
RUZKA-REPUBLIKA NETWORK — Beberapa hari lalu, sebuah pesan masuk di WhatsApp saya โ sapaan ramah yang seperti datang dari malaikat penolong dunia finansial.
โAssalamualaikum pak, salam kenal, saya Rusdi Arisan dari PT Asta Tenggi Berjangka.โ
Wah, lengkap nama dan perusahaannya, yang sebagian hurufnya sengaja saya ubah. Ungkapannya formal, sopan, seperti undangan seminar motivasi.
Saya balas santai, sekadar memenuhi kewajiban dan menjaga adab digital: โWassalam wrwb.โ
Lalu datanglah pertanyaan inti darinya: โSebelumnya, apakah bapak punya ketertarikan pada trading?โ Tidak bertele-tele, langsung ke jantung. Saya jawab jujur: โTidak punya.โ Tapi seperti marketing sejati, dia tak menyerah.
Baca juga: Rencana Pemutihan Tunggakan BPJS Kesehatan, Senator Berikan Tiga Rekomendasi
Dengan penuh semangat, ia lanjut: โBolehkah, saya minta waktu, mau jelaskan tentang trading.โ Saya diam. Mungkin ia berpikir saya sedang menimbang-nimbang antara โjadi trader suksesโ atau โtetap ngurus pesantren.โ
Beberapa saat berlalu. Pesan berikutnya datang lagi, seperti jamaah tabligh yang istiqamah mengetuk pintu iman: โGimana pak kabarnya, sehat?โ Berikutnya lagi: โOh baik pak, di sini saya trading pakai sistem copytrade, jadi tidak mengganggu kesibukan bapak yang lainnya.โ
Nah, kalimat itulah yang membuat saya tertegun. โTidak mengganggu kesibukan,โ katanya. Seolah-olah uang akan bekerja sendiri, sementara saya cukup duduk di serambi pesantren sambil menunggu notifikasi โprofit 20% minggu iniโ.
Masalahnya, dunia tak sesederhana brosur promosi. Copytrade, meski terdengar seperti inovasi ajaib zaman digital, pada dasarnya hanyalah sistem copy alias menyalin transaksi dari โtrader utamaโ โ yang entah siapa, dengan rekam jejak entah bagaimana.
Baca juga: Polri Dapat Apresiasi Bongkar 38 Ribu Kasus Narkoba
Gampangnya, copytrade itu, akun kita meniru akun mereka. Kalau mereka beli, kita beli; kalau mereka rugi, ya ikut rugi โ tapi dengan gaya berjamaah.
Dalam teori ekonomi perilaku, model ini menarik karena menimbulkan ilusi kendali: kita merasa sedang โberinvestasi cerdasโ padahal hanya menyalin keputusan orang lain tanpa tahu logika di baliknya.
Beberapa penelitian โ misalnya yang dilakukan oleh Barber & Odean (2001) tentang perilaku investor ritel โ menunjukkan bahwa kebanyakan investor justru kehilangan uang bukan karena sistemnya salah, tapi karena mereka percaya terlalu cepat pada yang tampak mudah.
Lihatlah kisah nyata. Tahun 2020, ribuan investor di Asia Tenggara terjebak dalam copytrade platform berbasis kripto yang akhirnya ambruk karena _master trader_-nya lenyap seperti jin ifrit sehabis azan subuh.
Baca juga: Kunjungi Paviliun Pameran LEPAS, Sekjen PBB Ban Ki-moon Dorong Mobilitas Ramah Lingkungan
Di Indonesia, OJK sudah berkali-kali menegaskan bahwa banyak broker mengaku berjangka tapi tidak terdaftar.
Ironisnya, mereka sering memakai label โPTโ dan berbicara dengan sopan โ seolah kesopanan menggantikan izin hukum.
Saya pernah bertemu seseorang yang benar-benar mencoba copytrade. Awalnya, modal 10 juta berubah jadi 13 juta dalam dua minggu โ cukup untuk membuatnya percaya diri seperti Warren Buffett versi warkop.
Tapi minggu ketiga, pasarnya โreversalโ, dan modal itu tinggal separuh. Ia bilang, โUntung saya belum ajak teman-teman.โ Nah, "untung-nya" itu pun tinggal kata yang diucap untuk menghindari rasa bersalah.
Baca juga: FK UI Dorong Peran Remaja Sebagai Agen Perubahan dalam Pencegahan Tengkes
Memang ada juga yang sukses, tapi biasanya mereka bukan investor pasif. Mereka "belajar", memahami risk management, tahu kapan keluar, dan tidak tergoda oleh narasi โtidak perlu repotโ.
Justru kalau ada yang bilang โtidak mengganggu kesibukan,โ itulah saatnya Anda sebaiknya justru terganggu oleh pikirannya.
Trading yang tak mengganggu itu seperti diet yang tak membatasi makan โ terdengar nyaman, tapi mustahil menghasilkan apa-apa selain lemak kekecewaan.
Baca juga: Metrologi Legal Laksanakan RET dengan Disdagin Depok
Saya hormati niat baik Mas Rusdi. Tapi saya lebih memilih kesibukan yang nyata: mendidik santri, menulis, dan mengurus pondok โ hal-hal yang mungkin tak memberi profit harian, tapi memberi pahala abadi.
Karena dalam hidup ini, bukan soal siapa yang paling cepat menggandakan uang, tapi siapa yang paling mampu menjaga akal sehat di tengah gempuran janji manis digital.
Akhirnya saya sadar, ada dua jenis โcopyโ di dunia ini: yang satu copy-paste trading, yang lain copy-paste kesalahan orang sebelumnya. Saya memilih tidak ikut keduanya. (***)
Penulis: Cak AT โ Ahmadie Thaha/Maโhad Tadabbur al-Qurโan, 26/10/2025

