Ekonomi
Beranda ยป Berita ยป Kisah Sambal dari Depok, Mencari Jalan ke Pasar Asia Tenggara dan Timur Tengah

Kisah Sambal dari Depok, Mencari Jalan ke Pasar Asia Tenggara dan Timur Tengah

Iin Agustin Rachman bersama dua karyawan menunjukkan produk sambal Chili Chila di ruang produksi, Pondok Jaya, Depok. (Foto: Djoni Satria/ RUZKA INDONESIA)

Berawal dari usaha rumahan pada 2015, Iin Agustin Rachman membangun usaha sambal bermerek Chili Chila di Pondok Jaya, Depok, Jawa Barat, dengan memanfaatkan kanal digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Namun, peluang penjualan menghadirkan tantangan baru: menjaga mutu, memenuhi pesanan, dan menambah modal untuk mengembangkan usaha.

RUZKA INDONESIA, Depok โ€” Pagi itu gang di Perumahan Permata Depok, Sektor Berlian, Pondok Jaya, Kecamatan Cipayung, Depok, tidak memperlihatkan kesibukan sebuah tempat produksi. Rumah-rumah berderet di sepanjang jalan lingkungan yang dinaungi pepohonan.

Sebuah mobil yang ditutupi sarung mobil terparkir di depan pagar. Hanya spanduk merah bertuliskan โ€œSambal Chili Chilaโ€ yang menandai bahwa di balik pagar besi bercat putih itu terdapat usaha yang tumbuh dari dapur rumahan. Di tempat inilah Iin Agustin Rachman (50) merintis usaha sambal sejak 2015 dengan dukungan keluarga dan enam karyawan.

Bagi Iin, usahanya bukan semata meracik cabai dan bumbu lalu memasukkannya ke dalam toples. Ada rasa yang harus dijaga, bahan baku yang mesti dipilih, dan mutu yang tidak boleh berubah ketika pesanan bertambah.

Pasar yang meluas melalui layar gawai belum tentu diikuti kesiapan memenuhi seluruh permintaan. Di situlah perjalanan Chili Chila menghadapi ujian: mengembangkan usaha rumahan sekaligus menjaga mutu produk dan kepercayaan pembeli.

Pinbas MUI Depok Kembangkan Pertanian dan Peternakan di Lahan 14,7 Hektare

Rasa yang Tak Boleh Berubah

Pada 2015, Chili Chila belum dikenal di luar lingkungannya. Usaha itu bermula dari dapur rumah Iin dengan modal mandiri yang relatif kecil dan sarana seadanya. Produksi dilakukan manual, belasan hingga puluhan toples per hari, untuk memenuhi pesanan atau dititipkan melalui jaringan tetangga dan teman terdekat.

Kepada RUZKA INDONESIA, di Depok, Jumat (23/10/2026), Iin menyebut kecintaan pada kuliner dan masakan rumahan menjadi landasan lahirnya Sambal Chili Chila. Baginya, sambal bukan sekadar pelengkap hidangan di meja makan Indonesia, melainkan pengikat kehangatan keluarga. Ia ingin menyajikan sesuatu yang dibuat dengan kasih sayang dan perhatian pada detail, seperti masakan seorang ibu untuk keluarganya.

Kecintaan itu bertemu urusan teknis. Menurut Iin, sambal tanpa pengawet buatan rentan menurun mutu jika tidak dikemas dan diolah dengan teknik pengawetan alami yang benar. Di tengah sambal olahan produksi massal industri, ia menjaga daya tahan tanpa mengorbankan cita rasa, serta terus merawat konsistensi rasa, jaminan kehalalan, dan kebersihan produksi.

Pada tahun-tahun awal, Iin berfokus membangun pelanggan setia dengan menjaga cita rasa khas dan memastikan proses produksi tetap higienis. Seiring penerimaan pasar yang semakin baik, ia memantapkan langkah usahanya dengan membentuk CV Chili Chila pada 2023, delapan tahun setelah usaha itu dirintis.

