Nasional
Beranda » Berita » Cara Cerdas BPJS Ketenagakerjaan Bogor-Cileungsi Cetak “Perisai Desa”—Strategi Baru Jangkau Pekerja Informal hingga Pelosok

Cara Cerdas BPJS Ketenagakerjaan Bogor-Cileungsi Cetak “Perisai Desa”—Strategi Baru Jangkau Pekerja Informal hingga Pelosok

Peserta dan narasumber berfoto bersama dalam kegiatan Sekolah Perisai Desa Batch 2 yang diselenggarakan BPJS Ketenagakerjaan Bogor-Cileungsi di Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat sebagai upaya memperkuat perlindungan pekerja informal di tingkat desa, Kamis (23/4/2026). (Foto: Djoni Satria/ RUZKA INDONESIA)

RUZKA INDONESIA — Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang memiliki 416 desa di 40 kecamatan serta 19 kelurahan, menjadi wilayah strategis dalam penguatan perlindungan sosial ketenagakerjaan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bogor per Agustus 2023, jumlah pekerja informal di Kabupaten Bogor mencapai sekitar 1,24 juta jiwa dari total 2,5 juta penduduk yang bekerja. Persentase pekerja informal di wilayah ini mencakup sekitar 49,65% dari total angkatan kerja, menunjukkan keseimbangan antara sektor formal dan informal.

Dengan jumlah pekerja informal yang sangat besar, tantangan perlindungan tidak bisa lagi hanya mengandalkan pendekatan konvensional.

Di tengah kondisi tersebut, kebutuhan akan sistem perlindungan yang lebih dekat, inklusif, dan menyentuh langsung masyarakat menjadi semakin mendesak. Desa pun kini dipandang sebagai kunci utama dalam membangun ekosistem jaminan perlindungan sosial yang kuat dan berkelanjutan.

Menjawab tantangan itu, BPJS Ketenagakerjaan Bogor-Cileungsi kembali menunjukkan komitmennya melalui penyelenggaraan “Sekolah Perisai Desa Batch 2” dengan tema “Garda Terdepan Perlindungan Pekerja Informal beserta Keluarganya”. Kegiatan ini digelar pada Kamis, 23 April 2026 di Aula Kantor Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor.

Tim Patroli Perintis Presisi Tunjukkan Sisi Humanis, Bantu Pedagang Kerupuk Menyeberang dan Borong Dagangannya

Program ini merupakan kelanjutan dari kesuksesan batch pertama yang sebelumnya dilaksanakan di Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Antusiasme peserta yang tinggi serta dampak nyata yang mulai dirasakan di lapangan menjadi alasan kuat untuk melanjutkan program ini ke tahap berikutnya.

Mencetak Garda Terdepan dari Desa

Sebanyak 50 peserta dari berbagai kecamatan di Kabupaten Bogor hadir dalam kegiatan ini. Mereka dipersiapkan sebagai calon Agen Perisai Desa yang akan menjadi ujung tombak perlindungan sosial di wilayah masing-masing.

Para peserta berasal dari sejumlah kecamatan seperti Cariu, Cigombong, Cigudeg, Ciseeng, Citeureup, Jonggol, Megamendung, Pamijahan, Parung Panjang, Ranca Bungur, Rumpin, hingga Sukamakmur. Kehadiran mereka menjadi representasi semangat kolektif dalam membangun perlindungan dari tingkat desa.

Para Perisai Desa ini nantinya akan berperan aktif dalam menyosialisasikan pentingnya jaminan sosial ketenagakerjaan bagi pekerja informal, mulai dari petani, pedagang kecil, hingga pekerja lepas yang selama ini belum tersentuh secara optimal.

Seorang Pengedar Berhasil Diringkus, Polres Garut Ungkap Peredaran Sabu

Dalam sambutannya, Camat Ciseeng, Subhi, S.H., M.Si, yang diwakilkan oleh Nenih Triana, menegaskan bahwa desa memiliki peran penting dalam keberhasilan program ini.

“Program Sekolah Perisai Desa ini sangat strategis karena menyentuh langsung masyarakat di tingkat akar rumput,” ujarnya kepada RUZKA INDONESIA usai acara, Kamis (23/4/2026).

“Kami berharap para peserta dapat menjadi agen perubahan yang mampu meningkatkan kesadaran masyarakat desa akan pentingnya perlindungan sosial,” tambahnya.

Pernyataan ini menegaskan bahwa perubahan besar memang harus dimulai dari tingkat paling dekat dengan masyarakat.

Perlindungan Sosial: Dari Desa untuk Semua

Seluruh SPPG di Depok Wajib Punya IPAL Sesuai Standar Kesehatan

Sejalan dengan itu, Kepala BPJS Ketenagakerjaan Bogor-Cileungsi, Andi Widya Leksana, menyoroti bahwa pekerja informal selama ini merupakan kelompok yang paling rentan terhadap risiko sosial ekonomi.

