Semuanya berawal dari sebuah pesan yang datang dari Gorontalo. Seorang ayah mengaku bangga karena anaknya berhasil membuat radio yang dapat didengar hingga ke berbagai pelosok negeri. Namun kebanggaan itu disertai satu harapan lain: agar kemajuan yang sama juga dapat dirasakan para petani di kampung halamannya. Tujuh puluh tahun kemudian, pesan itu masih dapat ditemukan dalam jejak perjalanan Gobel Group.
RUZKA INDONESIA โ Suatu sore di Istana Merdeka, Thayeb Mohammad Gobel berdiri di antara para tamu yang datang memenuhi undangan Presiden Soekarno. Ia bukan pejabat negara, bukan pengusaha besar yang namanya dikenal luas di Jakarta. Pemuda asal Gorontalo itu baru merintis usaha radio transistor dari sebuah bengkel sederhana di Cawang, Jakarta Timur. Ketika Bung Karno menghentikan langkahnya, mengulurkan tangan, lalu bertanya mengapa ia memilih berusaha di bidang radio transistor, semua mata di ruangan itu menoleh ke arahnya.
Alih-alih berbicara tentang bisnis, Gobel teringat kepada orang-orang yang hidup jauh dari pusat pemerintahan, mereka yang tinggal di desa-desa terpencil dan belum menikmati listrik sebagaimana warga kota.
โSupaya pidato Bapak bisa didengar orang-orang di desa, di tempat jauh yang terpencil di kaki-kaki gunung. Di desa belum ada listrik, Pak,โ jawabnya sebagaimana dicatat Ramadhan K.H. dalam buku Gobel: Pelopor Industri Elektronika Indonesia (Pengusaha Indonesia dengan Filosofi Usaha Pohon Pisang), diterbitkan oleh Yayasan Matsushita Gobel, 2018.
Bung Karno tersenyum. Di hadapan para tamu yang hadir, Presiden menepuk bahu Gobel dan berkata, โBegini seharusnya pemuda-pemuda kita.โ
Bagi banyak orang, pujian dari kepala negara mungkin cukup untuk dikenang seumur hidup. Namun dalam perjalanan Thayeb Gobel, ada kalimat lain yang justru meninggalkan jejak lebih panjang. Kalimat itu datang dari kampung halamannya di Gorontalo. Seorang ayah yang mendengar keberhasilan anaknya membuat radio tentu merasa bangga. Namun kebanggaan itu ternyata disertai harapan lain yang jauh lebih besar.

โKami bangga orang Gorontalo berhasil membuat radio. Tapi saudara-saudaramu di kampung adalah petani. Kami akan lebih bangga jika kamu bisa membantu mereka mengolah tanah.โ
Di antara pujian Bung Karno dan pesan ayahnya itulah arah perjalanan hidup Thayeb Gobel perlahan terbentuk. Radio ternyata bukan tujuan akhir. Begitu pula pabrik elektronik yang kemudian membesarkan namanya. Ada perjalanan yang membawanya dari bengkel kecil di Cawang ke Tokyo dan Osaka, dari ruang pertemuan Konosuke Matsushita hingga ke sawah-sawah yang dikerjakan petani dengan peralatan sederhana.
Saat ayahnya menyampaikan harapan itu, Thayeb belum mengetahui ke mana arah perjalanan hidup akan membawanya. Ia belum mengenal Konosuke Matsushita, belum membayangkan kerja sama yang kelak mengubah wajah industri elektronik Indonesia, dan belum melihat bagaimana sebuah keputusan kecil dapat memengaruhi puluhan tahun sesudahnya. Perjalanan untuk menemukan jawaban atas pesan dari Gorontalo itu justru dimulai ketika sebuah kesempatan belajar membawanya ke Jepang pada 1957.
Ketika kesempatan belajar ke Jepang melalui program Colombo Plan datang pada 1957, hidup Thayeb Gobel sebenarnya sedang berjalan cukup baik. Ia telah memiliki PT Golden Star Plastik Co. Ltd., terlibat dalam dunia perbankan melalui Bank Pertiwi, dan sedang membangun usaha radio transistor yang baru dirintisnya.
