RUZKA INDONESIA — Pemanfaatan bahan alam terus menjadi perhatian dalam pengembangan industri farmasi, pangan, dan kosmetik. Salah satu komoditas yang banyak diteliti adalah kunyit (Curcuma longa L.) yang mengandung kurkumin, senyawa bioaktif dengan berbagai manfaat kesehatan.
Namun, proses ekstraksi kurkumin masih menghadapi tantangan, terutama dalam meningkatkan hasil ekstraksi sekaligus mengurangi penggunaan pelarut yang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan.
Berangkat dari kebutuhan akan metode ekstraksi yang lebih efisien dan berkelanjutan, mahasiswa Program Doktor Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), Desy Rosarina, mengembangkan strategi ekstraksi kurkumin
Itu melalui disertasinya yang berjudul โStrategi Peningkatan Yield Ekstrak Kurkumin dari Kunyit (Curcuma longa L.) Menggunakan Teknik Microwave-Ultrasound-Assisted Extraction (MUAE) Berbantuan Natural Deep Eutectic Solvents (NADES)โ.
Atas penelitian tersebut, Desy resmi meraih gelar Doktor setelah menjalani sidang terbuka promosi doktor pada Jumat (12/06/2026).
Dalam penelitiannya, Desy mengombinasikan teknologi Microwave-Assisted Extraction (MAE) dan Ultrasound-Assisted Extraction (UAE) menjadi metode Microwave-Ultrasound-Assisted Extraction (MUAE).
Proses ekstraksi tersebut didukung penggunaan Natural Deep Eutectic Solvents (NADES), yakni pelarut ramah lingkungan yang dikembangkan sebagai alternatif pengganti pelarut organik konvensional.
Penelitian ini bertujuan meningkatkan perolehan kurkumin sekaligus mengurangi penggunaan pelarut dalam proses ekstraksi.
Kurkumin merupakan senyawa utama dalam kunyit yang telah banyak diteliti karena potensinya sebagai antioksidan, antiinflamasi, antibakteri, dan antikanker, sehingga memiliki prospek pemanfaatan yang luas di berbagai sektor industri.
Hasil Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum ekstraksi kurkumin menggunakan metode MUAE diperoleh pada kandungan air pelarut sebesar 20 persen, solid loading 8 persen, waktu microwave pre-treatment selama 60 detik, dan waktu ekstraksi 20 menit.
Pada kondisi tersebut, yield kurkumin yang dihasilkan mencapai 40,72 ยฑ 1,21 mg/g.
Penelitian ini juga membuktikan bahwa metode MUAE memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan metode UAE konvensional.
Yield kurkumin meningkat dari 35,60 mg/g menjadi 40,72 mg/g atau sekitar 14,36 persen lebih tinggi. Selain itu, metode MUAE mampu mengurangi penggunaan pelarut hingga 50 persen, sehingga menawarkan proses ekstraksi yang lebih efisien sekaligus mendukung penerapan prinsip green extraction.
Sidang promosi doktor ini dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Kemas M. Ridwan, S.T., M.Sc., Ph.D. sebagai Ketua Sidang, dengan Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., IPU sebagai Promotor dan Prof. Dr. Ir. Eka Sari, M.T., IPM., ASEAN Eng. sebagai Ko-promotor.
Adapun tim penguji terdiri atas Prof. Ir. Dewi Tristantini, M.T., Ph.D., Dr. Meka Saima Perdani, M.T., Dr. Muhamad Sahlan, S.Si., M.Eng., Apriliana Cahya Khayrani, S.T.P., M.Eng., Ph.D., serta Dr. Ibnu Maulana Hidayatullah, S.T., M.T.
Prof. Kemas mengapresiasi kontribusi ilmiah yang dihasilkan Desy melalui penelitian tersebut.
โDisertasi ini menunjukkan bagaimana inovasi proses dapat memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi pemanfaatan sumber daya alam Indonesia. Penelitian yang dilakukan Saudari Desy tidak hanya menghasilkan kontribusi akademik dalam bidang teknologi proses dan ekstraksi, tetapi juga menawarkan solusi yang relevan bagi pengembangan industri berbasis bahan alam yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan,โ jelasnya.
Menurut Prof. Kemas, hasil penelitian ini memperlihatkan pentingnya sinergi antara rekayasa proses, inovasi teknologi, dan prinsip keberlanjutan dalam menghasilkan riset yang mampu menjawab tantangan industri masa depan serta memperkuat daya saing pemanfaatan sumber daya hayati Indonesia.
Hasil penelitian ini menunjukkan potensi penerapan teknologi MUAE berbantuan NADES sebagai metode ekstraksi kurkumin yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Temuan tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan teknologi pengolahan bahan alam Indonesia, khususnya untuk kebutuhan industri farmasi, pangan, dan kosmetik. (***)
Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com






Komentar