Mulai dari sisi lapangan hingga La Masia, tempat lulusan terhebat Barcelona, Messi akan berhadapan dengan remaja Lamine Yamal, pewaris muda yang memukau dari akademi tersebut.
RUZKA INDONESIA–Argentina dan Spanyol seharusnya berhadapan di Qatar awal tahun ini dalam laga Finalissima—pertemuan antara juara Amerika Selatan dan Eropa—sebelum serangan AS-Israel terhadap Iran memaksa pertandingan tersebut dibatalkan.
Pada hari Minggu di New Jersey waktu setempat atau Senin (20/07/2026) WIB, mereka akhirnya bertemu dengan taruhan yang jauh lebih besar ketimbang sekadar trofi seremonial.
Final Piala Dunia ini menyajikan duel yang sangat kontras namun menarik di panggung sepak bola termegah: Argentina—yang penuh gairah, semangat membara, dan sosok Lionel Messi—melawan Spanyol, sang juara Eropa yang seolah menganggap kekacauan sebagai kesalahan administratif semata dan telah mengubah permainan penuh kendali menjadi sebuah bentuk seni.
Ini adalah pertarungan Amerika Selatan melawan Eropa, gairah melawan presisi, sebuah laga yang diwarnai sejarah personal yang unik—mulai dari sisi lapangan hingga La Masia, tempat lulusan terhebat Barcelona, Messi, akan berhadapan dengan remaja Lamine Yamal, pewaris muda yang memukau dari akademi tersebut.
Argentina kembali ke partai final empat tahun setelah kemenangan emosional mereka di Qatar, saat Messi akhirnya mengangkat trofi usai kemenangan dramatis atas Prancis.
Kala itu, dengan usia Messi yang sudah menginjak 35 tahun, gagasan tentang final Piala Dunia lainnya tampak seperti angan-angan belaka. Kini di usia 39 tahun, ia masih terus menentang batasan waktu, memperdaya para bek, dan mematahkan segala prediksi.
Perjalanan Argentina kali ini bukanlah upaya mempertahankan gelar yang mulus, melainkan sebuah perjalanan panjang yang penuh penderitaan.
Dengan 17 dari 26 anggota skuad yang merupakan bagian dari kemenangan tahun 2022, tim asuhan Lionel Scaloni mencapai final melalui jalan yang terjal: mengalahkan Tanjung Verde di babak perpanjangan waktu serta selamat dari laga-laga yang menguras saraf saat menghadapi Mesir, Swiss, dan Inggris.
Mereka terkadang bermain layaknya tim yang mengerahkan segenap jiwa raga, didorong oleh gol, assist, dan aksi-aksi magis Messi. Setiap aksinya menambah babak baru dalam perdebatan tiada akhir mengenai siapa pesepak bola terhebat sepanjang masa: dirinya atau Pele dari Brasil.
Jika Argentina tampil bak Rocky Balboa yang tertatih-tatih melewati satu ronde demi ronde, Spanyol justru hadir sebagai tim yang tenang dan terkendali, layaknya sosok yang paham betul ke mana arah jalan keluarnya.
Dengan rekor tak terkalahkan dalam 37 pertandingan, Spanyol berpeluang meraih gelar Piala Dunia kedua mereka—setelah tahun 2010—sekaligus memecahkan rekor tak terkalahkan di kancah internasional yang sebelumnya dipegang Italia antara tahun 2018 dan 2021.
Mereka tiba di Amerika Utara sebagai tim favorit versi rumah taruhan usai menjuarai Kejuaraan Eropa, dan sejauh ini menunjukkan sikap layaknya tim yang memandang tekanan bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai sebuah agenda yang sudah terjadwal.
Perjalanan mereka tampak telah dirancang dengan cermat, seolah-olah semua laga sebelum semifinal hanyalah bagian dari pemanasan.
Di bawah asuhan Luis de la Fuente—pelatih yang telah menangani banyak pemain skuad ini sejak mereka remaja di sistem pembinaan pemain muda Spanyol—mereka telah membangun pemahaman kolektif yang begitu padu; sebuah permainan yang bisa membuat lawan merasa terjebak di dalam ruangan dengan pencahayaan indah namun tanpa pintu keluar. Prancis tentu sangat memahami perasaan tersebut.
Kreativitas Luar Biasa
Permainan operan dan penguasaan posisi ala Spanyol bisa terasa menyesakkan bagi lawan, namun di dalam sistem tersebut tersimpan pula kreativitas yang luar biasa—dan sebagian besarnya berasal dari Lamine.
Sang pemain sayap, yang memukau publik di Kejuaraan Eropa saat baru berusia 16 tahun, telah menghabiskan karier singkatnya dengan memecahkan berbagai rekor usia dan melampaui segala ekspektasi. Sejak melakoni debutnya bersama Barcelona pada usia 15 tahun, ia kerap dibandingkan dengan sosok paling fenomenal jebolan La Masia—pria yang akan menjadi lawannya pada hari Minggu nanti.
Messi dan Lamine juga dihubungkan oleh salah satu foto viral paling unik dalam dunia sepak bola: foto Messi—saat masih menjadi pemain muda Barcelona—sedang memandikan Lamine yang masih bayi. Momen yang dulunya tampak sebagai keunikan yang menggelitik itu kini terasa seperti sebuah pertanda yang dirancang oleh penulis naskah yang gemar bermain-main dengan takdir.
Ketika ditanya apakah bakat Messi telah diwariskan kepada Lamine pada hari itu—bagaikan sentuhan ajaib Raja Midas—ayah Lamine menjawab: “Siapa yang bisa memastikan bahwa hal sebaliknya tidak terjadi?”.(*/Reuters)
Editor: Amiruddin






Komentar