Dari radio transistor hingga industri elektronik nasional, perjalanan Thayeb Mohammad Gobel membuktikan bahwa kemajuan terbesar selalu dimulai dari keberpihakan kepada manusia.
RUZKA INDONESIA — Jakarta, pertengahan 1950-an. Pagi itu udara kota belum sepenuhnya gerah. Di lorong-lorong gedung pemerintah, langkah sepatu berderit di lantai ubin. Angin sejarah bertiup pelan di luar jendela.
Di dalam ruangan yang terasa lebih besar dari semestinya, seorang pemuda berdiri tegak di hadapan Presiden Soekarno. Penampilannya tidak mencolok: jas sederhana, potongan rambut rapi, tatap mata yang tenang namun tidak gentar. Tidak ada jabatan besar yang mendahuluinya. Tidak ada warisan nama yang memberi jalan. Yang ia bawa hanya satu hal: cara berpikir yang belum banyak orang berani lalui.
Soekarno menatapnya.
Republik yang diproklamasikan para pendiri bangsa lebih dari satu dekade silam sedang belajar berdiri di atas kakinya sendiri. Hampir semua perangkat teknologi masih datang dari luar. Industri nasional baru meraba bentuk, seperti anak yang pertama kali menyentuh pasir laut dan belum tahu harus membangun apa.
Dan di tengah ketidakpastian yang merayap di mana-mana, seorang pemuda dari Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, justru memilih menekuni usaha radio transistor, sebuah pilihan yang terdengar ganjil, bahkan asing, untuk ukuran zamannya.
Pemuda itu bernama Thayeb Mohammad Gobel. Di keluarga, ia dikenal dengan panggilan Ebu.
Soekarno bertanya, “Mengapa memilih usaha radio transistor?”
Kalimat itu mengalir begitu bersahaja. Namun di balik kesederhanaannya tersirat ujian tentang visi, sekaligus pertanyaan fundamental tentang mengapa seseorang berani merintis sesuatu di atas tanah air yang baru saja merdeka. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya bertanya lebih dalam: untuk siapa kamu bekerja?
Dengan nada spontan yang tidak dibuat-buat, Gobel menjawab:
“Supaya pidato Bapak dapat sampai kepada orang-orang di desa, di tempat yang jauh terpencil, di kaki gunung, di pulau-pulau, meskipun di tempat-tempat tersebut belum ada listrik, Pak.”
Soekarno tersenyum.
Di balik jawaban sederhana itu tersimpan cara berpikir yang kelak menjadi ciri khas Thayeb Gobel sepanjang hidupnya: bukan cara berpikir yang dimulai dari keuntungan, melainkan dari manusia. Dari mereka yang paling jauh dari segala fasilitas, bukan dari mereka yang paling dekat dengan kekuasaan.
Percakapan itu singkat. Maknanya, tidak.
Tujuh puluh tahun kemudian, nama Gobel masih bergema. Dan jawaban yang diberikan seorang pemuda dari Gorontalo kepada presidennya itu masih terasa seperti kompas, sebuah arah yang menjelaskan segalanya: mengapa perjalanan panjang itu dimulai, bagaimana ia dijalani, dan ke mana ia terus melangkah bahkan setelah sang perintis tidak lagi ada.
Thayeb Mohammad Gobel lahir di Gorontalo pada 12 September 1930, dalam bayang-bayang kolonialisme yang belum sepenuhnya surut. Ia tumbuh bersama generasi yang tidak pernah diberi kemudahan memilih jalan, melainkan harus membuatnya sendiri. Ketika Indonesia merdeka, ia cukup muda untuk bermimpi, namun cukup dewasa untuk mengerti bahwa kemerdekaan politik saja belum menjawab segalanya.
Ia merantau. Makassar dulu, lalu Jawa. Menapaki pekerjaan demi pekerjaan. Usaha mebel dicoba dan kandas. Di mata banyak orang, mungkin itu adalah tanda untuk berhenti, untuk mencari jalan yang lebih aman, lebih terprediksi. Namun, kegagalan bagi Thayeb Gobel bukan penutup cerita. Justru dari sanalah cerita sesungguhnya dimulai.
Dari pengalaman yang pahit tumbuh keyakinan yang tidak pernah ia tinggalkan: bahwa kemajuan bangsa tidak lahir dari cita-cita kosong. Ia lahir dari industri, dari kemampuan menciptakan sesuatu yang nyata, yang bisa disentuh, yang manfaatnya dapat dirasakan orang banyak. Terutama mereka yang berdiri paling jauh dari pusat pembangunan.
G: Gagasan yang Melampaui Zamannya
Pada pertengahan dekade 1950-an, memilih bidang elektronik di Indonesia adalah pertaruhan yang tidak banyak orang mau ambil. Hampir semua perangkat teknologi masih mengandalkan impor. Dan di saat mayoritas orang melihat keterbatasan itu sebagai tembok, Thayeb Gobel melihatnya sebagai pintu yang menunggu untuk dibuka.
Radio transistor, baginya, bukan sekadar produk dagang. Ia melihatnya sebagai infrastruktur.
Di negara kepulauan yang membentang lebih dari 5.000 kilometer dari barat ke timur, radio adalah cara paling masuk akal untuk menjangkau tempat-tempat yang kabel telegraf pun belum menyentuhnya. Menjangkau kampung-kampung yang namanya bahkan belum tercetak di peta resmi. Menjangkau orang-orang yang bukan tidak mau maju, melainkan tidak punya akses untuk memulai.
Bukan keuntungan yang pertama kali ia pikirkan. Yang ia pikirkan adalah orang-orang di kaki gunung, di pulau-pulau terpencil, yang selama bertahun-tahun tidak pernah mendengar berita dari ibu kota, orang-orang yang berhak tahu apa yang sedang terjadi di negeri yang justru mereka isi dengan keringat dan kelahiran.
Kemerdekaan politik saja tidak cukup, jika kemerdekaan mengakses informasi masih menjadi hak sebagian orang saja.
Pada 1954, keyakinan itu menemukan wujudnya. