Mereka pernah sekelas, pernah duduk sebangku, berlarian di lapangan saat jam olahraga, dan jajan di kantin sekolah yang sama, sambil terlibat dalam percakapan-percakapan ringan yang hanya bisa terjadi di usia tujuh belas tahun. Lalu hidup menyeret mereka ke berbagai arah: beberapa ke tempat yang jauh, beberapa ke tempat yang tidak bisa lagi mereka tinggalkan. Dan hampir empat puluh tahun kemudian, sebuah Ahad di Jalan Melawai memulangkan sebagian dari mereka, mereka yang masih bisa datang, dan mereka yang hanya bisa hadir di dalam ingatan.
RUZKA INDONESIA โ Ahad siang, 28 Juni 2026, Jakarta masih sibuk dengan segala urusannya. Kendaraan merayap pelan di Jalan Melawai Raya, orang-orang datang dan pergi membawa agenda masing-masing. Namun di salah satu sudut Amos Cozy Hotel & Convention Hall, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, waktu seperti memilih berhenti sejenak dari kebiasaannya.
Di lobi hotel yang selalu ramai itu, Aty Fadjariaty melirik jam dinding. Waktu mendekat pukul setengah sebelas. Ia menarik napas panjang bukan karena gugup sebagai General Manager hotel yang ia nahkodai, tetapi karena gugup sebagai seorang perempuan yang sebentar lagi akan berhadapan dengan masa lalunya sendiri.
Sudah sejak pagi ia memastikan semua beres: meja dan kursi disusun rapi, makanan terjaga panasnya, ruangan sejuk dan bersih. Ia tahu betul cara menyiapkan sebuah acara, itu bagian dari hidupnya yang bertahun-tahun sebagai orang hotel. Tapi kali ini berbeda. Kali ini, Aty menyiapkan ruangan itu bukan untuk tamu bisnis atau undangan resmi, melainkan untuk teman-teman sekelasnya sendiri, untuk anak-anak Kelas A2 Biologi SMAN 75 Jakarta yang pernah mengisi masa remaja mereka bersama, lalu berpencar ke segala penjuru waktu.

Tidak semua akan datang hari ini. Itu yang ia tahu sejak jauh-jauh hari, dan yang membuat matanya diam-diam perih sejak pagi. Ada yang terhalang jarak. Ada yang terhalang urusan yang tidak bisa ditunda. Ada pula yang terhalang oleh sesuatu yang jauh lebih permanen dari itu semua. Tapi ia memilih untuk tidak terlalu lama diam bersama pikiran itu karena di luar sana, satu per satu, mereka sudah mulai datang.
Pertama Theresia yang akrab dipanggil Thres dengan langkah ringan yang entah mengapa masih terasa seperti langkah gadis yang di mata teman-temannya selalu tampak tenang dan pintar. Di belakangnya, hampir bersamaan, datang Darini dan Wahyuningrum. Tidak butuh waktu lama bagi mereka bertiga untuk saling mengenali, lalu saling memeluk dengan cara yang tidak pernah bisa direncanakan sebelumnya.
Trihartani datang jauh dari Serang, Banten, ditemani suaminya. Ia memasuki lobi dengan langkah sedikit ragu, menatap sekeliling seperti orang yang sedang membandingkan ingatan dengan kenyataan. Lalu matanya bertemu dengan Aty, dan senyum itu mekar begitu saja, spontan dan otentik, seperti sesuatu yang tidak butuh latihan. Empat puluh tahun rupanya tidak mengubah cara dua perempuan itu saling mengenali, cukup satu tatapan, dan semuanya kembali dalam ingatan.
Ketika jarum jam semakin mendekati waktu acara dimulai, Yuliati akhirnya muncul di pintu masuk. Napasnya masih sedikit terengah setelah bergegas menembus lalu lintas Jakarta yang siang itu padat seperti biasa. Begitu memasuki ruangan, beberapa pasang mata langsung mengenalinya. Seseorang melambaikan tangan, yang lain memanggil namanya dari kejauhan. Yuliati tersenyum lebar sebelum berjalan mendekat dan disambut pelukan hangat teman-teman yang sudah lebih dahulu hadir. Kedatangannya seolah melengkapi kepingan-kepingan yang sejak pagi perlahan berkumpul kembali di ruangan itu.
