Bisnis
Beranda ยป Berita ยป Gobel Group 70 Tahun: Falsafah Pohon Pisang di Era AI, Manusia Tetap Menjadi Pusat Perubahan

Gobel Group 70 Tahun: Falsafah Pohon Pisang di Era AI, Manusia Tetap Menjadi Pusat Perubahan

Tunas-tunas baru tumbuh di sekitar batang induknya. Dalam falsafah yang diwariskan Thayeb Mohammad Gobel, pohon pisang menjadi simbol kebermanfaatan, regenerasi, dan kesinambungan antargenerasi. (Foto: RUZKA INDONESIA)

Tujuh puluh tahun setelah Thayeb Mohammad Gobel menemukan pelajaran hidup dari sebatang pohon pisang di Tinombo, generasi penerusnya kini menghadapi tantangan yang tak pernah dibayangkan pada masanya: dunia yang digerakkan algoritma dan kecerdasan buatan. Namun di tengah arus zaman itu, Gobel Group memilih kembali pada hal paling sederhana, menempatkan manusia sebagai pusat dari segala yang akan datang.

RUZKA INDONESIA โ€” Bagi Ebu, nama kecil Thayeb Mohammad Gobel, pohon pisang bukan sekadar tanaman yang tumbuh di pekarangan rumahnya di Tinombo, sebuah kecamatan kecil di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Di sanalah ia belajar bahwa kehidupan yang baik adalah kehidupan yang memberi manfaat.

Tidak ada bagian dari pohon pisang yang sia-sia. Buahnya menjadi pangan, daunnya membungkus makanan, batangnya menjadi pakan ternak, dan sebelum batang induk itu ditebang, tunas-tunas baru sudah lebih dulu tumbuh untuk meneruskan hidup.

Pengamatan sesederhana itu menancap dalam ingatan seorang anak kampung, dan kelak menjadi fondasi perjalanan sebuah perusahaan selama tujuh dekade: keberadaannya harus memberi manfaat, dan keberlanjutannya ditentukan oleh kemampuannya menyiapkan generasi berikutnya.

Dalam buku Gobel: Pelopor Industri Elektronika Indonesia (Pengusaha Indonesia dengan Filosofi Usaha Pohon Pisang), penulis Ramadhan KH menuturkan bagaimana pengalaman masa kecil Ebu di Tinombo meninggalkan kesan mendalam tentang pohon pisang yang tumbuh di sekeliling rumahnya.

Perkuat Keandalan Layanan Digital, PLN Icon Plus Tinjau Kesiapan Data Center

Di kampung kecil yang menghadap Teluk Tomini itu, pelajaran tersebut hadir bukan melalui buku pelajaran atau petuah panjang orang dewasa. Ebu melihatnya setiap hari di sekeliling rumahnya: bagaimana pohon pisang tumbuh, berbuah, lalu melahirkan tunas-tunas baru sebelum batang induknya ditebang.

Bagi seorang anak yang lahir di Gorontalo pada 12 September 1930 dan tumbuh di lingkungan sederhana, pengamatan itu mungkin tampak biasa. Namun, justru dari situlah lahir pemahaman bahwa sesuatu yang baik tidak berhenti pada dirinya sendiri, melainkan meninggalkan manfaat dan keberlanjutan bagi yang datang setelahnya.

Falsafah itu lahir pada masa ketika Indonesia masih berjuang membangun industri sendiri, ketika menghadirkan teknologi dan membuka lapangan kerja menjadi tantangan terbesar bangsa. Tujuh puluh tahun kemudian, tantangan itu berubah total: kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) mengambil alih pekerjaan, algoritma membentuk keputusan, dan dunia bisnis dipaksa beradaptasi lebih cepat daripada yang pernah dibayangkan generasi pendiri.

Pertanyaannya sederhana: masih relevankah pelajaran dari sebatang pohon pisang, ketika dunia mulai digerakkan oleh kecerdasan buatan?

Bagi Gobel Group, jawabannya ternyata bukan di pusat data, juga bukan di kecanggihan algoritma, melainkan pada pelajaran lama yang diwariskan Thayeb Mohammad Gobel puluhan tahun silam: teknologi akan terus berubah, tetapi masa depan selalu ditentukan oleh manusia yang mampu belajar, beradaptasi, dan menumbuhkan tunas-tunas baru.

Usung Konsep Urban Food Market, Rumah Indofood Targetkan Anak Muda di Jakarta Fair 2026

Tujuh Prinsip, Satu Pengabdian

Pandangan itu membentuk satu keyakinan yang dipegang keluarga Gobel hingga kini: keberhasilan perusahaan tidak diukur dari besarnya aset atau panjangnya daftar bisnis, melainkan dari seberapa besar manfaat yang bisa diberikan kepada bangsa dan negara. Perusahaan, dalam logika itu, tidak boleh hadir hanya untuk mengejar keuntungan, tetapi harus membuka lapangan kerja, mengembangkan orang-orang di dalamnya, dan meninggalkan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Dalam sebuah wawancara di kanal YouTube KONTAN TV yang tayang pada 14 Maret 2026, Mohammad Arif Rachmat Gobel, cucu Thayeb Mohammad Gobel dan generasi ketiga penerus kelompok usaha ini, menegaskan hal tersebut.

Di antara Thayeb dan Arif, ada satu mata rantai penting: Rachmat Gobel, anak kelima dari pasangan Thayeb Mohammad Gobel dan Annie Nento Gobel ini. Jika generasi pendiri membangun fondasinya dari nol, generasi kedua menghadapi ujian berbeda ketika krisis ekonomi 1998 mengguncang Indonesia. Di tengah anjloknya nilai rupiah dan melemahnya pasar, Rachmat memikul tugas yang jauh lebih sunyi: memastikan nilai yang diwariskan pendahulunya tetap hidup di tengah tekanan.

Mohammad Arif Rachmat Gobel (kiri) bersama Rachmat Gobel (kanan). Di tengah tuntutan membawa pembaruan, Arif meyakini bahwa setiap perubahan harus tetap berpijak pada nilai, filosofi, dan prinsip yang diwariskan para pendiri Gobel Group.
(Foto: Dokumentasi Partai NasDem)

Krisis itu menjadi pembuktian bahwa falsafah yang ditanamkan Thayeb Mohammad Gobel bukan sekadar gagasan, melainkan pegangan yang mampu bertahan di saat tersulit. Benang merah itu kemudian diteruskan kepada Arif dan para penerus berikutnya.

Perusahaan yang dibangun keluarganya, katanya, sejak awal dimaksudkan sebagai bentuk pengabdian kepada bangsa, bukan sekadar entitas bisnis.

Daihatsu Sigra dan Rocky Raih Penghargaan di OTOMOTIF Award 2026

Gagasan pengabdian melalui industri sudah menjadi bagian dari perjalanan Gobel Group sejak Thayeb Mohammad Gobel merintis industri elektronik nasional pada 1954 melalui produksi radio transistor pertama di Indonesia. Dari fondasi tersebut, Gobel Group kini tumbuh menjadi salah satu kelompok usaha nasional yang beroperasi di berbagai sektor, mulai dari manufaktur, perdagangan dan jasa, makanan dan perhotelan, hingga infrastruktur dan properti, dengan dukungan lebih dari 18.000 karyawan.

Perjalanan itu berjalan beriringan dengan proses industrialisasi Indonesia. Gobel Group turut menghadirkan televisi yang memungkinkan masyarakat Indonesia menyaksikan Asian Games IV Jakarta 1962, membangun kemitraan Indonesia-Jepang bersama Panasonic yang telah berlangsung sejak 1960, serta mengembangkan berbagai bidang usaha yang berkaitan dengan industri, teknologi, logistik, infrastruktur, dan pengembangan sumber daya manusia.

Nilai-nilai yang tumbuh dari perjalanan panjang itu kemudian dirumuskan menjadi tujuh prinsip perusahaan yang hingga kini menjadi pedoman Gobel Group: Dedikasi, Kejujuran dan Keadilan, Kerja Sama dan Harmoni, Perbaikan yang Berkesinambungan, Kesopanan dan Kerendahan Hati, Kemampuan Beradaptasi, serta Bersyukur dan Berterima Kasih.

Drs. H. Thayeb Mohammad Gobel saat berkunjung ke Pabrik National Gobel, Jakarta, pada 1983. Kedekatannya dengan para pekerja mencerminkan keyakinannya bahwa perusahaan tidak dibangun oleh mesin atau modal semata, melainkan oleh manusia yang harus dihargai, didengar, dan dilibatkan dalam perjalanan bersama. (Foto: Dokumentasi TEMPO/Rudy Novrianto)

Bagi Gobel Group, ketujuh prinsip itu bukan sekadar slogan korporasi, melainkan panduan yang menjaga arah perusahaan tetap berpijak pada tujuan awal yang diwariskan pendirinya.

Di antara ketujuh prinsip itu, satu di antaranya terasa seperti ditulis khusus untuk menjawab tantangan hari ini: kemampuan beradaptasi guna menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman. Sejak awal, Gobel memandang perubahan sebagai bagian alami dari kehidupan, prinsip yang menjaganya bertahan dari masa industrialisasi awal hingga revolusi digital saat ini.

Namun, kemampuan beradaptasi itu, sejak mula, tidak pernah dilepaskan dari nilai kemanusiaan. Falsafah pohon pisang tidak berbicara tentang mesin, sistem, atau keuntungan finansial. Ia berbicara tentang kebermanfaatan dan regenerasi, tentang bagaimana satu generasi menyiapkan generasi berikutnya agar mampu melanjutkan perjalanan. Karena itu, pohon pisang bukan sekadar simbol pertumbuhan. Ia adalah simbol keberlanjutan.

Bagi generasi ketiga keluarga Gobel, pelajaran itu bukan sesuatu yang ditemukan di ruang rapat. Nilai-nilai itu sudah hadir sejak sebelum mereka mengenal dunia bisnis, melekat dalam percakapan dan kebiasaan keluarga sehari-hari. Menurut Arif, pelajaran pertama soal itu justru datang dari tempat yang jauh dari ruang kerja keluarganya: sebuah restoran kecil di Tokyo.

Mohammad Arif Rachmat Gobel. Menurut generasi ketiga Gobel Group ini, keberhasilan menghadapi era kecerdasan buatan sangat ditentukan oleh kesiapan manusia untuk belajar dan beradaptasi terhadap perubahan. (Foto: tangkapan layar kanal YouTube KONTAN TV, 14 Maret 2026)

Pelayan dan Pemandu dari Tokyo

Arif tumbuh di Indonesia, sebelum melanjutkan sekolah menengah di Australia, lalu menempuh studi Hubungan Internasional di Sophia University, Tokyo, Jepang, negeri yang sejak lama dekat dengan sejarah industri Gobel Group. Namun, pelajaran yang paling membentuk cara pandangnya ternyata tidak datang dari ruang kuliah.

Seperti kebanyakan mahasiswa di Jepang, Arif menyambung hidup dengan kerja paruh waktu. Ia menjadi pelayan di sebuah restoran. Di waktu lain, ia menjadi pemandu wisata bagi para pelancong yang datang ke Jepang. Tidak ada yang istimewa dari kedua pekerjaan itu, dan barangkali justru di situlah letak pelajarannya.

Di restoran, tugas seorang pelayan tidak berakhir ketika makanan tiba di meja pelanggan. Pelayanan baru dianggap berhasil ketika pelanggan pulang dengan perasaan senang, sebuah ukuran yang tidak tertulis di mana pun, tetapi dipahami oleh semua orang yang pernah bekerja di balik meja restoran.