Di rumah, istrinya, Annie Nento Gobel mengasuh buah hati pertama mereka, Olga yang bahkan belum genap berusia satu tahun. Karena itulah, ketika keberangkatan ke Jepang semakin dekat, yang memenuhi pikiran Gobel bukan hanya soal pelajaran yang akan dipelajari di Tokyo, melainkan juga keluarganya yang harus ditinggalkan berbulan-bulan.
Ramadhan K.H. dalam buku itu mencatat bahwa Gobel sempat meminta pendapat istrinya. Ia menjelaskan bahwa beasiswa Colombo Plan mengharuskannya belajar di Jepang. Annie menjawab tanpa keraguan.
Menurutnya, seseorang yang selama ini mendorong orang lain untuk terus belajar tidak semestinya ragu ketika kesempatan belajar datang kepadanya sendiri. Ketika Gobel mengungkapkan kekhawatirannya meninggalkan keluarga di Jakarta, Annie kembali menenangkannya. Ia meyakinkan suaminya bahwa rumah tangga mereka akan baik-baik saja dan kesempatan itu tidak boleh disia-siakan.
Rumah mereka yang baru di Jalan Bakti seharusnya menjadi tempat Gobel menikmati hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun. Annie mengasuh Olga yang belum genap berusia satu tahun, sementara usaha yang dirintisnya mulai menunjukkan harapan.
Namun pada 1957, sebuah kesempatan belajar melalui program Colombo Plan datang dari arah yang tak terduga. Gobel memilih berangkat ke Jepang, meninggalkan rumah yang baru ditempatinya bersama keluarga, tanpa mengetahui bahwa perjalanan itu akan membawanya kepada pertemuan yang kelak mengubah jalan hidupnya.
Dalam catatan Ramadhan K.H., Gobel menyadari bahwa tidak banyak orang Indonesia yang memperoleh kesempatan seperti dirinya. Kesadaran itu menciptakan rasa tanggung jawab yang besar. Ia tidak melihat beasiswa tersebut sebagai hadiah atau kesempatan berkeliling luar negeri.
Semakin lama tinggal di Tokyo, semakin banyak hal yang menarik perhatian Gobel di luar bidang plastik yang sedang dipelajarinya. Kota itu seolah menjadi ruang belajar yang jauh lebih besar daripada kampus atau tempat pelatihan yang ia datangi setiap hari.
Tokyo pada akhir 1950-an memberikan kejutan besar bagi Gobel. Ia datang dari Indonesia yang masih membangun fondasi ekonominya, lalu melihat sebuah negara yang baru belasan tahun keluar dari kehancuran akibat dampak perang tetapi telah bergerak dengan kecepatan yang luar biasa. Kehidupan kota yang sibuk, industri yang berkembang pesat, serta deretan toko elektronik yang memenuhi jalan-jalan kota membuatnya terus mengamati apa yang sedang terjadi di sekelilingnya.
Di tengah pengamatan itu, ada satu nama yang berulang kali muncul di hadapannya. Nama itu terpampang di koran yang dibacanya, di etalase toko yang ia lewati, dan pada papan reklame yang berdiri di berbagai sudut kota: National. Semakin sering melihatnya, semakin besar pula rasa ingin tahunya terhadap sosok di balik perusahaan tersebut.

ย
Rasa penasaran itu kemudian membawanya pada satu nama: Konosuke Matsushita, pendiri National yang ketika itu dikenal sebagai salah satu industrialis paling berpengaruh di Jepang. Bagi Gobel, membaca kisahnya saja tidak lagi cukup. Ia ingin melihat sendiri orang yang berhasil membangun perusahaan itu dari dekat.
Keinginan itulah yang kemudian memunculkan sebuah pertanyaan sederhana. “Mengapa aku tidak menemuinya?” pikir Gobel. Namun ada satu persoalan. Matsushita tidak berada di Tokyo. Ia tinggal di Osaka, ratusan kilometer dari tempat Gobel belajar.