Pakar Ekonomi UI: Integrasi Perdagangan dan Krusial Guna Tingkatkan Nilai Tambah Ekonomi Indonesia

Pembentukan badan usaha tersebut menjadi babak baru bagi Chili Chila, dari usaha rumahan yang bertumpu pada produksi sederhana menuju bisnis yang mulai menata fondasi legalitasnya.

Ketika Pasar Berpindah ke Layar

Sebelum memakai platform digital, pemasaran Chili Chila hanya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut, dengan pelanggan sebagian besar berasal dari Depok dan Jakarta.

Perubahan dimulai sekitar 2017โ€“2018, ketika Iin memanfaatkan Instagram dan Facebook, lalu WhatsApp Business. Melalui media tersebut, ia mengaku dapat berkomunikasi langsung dengan konsumen di luar wilayah awalnya dan menerima tanggapan tentang rasa dan kemasan.

Perluasan berikutnya melalui lokapasar, termasuk Shopee dan Tokopedia. Media sosial dan WhatsApp Business dipakai membangun kesadaran merek, sedangkan lokapasar memudahkan transaksi, pembayaran, dan logistik.

Target Juara Dunia, Kemnaker Gelar InaSkills 2026 Libatkan 90 Talenta Muda

Rak penyimpanan berisi beragam varian sambal Chili Chila yang siap dipasarkan. (Foto: Djoni Satria/ RUZKA INDONESIA)

Menurut Iin, pesanan dan omzet meningkat berkali-kali lipat setelah memasuki ekosistem digital. Pemasaran yang semula terpusat di Depok dan Jakarta perlahan mulai menjangkau berbagai provinsi di Indonesia, bahkan konsumen di luar negeri, sehingga kapasitas produksi dan persediaan harus disesuaikan.

Iin mengatakan Chili Chila belum memakai QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) dan masih mengandalkan transfer bank untuk transaksi langsung, termasuk di pameran bisnis. Kombinasi transfer bank dan payment gateway lokapasar mencakup sekitar 70 hingga 80 persen dari keseluruhan transaksi nontunai usaha tersebut.

Chili Chila memakai sistem point of sale (POS) untuk memantau stok, merekonsiliasi arus kas, dan mencatat transaksi harian, serta kode batang berstandar GS1 untuk mengintegrasikan pergerakan barang dengan distributor dan peritel. Sebuah toples sambal tidak hanya terjual, tetapi juga meninggalkan jejak: kapan masuk dan keluar serta berapa yang tersisa.

Kanal digital juga membuka jalan ke mitra bisnis. Iin mengatakan, sejumlah penjajakan kerja sama business-to-business (B2B) dan private label bermula ketika tim pengadaan calon mitra menemukan profil Chili Chila lewat pencarian internet, profil perusahaan daring, atau media sosial, lalu meminta penjajakan sampel.

Menurut pengamat transformasi digital, Aranggi Soemardjan dari Clevio Technology for Human Progress, transformasi digital tidak cukup diukur dari banyaknya platform yang digunakan.

Teknologi, menurut Aranggi, pada dasarnya sarana; yang penting, teknologi merapikan alur kerja dan membuat data usaha dapat dipakai saat mengambil keputusan. Data transaksi, persediaan, dan arus kas semestinya tidak berhenti sebagai catatan administratif, tetapi membantu memperkirakan kebutuhan produksi dan modal kerja.

Namun, sejauh mana perubahan digital itu meningkatkan efisiensi dan keuntungan Chili Chila masih memerlukan pengukuran melalui data operasional yang lebih terperinci. Jangkauan pasar yang luas tidak dengan sendirinya menjamin usaha tumbuh sehat. Aranggi menekankan pentingnya melihat kinerja usaha secara lebih menyeluruh.

โ€œEvaluasi harus melihat dampak esensialnya secara utuh: bagaimana kesehatan margin keuntungannya, seberapa efisien penggunaan bahan bakunya, seberapa lancar perputaran stoknya,โ€ ujarnya kepada RUZKA INDONESIA di Jakarta, Sabtu (24/10/2026).

Produksi 300 sampai 500 Toples Sehari

Iin menyebut kapasitas produksi Sambal Chili Chila kini 300 sampai 500 toples atau pouch per hari, bergantung pada jenis produk dan jumlah pesanan. Kapasitas itu dapat ditingkatkan lewat tambahan sif kerja dan optimalisasi peralatan, terutama saat lonjakan permintaan pada Ramadan, Idulfitri, atau pesanan B2B.