Samsul Bahri, Sarah, dan Eko datang bersama. Mereka memang sudah janjian sejak pagi di sudut Jakarta Utara, lalu berangkat beriringan. Ketika ketiganya memasuki ruangan, seseorang berseru dari dalam: “Kayak masih SMA aja!” Tawa itu meledak, dan itu adalah tawa pertama dari banyak tawa yang akan memenuhi ruangan sepanjang hari itu.

Saidah masuk beberapa menit kemudian, tas di pundaknya ternyata menyimpan kado yang sudah dibungkus dengan cermat. Darini, yang sejak tadi menunggu, langsung bergerak menyambutnya. Dua perempuan itu berpelukan seakan sedang menyambung percakapan yang tertunda sejak akhir tahun 1980-an.
Djoni Satria tiba tidak lama kemudian, mengambil tempat di sisi ruangan dan diam sejenak memperhatikan semuanya seperti seseorang yang sedang berusaha menyimpan sebanyak mungkin yang bisa disimpan oleh ingatan.
Lalu Pawit Rodiyah datang. Ia tiba dengan kursi roda, didorong oleh suaminya yang setia mendampingi. Kondisi kesehatannya tidak memungkinkan ia berdiri lama, tapi itu tidak menghalanginya untuk hadir. Baginya, kerinduan bertemu teman-teman lama adalah sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh alasan apa pun. Menjadi sebuah obat, katanya, yang membantu pemulihannya.
Satu per satu teman perempuan menghampiri Pawit. Tidak ada yang berkata banyak. Pelukan berbicara lebih keras dari kata-kata, dan tangan-tangan yang menggenggam tangannya menyampaikan hal-hal yang tidak perlu diucapkan. Mereka berpelukan dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang tahu betul seberapa besar jarak dan waktu yang telah mereka seberangi, dan yang juga tahu betul betapa berharganya setiap pertemuan yang masih bisa terjadi.
Tapi siang itu, di tengah semua kehadiran yang menghangatkan, ada yang tidak menyahut ketika nama dipanggil. Kursi-kursi tertentu tetap kosong. Nama-nama tertentu hanya disebut dengan nada yang sedikit berbeda, lebih lirih, lebih panjang, seperti doa kecil yang dikirim tanpa tahu alamat persisnya, sebelum percakapan berlanjut ke tempat lain. Begitulah cara sebuah reuni menyimpan dukanya: bukan dengan tangis keras, melainkan dengan jeda kecil di antara tawa.
Yang paling aneh dari sebuah reuni, dan yang juga paling indah, adalah momen ketika mata mencoba mendamaikan dua gambar sekaligus: wajah yang dulu dan wajah yang sekarang. Sebagian datang dengan rambut yang sudah memutih di pelipis. Sebagian lain membawa langkah yang tidak lagi secepat masa remaja. Kacamata baca yang kini menjadi aksesori wajib. Garis-garis halus di sudut mata yang merekam puluhan musim hujan dan kemarau.
Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang tidak berubah: cara seseorang memiringkan kepala saat tertawa, cara seorang lainnya merapikan rambut ke belakang telinga, cara tangan menutup mulut ketika kaget mendengar sebuah cerita. Setiap kebiasaan kecil itu masih di sana, utuh, seperti tulisan yang dipahatkan di batu terlalu dalam untuk dihapus oleh waktu. Tidak ada kecanggungan yang biasanya muncul ketika orang-orang lama bertemu kembali setelah puluhan tahun berpisah, ruangan itu langsung terasa seperti ruang kelas yang pindah alamat saja.
Obrolan tentang masa sekolah mengalir seperti sungai yang sudah tahu jalannya sendiri. Nama-nama guru kembali disebut, siapa yang galak tapi sebetulnya paling perhatian, siapa yang cara mengajarnya membuat pelajaran paling sulit pun terasa seperti dongeng yang sayang untuk dilewatkan.
