RUZKA INDONESIA — Universitas Indonesia (UI) resmi mengukuhkan Prof. Dr. dr. R.A. Setyo Handryastuti, Sp.A, Subsp. Neuro(K) sebagai Guru Besar Tetap dalam bidang Ilmu Pediatri Neurologi di Fakultas Kedokteran (FKUI) pada Sabtu (18/04/2026).
Dalam pidato pengukuhannya yang
berjudul ‘Kesenjangan Diagnosis dan Tata Laksana Epilepsi pada Anak di Indonesia: Masalah dan Solusiโ, Prof. Handryastuti menegaskan bahwa penanganan epilepsi anak di Indonesia masih menghadapi tantangan besar, mulai dari keterbatasan tenaga ahli, akses diagnostik dan terapi,
hingga stigma sosial yang melekat di masyarakat.
Epilepsi merupakan salah satu gangguan neurologi yang dialami sekitar 50 juta penduduk dunia, dengan hampir 80 persen di antaranya tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Di Indonesia, prevalensi epilepsi anak diperkirakan mencapai 596 ribu hingga 3,5 juta kasus, sementara jumlah konsultan neurologi anak masih sangat terbatas, hanya 91 orang, sebagian besar
terkonsentrasi di Jawa.
โTanpa pemerataan tenaga ahli dan akses diagnostik, banyak anak Indonesia dengan epilepsi menghadapi keterlambatan diagnosis, terapi yang tidak optimal, hingga
risiko disabilitas kognitif,โ ujar Prof. Handryastuti dalam pidatonya.
Dia menyoroti bahwa rasio ketersediaan
magnetic resonance imaging atau MRI di Indonesia hanya 1,11 per satu juta penduduk, jauh tertinggal dibanding Jepang (57,39) dan Amerika Serikat (38).
Obat antiepilepsi generasi kedua dan ketiga belum sepenuhnya dijamin oleh BPJS, sehingga menyulitkan terapi kombinasi bagi pasien dengan epilepsi resisten obat.
Selain itu, istilah โayanโ masih digunakan dengan konotasi negatif, dan sekitar setengah keluarga anak dengan epilepsi
masih merasakan stigma, meskipun literasi kesehatan yang semakin baik mulai menggeser pandangan supranatural menjadi penerimaan bahwa epilepsi adalah kondisi medis kronis.
Guna menjawab kompleksitas hambatan dan tantangan yang ada, Prof. Handryastuti menawarkan lima strategi yang tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga menekankan pada pentingnya
kolaborasi lintas sektor di tingkat nasional, mulai dari tenaga profesional, pendidik, pemangku kepentingan, hingga masyarakat yang turut diberdayakan dalam rangka penanganan permasalahan epilepsi anak di Indonesia.
Lima strategi tersebut di antaranya adalah optimalisasi peran dokter anak dan dokter umum melalui kebijakan task-shifting and training dengan dukungan kuesioner
Indonesian Pediatric Epilepsy Questionnaire (INA-PEPSI) serta telekonsultasi; peningkatan pendidikan kedokteran berkelanjutan melalui seminar, pelatihan UKK Neurologi IDAI, dan program
fellowship dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes); perluasan akses diagnostik dan terapi dengan pengadaan EEG portabel serta distribusi obat generasi kedua dan ketiga di berbagai level layanan; penguatan edukasi publik melalui komunitas seperti Ruang Peduli Epilepsi Anak Indonesia (RPEAI) dan kampanye
penyadaran Purple Day.
Lalu, peningkatan peran pemerintah dalam memastikan implementasi Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Tatalaksana Epilepsi Anak, memperluas infrastruktur, dan membangun registri nasional epilepsi.
“Tidak boleh ada satupun anak dengan epilepsi yang tertinggal dalam mendapatkan pelayanan. Penanganan harus terintegrasi dari puskesmas hingga ke tingkat RS Utama dan paripurna, dari
Sabang sampai Merauke, termasuk daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Dengan integrasi teknologi digital dan penguatan sumber daya manusia, kita dapat memberikan keadilan bagi
seluruh anak Indonesia,โ tegas Prof. Handryastuti.
Prof. Handryastuti lahir di Jakarta, 27 Januari 1968. Pendidikan dokter umum, spesialis anak, hingga doktor ia tempuh di Universitas Indonesia, serta turut meraih
fellowship di Universitas Medical Center Utrecht, Belanda.
Saat ini beliau menjabat sebagai Ketua Divisi Anak pada Departemen Kesehatan Perempuan dan Anak RS Cipto Mangunkusumo, dan National Delegate diAsian Oceanian Child Neurology Association (AOCNA).
Dia aktif menghasilkan karya ilmiah internasional, termasuk pengembangan
INA-PEPSI Questionnaire (2024) untuk mendiagnosis epilepsi dan membedakan epilepsi fokal dan umum pada bayi dan anak dengan kejang tanpa provokasi di layanan kesehatan dengan fasilitas terbatas, serta penelitian soal diet ketogenik untuk epilepsi resisten obat.
Atas kiprahnya, Prof.Handryastuti menerima berbagai penghargaan, antara lain Bakti Karya Husada Tri Windu
Kemenkes RI (2021) dan RSCM Innovation Award (2021).
Pengukuhan ini menjadi tonggak penting bagi UI dalam memastikan ilmu pengetahuan berpihak pada anak-anak Indonesia. Dengan kiprah Prof. Handryastuti, UI menegaskan komitmennya sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dengan menghadirkan solusi kesehatan yang inklusif dalam melindungi masa depan generasi muda Indonesia. (***)
Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail


Komentar