Kolom Nasional
Beranda » Berita » Cukuplah Islam Ala Rasulullah SAW

Cukuplah Islam Ala Rasulullah SAW

Buletin Kaffah Edisi 460 (Jumat, 29 Rabiul Awal 1448 H/11 September 2026 M). (Ilustrasi: Dok RUZKA INDONESIA)
Buletin Kaffah Edisi 460 (Jumat, 29 Rabiul Awal 1448 H/11 September 2026 M). (Ilustrasi: Dok RUZKA INDONESIA)

RUZKA INDONESIA – SEBAGAIMANA diketahui, pada tanggal 26 Agustus 2025, dalam rangkaian Rapat Koordinasi Nasional Baznas di Jakarta, MUI dan Baznas meluncurkan buku berjudul Islam Ala Prabowo. Belakangan, setelah setahun peluncurannya, buku tersebut menimbulkan berbagai diskusi bahkan perdebatan di media sosial.

Mayoritas menyoal pilihan frasa dari judul besar buku ini. Frasa ‘Islam ala Prabowo’ dinilai oleh berbagai pihak terlalu berlebihan, bahkan kekacauan. Apalagi buku ini hanya berisi kumpulan ulasan seputar sisi ‘keislaman’ Presiden Prabowo Subianto dari masa kehidupan pribadi, karier militer hingga kepemimpinannya sebagai kepala negara. Buku setebal 346 ini merupakan kumpulan tulisan karya 21 penulis yang merupakan tokoh agama, akademisi, diplomat dan politisi. Akan tetapi, belakangan ada beberapa tokoh yang namanya tercantum sebagai penulis justru merasa tidak menulis untuk buku tersebut.

Islam Bukan untuk Personifikasi Kekuasaan

Bukan semata karena Prabowo Subianto adalah Presiden Republik Indonesia. Bukan pula karena buku tersebut memuat tulisan sejumlah ulama, akademisi dan tokoh masyarakat. Yang lebih mendasar adalah pertanyaan sederhana: Sejak kapan Islam memiliki versi berdasarkan nama seorang penguasa? Apalagi penguasa di negeri sekuler?

Kita mengenal kepemimpinan istimewa Khalifah Umar bin al-Khaththab, jihad yang sangat heroik Shalahuddin al-Ayyubi atau penaklukan agung Muhammad al-Fatih. Akan tetapi, tidak pernah ada istilah “Islam ala Umar” atau “Islam ala Shalahuddin” atau “Islam ala Muhammad al-Fatih”. Padahal kurang hebat apa keislaman para pemimpin Muslim terkemuka tersebut? Sangat jauh berbeda dengan para penguasa sekuler saat ini. Bahkan jika tolok ukur yang digunakan hanya dari sisi ritual, moral atau spiritual Islam.

Polda Metro Jaya dan PLN Perkuat Pengamanan Aset Kelistrikan Jakarta

Di sinilah persoalan mendasar perlu diletakkan. Apakah Islam menjadi standar untuk menilai penguasa atau malah penguasa dijadikan standar untuk menjelaskan Islam?

Islam tidak pernah diukur dari kualitas pribadi seorang Muslim. Setinggi apa pun kedudukan sosial, politik, atau keilmuannya. Dalam perspektif akidah Islam, tolok ukur kebenaran bukanlah figur manusia, melainkan wahyu Allah SWT (al-Quran dan as-Sunnah).

Tentu keliru menjadikan perilaku individu Muslim sebagai standar untuk menilai Islam. Seorang Muslim, termasuk pemimpin atau ulama sekalipun, bisa saja melakukan kesalahan. Sebaliknya, Islam tetap sempurna dan tidak berubah. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku untuk kalian dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama kalian (TQS al-Maidah [5]: 3).

Digitalisasi Bansos Nasional Siap Diluncurkan, Meutya: Sistem Harus Andal untuk 50 Juta Pengguna

Kesempurnaan Islam berasal dari Allah SWT. Karena itu setiap penyimpangan perilaku seorang Muslim harus dipahami sebagai penyimpangan dari ajaran Islam. Bukan malah dianggap perwujudan dari Islam. Sumber Islam adalah wahyu al-Quran dan as-Sunnah. Manusia hanya berkewajiban memahami dan mengamalkan keduanya. Karena itu menempelkan nama orang setelah Islam adalah kesalahan fatal, bahkan merupakan kekacauan berpikir.

Islam harus didudukkan dengan benar. Tidak boleh ada personifikasi Islam. Apalagi jika dilandasi oleh selera penguasa. Jika Islam diletakkan dengan benar, konsekuensinya adalah bahwa setiap Muslim—baik rakyat biasa, ulama, ilmuwan maupun kepala negara—berkedudukan sama sebagai hamba Allah SWT yang wajib tunduk pada syariah Islam. Bukan menjadi penentu isi syariah Islam.

