RUZKA INDONESIA — Lembaga Sensor Film (LSF) terus menggaungkan budaya sensor mandiri melalui kegiatan literasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri yang dirangkaikan dengan nonton bareng (nobar) film nasional di CGV D’Mall, Kota Depok, Selasa (21/07/2036).
Adapun kegiatan tersebut diikuti 332 peserta dari kalangan mahasiswa dan komunitas.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memasyarakatkan klasifikasi usia penonton sekaligus membangun kesadaran masyarakat untuk memilih tontonan sesuai usia.
โKami hadir di Depok setelah sejumlah kota lain dalam rangka memasyarakatkan klasifikasi usia penonton dan mengajak masyarakat menerapkan budaya sensor mandiri melalui Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri,โ ujar Ketua LSF, Naswardi.
Menurut Naswardi, sosialisasi difokuskan pada tiga sasaran utama, yaitu mahasiswa, dosen, dan perguruan tinggi.
Selain itu, LSF juga menggandeng kelompok masyarakat seperti PKK, Posyandu, majelis taklim, serta berbagai komunitas sebagai ujung tombak literasi tontonan.
โKami bekerja sama dengan perguruan tinggi, termasuk Universitas Indonesia, dan kelompok masyarakat agar literasi tontonan ini bisa menjangkau lebih luas,โ ungkapnya.
Ia menambahkan, LSF juga berupaya mendorong pertumbuhan industri film nasional yang saat ini menunjukkan perkembangan pesat. Pada tahun lalu, jumlah penonton film nasional mencapai 80,2 juta.
Tingkatkan Apresiasi Terhadap Film Nasional
Dalam kegiatan ini, LSF menghadirkan dua film nasional yang sedang tayang, yaitu Jangan Buang Ibu dan Takkan Kubiarkan Kau Menangis. Kedua film tersebut dipilih agar relevan dengan masyarakat sekaligus meningkatkan apresiasi terhadap film nasional.
โKami menggandeng film yang sedang tayang agar masyarakat lebih dekat dan tertarik untuk menonton film nasional,โ terang Naswardi.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak, termasuk komunitas dan pemangku kepentingan perfilman, dalam membangun ekosistem industri yang sehat dan berkelanjutan.
Berdasarkan survei LSF pada 2023, baru sekitar 46 persen masyarakat, khususnya anak-anak, yang menonton dengan memperhatikan klasifikasi usia. Kondisi ini dinilai membuka peluang anak-anak mengakses tontonan yang tidak sesuai, terutama melalui media sosial dan perangkat digital.
LSF berharap kegiatan ini tidak hanya meningkatkan pemahaman masyarakat tentang klasifikasi usia, tetapi juga mendorong apresiasi terhadap film nasional yang berkualitas.
โMelalui literasi ini, kami berharap kesadaran masyarakat, khususnya pelajar, mahasiswa, dan komunitas, dalam memilih tontonan sesuai usia dapat meningkat dan menjadi budaya baru,โ jelasnya.
Kegiatan ini turut mendapat dukungan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Depok yang dihadiri Wakil Wali Kota Depok, Chandra Rahmansyah.
Kota Depok dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung perkembangan film nasional karena memiliki banyak jaringan bioskop, seperti di kawasan Margocity dan D’Mall, serta tingkat apresiasi masyarakat terhadap film nasional yang cukup tinggi.
Sejumlah narasumber dan pelaku industri perfilman juga hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Wakil Ketua LSF Noorca Massardi, Ketua Komisi I LSF Tri Widyastuti Setyaningsih, Ketua Subkomisi Apresiasi LSF Gustav Aulia, anggota LSF Imam Safeโi dan Satya Pratama, Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia Fauzan Zidni, produser Agung Saputra, sutradara dan produser Ferly Halim, serta pemeran film Annisa Aurelia Kaila. (***)
Jurnalis: Risjaddin Muhammad
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com



Komentar