Cerita tentang bangku kelas, tugas praktikum biologi yang baunya khas, formalin dan sesuatu yang tidak pernah bisa mereka beri nama yang tepatโhingga kisah-kisah jahil yang pernah dianggap rahasia kembali muncul seperti lembaran album yang lama tersimpan di dalam laci. Nama-nama seperti Pak Agus, Pak Situmorang, Pak Kodri, Bu Budi, hingga Pak Saud adalah sebagian nama guru dan kepala sekolah yang masih terlintas dalam ingatan.
Kantin sekolah disebut lebih dari sekali. Gorengannya, kata beberapa orang, tidak pernah ada tandingannya dan entah mengapa pernyataan yang seharusnya mengundang perdebatan itu justru disambut dengan anggukan seragam. Nilai ulangan yang dulu membuat jantung berdegup kencang di depan papan pengumuman kini hanya mengundang tawa. Beberapa peserta membuka foto-foto lama dari telepon genggam mereka.
Sebagian lainnya memperlihatkan foto anak dan cucu, bukti dari tahun-tahun yang telah berlalu, dari kehidupan yang tumbuh jauh di luar tembok sekolah itu. Percakapan mengalir tanpa jeda, melompat dari satu dasawarsa ke dasawarsa yang lain, seolah waktu hanya sedang beristirahat dan belum siap kembali bergerak.
Dan tawa. Selalu tawa, yang membingkai segalanya.

Aty Fadjariaty, yang seharian berlari antara peran sebagai General Manager dan peran sebagai teman lama, tampak beberapa kali menahan haru. Ketika ia akhirnya duduk di tengah mereka semua, tidak ada lagi yang perlu ia urus, atau mungkin masih ada, tapi ia memilih untuk mengabaikannya sejenak barulah terlihat betapa penuh matanya.
“Empat puluh tahun bukan waktu yang pendek. Banyak yang sudah kita lalui, banyak juga yang tidak sempat kita ketahui tentang kehidupan masing-masing. Karena itu saya merasa reuni ini bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi tentang mensyukuri bahwa setelah perjalanan yang begitu panjang, kita masih diberi kesempatan untuk saling bertemu, saling melihat, dan saling mendoakan,” kata Aty ketika membuka acara itu.
Saling mendoakan. Kalimat itu bergantung di udara lebih lama dari yang disengaja, karena semua orang di ruangan itu tahu, doa tidak hanya ditujukan kepada yang hadir di hadapan mereka.
Samsul Bahri mendengarkan semua itu dengan senyum yang tidak bergerak dari wajahnya. Di tengah obrolan, di sela-sela cerita yang saling berlomba untuk keluar, ia terdiam sebentar. Bukan karena tidak ada yang ingin ia katakan, melainkan karena ada sesuatu yang sedang ia rasakan dan ia butuh kata-kata yang tepat untuk menangkapnya seperti seseorang yang sedang mencoba menggenggam air.
“Kita datang dengan membawa kehidupan masing-masing. Ada yang pernah berhasil, ada yang pernah gagal, ada yang pernah kehilangan orang-orang yang dicintai. Tapi ketika bertemu lagi, semuanya terasa sederhana. Yang tersisa hanya rasa syukur karena teman-teman yang dulu menemani masa muda masih ada di depan mata. Buat saya, itu sangat berharga,” ujar Samsul.
Ruangan itu sejenak sunyi. Lalu Darini menyeka sudut matanya dengan tisu, pura-pura itu karena AC-nya terlalu dingin. Tidak ada yang menggodanya. Semua orang tahu. Tukar kado berlangsung dengan keriuhan yang hangat. Kantong-kantong kertas berpindah tangan. Kotak-kotak yang dibungkus tergesa-gesa tapi dengan niat yang sungguh-sungguh dibuka satu per satu. Ada yang memberikan mukenah, pilihan yang terasa seperti doa yang dibungkus kain. Ada yang membawakan kain, ada pula yang menyertakan catatan kecil berisi pesan persahabatan yang singkat tapi tidak bisa dibaca tanpa mata berkaca-kaca.