Proses produksi pun belum sepenuhnya diserahkan kepada mesin. Iin masih memegang bagian yang menentukan karakter produk, dari formulasi bumbu, pemilihan bahan baku segar, hingga pengujian rasa. Mesin dipakai hanya untuk pekerjaan terukur, seperti penimbangan, pengemasan, penyegelan, dan pemberian kode batang.

Seorang karyawan Chili Chila mengolah bahan baku sambal dalam wajan besar di ruang produksi, Pondok Jaya, Depok. (Foto: Djoni Satria/ RUZKA INDONESIA)

Menurut Iin, operasional Chili Chila saat ini didukung enam karyawan yang menangani produksi, pemeriksaan mutu, pengemasan, logistik, dan pemasaran digital.

Iin mengatakan Chili Chila telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, dan pendaftaran kekayaan intelektual, serta izin edar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk lini produk Ready-to-Heat Protein.

Bagi pangan olahan, keamanan pangan, kebersihan produksi, ketepatan kemasan, dan daya simpan ikut menentukan apakah produk dapat masuk ke jalur distribusi yang lebih luas. Sebab distributor, ritel, dan pelaku bisnis kuliner membutuhkan kepastian mutu dan pasokan, bukan hanya produk yang disukai pembeli.

Keterbatasan modal kerja dan ruang produksi, kata Iin, masih menjadi hambatan. Hal itu pernah membuat Chili Chila tidak dapat menerima seluruh permintaan ritel modern maupun pesanan produksi besar dengan merek milik mitra.

Dalam skema private label, Chili Chila memproduksi sambal yang dipasarkan dengan merek pemesan; pesanan semacam itu menuntut bahan baku, ruang, dan modal lebih besar dalam waktu singkat.

Menurut Iin, ketika permintaan meningkat mendadak, tantangan utamanya bukan semata menambah tenaga kerja atau peralatan, melainkan dana untuk membeli bahan baku segar secara tunai dan ruang produksi yang memenuhi standar kebersihan.

Karena itu, kerja sama skala besar terkadang diprioritaskan bertahap sesuai kemampuan produksi dan modal. Biaya produksi harus keluar sebelum hasil penjualan diterima, dan Iin menyebut kebutuhan tambahan modal kerja dapat mencapai 20 hingga 30 persen dari anggaran operasional harian.

Antara Katalog dan Pengiriman

Jangkauan penjualan ke luar negeri membutuhkan penelusuran tersendiri. Jurnalis RUZKA INDONESIA menelusuri kanal penjualan daring dan basis data perdagangan internasional, sekaligus meminta penjelasan Iin tentang proses pengiriman produknya.

Selain dijual di Shopee Indonesia dalam sejumlah varian, Chili Chila memakai program ekspor Shopee untuk menjangkau konsumen di luar negeri, terlihat dari toko Chili Chila di Shopee Singapura.

Salah satu produknya, Sambal Teri Ijo kemasan 140 gram dan 210 gram, dijual 5,45 hingga 7,09 dolar Singapura dengan rating 4,9 dari 32 penilaian.

Menurut Iin, toko di Shopee Singapura terhubung melalui Shopee Export Program dengan dukungan Shopee International Platform (SIP) dan dikelola terpusat oleh tim di Indonesia.

Setelah konsumen di Singapura memesan, produk disiapkan, dikemas, dan diberi kode batang di Indonesia, lalu dikirim ke pusat logistik internasional sebelum diteruskan kepada pembeli.

Konsumen mancanegara, termasuk diaspora Indonesia dan warga negara asing, juga menemukan produk ini lewat lokapasar dan tagar kuliner di media sosial. Iin menyebut Sambal Klotok, Sambal Peda, dan Sambal Geprek menarik pencari sambal rumahan; sebagian bermula dari pesanan ritel untuk konsumsi pribadi, lalu menjadi pesanan berulang.

Di luar Singapura, Iin menyebut produknya pernah dikirim ke Malaysia, Brunei Darussalam, dan Qatar, tak hanya lewat program ekspor lokapasar, tetapi juga distributor, reseller, dan jaringan mitra.

Karton produk Chili Chila yang disiapkan untuk mendukung distribusi ke pasar yang lebih luas. (Foto: Djoni Satria/ RUZKA INDONESIA)

Menurutnya, penjajakan pasar Singapura melalui mitra B2B dan reseller berlangsung sejak 2022 hingga 2024. Pasar domestik tetap menjadi penopang utama: sekitar 85 hingga 90 persen pendapatan berasal dari dalam negeri, sedangkan pasar luar negeri menyumbang sekitar 10 hingga 15 persen. Ia memandang ekspor sebagai peluang strategis karena marginnya berpotensi lebih tinggi.

RUZKA INDONESIA juga memeriksa data perdagangan melalui situs Volza, platform intelijen perdagangan internasional. Penelusuran menemukan dua catatan bertanggal 24 dan 25 Juni 2024 yang mencantumkan nama โ€œChili Pasteโ€“Chili Chilaโ€ dalam deskripsi barang tujuan Singapura, masing-masing bernilai US$183 dan US$168.

Iin mengonfirmasi bahwa catatan itu merupakan pengiriman produk Chili Chila ke Singapura untuk memenuhi pesanan mitra distributor atau importir. Menurutnya, mitra tersebut tertarik karena kelengkapan legalitas dan standar produk, termasuk BPOM, sertifikasi halal, dan kode batang GS1.

Namun, data Volza yang dapat diakses tidak menampilkan identitas eksportir dan pembeli secara terbuka. Karena itu, catatan tersebut hanya menjadi petunjuk perdagangan yang diperkuat konfirmasi Iin, tetapi belum dapat menggambarkan keseluruhan aktivitas ekspor Chili Chila.

Dari Kurasi Menuju Kepastian Pasar

Peluang kemitraan lain datang dari PT Tamasya Hati Global atau Tamsyi Tour yang berupaya membangun ekosistem perjalanan umrah dengan melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Gagasan itu diperkenalkan dalam Business Partner Gathering 2026 bertema โ€œA New Journey Beginsโ€ di Savero Hotel Depok, Sabtu (3/10/2026).

Melalui program Umrah Happy, perusahaan perjalanan umrah berbasis di Depok itu membuka ruang kolaborasi bagi produk UMKM Jawa Barat, dari makanan kemasan hingga kebutuhan pendukung perjalanan ibadah. Tamsyi Tour menargetkan program itu menjangkau hingga 12.000 pelaku UMKM.

Direktur Utama Tamsyi Tour, Ivan Yunanto, mengatakan Umrah Happy dikembangkan menjadi ekosistem lintas sektor usaha. โ€œKami ingin membangun Gerakan Umroh Happy menuju ekosistem. Kalau umrah dibentuk sebagai ekosistem, semua sektor bisa terlibat,โ€ ujar Ivan.

Dukungan pun datang dari Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (DKUM) Kota Depok Mohamad Thamrin yang menyebut kerja sama itu dapat membuka akses pasar bagi produk lokal Depok. Tamsyi Tour menentukan produk terpilih, sementara pemerintah kota memfasilitasi pengusulan dari tiap kecamatan.

Hal senada juga dikatakan Wakil Wali Kota Depok Chandra Rahmansyah yang mengapresiasi langkah Tamsyi Tour menggabungkan perjalanan ibadah ke Tanah Suci dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

โ€œSaya diberitahukan bahwa ada program umrah yang berkolaborasi dengan UMKM di Kota Depok, yaitu di Tamsyi Tour. Ini kolaborasi yang baik, membangun sebuah ekosistem ekonomi lewat kegiatan umrah, di mana pemberdayaan UMKM menjadi bagian dari perjalanan umrah,โ€ ujar Chandra.

