RUZKA INDONESIA — Layaknya awal mula semesta raya ini yang berasal dari satu titik letupan energi, langkah perubahan pun juga demikian.
Di Pulau Lancang, Universitas Indonesia (UI) melalui tim Kuliah Kerja Nyata (K2N) 2026 menghadirkan momentum perubahan itu lewat berbagai halaman buku yang kompak dibaca, titik usaha yang dimaktub ke dalam peta digital, botol plastik yang disulap menjadi kerajinan, bahkan hingga kesehatan yang dijunjung dan dipelihara lewat kebiasaan sederhana.
Selama berkhidmat di Pulau Lancang yang terletak Kepulauan Seribu, Jakarta, mahasiswa UI yang tergabung dalam tim K2N UI 2026 menjumpai ragam kisah menarik tentang bagaimana masyarakat pulau tersebut menjalani rutinitas keseharian dan mengembangkan potensi diri dan lingkungannya.
Pengabdian masyarakat ini dikoordinasi oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dr. apt. Donna Maretta Ariestiani, M.Sc. dari Fakultas Farmasi (FFUI). Adapun kegiatan yang berlangsung sejak 23 Juli hingga 18 Agustus 2026 ini disokong oleh pendanaan Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial (DPIS UI).
Titik-titik perubahan yang coba dihadirkan oleh tim K2N UI di Pulau Lancang disulut dari empat ragam fokus, mulai dari pendidikan, digitalisasi, lingkungan, hingga kesehatan.
Hadirnya para mahasiswa ini diharapkan menjadi katalisator yang memperkuat, mengembangkan, dan memberi sentuhan nilai tambah pada ragam hal yang sudah dijalankan oleh masyarakat setempat.
Pada bidang pendidikan yang menjadi sokoguru pengembangan intelektual, tim K2N UI menghadirkan ruang belajar yang dekat dengan keseharian anak-anak. Program โBerbagi Bukuโ, misalnya, tak hanya menjadi ajang distribusi bahan bacaan, tapi juga menjadi pemantik yang mengajak dan membiasakan anak-anak membaca dan berdiskusi bersama secara rutin setiap minggunya.
Pojok Baca
Buku-buku tersebut kemudian diserahkan kepada karang taruna setempat guna menambah material โPojok Bacaโ, sehingga masyarakat lintas generasi dapat terus dengan mudah mengakses bahan bacaan.
Hadirnya pojok baca harapannya dapat menjadi episentrum yang memperkaya wawasan dan memperkuat sanubari masyarakat.
Para mahasiswa juga mengajar anak-anak Pulau Lancang. Anak-anak PAUD, misalnya, diajak mengenali emosi, menanam kecambah, mengenal sampah organik dan anorganik, hingga membuat mozaik dari plastik bekas.
Siswa SD mendapatkan materi tentang otoritas tubuh, mengikuti agenda English Fun, belajar soal bullying, hingga belajar mengenai mitigasi bencana.
Sementara pada jenjang SMP yang menginjak usia remaja, perihal cyberbullying, kenakalan remaja, perilaku berisiko, dan pengaruh lingkungan pertemanan menjadi fokus utama pengajaran.
Pada bidang digitalisasi, tim memetakan UMKM lokal ke Google Maps agar lebih mudah ditemukan. Dari proses ini, tim K2N menjumpai hal menarik.
Ternyata, masyarakat setempat sudah memiliki cara sendiri untuk memanfaatkan teknologi. Salah satunya menghadirkan grup WhatsApp โMarket Online Pulau Lancangโ yang menjadi media jual beli beragam kebutuhan.
Tim K2N UI Juga Perkenalkan QRIS k Masyarakat Pulau Lancang
Dijumpai oleh tim bahwa sebagian masyarakat nyatanya lebih nyaman menggunakan uang tunai.
Kondisi tersebut membuka perspektif baru bagi tim, bahwa digitalisasi tak melulu berarti mengganti kebiasaan yang sudah mengakar. Penggunaan Google Maps, QRIS, dan WhatsApp dapat berjalan berdampingan sesuai kebutuhan masyarakat.
Lingkungan menjadi tantangan besar, terutama persoalan sampah. Oleh karenanya, tim K2N menggagas kegiatan pilah sampah, Eco Fashion, dan ecoprint.
Botol plastik diolah menjadi manik-manik kerajinan yang dipasarkan ibu-ibu PKK melalui grup online, sementara daun dan bunga dimanfaatkan untuk motif ecoprint pada tas kain.
Aktivitas kreatif ini tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga.
Di bidang kesehatan, tim K2N memberikan edukasi pada masyarakat tentang pola makan sehat, bahaya merokok, serta isu tengkes (stunting) dan anemia pada ibu hamil.
Konsep โIsi Piringkuโ diperkenalkan dengan memanfaatkan potensi pangan lokal, termasuk hasil laut.
Edukasi Pencegahan Penyakit
Edukasi pencegahan penyakit, khususnya demam berdarah dengue (DBD) dilakukan melalui kegiatan Jumantik (Juru Pemantau Jentik) bersama kader kesehatan, menyusuri rumah warga untuk memeriksa penampungan air dan membersihkan jentik nyamuk.
Pendekatan sederhana ini menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga kesehatan dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari.
Berbagai kegiatan K2N UI memperlihatkan bahwa pengabdian masyarakat bukan sekadar membawa program baru.
Mahasiswa justru belajar bahwa banyak hal telah tumbuh dari masyarakat itu sendiri: anak-anak yang haus pengetahuan, warga yang kreatif memanfaatkan teknologi, sampah yang diolah menjadi produk bernilai, dan kesehatan yang dijaga lewat kebiasaan sederhana.
Pulau Lancang menjadi ruang belajar dua arah, di mana mahasiswa berbagi pengetahuan sekaligus belajar memahami konteks lokal.
Menutup perjalanan, Dr. apt. Donna berharap hasil kegiatan dapat memberi manfaat berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya agar output dari pendidikan, digitalisasi, lingkungan, dan kesehatan terus dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat.
Yang terpenting, apa yang sudah dilakukan bersama menjadi awal dari kegiatan berkesinambungan yang memberi manfaat nyata bagi Pulau Lancang. (***)
Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com



Komentar