Tawa kembali pecah ketika beberapa peserta membuka bungkusan yang mereka terima, ada yang pura-pura kaget, ada yang langsung memakai hadiah pemberian temannya, ada yang membaca catatan di dalamnya lalu diam sebentar sebelum ikut tertawa. Di sela-sela kegembiraan itu, beberapa mata tampak berkaca-kaca. Bukan karena hadiah yang diterima semata. Melainkan karena kesadaran bahwa hadiah terbesar hari itu tidak bisa dibungkus dan tidak bisa disimpan di tas. Hadiah terbesar itu adalah pertemuan itu sendiri, sesuatu yang tidak bisa dijamin akan terulang.
Foto bersama diambil berkali-kali dengan ponsel yang berbeda, dari sudut yang berbeda, dengan komposisi yang selalu berubah karena selalu ada yang ingin pindah tempat atau memanggil yang lain untuk masuk ke frame. Salah satu staf hotel yang diminta Aty menjadi fotografer dadakan berdiri mengambil angle foto demi mendapat sudut foto yang lebih baik.
Ada yang protes berdiri di belakang karena tidak kelihatan. Ada yang minta diulang karena matanya terpejam tepat pada hitungan ketiga. Dan setiap kali hitungan mundur dimulai: satu, dua, tiga, wajah-wajah itu tersenyum dengan cara yang berbeda dari senyum keseharian mereka: lebih lepas, lebih murni, entah mengapa lebih muda.
Menjelang sore, ketika bayangan sudah mulai memanjang di luar jendela dan makanan di meja sudah lama habis, tidak ada yang beranjak. Ini selalu bagian terberat dari sebuah reuni. Momen ketika semua orang tahu waktu sudah habis tapi tidak ada yang mau menjadi orang pertama yang mengakuinya. Obrolan terus bergulir, menemukan topik baru setiap kali satu topik hampir selesai. Foto terakhir ternyata belum yang terakhir. Tawa yang sudah hampir reda kembali menyala karena seseorang teringat satu cerita lagi dari masa sekolah yang belum sempat disampaikan.
Djoni duduk memperhatikan semuanya dari tempatnya. Ada sesuatu yang bergerak lebih lambat di dada, lebih tua dan lebih dalam dari refleks jurnalistik yang sudah lama menjadi kebiasaannya. Ia tidak sedang mencari angle atau memilih kata. Ia hanya hadir, dan ternyata hadir saja sudah lebih dari cukup.
“Di usia sekarang, kita mulai menyadari bahwa hidup ternyata lebih cepat daripada yang kita bayangkan. Rasanya baru kemarin duduk di kelas, ternyata hampir empat puluh tahun sudah berlalu. Reuni ini mengingatkan saya bahwa di tengah segala pencapaian dan kesibukan hidup, ada persahabatan yang tetap bertahan meski tidak selalu bertemu. Dan itu adalah salah satu kekayaan terbesar yang kita miliki,” kata Djoni.
Di luar, Jakarta terus bergerak seperti biasa, klakson dan deru mesin dan aroma kota yang tidak pernah bisa ditebak. Tapi di dalam ruangan itu, di sebuah hotel di Melawai, waktu sedang berdiri diam.
Sebelum benar-benar berpisah, mereka duduk bersama untuk terakhir kalinya sore itu. Seseorang mengusulkan agar mereka berdoa bersama dan tidak ada yang menolak. Dalam lingkaran kecil itu, dengan tangan yang sebagian saling menggenggam dan kepala yang menunduk, mereka mengangkat doa yang sederhana namun berat: meminta kepada Tuhan agar diberi kesehatan, agar diberi umur panjang, agar diberi kesempatan untuk kembali berkumpul meski hanya sekali-sekali, meski hanya sebentar-sebentar, meski tidak semuanya bisa hadir.