Meski demikian, jarak antarkota tidak menghalangi niatnya. Dengan bantuan Kedutaan Besar Republik Indonesia, ia mulai mencari jalan agar dapat bertemu langsung dengan Matsushita.
Upaya itu akhirnya membuahkan hasil. Dari Tokyo, Gobel berangkat ke Osaka untuk menemui orang yang selama berbulan-bulan hanya ia kenal melalui nama yang berulang kali muncul di koran, etalase toko, dan papan reklame. Ia belum mengetahui bagaimana pertemuan itu akan berakhir. Yang ia tahu hanya satu hal: jika ingin membangun industri di Indonesia, ia harus belajar langsung dari orang yang telah berhasil melakukannya di Jepang.
Dari Trotoar Tokyo ke Ruang Kerja Matsushita
Pujian Bung Karno dan pesan ayahnya dari Gorontalo belum memberi jawaban tentang bagaimana Thayeb mewujudkan cita-citanya. Ia ingin menghadirkan teknologi yang bisa menjangkau masyarakat luas, tetapi Indonesia pada akhir 1950-an masih berada pada tahap awal membangun industrinya sendiri.
Jawaban atas rasa penasarannya akhirnya ia temukan di Osaka. Setelah berbagai upaya dilakukan, Gobel memperoleh kesempatan bertemu langsung dengan Konosuke Matsushita. Dalam benaknya, pertemuan itu akan menjadi kesempatan untuk belajar tentang industri, teknologi, dan cara membangun perusahaan besar.
Akan tetapi, sejak menit-menit pertama percakapan berlangsung, Gobel menyadari bahwa orang yang duduk di hadapannya berbeda dari yang ia bayangkan. Ketika ia memperkirakan pembicaraan akan berkisar pada pabrik dan bisnis, Matsushita justru mengajak tamunya berbicara tentang falsafah air.
โAir ada di mana-mana. Air diperlukan oleh setiap manusia. Air mengalir ke dataran yang lebih rendah. Maka produk kita harus juga memenuhi kebutuhan masyarakat kecil terlebih dahulu,โ kata Matsushita sebagaimana dikutip Ramadhan K.H.
Bagi Gobel, percakapan itu terasa dekat. Ia teringat pada pelajaran sederhana yang dikenalnya sejak kecil tentang pohon pisang, tanaman yang seluruh bagiannya bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari. Dalam cara yang berbeda, apa yang disampaikan Matsushita tentang air mengandung pesan yang serupa: bahwa keberadaan sebuah usaha seharusnya memberi manfaat seluas mungkin bagi masyarakat di sekitarnya.
Kesamaan cara pandang itulah yang membuat Gobel merasa akrab dengan orang yang baru pertama kali ditemuinya tersebut. Di hadapannya duduk seorang industrialis yang berbicara mengenai masyarakat, tanggung jawab sosial, dan keinginan membantu bangsanya bangkit setelah perang.

Bagi Gobel yang tumbuh dengan bacaan serta pidato tokoh-tokoh seperti H.O.S. Tjokroaminoto, Soekarno, dan Mohammad Hatta, cara pandang itu tidak terdengar asing. Ia datang ke Jepang sebagai pemuda berusia 27 tahun yang percaya bahwa kemajuan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari kemajuan bangsa.
Percakapan mereka kemudian bergerak jauh melampaui urusan produk, pabrik, atau perdagangan. Matsushita berbicara tentang Jepang dan masa depannya. Gobel berbicara tentang Indonesia dan cita-citanya membangun industri nasional. Dalam percakapan itu, keduanya sama-sama berbicara tentang tanah air yang ingin mereka lihat menjadi lebih baik.
Karena itulah, di Osaka, Gobel tidak hanya bertemu pemilik perusahaan besar, tetapi juga seorang tokoh yang memandang industri sebagai bagian dari pembangunan bangsa.
Tiga Tahun Menunggu Kepercayaan
Pertemuan di Osaka tidak langsung menghasilkan kerja sama. Pada satu titik dalam percakapan mereka, Gobel menyampaikan keinginannya secara terbuka. Jawaban yang ia terima ternyata tidak sesuai harapan.