“Kami ingin memastikan bahwa tidak ada pekerja yang tertinggal dari perlindungan jaminan sosial, termasuk mereka yang bekerja di sektor informal,” ujarnya.

Andi Widya Leksana, Kepala BPJS Ketenagakerjaan Bogor-Cileungsi, saat memberikan pemaparan dalam kegiatan Sekolah Perisai Desa Batch 2 di Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor. (Foto: Djoni Satria/ RUZKA INDONESIA)

Menurutnya, pendekatan berbasis desa menjadi strategi paling efektif untuk menjangkau kelompok tersebut.

“Melalui Sekolah Perisai Desa, kami membangun ekosistem perlindungan yang dimulai dari desa,” jelasnya.

“Perisai Desa adalah perpanjangan tangan kami untuk menjangkau masyarakat yang selama ini sulit tersentuh,” lanjut Andi.

Ia juga menekankan bahwa program ini tidak hanya fokus pada kepesertaan, tetapi juga pada perubahan pola pikir masyarakat.

“Dengan edukasi yang tepat, masyarakat akan memahami bahwa perlindungan sosial adalah investasi masa depan,” tegasnya.

“Kami optimis para agen Perisai Desa akan menjadi motor penggerak di wilayahnya masing-masing. Program ini menjadi bagian dari cara cerdas BPJS Ketenagakerjaan Bogor Cileungsi cetak Perisai Desa dan sejalan dengan program 100 hari kerja Direksi BPJS Ketenagakerjaan yang baru,” tambahnya.

Acara ini turut dihadiri Kepala Bidang Kepesertaan, Soni Cahya Wirawan, serta Kepala Bidang Pelayanan, Sukarsi Pratiwi.

Kolaborasi Jadi Fondasi Kuat

Keberhasilan program ini tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak. Ketua Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) Kabupaten Bogor, Asnawi Johan, menilai bahwa aparatur desa memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.

“Aparatur desa memiliki posisi strategis dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat,” katanya.

“Dengan adanya Perisai Desa, kami yakin perlindungan sosial akan semakin merata,” tambah Johan.

Di sisi lain, Inisiator Sekolah Desa dan Perisai Desa, Torik Munajat, melihat program ini sebagai bentuk sinergi nyata antar elemen.

“Program ini adalah bentuk kolaborasi nyata antara pemerintah, lembaga, dan masyarakat,” katanya.

Torik Munajat, Inisiator Sekolah Perisai Desa sekaligus Ketua Wadah Cahaya Harapan Maju Kabupaten Bogor,
saat menyampaikan materi dalam kegiatan Sekolah Perisai Desa Batch 2 di Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor.
(Foto: Djoni Satria/ RUZKA INDONESIA)

“Kami ingin desa menjadi pusat edukasi dan perlindungan bagi seluruh warganya,” lanjut Torik.

Kolaborasi ini menjadi pondasi penting dalam memastikan program tidak hanya berjalan, tetapi juga berkelanjutan.

Belajar dari Kisah Nyata

Selain materi pelatihan, peserta juga mendapatkan inspirasi langsung dari praktik di lapangan melalui pengalaman Sanusi, Agen Perisai sukses dari Wadah Perisai Nafiz, Sukabumi.

“Menjadi Agen Perisai bukan hanya tentang pekerjaan, tetapi juga tentang pengabdian kepada masyarakat,” ujarnya.

“Dengan konsistensi dan pendekatan yang tepat, saya bisa mencapai penghasilan dua digit setiap bulan,” ungkapnya.

“Kunci suksesnya adalah membangun kepercayaan masyarakat,” tambah Sanusi.

Sanusi, Agen Perisai dari Wadah Perisai Nafiz, Sukabumi, saat memberikan motivasi dan berbagi pengalaman suksesnya
sebagai Agen Perisai yang mencapai penghasilan hingga dua digit. (Foto: Djoni Satria/ RUZKA INDONESIA)

Pengalaman ini menjadi bukti bahwa peran Agen Perisai tidak hanya berdampak sosial, tetapi juga memberikan peluang ekonomi yang menjanjikan.

Dampak Nyata yang Mulai Terlihat

Seiring berjalannya program, dampak nyata mulai dirasakan di tingkat desa. Andi Widya Leksana menegaskan bahwa Sekolah Perisai Desa bukan sekadar kegiatan formalitas.

“Program ini tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi harus dirasakan manfaatnya langsung oleh masyarakat,” tegasnya.

Menurutnya, kehadiran agen Perisai Desa menjadi solusi dalam mendekatkan layanan BPJS Ketenagakerjaan kepada masyarakat.