Doa itu bukan tentang kemewahan. Bukan tentang hal-hal besar yang biasa diminta ketika berdiri di hadapan Tuhan. Doa itu hanya tentang satu hal yang semakin mereka pahami artinya seiring bertambahnya usia: kesempatan. Kesempatan untuk bertemu. Kesempatan untuk masih bisa menatap wajah-wajah yang pernah menemani hari-hari mereka yang paling tanggung itu.
Dan kalimat “aamiin” yang terucap bersama-sama di penghujung doa itu terasa lebih berat dari biasanya, karena di baliknya ada nama-nama yang tidak menyahut, ada kursi-kursi yang kosong, ada wajah-wajah yang hanya bisa mereka hadirkan di dalam hati.
Mereka akhirnya pulang juga, tentu saja. Pelukan terakhir di lobi. Janji yang tidak ingin dilupakan, janji untuk tidak menunggu empat puluh tahun lagi, janji untuk bertemu dalam waktu yang lebih berkala, dalam jangka yang lebih bisa dijangkau. Grup WhatsApp yang lebih ramai dari biasanya malam itu, foto-foto yang langsung tersebar dan dikomentari dengan kata-kata pendek yang penuh hal-hal yang tidak sempat terucap tadi.
Barangkali begitulah cara waktu bekerja. Ia membawa setiap orang menjauh dari masa mudanyaโmenambahkan kerutan di wajah, mengubah warna rambut, mengajarkan pelajaran-pelajaran yang tidak pernah ada di buku sekolah mana pun. Tapi waktu, ternyata, tidak pernah mampu menghapus jejak-jejak persahabatan yang pernah tumbuh dengan tulus. Seperti ukiran di dinding kayu tuaโsemakin lama, justru semakin dalam terbacanya.

(Foto: Aty Fadjariaty)
Sore itu, ketika satu per satu peserta meninggalkan Amos Cozy Hotel & Convention Hall, mereka tidak sedang membawa pulang suvenir atau hadiah tukar kado semata. Mereka membawa pulang sesuatu yang jauh lebih berharga: perasaan bahwa setelah hampir empat puluh tahun berpisah, mereka masih memiliki tempat untuk kembali. Sebuah kelas bernama A2 Biologi. Sebuah ruang kecil di masa lalu yang, entah bagaimana, tetap hidup dan bernapas hingga hari ini.
Meski tidak semua bisa datang. Meski beberapa kursi tetap kosong. Meski beberapa nama hanya bisa disebut dalam nada yang lebih lirih, dalam doa yang dikirim tanpa tahu pasti apakah ia sampai.
Persahabatan yang baik tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu dengan sabar, tanpa kesal sampai kita cukup dewasa untuk menyadari betapa berharganya ia. Dan mereka yang hadir hari itu tahu: mereka tidak datang hanya untuk diri sendiri. Mereka datang juga mewakili kursi-kursi yang kosong itu, mewakili nama-nama yang tidak menyahut, mewakili semua yang tidak bisa lagi memilih untuk pulang.
Pada akhirnya, yang paling lama tinggal dalam ingatan bukanlah nilai rapor, bukan pula cita-cita yang dulu mereka kejar dengan tergesa-gesa. Yang bertahan justru wajah-wajah yang pernah tumbuh bersama, lalu dipertemukan kembali setelah puluhan tahun oleh waktu yang terus berjalan tanpa menunggu siapa pun.
Mereka pernah berbagi ruang kelas yang sama, lalu dipisahkan oleh kehidupan yang membawa masing-masing ke arah berbeda. Namun sore itu mengajarkan satu hal yang sering luput disadari ketika usia masih muda: hidup tidak hanya tentang seberapa jauh seseorang melangkah, tetapi juga tentang siapa yang masih tersisa untuk mengenang perjalanan itu bersama.
Dan di usia ketika hidup mulai terasa lebih pendek daripada kenangan, mereka akhirnya memahami betapa beruntungnya seseorang yang masih memiliki orang-orang lama yang tetap mengingat namanya. Sebab tidak semua orang memiliki keberuntungan tersebut. (***)
Jurnalis/Editor: Djoni Satria






Komentar