Perubahan perilaku konsumen membuat brand halal tak cukup hanya menawarkan produk. Kehadiran digital, kualitas komunikasi, reputasi, dan kemampuan membangun kepercayaan kini menjadi bagian penting dalam menentukan bagaimana sebuah brand dikenali dan dipertimbangkan konsumen.
RUZKA INDONESIA โ Sebuah produk mungkin berada di tangan konsumen, tetapi keputusan untuk memilihnya sering kali dimulai jauh sebelum transaksi terjadi. Konsumen mencari informasi, mengenali sebuah merek, membandingkan apa yang ditawarkan, hingga mempertimbangkan seberapa jauh mereka dapat mempercayai brand tersebut.
Perubahan cara konsumen mengambil keputusan itu semakin terasa ketika ruang digital menjadi bagian dari keseharian. Website, media sosial, marketplace, publikasi media online, hingga berbagai kanal komunikasi digital kini menjadi ruang tempat sebuah brand memperkenalkan diri sekaligus membangun hubungan dengan konsumennya.
Bagi brand halal, perubahan tersebut membuat persaingan tidak lagi semata-mata berlangsung pada kualitas produk atau layanan. Kehadiran digital, cara berkomunikasi, reputasi, serta kemampuan membangun kepercayaan ikut menjadi perhatian.
Kondisi itu menjadi latar penyelenggaraan Indonesia Digital Halal Brand Awards (IDHBA) 2026 yang digelar Halal Today bersama Yayasan Khazanah GNH.
Tahun ini, IDHBA mengusung tema โEmpowering Halal Brands in The Digital Eraโ, dengan perhatian pada perkembangan brand halal di tengah perubahan perilaku masyarakat dan semakin terbukanya persaingan di ruang digital.
Perubahan tersebut berlangsung bersamaan dengan perkembangan industri halal di Indonesia yang mencakup sejumlah sektor, mulai dari kuliner halal, fashion muslim, skincare halal, travel muslim, pendidikan, keuangan syariah, hingga berbagai brand lokal dan UMKM halal yang semakin aktif memperluas jangkauan pasarnya.
Di tengah perubahan tersebut, kehadiran digital semakin menjadi bagian penting bagi brand dalam membangun hubungan dengan konsumen.
Aziz Fahmi H, Pemimpin Redaksi Halaltoday.id, mengatakan semakin kuat eksistensi digital yang dimiliki sebuah brand, semakin besar peluang brand tersebut memperkuat positioning, meningkatkan kepercayaan konsumen, serta memperluas pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.

โEra digital membawa brand harus mampu berakselerasi lebih cepat lagi agar positioning mereka semakin kuat sehingga berdampak pada maximum trust dari pasar,โ ujar Aziz saat acara berlangsung di Blue Sky Hotel, Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Menurut Aziz, kehadiran brand di hadapan konsumen juga tidak berhenti pada aktivitas menawarkan produk. Ada tanggung jawab untuk membangun kepercayaan, memberikan informasi yang baik dan relevan, serta berkomunikasi dengan kebutuhan masyarakat.
Perubahan perilaku konsumen membuat kebutuhan tersebut semakin terasa. Konsumen kini semakin aktif mencari informasi sebelum menentukan pilihan. Kualitas dan kebutuhan tetap menjadi pertimbangan, tetapi informasi mengenai produk, nilai yang dibawa sebuah brand, serta tingkat kepercayaan terhadap brand juga ikut diperhatikan.
โKonsumen saat ini semakin aktif mencari informasi. Sebelum memilih sebuah produk, mereka tidak hanya mempertimbangkan kualitas dan kebutuhan, tetapi juga semakin memperhatikan informasi mengenai produk, nilai yang dibawa oleh sebuah brand, serta sejauh mana mereka dapat mempercayai brand tersebut,โ katanya.
Empat Dimensi yang Dinilai
Memasuki 2026, ekosistem halal digital di Indonesia disebut semakin dinamis. Persaingan antarbrand semakin terbuka, sementara perilaku konsumen semakin digital-oriented. Pada saat yang sama, ekspektasi masyarakat terhadap transparansi, komunikasi, dan kualitas interaksi digital juga terus meningkat.
Dalam kondisi itu, keberadaan sebuah brand di ruang digital tidak hanya dilihat dari seberapa sering brand tersebut muncul. IDHBA 2026 menempatkan empat dimensi sebagai bagian penting dalam performa riset, yaitu Digital Presence, Public Engagement, Media & PR Activity, serta Marketplace Performance.
Masing-masing dimensi memiliki bobot yang sama, yakni 25 persen. Dengan demikian, keseluruhan penilaian dalam riset IDHBA 2026 terbagi secara merata pada empat aspek tersebut.