Sebagai pemandu wisata, ia belajar hal lain lagi: setiap perjalanan menyimpan kemungkinan yang tak terduga. Cuaca berubah, jadwal bergeser, masalah muncul tanpa peringatan. Dalam situasi seperti itu, kemampuan mencari jalan keluar menjadi sama pentingnya dengan kemampuan menjalankan rencana yang sudah disusun rapi, sebuah pelajaran yang, beberapa tahun kemudian, akan terasa sangat relevan bagi siapa pun yang harus memimpin perusahaan di tengah dunia yang bergerak cepat.

Di masa-masa itulah Arif merasakan bagaimana bekerja berarti melayani orang lain secara langsung. Tidak ada yang mengenalnya sebagai cucu pendiri perusahaan atau calon penerus kelompok usaha besar. Ia hanyalah seorang mahasiswa yang harus memastikan pelanggan merasa puas dan wisatawan dapat menikmati perjalanan mereka dengan nyaman. Pengalaman sederhana itu membuatnya memahami bahwa penghargaan terhadap sebuah pekerjaan tidak datang dari jabatan, melainkan dari nilai yang mampu diberikan kepada orang lain.

Salah satu pelajaran yang paling membekas datang justru dari meja-meja restoran itu. Arif memahami bahwa keuntungan bukan semata hasil transaksi, melainkan bentuk penghargaan pelanggan atas pelayanan yang diberikan. Pengalaman menerima tip mengubah cara pandangnya: keuntungan adalah konsekuensi dari kemampuan memberi manfaat dan kepuasan kepada orang lain, bukan tujuan yang berdiri sendiri. Pelajaran itu kelak terbawa ke ruang-ruang korporasi yang lebih besar: keuntungan penting, tetapi manfaat yang dirasakan masyarakat jauh lebih menentukan keberlangsungan usaha.

Setelah lulus dan sempat bekerja di industri konsultan di Jepang, Arif kembali ke Indonesia pada masa yang tidak mudah, saat dunia menghadapi pandemi COVID-19. Di tengah ketidakpastian itulah ia mulai terjun lebih dalam ke operasional Gobel Group.

Arif tidak langsung menempati posisi puncak di perusahaan keluarga. Ia mengawali perjalanannya di Gobel Group pada bidang sales dan planning, sebuah pengalaman yang memberinya kesempatan memahami bisnis dari dekat dan melihat bagaimana keputusan perusahaan dijalankan dalam pekerjaan sehari-hari.

Pengalaman itu sejalan dengan cara keluarga Gobel memandang proses regenerasi. Kepemimpinan tidak dibangun dalam semalam, apalagi diwariskan begitu saja. Ia tumbuh melalui pengalaman, perjumpaan dengan persoalan nyata, serta pemahaman terhadap pekerjaan yang kelak akan dipimpin.

Namun, jalan yang ia tempuh tidak otomatis lebih mudah karena nama besar di belakangnya. Keluarga Gobel punya tradisi yang menekankan pengalaman langsung: sejak masa sekolah hingga kuliah, anggota keluarga didorong magang dan memahami dunia kerja dari dekat.

Filosofinya sederhana: seseorang tidak bisa memimpin dengan baik jika tidak memahami pekerjaan orang-orang yang dipimpinnya. Pandangan itu sejalan dengan falsafah pohon pisang. Regenerasi bukan sekadar perpindahan jabatan dari satu generasi ke generasi berikutnya, melainkan proses menyiapkan orang agar memiliki kapasitas, pengalaman, dan karakter yang dibutuhkan untuk melanjutkan perjalanan yang sudah dimulai.

Namun, menjadi penerus kelompok usaha yang sudah berusia puluhan tahun bukan perkara sederhana.

“Hal yang paling berat sebenarnya adalah ekspektasi,” ujar Arif dalam wawancara tersebut. Sebagai generasi baru, ada harapan agar ia membawa perubahan dan melangkahkan perusahaan lebih jauh. Namun, pada saat yang sama, perubahan itu tidak boleh memutus akar yang selama ini menjadi fondasi Gobel Group, dua tuntutan yang dalam banyak kesempatan terasa berjalan beriringan sekaligus saling menguji.

Inilah dilema yang dihadapi banyak perusahaan keluarga ketika memasuki generasi berikutnya: menemukan keseimbangan antara menjaga warisan dan menghadapi perubahan. Bagi Arif, jawabannya bukan memilih salah satu. Perubahan harus tetap berjalan dalam koridor nilai yang dibangun para pendahulunya, mulai dari visi dan misi, tujuh prinsip perusahaan, hingga falsafah pohon pisang yang diwariskan Thayeb Mohammad Gobel.

Keyakinan itu kelak menghadapi ujian yang jauh lebih besar. Dunia yang dihadapi Gobel Group hari ini bukan dunia yang sama seperti ketika perusahaan ini berdiri. Gelombang digitalisasi dan kecerdasan buatan bergerak dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan pertanyaannya bukan lagi bagaimana mempertahankan warisan, melainkan bagaimana menerjemahkannya agar tetap relevan.

Ketika Talenta Jadi Mata Uang Baru

Jawabannya mulai terlihat dari cara dunia kerja berubah dalam beberapa tahun terakhir. Kecerdasan buatan mengubah cara kerja hampir semua sektor, bukan hanya perusahaan teknologi. Kompetisi pun tidak lagi soal kapasitas produksi atau besarnya modal, melainkan soal siapa yang mampu mengelola data, berinovasi, dan beradaptasi hampir tanpa jeda.

Tantangan terbesar ternyata bukan soal mesin. Di Indonesia, persoalan itu mulai terlihat dari kebutuhan talenta digital yang terus meningkat.

Akhir Januari 2025, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Angga Raka Prabowo, memproyeksikan kebutuhan sekitar 9 juta talenta digital hingga 2030, namun yang berhasil dipenuhi baru sekitar 30 persen. Kesenjangan inilah yang membuat pemerintah mulai menyebut talenta sebagai “mata uang baru” yang menentukan daya saing sebuah negara.

PricewaterhouseCoopers (PwC), salah satu jaringan firma jasa profesional dan akuntansi terbesar di dunia yang berpusat di London, Inggris, memberikan gambaran serupa. Dalam laporan PwC AI Performance Study 2026, 74 persen nilai ekonomi dari AI ternyata terkonsentrasi pada sekitar 20 persen perusahaan yang benar-benar mampu memanfaatkannya.

McKinsey Global Institute (MGI), divisi riset bisnis dan ekonomi internal McKinsey & Company yang bermarkas di Amerika Serikat, bahkan memperkirakan, dalam laporan A New Future of Work (2024), sekitar 30 persen aktivitas kerja saat ini berpotensi diotomatisasi pada 2030, namun manfaat itu tidak akan tercapai tanpa investasi serius pada keterampilan manusia.

Bagi Gobel Group, tantangan itu memiliki dua wajah: mengikuti zaman tanpa kehilangan nilai yang menjadi fondasinya. Di tengah pembicaraan tentang kecanggihan sistem, Arif justru menaruh perhatian pada hal lain.

“Yang tidak kalah penting itu adalah manusianya,” ujar Arif.

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi di tengah euforia global terhadap kecerdasan buatan, maknanya lebih dalam: teknologi, secanggih apa pun, tetap membutuhkan orang yang mampu mengoperasikan dan memanfaatkannya untuk tujuan yang benar.

Karena itu, Gobel Group menaruh perhatian besar pada pengembangan sumber dayanya: perubahan yang berlangsung cepat harus diimbangi proses belajar yang terus berjalan.

“Kami harus terus memberikan pelatihan-pelatihan agar mereka bisa memahami,” katanya.

Pendekatan itu merupakan penerjemahan modern dari falsafah pohon pisang. Jika dulu regenerasi berarti menyiapkan generasi penerus, kini ia juga berarti menumbuhkan keterampilan baru yang sesuai dengan tuntutan zaman.