Matsushita mengatakan bahwa perusahaannya belum dapat menjalin kerja sama langsung dengan Gobel, tapi menyebut satu kemungkinan lain: perusahaan perdagangan Jepang C. Itoh & Co. di Jakarta yang dapat menjadi penghubung.
Ramadhan K.H. menuliskan bahwa Gobel memang kecewa. Akan tetapi kekecewaan itu tidak mengubah langkahnya. Sesampainya di Jakarta, Gobel kembali ke rutinitas yang jauh dari kesan heroik. Bengkel sederhana dan pabrik kecil di Cawang tetap harus beroperasi, radio transistor tetap diproduksi, dan pelanggan tetap harus dilayani seperti biasa.
Pintu yang ia harapkan terbuka di Osaka ternyata belum terbuka saat itu. Selama hampir tiga tahun berikutnya, Gobel kembali berkutat dengan pekerjaan sehari-hari yang tidak banyak terlihat: memperluas jaringan, menjaga mutu produk, dan membangun reputasi sedikit demi sedikit. Tiga tahun itu menjadi masa pembuktian bahwa keyakinan yang pernah ia sampaikan di Osaka bukan sekadar ambisi seorang pemuda yang sedang bersemangat.
Baru pada 1960, pintu yang sempat tertutup itu mulai terbuka. Perjanjian bantuan teknik antara Gobel dan Matsushita akhirnya ditandatangani. Kerja sama itu bukan sekadar urusan distribusi barang. Untuk pertama kalinya, proses alih teknologi mulai dilakukan secara lebih sistematis kepada tenaga kerja Indonesia.

Jawaban atas pertanyaan itu muncul bertahun-tahun kemudian. Dalam artikel Pengabdian Tiada Henti yang dimuat Majalah TEMPO edisi 14 Desember 1985, Hajime Kinoshita, Presiden Direktur PT National Gobel, menjelaskan alasan mengapa Matsushita akhirnya mempercayai Gobel sebagai mitra di Indonesia:
“Kami lebih melihat keinginan Pak Gobel dalam menyumbangkan usahanya untuk pembangunan Indonesia. Ia ingin berbakti kepada negara melalui industri elektronika.”
Bagi Gobel, kerja sama itu memiliki satu syarat yang tidak pernah berubah: teknologi tidak boleh berhenti pada produk jadi yang datang dari luar negeri. Pengetahuan harus berpindah kepada tenaga kerja Indonesia, sehingga suatu hari kemampuan itu dapat tumbuh dan berkembang di dalam negeri.
Berdirinya PT National Gobel pada 27 Juli 1970 menandai babak baru dari perjalanan yang dimulai di Osaka tiga belas tahun sebelumnya. Alih teknologi yang selama ini dicita-citakan Gobel mulai berlangsung lebih terstruktur, membuka kesempatan bagi tenaga kerja Indonesia untuk belajar langsung dari pengalaman dan teknologi yang dibawa Matsushita.
Hubungan yang bermula dari sebuah percakapan antara pemuda Indonesia dan industrialis Jepang itu terus berkembang selama puluhan tahun berikutnya.
Pada 1981, Kaisar Jepang menganugerahi Thayeb Gobel Bintang Third Class Order of the Sacred Treasure (Kun Santo Zuihosho) sebagai penghargaan atas jasanya mempererat hubungan ekonomi Indonesia dan Jepang. Penghargaan itu bukan sekadar pengakuan pribadi, melainkan penanda bahwa jembatan yang mulai dibangun Gobel sejak perjalanannya ke Osaka telah melampaui kepentingan bisnis semata.
Ketika Televisi Menyatukan Sebuah Bangsa
Dua tahun setelah perjanjian bantuan teknik ditandatangani, Indonesia mendapat kesempatan menjadi tuan rumah Asian Games IV pada 1962. Bagi Presiden Soekarno, ajang itu bukan sekadar perhelatan olahraga. Masalahnya, televisi masih menjadi barang langka.
Sebagian besar masyarakat Indonesia belum pernah melihat siaran televisi secara langsung, sementara kebutuhan perangkat untuk mendukung penyelenggaraan muncul dalam jumlah besar dan dalam waktu singkat.
Di tengah kebutuhan itulah nama Thayeb Mohammad Gobel muncul. Pemerintah memesan sekitar 10.000 unit televisi hitam putih untuk mendukung penyelenggaraan Asian Games IV di Jakarta.
Komponen utama masih didatangkan dari Jepang, sementara proses perakitan dilakukan di Indonesia oleh tenaga kerja yang sebagian besar masih berada pada tahap awal mempelajari industri elektronika modern.
Di lapangan, pekerjaan berlangsung hampir tanpa jeda. Para teknisi memasang antena televisi di berbagai lokasi, sementara karyawan lain memeriksa kualitas gambar satu per satu.
Dalam buku Ramadhan K.H., beberapa karyawan mengenang satu pesan yang berulang kali disampaikan Gobel kepada mereka. “Awas, jangan sekali-kali menerima uang jasa dari mereka yang memasang televisi itu. Katakan, uang dari Gobel itu sudah cukup.” Bagi Gobel, kepercayaan masyarakat yang sedang dibangun jauh lebih berharga daripada keuntungan kecil yang bisa diperoleh sesaat.
Pesanan itu berhasil diselesaikan. Pada akhir Agustus 1962, sebagaimana dicatat dalam buku Ramadhan K.H. dan berbagai arsip Gobel Group, Thayeb Mohammad Gobel menyerahkan pesawat televisi hitam putih kepada Ibu Fatmawati Soekarno dalam sebuah acara di Hotel Indonesia, Jakarta.
Keberhasilan memproduksi televisi juga menghadirkan cerita-cerita kecil yang dikenang orang-orang di sekitar Gobel. Ramadhan K.H. mencatat kisah Izahar, seorang sahabat lama yang datang ke pabrik dan bersikeras ingin memiliki televisi buatan Gobel. Setelah menunggu sekitar sepekan, ia akhirnya pulang membawa satu unit televisi hitam putih yang diangkat sendiri oleh Gobel dari ruang produksi. Bagi Izahar, itu bukan sekadar televisi. Ia menjadi salah satu orang pertama yang menyaksikan siaran televisi Indonesia melalui perangkat buatan anak bangsa.

Ketika Asian Games IV akhirnya berlangsung, Gobel menyaksikan sesuatu yang sebelumnya hanya ada dalam angan-angannya. Untuk pertama kalinya, masyarakat Indonesia dapat mengikuti pesta olahraga terbesar di Asia melalui layar televisi yang dirakit di dalam negeri. Di antara jutaan penonton itu, Gobel juga duduk di depan layar yang sama, menyaksikan pertandingan yang ditayangkan melalui perangkat yang lahir dari pabriknya sendiri.
Namun bagi Thayeb Gobel, televisi bukan akhir dari perjalanan yang ia bayangkan. Di tengah keberhasilan yang membuat namanya semakin dikenal, ia masih mengingat satu pesan yang pernah datang dari Gorontalo.
Pesan dari Gorontalo yang Tak Pernah Selesai
Ramadhan K.H. menuliskan bahwa ayah Thayeb pernah menyampaikan kalimat yang kemudian berkali-kali diingat oleh putranya.
โKami bangga orang Gorontalo berhasil membuat radio. Tapi saudara-saudaramu di kampung adalah petani. Kami akan lebih bangga jika kamu bisa membantu mereka mengolah tanah.โ
Thayeb telah berhasil menghadirkan radio yang memungkinkan suara dari Jakarta didengar hingga ke desa-desa dan kaki gunung, tetapi ayahnya mengingatkan bahwa sebagian besar masyarakat di kampung halamannya masih bergantung pada tanah yang mereka olah dengan peralatan sederhana. Kemajuan teknologi yang dibanggakan di kota-kota besar belum sepenuhnya menyentuh kehidupan mereka.
Jawaban atas pesan itu mulai terlihat pada 1963 ketika Thayeb mendirikan PT Pabrik Diesel dan Traktor atau Padi Traktor. Jika radio memungkinkan masyarakat memperoleh informasi, maka traktor dapat membantu petani meningkatkan hasil kerja mereka. Jika televisi menghadirkan dunia ke ruang keluarga, maka alat pertanian dapat membantu memperbaiki kehidupan mereka yang bekerja di ladang setiap hari.

Thayeb mungkin tidak lagi menyaksikan sendiri ke mana perjalanan itu akan berlanjut. Namun pesan yang pernah ia terima dari Gorontalo tidak ikut berhenti bersamanya.
Dari Cawang ke Gorontalo
Enam puluh tahun setelah pesan itu pertama kali didengar Thayeb, Rachmat Gobel memilih cara yang tidak biasa untuk merayakan ulang tahun ke-70 Gobel Group. Ia tidak menggelar acara di Jakarta, di mana sebagian besar aktivitas bisnis perusahaan berkembang selama puluhan tahun. Ia pulang ke Gorontalo.

(Foto: Instagram @rachmatgobel_rg).
Pada 20โ25 Juni 2026, di tengah rangkaian kegiatan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII, di Gorontalo, perhatian Gobel Group terhadap sektor pertanian dan pengembangan daerah kembali terlihat.
Di kawasan Taman Limboto yang baru selesai direvitalisasi oleh Gobel Group, seorang pedagang yang berjualan di tepi danau itu mengungkapkan perubahan yang ia rasakan langsung.
โSangat meningkat. Sebelum menara direnovasi, pendapatan sehari kadang hanya sekitar Rp300 ribu. Setelah direnovasi, bisa mencapai Rp800 ribu bahkan sampai Rp1 juta per hari,โ katanya. Lapak kecil di tepi danau yang dulu sepi kini menjadi salah satu sudut yang paling ramai dikunjungi.

Sofyan Puhi, Bupati Gorontalo, yang menyaksikan rangkaian perayaan itu pada Senin, 22 Juni 2026 menyebut momen tersebut sebagai sesuatu yang bersejarah. โMomen ini bertepatan dengan 70 tahun pengabdian perusahaan Gobel Group bagi negeri. Patut bangga karena momentum berharga yang biasanya dilaksanakan di Jakarta oleh Chairman Gobel Group Rachmat Gobel, kini digelar di Gorontalo.โ
Pada Sabtu, 20 Juni 2026, di hadapan peserta PENAS Petani Nelayan XVII, Rachmat Gobel menjelaskan pandangannya kepada media: โBagi Gobel Group, ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan meningkatkan produksi pertanian dan perikanan. Ketahanan pangan memerlukan ekosistem yang mampu menghubungkan petani dan nelayan dengan teknologi, infrastruktur, industri hilir, sistem logistik yang efisien, serta akses pasar yang berkelanjutan.โ
Kepada ANTARA pada Minggu, 21 Juni 2026, Rachmat menyatakan: โApa yang Gobel Group lakukan merupakan ungkapan terima kasih kepada masyarakat, pemerintah, dan leluhur di Gorontalo. Kami ingin memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat di tanah kelahiran orang tua saya.โ
Mohammad Arif Rachmat Gobel, cucu Thayeb dan putra Rachmat Gobel yang kini menjabat sebagai Direktur sekaligus Ketua Transformasi Digital Gobel Group, hidup di zaman yang berbeda dari kakeknya. Namun nilai yang diwariskan kepadanya tetap sama: menempatkan manusia sebagai tujuan utama dari setiap perubahan teknologi.
Dalam wawancara di kanal YouTube KONTAN TV pada Maret 2026, ia berbicara tentang apa yang paling ia jaga di tengah semua perubahan yang berlangsung: โYang tidak kalah penting itu adalah manusianya.โ
Di Trotoar Tokyo
Pada 1957, Thayeb Mohammad Gobel berdiri di sebuah trotoar di Tokyo, ribuan kilometer dari Gorontalo dan jauh dari bengkel kecil yang sedang ia bangun di Cawang, Jakarta Timur. Ia datang sebagai peserta program pelatihan plastik, bukan sebagai pengusaha besar. Di tengah kota yang sedang bergerak cepat membangun dirinya kembali setelah perang, pandangannya berkali-kali tertumpu pada nama yang sama di papan reklame, etalase toko, dan halaman surat kabar: National.