Lisa Noviani, Direktur Dinamic Marketing Research, menjelaskan bahwa proses riset IDHBA 2026 dilakukan melalui sejumlah tahapan. Proses tersebut diawali dengan Identify, yakni mengamati brand dengan performa positif.
Tahap berikutnya adalah observasi dengan memperhatikan eksistensi dan aktivitas digital. Setelah itu dilakukan evaluasi berdasarkan data publik. Rangkaian tersebut ditutup dengan tahap recognize, yaitu pengukuran yang menjadi dasar penghargaan.
Proses tersebut menjadi bagian dari pendekatan Halal Digital Brand Observation and Research yang digunakan dalam pemetaan brand halal yang menunjukkan kinerja digital.
Dengan pendekatan tersebut, Indonesia Digital Halal Brand Awards 2026 tidak hanya ditempatkan sebagai ajang pemberian apresiasi. Program ini juga diarahkan menjadi referensi dan barometer bagi pelaku industri, investor, komunitas, konsumen, serta masyarakat dalam melihat perkembangan brand halal di era digital modern.
Kehadiran digital menjadi bagian dari pemetaan tersebut, termasuk melalui hubungan dengan publik, komunikasi melalui media dan kanal digital, serta performa di marketplace.
Dari Melbourne untuk Ekosistem Halal Indonesia
Pesan mengenai pentingnya kolaborasi juga datang dari Prof. Dr. KH. Nadirsyah Hosen, LL.M., M.A. (Hons), yang akrab disapa Gus Nadir. Selaku pembina Yayasan Khazanah GNH, Gus Nadir menyampaikan salam, permohonan maaf, dan apresiasi kepada seluruh pihak yang hadir dalam kegiatan IDHBA 2026 dari Australia, tepatnya di University of Melbourne.
Menurut Gus Nadir, perkembangan ekosistem halal Indonesia merupakan perjalanan yang membutuhkan peran dan kolaborasi dari berbagai pihak. Dalam ekosistem tersebut, brand dan pelaku usaha memiliki posisi penting karena berada dekat dengan masyarakat dan konsumen.
โBrand dan pelaku usaha memiliki peran yang sangat penting karena mereka berada dekat dengan masyarakat dan konsumen,โ ujar Gus Nadir.
Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan perilaku masyarakat, ruang digital juga semakin penting dalam membangun komunikasi, memberikan informasi, serta memperkuat kepercayaan.
Karena itu, perkembangan brand halal tidak hanya berkaitan dengan produk yang ditawarkan, tetapi juga bagaimana brand tersebut hadir dan berkomunikasi di tengah perubahan perilaku masyarakat.
Gus Nadir berharap apresiasi melalui IDHBA 2026 dapat menjadi energi positif bagi brand untuk terus berkembang dan mengambil peran dalam penguatan ekosistem halal Indonesia.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara brand, pelaku usaha, masyarakat, komunitas, media, lembaga, serta berbagai pihak lainnya agar ekosistem halal Indonesia dapat terus tumbuh dan memberikan manfaat yang semakin luas.
Delapan Brand Peraih IDHBA 2026
Pada penyelenggaraan Indonesia Digital Halal Brand Awards 2026, terdapat delapan brand yang tercatat sebagai peraih penghargaan dalam kategori masing-masing.
Aqua meraih penghargaan untuk kategori AMDK, SGM untuk kategori Susu Bubuk Anak, Whincezz untuk kategori Keju, Ranisa untuk kategori Fried Chicken, Teh Kotjok untuk kategori Kedai Teh, Gendes untuk kategori Feminime Hygiene, Detoplus untuk kategori Herbal Wellness, serta Kanemura untuk kategori Japanese Street Food.

Daftar tersebut menjadi bagian dari penyelenggaraan IDHBA 2026 yang menempatkan performa digital sebagai salah satu cara melihat perkembangan brand halal di tengah perubahan perilaku konsumen.
Bagi brand halal, perubahan tersebut membawa satu konsekuensi yang semakin jelas dari penyelenggaraan IDHBA 2026: kehadiran di ruang digital tidak cukup hanya terlihat. Brand juga dituntut membangun komunikasi, menjaga kepercayaan, dan menghadirkan informasi yang relevan ketika konsumen semakin aktif menentukan pilihannya sendiri.(***)
Journalist/Editor: Djoni Satria



Komentar