“Prinsip yang keenam itu, menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman,” ujar Arif. Baginya, prinsip itu bukan sekadar kalimat di dokumen perusahaan, melainkan pendorong evaluasi cara kerja, budaya organisasi, hingga fasilitas karyawan, agar tetap sesuai kebutuhan generasi yang terus berganti. Adaptasi, dalam pengertian ini, bukan meninggalkan nilai lama, melainkan menemukan cara baru untuk menjalankan nilai yang sama dalam konteks yang berbeda.

Di sinilah falsafah pohon pisang menemukan relevansinya: di tengah hiruk-pikuk algoritma dan kecerdasan buatan, Gobel Group tetap memandang manusia sebagai pusatnya, sebab teknologi pada akhirnya hanyalah alat, dan yang menentukan arah penggunaannya tetap orang-orangnya sendiri.

Selama tujuh dekade, Gobel Group menghadapi tantangan yang terus berubah, mulai dari membangun industri nasional, globalisasi, digitalisasi, hingga era kecerdasan buatan. Namun benang merahnya tetap sama: beradaptasi tanpa meninggalkan nilai dasar perusahaan. (Ilustrasi: RUZKA INDONESIA)

Akar Sebelum Buah

Jika falsafah pohon pisang mengajarkan pentingnya menyiapkan tunas sebelum batang induk menyelesaikan perannya, pertanyaan berikutnya jadi jelas: tunas seperti apa yang sedang disiapkan Gobel Group untuk menghadapi hari esok yang penuh ketidakpastian ini?

Menurut Arif, fondasi untuk menghadapi semua itu tetap berawal dari kesiapan orang-orangnya untuk beradaptasi, bukan sekadar dari teknologi atau investasi yang bisa dibeli.

Arif melihat peluang besar bagi Gobel Group untuk berkembang, namun ekspansi yang ia bayangkan bukan sekadar memperbesar ukuran perusahaan, melainkan memastikan setiap langkah pertumbuhan memiliki fondasi yang cukup kuat untuk bertahan dalam jangka panjang. Sama seperti pohon pisang yang membangun akar terlebih dahulu sebelum berbuah, pertumbuhan yang berkelanjutan hanya mungkin terjadi jika fondasi manusianya sudah siap.

Dua sektor menarik perhatiannya untuk masa depan: logistik dan pusat data. Sebagai negara kepulauan dengan ribuan pulau membentang dari Sabang hingga Merauke, Indonesia menghadapi tantangan distribusi yang jauh lebih kompleks dibanding banyak negara lain, dan di balik tantangan itu, Arif melihat peluang besar untuk menciptakan efisiensi serta memperkuat konektivitas nasional.

Sementara itu, di era ketika data menjadi bahan bakar utama kecerdasan buatan, ketersediaan pusat data bagi Arif bukan hanya soal bisnis, melainkan menyangkut kedaulatan dan keamanan data Indonesia sendiri.

Di titik inilah falsafah pohon pisang dan masa depan Gobel Group bertemu, menjadi kompas moral ketika pilihan-pilihan baru terus bermunculan. Teknologi bisa berubah dan sektor bisnis bisa berkembang, tetapi pertanyaan yang selalu kembali tetap sama seperti yang pernah diajukan Thayeb Mohammad Gobel puluhan tahun lalu: apakah yang dikerjakan perusahaan ini benar-benar memberi manfaat?

Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan bagaimana Gobel Group memasuki babak berikutnya. Sebab memasuki usia tujuh puluh tahun, tantangan terbesarnya bukan lagi mempertahankan apa yang sudah dibangun, melainkan menyiapkan apa yang akan diwariskan, dan warisan itu bukan hanya aset, pabrik, atau lini bisnis, tetapi orang-orang yang mampu melanjutkan perjalanan, membaca arah zaman, dan menemukan cara baru untuk tetap memberi manfaat.

Kata Arif, perayaan 70 tahun bukan sekadar momen mengenang masa lalu, melainkan persiapan menuju usia 100 tahun, dengan rencana jangka pendek, menengah, dan panjang yang menjadi fondasi perusahaan dalam tiga dekade mendatang. Salah satu fokus utamanya adalah mempersiapkan generasi keempat agar mampu melanjutkan cita-cita yang diwariskan para pendiri.