Islam tidak boleh ditundukkan untuk kepentingan manusia. Sebaliknya, manusia wajib tunduk pada Islam. Ketaatan pada otoritas apa pun tetap harus di bawah otoritas al-Quran dan as-Sunnah sebagai sumber Islam. Al-Quran dengan tegas memerintahkan:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡر وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, serta ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasul-Nya (as-Sunnah) jika kalian benar-benar mengimani Allah dan Hari Akhir. Yang demikian lebih utama dan lebih baik akibatnya (bagi kalian) (TQS an-Nisa’ [4]: 59).

25 Ribu Lebih Siswa Belajar di Lembaga PUI Majalengka, Asep Zaki Tekankan 3 Prinsip Ini

Islam tidak membutuhkan legitimasi (pengesahan) dari figur mana pun untuk membuktikan kebenarannya. Sebaliknya, setiap individu Muslim justru memperoleh kemuliaannya sejauh ia menyesuaikan pikiran, ucapan dan tindakannya dengan ajaran Islam. Prinsip inilah yang menjaga objektivitas Islam sebagai agama wahyu yang universal. Prinsip ini pula yang membedakan Islam dari ideologi atau sistem pemikiran yang bergantung pada kharisma atau otoritas tokoh tertentu. Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ

Siapa saja yang menaati aku, sungguh ia telah menaati Allah. Siapa saja mendurhakai aku, sungguh ia telah mendurhakai Allah (HR al-Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menegaskan bahwa setiap Muslim, tanpa memandang kedudukan dan pengaruhnya, wajib tunduk pada ajaran Islam. Bukan sebaliknya: menjadikan dirinya sebagai ukuran Islam.

Berislam Mengikuti Rasulullah saw.

Islam sebagai agama wahyu tidak boleh dinisbatkan kepada individu mana pun. Termasuk kepada penguasa, tokoh politik, ulama, maupun cendekiawan. Sebabnya, kebenaran Islam bersumber dari Allah SWT (al-Quran dan as-Sunnah). Bukan dari otoritas atau perilaku manusia.

Ketika Islam diidentikkan dengan figur tertentu, apalagi dalam konteks kepentingan politik, terdapat risiko terjadinya reduksi makna sehingga ajaran Islam dapat ditafsirkan untuk memoles citra kekuasaan atau untuk kepentingan kelompok tertentu. Lebih fatal lagi jika kekuasaan yang dipersonifikasi adalah kekuasaan sekuler yang justru menjauhkan hukum Islam dari negara.

Islam mengajarkan kepada kaum Muslim agar beragama atau berislam dengan hanya mengikuti Rasulullah saw. Hanya beliaulah yang wajib dijadikan teladan dalam berislam. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak mengingat Allah (TQS al-Ahzab [33]: 21).

Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman:

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Katakanlah, “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (TQS Ali Imran [3]: 31).

Dalam perspektif fiqih siyaasah, seorang pemimpin tertinggi (Imam atau Khalifah) dalam Islam wajib menjalankan amanah kepemimpinannya dengan meneladani kepemimpinan Rasulullah saw. sebagai kepala Negara Islam di Madinah dalam mewujudkan keadilan, menjaga agama serta melindungi jiwa, akal, harta dan kehormatan masyarakat. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:

ثُمَّ جَعَلۡنَٰكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡرِ فَٱتَّبِعۡهَا وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ

Kemudian Kami menjadikan kamu berada di atas suatu syariah dari urusan (agama itu). Karena itu ikutilah syariah itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui (TQS al-Jatsiyah [45]: 18).

Islam wajib diterapkan secara kaaffah dalam kehidupan, sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. dan Khulafaur Rasyidin. Hal ini telah ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh kalian yang sangat nyata (TQS al-Baqarah [2]: 208).

Penerapan Islam secara kaaffah tidak mungkin bisa diwujudkan dalam negara yang menerapkan sistem sekuler yang justru menjauhkan agama dari negara. Penerapan Islam secara kaaffah hanya bisa diterapkan dalam sistem pemerintahan Islam (Khilafah) yang dipimpin oleh seorang khalifah. Khilafahlah satu-satunya sistem pemerintahan Islam yang diisyaratkan oleh Rasulullah saw. serta dipraktikkan oleh Khulafaur Rasyidin dan para khalifah setelah mereka. Hal ini telah terukir indah dalam sejarah peradaban Islam selama ratusan tahun lamanya.

Khalifah dalam Islam wajib taat sepenuhnya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, yakni dengan hanya menjadikan al-Quran dan as-Sunnah sebagai sumber aturan dan perundang-undangan. Inilah perwujudan keimanan dan ketakwaan. Hanya dengan itulah Allah SWT akan menurunkan berbagai keberkahan. Demikian sebagaimana firman-Nya:

وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذۡنَٰهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ

Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu. Karena itu Kami menyiksa mereka disebabkan perbuatan mereka tersebut (TQS al-A’raf [7]: 96).

