RUZKA INDONESIA โ Petinggi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dengan bangga menyatakan sejumlah kader partai lain, termasuk kader Partai Nasdem, akan bergabung lagi dalam waktu dekat.
Pernyatan itu mendapat sorotan dari Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul Jakarta M Jamiluddin Ritonga.
Menurutnya, ada kesan keberhasilan merebut kader partai lain dipandang sebagai kemenangan politik simbolis. Bahkan hal itu dianggap sebagai indikator kekuatan atau daya tarik partai tersebut.
Padahal menerima kader partai lain mengindikasikan lemahnya sistem kaderisasi internal partai dalam menciptakan pemimpin sendiri. Partai tersebut tak mampu menghadirkan pemimpin yang dapat diterima masyarakat.
“Indikasi itu terlihat di PSI. Ketua Umumnya Kaesang Pangarep harus dibantu seorang Ketua Harian yang bernama Ahmad Ali. Hal ini mengindikasikan ketidakmampuan Kaesang dalam memimpin PSI, termasuk dalam kaderisasi,” ungkap Jamil kepada RUZKA INDONESIA, Jumat (17/04/2026).
Padahal, lanjut Jamil, kekuatan partai seharusnya dibangun melalui kaderisasi internal yang kuat, bukan hanya mengandalkan “bajakan” kader dari partai lain.
“Bangganya PSI menerima kader lain bukan karena daya tarik partainya, tapi hanya sebagai sikap pragmatis partai. Partai lebih mengutamakan memperoleh kemenangan instan daripada ideologi yang dianutnya,” tandas mantan Dekan Fikom IISIP Jakarta ini.
Menurutnya, untuk mencapai kemenangan tentu tidak mudah. Sebab, PSI yang mengklaim sudah berhasil membajak kader partai lain, nyatanya elektabilitas PSI terbaru hanya 1,2 persen. Ini artinya, konsolidasi bersama kader bajakan belum juga bisa mendongkrak elektabilitas PSI.
“PSI jangan bangga bila banyak kader ingin pindah ke partai berlogo gajah. Sebab, PSI berisiko kehilangan identitas atau ideologi aslinya. Hal itu berpeluang terjadi karena terlalu banyak menampung kader partai lain yang datang dengan ideologi masing-masing. Bahkan masuknya kader partai lain berpotensi menimbulkan gesekan dengan kader lama yang merasa dilangkahi, terutama dalam perebutan posisi strategis di PSI,” jelasnya.
Jamil juga mengingatkan, untuk mencegah hal itu, PSI sudah seharusnya mawas diri dalam menerima kader partai lain. Jangan sempat PSI hanya dipandang sebagai kendaraan politik untuk meraih posisi strategis semata, bukan sebagai wadah kaderisasi permanen.
“Kalau hal itu yang terjadi, PSI nantinya akan dijadikan para “kutu loncat” hanya untuk kendaraan politik pribadinya. Tentu hal itu tak diinginkan para pendiri PSI,” pungkas Jamil. (***)
Editor: Ao S Dwiyantho Putra
Email: aodwiyantho@gmail.com
Partai Solidaritas Indonesia, PSI, Kader, Kaesang Pangarep, Partai Nasdem, Ahmad Ali, Kutu Loncat, M Jamiluddin Ritonga, Headline, Featured,


Komentar