Chili Chila meraih Juara 1 Business Partner Gathering 2026 dengan hadiah kontrak pembelian selama enam bulan dan dukungan modal usaha senilai Rp2 juta dari Tamsyi Tour. (Foto: Djoni Satria/ RUZKA INDONESIA)

Iin bersyukur Chili Chila meraih Juara 1 dalam Business Partner Gathering Tamsyi Tour 2026 setelah melalui proses kurasi yang menilai kelengkapan legalitas dan sertifikasi, keberlangsungan usaha sejak 2015, ragam produk hingga 22 varian sambal dan lini Ready-to-Heat Protein, serta pengalaman bermitra dengan B2B dan ritel modern.

Menurut Iin, kerja sama tersebut dirancang dalam bentuk Purchase Order (PO) berkelanjutan atau Offtaker Agreement selama enam bulan, dengan kebutuhan pasokan yang disebut mencapai ribuan unit per bulan.

Selain peluang kemitraan tersebut, Chili Chila juga memperoleh dukungan Rp2 juta dari Tamsyi Tour untuk meningkatkan efisiensi pemasaran digital dan menyiapkan materi promosi kemasan.

Menakar Kesiapan Mendapat Pembiayaan

Kebutuhan mengembangkan usaha membawa Iin pada persoalan lain: bagaimana memperoleh pembiayaan yang sesuai.

Kepala Bank BRI Kantor Cabang Utama (KCU) Kota Depok, Aris Abdillah, menjelaskan bahwa analisis pembiayaan tidak hanya melihat aset calon debitur. Bank juga mempertimbangkan identitas dan legalitas, keberlangsungan usaha, tujuan penggunaan dana, arus kas, kewajiban keuangan, riwayat kredit, serta kemampuan membayar.

โ€œAnalisis kredit tidak hanya bertanya โ€˜berapa aset yang dimiliki?โ€™, tetapi yang lebih penting adalah โ€˜apakah usahanya berjalan dan dari mana sumber pembayaran kembali kredit tersebut?โ€™โ€ ujar Aris kepada RUZKA INDONESIA belum lama ini.

Aris menjelaskan bahwa usaha yang semakin bankable, atau layak dibiayai oleh perbankan, umumnya memiliki aktivitas bisnis yang konsisten, pelanggan, arus kas yang dapat diidentifikasi, administrasi tertib, dan rekam jejak kewajiban keuangan yang baik.

Bagi Iin, pembiayaan perbankan bukan hal asing. Ia mengaku mengetahui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan pembiayaan komersial, tetapi selama ini ia masih mengutamakan modal sendiri.

Menurut Iin, rekening koran atas nama CV, riwayat transaksi, laporan penjualan lokapasar, serta dokumen kerja sama B2B dapat memperlihatkan perkembangan usaha, sehingga pencatatan digital berpotensi menjadi bukti transaksi saat mengajukan pembiayaan.

Namun, kelengkapan dokumen belum menyelesaikan semua persoalan. Iin menyebut agunan dan pemisahan arus kas usaha masih menjadi tantangan: aset fisik untuk jaminan terbatas, sementara keuangan usaha dan pribadi perlu dipisahkan agar kemampuan bisnis menghasilkan arus kas terlihat jelas.

Chili Chila telah memiliki NIB, badan usaha CV, kanal digital, dan sejumlah kerja sama bisnis, tetapi semua itu tetap perlu dinilai bersama kondisi keuangan dan kemampuan memenuhi kewajiban pembayaran.

Ke depan, Iin telah menyusun rencana penggunaan dana, yakni 40 persen untuk pembenahan fasilitas dan tata ruang produksi agar memenuhi standar sanitasi, 35 persen untuk otomasi peralatan, serta 25 persen untuk modal kerja dan distribusi.

Kebutuhan otomasi antara lain mencakup peralatan pengisian otomatis serta teknologi retort atau autoklaf untuk pengolahan dan daya simpan produk Ready-to-Heat Protein.

Pada akhirnya, tantangan Chili Chila bukan hanya memperbesar usaha, melainkan membuktikan bahwa bisnisnya berjalan konsisten dan mampu memenuhi kewajiban keuangan, sementara keputusan pembiayaan tetap berada pada lembaga keuangan.

Persoalan UMKM Depok dan Jawa Barat

Pengalaman Iin menunjukkan bahwa digitalisasi perlu diikuti pembenahan operasional dan keuangan.

