RUZKA INDONESIA โ Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Bestari Barus memastikan Joko Widodo (Jokowi) segera menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina partai.
Kepastian itu menghilangkan teka teki selama ini tentang inisial Mr. J yang akan menjadi Ketua Dewan Pembina PSI. Jokowi akhirnya lebih memilih mengawal anaknya, Kaesang Pangarep, untuk membesarkan PSI.
“Pilihan posisi Ketua Dewan Pembina juga mengisyaratkan Jokowi belum yakin anaknya Kaesang dapat membesarkan PSI, apalagi mengantarkan PSI ke Senayan. Kaesang dan Pengurus DPP PSI dinilai belum cukup mumpuni untuk mendongkrak elektabilitas partai. Karena itu, PSI berharap sepenuhnya kepada Jokowi untuk mengerek elektabilitas PSI. Hal ini diyakini PSI akan berhasil bila Jokowi didudukkan menjadi Ketua Dewan Pembina,” papar Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul Jakarta M Jamiluddin Ritonga kepada RUZKA INDONESIA, Ahad (14/06/2026) malam.
Menurut Jamil, dengan posisi itu, Jokowi dinilai lebih besar daripada PSI. Karena itu, kesediaan Jokowi menjadi Ketua Dewan Pembina akan dianggap berkah bak mendapat durian runtuh.
“Hal itu sekaligus mengindikasikan lemahnya SDM PSI. Kualitas SDM partai berlogo gajah ini rupanya belum juga membaik meskipun sudah banyak membajak kader partai lain. Itu artinya, kader partai lain yang menyeberang ke PSI bukanlah kader terbaik. Mereka bisa jadi hanya kader yang sudah tidak mendapat tempat di partai asalnya sehingga mencari peruntungan di PSI,” jelas Jamil.
Jamil juga melihat, PSI tidak bisa berharap banyak kepada kader hasil bajakan itu. PSI akhirnya tetap berharap kepada Jokowi untuk membesarkan partai.
Dengan hanya bertumpu kepada Jokowi tentu sangat berisiko. Apalagi masa keemasan Jokowi tampaknya sudah berakhir.
“Jokowi saat ini lebih banyak berhadapan dengan persoalan pribadinya. Ia harus menghadapi masalah ijazahnya yang hingga saat ini belum ada tanda-tanda usai. Saat ini Jokowi juga dinilai sosok kontroversial. Bahkan kondisi Indonesia saat ini dinilai banyak pihak sebagai warisan Jokowi saat berkuasa,” imbuh mantan Dekan Fikom IISIP Jakarta ini.
Jamil menambahkan, bagi sebagian besar rakyat Indonesia Jokowi bukan lagi sosok panutan. Jokowi juga bukan lagi sosok yang menginspirasi.
Dengan situasi demikian tampaknya sulit mengharapkan Jokowi dapat mendongkrak elektabilitas PSI. Jokowi juga akan sulit dapat mengantarkan PSI ke Senayan.
“Menempatkan Jokowi menjadi Ketua Dewan Pembina PSI tampaknya seperti berjudi. Hasilnya nanti akan terlihat saat Pileg 2029. PSI akan sampai ke Senayan atau tetap jadi partai gurem,” tandasnya. (***/Jie)
Editor: Ao S Dwiyantho Putra
Email: aodwiyantho@gmail.com






Komentar