“Agen Perisai Desa adalah jembatan kami. Mereka menghadirkan layanan yang lebih cepat, lebih dekat, dan lebih mudah diakses,” jelasnya.

Ia juga menyoroti bahwa salah satu tantangan utama selama ini adalah kurangnya pemahaman masyarakat.

“Banyak masyarakat sebenarnya ingin terlindungi, tetapi tidak tahu caranya. Di sinilah peran agen Perisai menjadi sangat penting,” katanya.

Lebih jauh, Andi menjelaskan bahwa Perisai Desa juga berperan dalam membantu proses pendaftaran hingga pendampingan klaim.

“Kami tidak ingin masyarakat kebingungan saat terjadi musibah. Perisai Desa akan hadir mendampingi hingga hak-hak peserta terpenuhi,” ujarnya.

Sementara itu, Torik Munajat menilai bahwa dampak program ini tidak hanya pada perlindungan, tetapi juga perubahan sosial.

“Yang kita bangun bukan hanya kepesertaan, tetapi kesadaran kolektif masyarakat,” ujarnya.

“Ketika desa menjadi pusat layanan, masyarakat tidak lagi merasa jauh dari negara,” tambahnya.

Menuju Desa Mandiri Perlindungan Sosial

Lebih dari sekadar program pelatihan, Sekolah Perisai Desa yang diperuntukkan Perisai Desa diarahkan untuk menciptakan desa yang mandiri dalam perlindungan sosial ketenagakerjaan.

“Kami ingin desa tidak lagi bergantung sepenuhnya pada kami, tetapi mampu menjadi pusat perlindungan bagi warganya sendiri,” ujar Andi.

Menurutnya, pendekatan ini sangat relevan mengingat dominasi pekerja informal yang terus meningkat.

“Kalau tidak kita dekati dengan pendekatan desa, akan sulit menjangkau semuanya,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa keberadaan agen Perisai Desa menjadi kunci pemerataan perlindungan. “Dengan adanya agen di setiap wilayah, tidak ada lagi alasan pekerja tidak terlindungi,” tegasnya.

Torik Munajat pun menekankan pentingnya kolaborasi dalam mewujudkan hal tersebut.

“Ini bukan program satu pihak, tetapi gerakan bersama. Semua harus terlibat. Kalau desa sudah bergerak, maka perubahan itu akan masif,” lanjutnya.

Desa Jadi Kunci Masa Depan

Pada akhirnya, Sekolah Perisai Desa Batch 2 menjadi bukti nyata bahwa perubahan besar memang bisa dimulai dari desa. Dengan pendekatan yang tepat, edukasi yang masif, serta kolaborasi yang kuat, perlindungan sosial bagi pekerja informal kini tidak lagi sebatas wacana, melainkan mulai terwujud secara konkret di tengah masyarakat.

Lebih dari itu, langkah yang dilakukan BPJS Ketenagakerjaan Bogor-Cileungsi melalui program ini menunjukkan sebuah strategi yang cerdas dan terarah dalam membangun sistem perlindungan berbasis komunitas. Bukan hanya menghadirkan layanan, tetapi juga menciptakan agen-agen perubahan yang mampu bergerak langsung di tengah masyarakat.

Kini, desa tidak lagi sekadar menjadi tempat tinggal, tetapi telah bertransformasi menjadi benteng perlindungan pertama bagi para pekerja dan keluarganya. Dari tangan para Agen Perisai Desa, akses terhadap jaminan sosial semakin terbuka, semakin dekat, dan semakin nyata dirasakan.

Inilah wujud dari cara cerdas BPJS Ketenagakerjaan Bogor-Cileungsi dalam mencetak “Perisai Desa”, sebuah gerakan yang tidak hanya melindungi, tetapi juga memberdayakan. Sebuah langkah strategis yang perlahan namun pasti mampu menghadirkan perlindungan bagi ribuan pekerja informal—dan memastikan mereka tidak lagi berjalan sendiri menghadapi risiko kehidupan.

Dari desa, perlindungan dimulai. Dan dari desa pula, masa depan yang lebih aman, kuat, dan sejahtera sedang dibangun. (***)

Jurnalis/Editor: Djoni Satria

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Berlaku Nasional, Polres Garut Imbau Masyarakat Manfaatkan Layanan Gratis Contact Center 110

05

Suzuki Carry Minivan 2026, Irit dengan Kegagahan dan Kenyamanan

06

Depok akan Bangun Pabrik Pengelolaan Sampah RDF di TPA Cipayung

07

Meluncur Toyota Kijang Super 2026: Tampil Gagah dan Fitur Canggih, Harganya Terjangkau

Sorotan






Kolom