Gustina Melliani, mentor bisnis yang mendampingi UMKM di Depok sekaligus mentor binis di Sekolah Bisnis Binus Alam Sutera, Tangerang, melihat kondisi pelaku usaha sangat beragam.

Dari lebih dari 500 orang yang pernah didampinginya, ia memperkirakan lebih dari 70 persen telah menggunakan media sosial, tetapi hanya sekitar 10 persen yang mengakses layanan keuangan formal. Angka itu merupakan gambaran kelompok dampingannya, bukan representasi seluruh UMKM Depok.

Menurut Gustina, persoalan tidak berhenti pada ada atau tidaknya akun media sosial dan lokapasar; pelaku usaha perlu konsisten dan terus belajar. Ia juga menemukan UMKM yang aktif berjualan daring, tetapi masih mengelola stok, pesanan, dan arus kas secara manual sehingga sulit merespons permintaan pasar.

Gustina menyebut pelaku usaha ultra mikro berpendapatan di bawah Rp5 juta per bulan sebagai kelompok yang membutuhkan perhatian lebih. Dalam pengalamannya, kelompok ini banyak terdiri atas perempuan berusia di atas 45 tahun yang memiliki keterbatasan dalam menggunakan teknologi dan menjalankan usaha seorang diri, sambil membagi waktu dengan urusan rumah tangga.

Karena itu, Gustina menilai pendampingan perlu menyeluruh, bukan hanya pelatihan pemasaran digital yang sesaat.

Kebutuhan pendampingan tersebut juga menuntut dukungan pemerintah daerah, terutama dalam membantu pelaku UMK memperkuat fondasi usaha dan memenuhi persyaratan untuk mengembangkan bisnisnya.

Dalam kegiatan Sosialisasi Kebijakan Halal dalam rangka Fasilitasi Sertifikasi Halal UMK Kota Depok Tahun 2026 pada Senin (5/10/2026), Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (DKUM) Kota Depok Mohamad Thamrin menekankan pentingnya dukungan konkret bagi usaha mikro dan kecil.

โ€œUMK membutuhkan dukungan yang konkret, mulai dari pemenuhan legalitas, peningkatan kualitas, sertifikasi halal, hingga perluasan akses pasar,โ€ ujar Thamrin di Aula Gedung Balatkop Kota Depok.

Dukungan legalitas, peningkatan kualitas, dan perluasan pasar merupakan bagian dari penguatan usaha. Namun, kemampuan UMKM untuk berkembang juga ditentukan oleh akses terhadap layanan dan pembiayaan keuangan. Gambaran mengenai akses tersebut dapat dilihat dari tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat secara nasional.

Pada tingkat nasional, Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 mencatat indeks literasi keuangan 69,57 persen dan inklusi keuangan 93,61 persen. Angka itu mencakup masyarakat umum, bukan khusus pelaku UMKM, sehingga tingginya inklusi nasional tidak dengan sendirinya berarti setiap usaha kecil memperoleh pembiayaan yang sesuai.

Indeks literasi dan inklusi keuangan Indonesia berdasarkan SNLIK 2025 dan 2026, dibandingkan dengan target RPJMN 2029. (Diolah RUZKA INDONESIA)

Gambaran yang lebih spesifik tercantum dalam Laporan Perekonomian Provinsi Jawa Barat, Agustus 2026 yang diterbitkan Bank Indonesia. Pada triwulan II 2026, kredit UMKM tumbuh 1,47 persen secara tahunan, berbalik dari kontraksi 2,11 persen pada triwulan sebelumnya.

Namun, pertumbuhan tersebut belum merata. Kredit modal kerja UMKM masih mengalami kontraksi 4,02 persen, meski membaik dibandingkan kontraksi 6,60 persen pada triwulan sebelumnya.

Perkembangan kredit UMKM di Jawa Barat pada periode 2024 hingga triwulan II 2026. Pertumbuhan kredit kembali positif sebesar 1,47 persen secara tahunan. (Sumber: Bank Indonesia, Laporan Perekonomian Jawa Barat, Agustus 2026)

Sementara itu, kredit UMKM sektor industri pengolahan tumbuh 1,98 persen. Angka-angka tersebut bukan gambaran khusus Chili Chila atau Depok. Namun, data itu menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit UMKM secara keseluruhan belum tentu berarti kebutuhan modal kerja setiap pelaku usaha telah terpenuhi.