Ramadhan K.H. mencatat pertanyaan yang kemudian muncul di benaknya. Pertanyaan itu sederhana, bahkan terdengar biasa.
โMengapa aku tidak menemuinya?โ
Pertanyaan itu membawanya ke Osaka. Dari sana lahir sebuah pertemuan yang tidak langsung menghasilkan kerja sama, tidak pula melahirkan kesepakatan yang dapat ditandatangani hari itu juga.
Yang lahir justru sebuah hubungan yang dibangun perlahan melalui kepercayaan, kerja bertahun-tahun, dan keyakinan bahwa teknologi harus menjadi kemampuan yang dapat tumbuh di Indonesia.
Tujuh puluh tahun kemudian, jejak keputusan itu masih dapat ditemukan di tempat-tempat yang mungkin tidak pernah dibayangkan Gobel ketika berdiri di trotoar Tokyo: di pabrik yang berdiri sejak puluhan tahun lalu, di kawasan yang tumbuh di Gorontalo, hingga di lapak seorang pedagang di tepi Danau Limboto yang kini lebih ramai dibanding sebelumnya.
Di sepanjang perjalanan itu, ada dua kalimat yang berjalan berdampingan. Yang pertama datang dari Presiden Soekarno ketika memuji radio transistor yang memungkinkan suara dari Jakarta didengar hingga ke kaki-kaki gunung. Yang kedua datang dari seorang ayah di Gorontalo yang mengingatkan bahwa para petani di kampung halaman juga membutuhkan perhatian yang sama besarnya.
Di antara dua kalimat itulah perjalanan hidup Thayeb Gobel bergerak selama puluhan tahun, dari radio ke traktor, dari Cawang ke Osaka lalu kembali ke Indonesia, hingga melahirkan berbagai usaha yang terus berkembang melampaui bidang elektronika.

Ketika Gobel Group merayakan ulang tahunnya yang ke-70 di Gorontalo pada Juni 2026, perjalanan itu tampak seperti sebuah lingkaran yang kembali ke titik awal. Tujuh puluh tahun ternyata tidak cukup untuk menuntaskan seluruh pekerjaan yang pernah dibayangkan Thayeb. Sebagiannya diteruskan oleh generasi berikutnya, sebagian lain menemukan bentuk yang berbeda dari yang pernah ia kenal.
Namun pesan yang pernah diterimanya dari kampung halaman masih dapat dikenali: bahwa kemajuan hanya akan memiliki arti apabila manfaatnya sampai kepada masyarakat yang menjadi alasan mengapa kemajuan itu dibangun sejak awal.
Mungkin karena itulah kisah ini tidak benar-benar dimulai di ruang rapat perusahaan atau di lantai pabrik. Kisah ini bermula dari seorang pemuda yang memilih berjalan lebih jauh daripada yang diwajibkan oleh perjalanan resminya, lalu mengetuk pintu seseorang yang belum tentu bersedia menerimanya. Keputusan kecil itu kemudian berkembang menjadi perjalanan panjang yang jejaknya masih dapat dilihat hingga hari ini.
โMengapa aku tidak menemuinya?โ (***)
Sumber tulisan:
- Ramadhan K.H., GOBEL Pelopor Industri Elektronika Indonesia (Pengusaha Indonesia dengan Filosofi Usaha Pohon Pisang), Yayasan Matsushita Gobel, Cetakan Kedua 2018.
- Majalah TEMPO, โRumpun Pisang dan Pajak Rp8 MilIarโ (26 Juli 1980), โPerginya Sang Indukโ (28 Juli 1984), โPengabdian Tiada Hentiโ (14 Desember 1985).
- Majalah Warta Ekonomi, โRuang Kelas Penerus Keluarga Gobelโ (6 Maret 2018).
- YouTube KONTAN TV, Wawancara Mohammad Arif Rachmat Gobel (14 Maret 2026).
- ANTARA, Liputan Pekan Nasional (PENAS) XVII (20-21 Juni 2026).
Jurnalis/Editor: Djoni Satria






Komentar