WalLaahu a’lam bi ash-shawaab. []

—*—

Hikmah:

Allah SWT berfirman:

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ وَمَا ٱخۡتَلَفَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلۡعِلۡمُ بَغۡيَۢا بَيۡنَهُمۡۗ وَمَن يَكۡفُرۡ بِ‍َٔايَٰتِ ٱللَّهِ فَإِنَّ ٱللَّهَ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi al-Kitab, kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Siapa saja yang mengingkari ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (TQS Ali Imran [3]: 19). []

—*—

Entitas Yahudi Rampas Tanah dan Curi Domba Penduduk Palestina

Gaza: Dalam 24 jam terakhir, rumah sakit-rumah sakit di Jalur Gaza menerima 2 syuhada baru dan 10 korban luka akibat agresi Israel. Sejumlah korban masih berada di bawah reruntuhan dan di jalan-jalan karena belum dapat dijangkau oleh tim ambulans dan pertahanan sipil. Sejak gencatan senjata pada 11 Oktober, tercatat 1.320 syuhada, 4.385 korban luka, dan 815 korban yang berhasil dievakuasi dari reruntuhan. Sementara sejak dimulainya agresi pada 7 Oktober 2023, jumlah kumulatif mencapai 73.456 syuhada dan 174.496 korban luka, menurut Kementerian Kesehatan, 31 Agustus 2026.

Tepi Barat: Serangan terhadap rakyat Palestina terus berlangsung. Tentara dan pemukim Yahudi melakukan pembunuhan, penangkapan, perampasan tanah, penghancuran rumah, pencabutan pohon, serta penyitaan harta milik warga Palestina. Pada 2 September 2026, dua pemuda Palestina dilaporkan syahid setelah ditembak pasukan dan pemukim Yahudi dalam serangan terhadap desa Al-Mughayyir, utara Ramallah. Serangan terjadi ketika penduduk berusaha menghentikan para pemukim mencuri domba mereka. Di selatan Hebron, pasukan entitas Yahudi menghancurkan desa Al-Taban, yang mengakibatkan 12 keluarga Palestina mengungsi. Dalam beberapa pekan terakhir, tindakan serupa terjadi di sejumlah desa di Tepi Barat sebagai bagian dari kebijakan perampasan tanah dan pengusiran paksa, pembunuhan, serta penyiksaan terhadap penduduk Palestina.

Ekstremisme dan ekspansi: Para wartawan Palestina menilai bahwa Netanyahu dan para pemimpin Yahudi lainnya tidak terpengaruh oleh kritik maupun kecaman internasional. Sebaliknya, ekstremisme terus meningkat di berbagai lapisan masyarakat Yahudi. Knesset bahkan disebut semakin dipenuhi tokoh-tokoh ekstremis, termasuk Netanyahu, Ben-Gvir, dan Smotrich. Mereka secara terbuka menyatakan keinginan untuk menguasai seluruh Tepi Barat dan menghapus keberadaan Palestina di wilayah tersebut.

Dukungan Barat: Kecaman sejumlah negara Eropa dinilai tidak lebih dari sandiwara, karena hubungan resmi dan praktis dengan entitas Yahudi tetap berlangsung di berbagai tingkatan. Kebijakan ekspansi dan penguasaan wilayah tersebut disebut berlangsung dengan dukungan Amerika Serikat dan negara-negara Barat, dengan tujuan merebut Palestina dari tangan kaum Muslim secara permanen. Pada saat yang sama, rezim-rezim di negeri-negeri Islam disebut mendukung entitas Yahudi dengan memasok berbagai kebutuhan bahan baku industri, makanan, dan minyak.

Saatnya Akan Datang: Pertempuran itu pasti akan datang, dan Tanah yang Diberkahi akan segera dibersihkan dari kotoran orang-orang Yahudi, seyakin terbitnya matahari dari ufuknya. Panji Islam akan berkibar di atas Masjid Al-Aqsa; kami tidak meragukan hal itu. Umat dan para prajuritnya harus bersegera menguburkan rezim-rezim yang telah mati dan mengembalikan Islam sebagai pemerintahan, jihad, penaklukan, dan pembebasan. Pada hari itu, kaum Muslimin akan bersuka cita. Dan hari itu sudah dekat, insya Allah. “Dan orang-orang yang zalim kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” [Asy-Syu‘ara: 227] Allahu Akbar [] (***/Jie)

Editor: Ao S Dwiyantho Putra
Email: aodwiyantho@gmail.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

05

Sekolah dan Upaya Membumikan Gapura Pancawaluya di SMAN 1 Cikijing

06

Galeri Indonesia Kaya, Gelar Konser Kidung Natal Indonesia, Semangat Inklusivitas Berjalan Beriringan dalam Harmoni Musik Keroncong

07

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Primaya Hospital Bekasi Barat Luncurkan Wellness Center

Sorotan



Yogi Kurniawan, dari Suporter Jadi CEO Klub




Kolom