Di sisi pembayaran digital, laporan yang sama mencatat 14,49 juta pengguna QRIS dan 9,87 juta merchant di Jawa Barat pada triwulan II 2026. Nominal transaksi tumbuh 135,73 persen secara tahunan dan volumenya meningkat 157,89 persen.

Perkembangan itu menunjukkan meluasnya penggunaan pembayaran digital di tingkat provinsi, meski penggunaan QRIS saja tidak otomatis menggambarkan kemampuan usaha dalam mengelola arus kas atau mengakses kredit.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat Junanto Herdiawan menilai penguatan UMKM perlu dilakukan secara terintegrasi. โ€œBank Indonesia terus berkomitmen mendorong penguatan daya saing UMKM melalui pendekatan yang terintegrasi,โ€ ujarnya dalam pemberitaan detikJabar, (28/10/2026).

Dalam kesempatan lain, Junanto juga menjelaskan kebijakan insentif biaya transaksi QRIS bagi usaha mikro. โ€œUntuk UMI, transaksi di bawah Rp500.000 tarif MDR-nya dipatok 0%,โ€ katanya, sebagaimana dikutip Pikiran Rakyat (18/8/2026).

Kebijakan biaya transaksi tersebut dapat membantu meringankan beban merchant usaha mikro dalam menerima pembayaran digital. Namun, pencatatan transaksi tetap perlu dilakukan secara tertib agar pemilik usaha dapat membaca arus kas dan menyiapkan informasi keuangan ketika membutuhkan pembiayaan.

Menjaga Rasa, Menyiapkan Langkah Berikutnya

Di Sektor Berlian, Pondok Jaya, Depok, Iin merintis Chili Chila pada 2015. Kini, produknya menjangkau Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Qatar.

Salah satu momen yang paling membekas bagi Iin adalah ketika produk Chili Chila pertama kali terpajang di rak ritel modern dan ia menerima resi pengiriman ekspor pertama.

Label bertuliskan โ€œChili Chilaโ€“Permata Depokโ€, lengkap dengan kode batang GS1 dan izin edar BPOM, menjadi penanda bahwa usaha yang berawal dari dapur rumah telah melangkah melampaui pasar terdekat. Bagi Iin, momen itu menghadirkan kebanggaan tersendiri.

Namun, perjalanan belum selesai. Iin masih membutuhkan tambahan modal, modernisasi mesin produksi, serta akses ke jaringan bisnis dan pasar ekspor. Tantangan ke depan adalah memenuhi permintaan tanpa mengorbankan rasa, mutu, dan konsistensi produk yang sejak awal menjadi identitas Chili Chila.

Dari dapur rumah di Pondok Jaya, Iin telah membawa Chili Chila menempuh perjalanan panjang. Kini, langkah berikutnya bukan sekadar menjangkau lebih banyak meja makan di luar negeri, melainkan memastikan usaha yang tumbuh dari rumah itu memiliki kapasitas dan dukungan untuk terus berkembang..

Perjalanan Chili Chila memperlihatkan bahwa transformasi digital dan inklusi keuangan UMKM bukan hanya soal membuka akses pasar dan layanan pembiayaan, tetapi juga memastikan pelaku usaha memiliki kemampuan mengelola bisnis, menjaga mutu, dan memenuhi kebutuhan pasar tanpa kehilangan rasa yang menjadi awal perjalanannya. (***)

Journalist/Editor: Djoni Satria

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

05

Galeri Indonesia Kaya, Gelar Konser Kidung Natal Indonesia, Semangat Inklusivitas Berjalan Beriringan dalam Harmoni Musik Keroncong

06

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Primaya Hospital Bekasi Barat Luncurkan Wellness Center

07

Komunitas Bakul Budaya Meriahkan Pembukaan Pameran Arsip Bagong Kussudiardja

Sorotan



Yogi Kurniawan, dari Suporter Jadi CEO Klub




Kolom