Tunas yang Baru Ditanam

Tujuh puluh tahun adalah usia yang panjang untuk sebuah perusahaan. Dalam rentang itu, Gobel Group melewati masa awal industrialisasi Indonesia, beberapa kali pergantian generasi, krisis ekonomi, gelombang globalisasi, hingga revolusi digital yang kini berlangsung di hampir setiap aspek kehidupan. Namun, satu hal tetap dipertahankan: keyakinan bahwa keberadaan perusahaan harus memberi manfaat yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Keyakinan itulah yang membuat falsafah pohon pisang tetap hidup. Ia tidak berhenti sebagai cerita tentang masa lalu atau kenangan tentang seorang pendiri. Falsafah itu terus menemukan makna baru setiap kali zaman berubah, menjadi pengingat tentang pengabdian ketika industri berkembang, tentang kebermanfaatan ketika perusahaan bertumbuh, dan kini, di era kecerdasan buatan, pengingat bahwa kemajuan apa pun hanya berarti jika ia membuat hidup manusia menjadi lebih baik.

Dalam wawancara yang sama, Arif mengatakan bahwa tantangan terbesar barangkali bukan menciptakan teknologi paling canggih atau membangun bisnis paling besar. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan nilai yang diwariskan tetap relevan bagi generasi yang akan datang.

Sebab model bisnis akan terus berganti dan dunia akan terus bergerak ke arah yang belum sepenuhnya bisa diprediksi, tetapi kebutuhan akan orang-orang yang berintegritas, mau belajar, dan siap beradaptasi tidak akan pernah hilang.

Saat banyak pihak melihat hari esok lewat lensa algoritma, Gobel Group memilih lensa yang lebih sederhana: bagaimana menyiapkan orang-orangnya untuk menghadapi semua itu. Dalam pandangan ini, transformasi bukan sekadar soal perangkat lunak atau kecanggihan sistem, melainkan proses membangun kapasitas manusia agar mampu menciptakan manfaat yang lebih besar bagi sesamanya.

Barangkali karena itulah pelajaran dari pohon pisang masih terasa relevan. Pohon itu tidak pernah tumbuh untuk dirinya sendiri. Buahnya memberi pangan, daunnya berguna, batangnya bermanfaat, dan sebelum hidupnya berakhir, ia memastikan tunas-tunas baru sudah tumbuh untuk meneruskan kehidupan.

Di sebuah kampung kecil bernama Tinombo, pelajaran sesederhana itu pernah ditangkap oleh seorang anak bernama Ebu, dan kemudian diwariskan dari generasi ke generasi. Kini, ketika dunia memasuki era kecerdasan buatan dan segalanya bergerak lebih cepat dari sebelumnya, pelajaran yang sama menemukan maknanya kembali: masa depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang dimiliki manusia, melainkan oleh seberapa baik manusia menyiapkan generasi berikutnya untuk menggunakannya.

Mungkin itu sebabnya Gobel Group tidak memandang usia tujuh puluh tahun sebagai garis akhir. Usia itu lebih tepat dibaca sebagai tanda bahwa satu siklus telah selesai dijalani, dan tunas-tunas baru telah mulai tumbuh.

Sebagaimana pohon pisang yang menjadi sumber inspirasinya: tujuh puluh tahun telah terlewati, tetapi masa depan yang lebih panjang sesungguhnya baru saja ditanam. (***)

Penulis/ Editor: Djoni Satria

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Berlaku Nasional, Polres Garut Imbau Masyarakat Manfaatkan Layanan Gratis Contact Center 110

05

Suzuki Carry Minivan 2026, Irit dengan Kegagahan dan Kenyamanan

06

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

07

Sekolah dan Upaya Membumikan Gapura Pancawaluya di SMAN 1 Cikijing

Sorotan






Kolom