RUZKA INDONESIA — Perubahan lanskap geopolitik dan geoekonomi global yang semakin kompleks menuntut Indonesia untuk membaca dinamika internasional secara lebih komprehensif.
Persaingan antarnegara kini tidak lagi berlangsung melalui instrumen militer dan ekonomi semata, melainkan telah meluas ke sektor teknologi digital, jejaring sosial, hingga pengaruh budaya.
Menjawab kompleksitas tersebut, Prof. Evi Fitriani, Ph.D., profesor di bidang ilmu hubungan internasional yang juga Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), menegaskan bahwa dimensi geososial kini menjadi aspek krusial yang tidak boleh diabaikan dalam strategi diplomasi global.
Gagasan tersebut disampaikan Prof. Evi dalam Seminar Nasional bertajuk โMembaca Konstelasi Geopolitik dan Geoekonomi Global: Posisi Strategis dan Implikasi terhadap ASEAN dan Indonesiaโ yang diselenggarakan secara berseri oleh Komisi Ilmu Sosial Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), The Habibie Center, dan Badan Keahlian DPR RI pada Rabu (22/07/2026).
Forum ini turut menghadirkan sejumlah pakar dan pembuat kebijakan, seperti Prof. Dewi Fortuna Anwar, Andi Widjajanto, serta Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Akbarshah Fikarno Laksono.
Dalam paparannya yang berjudul โDinamika Geopolitik dan Geoekonomi Global di Era Tatanan Dunia Multipolarโ, Prof. Evi menjelaskan bahwa dunia tengah mengalami pergeseran menuju tatanan multipolar.
Kondisi ini ditandai oleh meningkatnya rivalitas antarnegara besar, eskalasi konflik kawasan, serta ketidakpastian tata kelola global yang berdampak langsung pada sektor perdagangan dan teknologi siber.
Lebih lanjut, Prof. Evi memperkenalkan pentingnya memahami dimensi geososial dan budaya sebagai instrumen baru dalam perebutan pengaruh internasional.
Memanfaatkan Diplomasi Publik
Menurutnya, negara-negara besar kini gencar memanfaatkan diplomasi publik, kerja sama pendidikan, program beasiswa, riset, hingga kolaborasi antar-universitas dan organisasi masyarakat sipil guna memperluas pengaruh geopolitik mereka.
โTekanan terhadap suatu negara saat ini bukan hanya melalui instrumen strategis militer atau ekonomi, tetapi juga melalui instrumen sosial, budaya, dan jaringan masyarakat. Karena itu, penting bagi kita untuk tidak sebatas memerhatikan sektor geopolitik dan ekonomi, tapi juga seharusnya turut memerhatikan dimensi sosial, ujar Prof. Evi.
Geososial sendiri merupakan dimensi hubungan internasional yang menekankan pada penggunaan instrumen sosial, jaringan masyarakat, serta pertukaran lintas budaya sebagai media pembentukan pengaruh dan perimbangan kekuatan politik global.
Berbeda dari geopolitik yang bertumpu pada geografi dan kekuatan fisik militer, maupun geoekonomi yang berfokus pada kapital dan perdagangan, geososial beroperasi melalui interaksi lunak (soft power) seperti kerja sama pendidikan, riset bersama, hubungan antar-komunitas, serta diplomasi publik.
Di era modern, perannya menjadi sangat krusial karena legitimasi dan posisi tawar (bargaining position) suatu negara kini tidak lagi hanya ditentukan oleh daya tempur atau kekuatan ekonomi semata, melainkan juga oleh sejauh mana jaringan sosial dan nilai-nilai budaya negara tersebut diterima serta dipandang positif oleh masyarakat global.
Di tengah dinamika multipolar yang ada, Prof. Evi menilai bahwa Indonesia sebagai negara berkekuatan menengah (middle power) memiliki peluang strategis yang besar. Indonesia memiliki ruang gerak yang fleksibel untuk membangun kemitraan internasional berlandaskan kepentingan nasional tanpa harus terkooptasi oleh salah satu blok kekuatan dunia.
Ia juga menekankan pentingnya optimalisasi forum multilateral sebagai wadah bagi negara berkembang untuk memperjuangkan koalisi strategis.
Sebagai institusi pendidikan tinggi terdepan di Indonesia, UI berkomitmen penuh dalam menghadirkan kontribusi pemikiran ilmiah terhadap isu-isu strategis global.
Analisis dan perspektif akademis yang dihadirkan pakar FISIP UI diharapkan dapat memperkaya khazanah keilmuan sekaligus menjadi rujukan komprehensif bagi perumusan kebijakan luar negeri Indonesia dalam memperkuat posisi diplomasi di kancah internasional. (***)
Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com


Komentar