digital. Justru pasar harus difasilitasi agar bisa hadir secara fisik dan digital sekaligus. Pedagang kecil harus dibantu masuk ke pasar online tanpa kehilangan kekuatan interaksi langsung yang menjadi ciri khas pasar rakyat,โ jelas Fahira Idris.
Ketiga, pasar rakyat harus menjadi ruang ekonomi kreatif dan destinasi urban. Fahira Idris yang juga pemerhati UMKM ini menilai, Jakarta dapat mengembangkan pasar tematik, pasar malam budaya, festival kuliner, bazar UMKM, ruang pamer produk lokal, hingga kolaborasi dengan desainer muda, komunitas kreatif, dan pelaku seni.
Pasar seperti Tanah Abang, misalnya, dapat diperkuat tidak hanya sebagai pusat perdagangan tekstil, tetapi juga sebagai destinasi wisata belanja, mode, dan ekonomi kreatif.
Keempat, pasar rakyat harus terintegrasi dengan transportasi publik. Menurut Fahira Idris, pasar tidak akan hidup optimal jika aksesnya sulit, macet, dan tidak nyaman.
Konektivitas pasar dengan Transjakarta, MRT, LRT, KRL, Mikrotrans, jalur pedestrian, jalur sepeda, serta area drop off yang tertata harus menjadi bagian dari agenda revitalisasi pasar.
โJika pasar mudah dijangkau transportasi publik, maka pengunjung meningkat, pedagang terbantu, kemacetan berkurang, dan pasar menjadi bagian dari mobilitas kota yang modern,โ kata Fahira Idris.
Kelima, pasar rakyat harus menjadi contoh ekonomi hijau perkotaan. Fahira Idris mendorong agar revitalisasi pasar memasukkan standar keberlanjutan seperti pengolahan sampah organik, pemilahan sampah, pemanfaatan panel surya, efisiensi air, pengelolaan limbah, dan ruang hijau.
Pasar rakyat dapat menjadi laboratorium kecil ekonomi sirkular di tingkat kota.
Keenam, penguatan pedagang dan UMKM harus menjadi inti kebijakan pasar. Revitalisasi pasar tidak boleh hanya mempercantik bangunan, tetapi harus memperkuat orang-orang yang menghidupkan pasar.
Pedagang perlu didukung melalui koperasi, akses pembiayaan murah, pelatihan manajemen usaha, pendampingan legalitas, kurasi produk, perlindungan dari praktik sewa yang memberatkan, dan promosi yang berkelanjutan.
โPasar rakyat hidup karena pedagangnya. Maka setiap kebijakan pasar harus menempatkan pedagang sebagai subjek utama, bukan sekadar penghuni kios. Pedagang harus diajak bicara, dilibatkan dalam desain perubahan, dan diberi ruang untuk tumbuh bersama,โ tegas Fahira Idris.
Fahira Idris menambahkan, menjelang usia lima abad, Jakarta membutuhkan keseimbangan antara modernisasi dan keberpihakan kepada ekonomi rakyat. Kota global yang kuat adalah kota yang mampu menghadirkan pusat keuangan, investasi, dan bisnis modern, tetapi pada saat yang sama menjaga pasar rakyat, UMKM, dan ekonomi warga tetap hidup serta berdaya saing.
โPasar rakyat adalah denyut ekonomi warga. Jika pasar rakyat tertata, pedagang sejahtera, UMKM naik kelas, dan warga kembali bangga berbelanja di pasar, maka Jakarta bukan hanya menjadi kota global yang modern, tetapi juga kota global yang membumi dan berkeadilan,โ pungkas Fahira Idris. (***/Jie)
Editor: Ao S Dwiyantho Putra
Email: aodwiyantho@gmail.com






Komentar