Ekonomi Lingkungan
Beranda » Berita » Program Pak Tani Pupuk Kaltim: Bekali Petani dan Milenial Bontang Olah Limbah Organik Jadi Kompos Mandiri

Program Pak Tani Pupuk Kaltim: Bekali Petani dan Milenial Bontang Olah Limbah Organik Jadi Kompos Mandiri

PT Pupuk Kaltim gelar kegiatan bertajuk “Olah Limbah, Jadi Kompos Lebih Mudah, Panen Berlimpah” ini diikuti sekitar 80 peserta dari berbagai unsur. (Foto: Dok RUZKA INDONESIA)

RUZKA INDONESIA — Dorong penerapan pertanian produktif dan berkelanjutan, PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) melalui Program Peningkatan Kapasitas Petani (PAK TANI), mengajak petani dan kelompok masyarakat di Kota Bontang mengoptimalkan potensi limbah organik menjadi kompos berkualitas. Pantai& Kepulauan

Kegiatan bertajuk “Olah Limbah, Jadi Kompos Lebih Mudah, Panen Berlimpah” ini diikuti sekitar 80 peserta dari berbagai unsur.

Di antaranya anggota kelompok petani, petani milenial, Kelompok Wanita Tani, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), serta Karang Taruna se-Kota Bontang.

Kepala Satuan Pengawasan Intern (SPI) Pupuk Kaltim, Sutrisna, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan mendukung pemberdayaan masyarakat, melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang dapat diterapkan secara mandiri.

Para peserta dibekali pengetahuan terkait pemupukan berimbang, sekaligus praktik pengolahan limbah organik menjadi kompos dengan memanfaatkan Biodex, produk biodekomposer produksi Pupuk Kaltim yang berfungsi mempercepat proses penguraian bahan organik.

PLN Akselerasi Hydropower: 9,2 GW Proyek PLTA & PLTM Masuk Tahap Eksekusi

Hal ini melihat potensi limbah organik di masyarakat yang cukup besar, baik dari aktivitas pertanian, peternakan, maupun limbah dapur SPPG.

Jika tidak dikelola dengan baik, bahan tersebut dapat menjadi residu yang berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan.

Jadi Kompos

Sebaliknya dengan pengelolaan yang tepat, limbah organik dapat diolah menjadi kompos yang memberi manfaat bagi sektor pertanian.

“Pengetahuan inilah yang ingin kita dorong, agar masyarakat melihat limbah sebagai sumber daya yang memiliki nilai guna dan bermanfaat bagi kesuburan tanah maupun tanaman,” ujar Sutrisna, saat mengawali kegiatan di Gedung Koperasi Karyawan Pupuk Kaltim, Kamis (06/08/2026).

Menurut Sutrisna, pertanian berkelanjutan membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan hasil produksi, tapi juga memperhatikan efisiensi sumber daya dan kelestarian lingkungan.

Dari Budidaya Kepiting Soka hingga Pelatihan Kerja, Dampak Nyata TJSL PLN

Salah satunya dapat dicapai melalui pemanfaatan kompos sebagai sumber daya yang memberikan nilai tambah bagi sektor pertanian.

Hal ini juga sejalan dengan konsep ekonomi sirkular, di mana material yang sebelumnya dianggap limbah dapat kembali dimanfaatkan dalam suatu siklus produksi.

Pendekatan tersebut dinilai penting, untuk menciptakan sistem pertanian yang lebih efisien sekaligus mengurangi tekanan terhadap lingkungan.

“Seiring perubahan cara pandang terhadap limbah organik, maka pemanfaatannya akan memperkuat pemberdayaan masyarakat serta menciptakan manfaat ekonomi maupun lingkungan yang dapat dirasakan dalam jangka panjang,” terang Sutrisna.

Dorong Peningkatan Kapasitas Masyarakat

Ke depan, Pupuk Kaltim akan terus mendorong peningkatan kapasitas masyarakat sekaligus memberi dampak berkelanjutan melalui pemberdayaan dengan lebih signifikan.

Menteri PU Dorong BUJT Pakai Asbuton, Target Penggunaan Naik Jadi 30%

Begitu pula dengan pengetahuan pada pelatihan ini, diharapkan dapat diterapkan peserta secara langsung, serta dibagikan bagi anggota kelompok tani dan masyarakat sekitar untuk memperluas manfaat.

“Yang ingin kita bangun adalah kemandirian. Saat masyarakat sudah memiliki pengetahuan dan keterampilan, maka mereka mampu mengelola potensi yang ada di lingkungannya sendiri. Ini yang akan membuat sebuah program menjadi berkelanjutan,” tambah Sutrisna.

Pj Sekretaris Daerah Kota Bontang, Akhmad Suharto, mengapresiasi langkah Pupuk Kaltim yang senantiasa mendukung pemberdayaan masyarakat, khususnya peningkatan kapasitas di sektor pertanian dan lingkungan.

Pelatihan ini pun dinilai memiliki manfaat strategis, dalam mendorong masyarakat menekan persoalan limbah organik yang selama ini kerap berujung ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

“Saudara-saudara sekalian tidak hanya bisa menerapkan ilmu untuk diri sendiri, tapi juga mampu menjadi agen perubahan (agent of change) di kelompok tani serta wilayahnya masing-masing. Sasaran ini kami harap dapat tercapai dengan baik,” ungkap Akhmad Suharto.

Dirinya pun mendorong praktik pembuatan kompos dapat direplikasi secara mandiri oleh kelompok masyarakat, termasuk menjadikan pengolahan limbah sebagai kebiasaan sehari-hari.

Katanya, semakin banyak yang mampu mengolah limbah organik, maka potensi pengurangan volume limbah dapat lebih optimal dalam mendukung ketahanan pangan serta pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.

“Upaya ini juga memberi nilai tambah bagi masyarakat, karena bahan yang sebelumnya tidak dimanfaatkan dapat kembali ke lahan dalam bentuk kompos, sehingga membantu menjaga kualitas tanah dalam budidaya pertanian,” lanjut Suharto.

Relevan dengan Kebutuhan Petani

Salah satu peserta pelatihan, Anas Taneng, perwakilan Kelompok Tani Sabar Menanti, Kelurahan Bontang Lestari, menilai materi pada pelatihan ini relevan dengan kebutuhan petani di lapangan.

Terlebih, pengelolaan limbah organik menjadi kompos merupakan alternatif untuk meningkatkan pemanfaatan bahan yang tersedia di sekitar lahan pertanian.

“Pelatihan ini memberi tambahan ilmu bagi kami tentang bagaimana limbah organik diolah menjadi kompos menggunakan Biodex. Pengetahuan seperti ini sangat bermanfaat untuk kami terapkan ke depannya,” kata Anas.

Lebih lanjut, Anas menjelaskan, dirinya bersama anggota kelompok tani mendapat gambaran lebih jelas mengenai proses pengolahan bahan organik hingga menjadi kompos yang siap digunakan.

Terlebih sejumlah bahan organik di sekitar lingkungan pertanian selama ini belum seluruhnya dimanfaatkan secara optimal.

Anas pun berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan berkelanjutan, sehingga semakin banyak petani yang mendapat pengetahuan dan keterampilan baru.

“Kami memastikan ilmu yang diperoleh tidak hanya berhenti di pelatihan, tapi untuk kami praktikkan di kelompok. Kalau berhasil, tentu bisa dikembangkan serta dibagikan ke petani lainnya,” pungkas Anas Taneng. (***)

Jurnalis: Egi Hendrawan
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

05

Sekolah dan Upaya Membumikan Gapura Pancawaluya di SMAN 1 Cikijing

06

Galeri Indonesia Kaya, Gelar Konser Kidung Natal Indonesia, Semangat Inklusivitas Berjalan Beriringan dalam Harmoni Musik Keroncong

07

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Primaya Hospital Bekasi Barat Luncurkan Wellness Center

Sorotan






Kolom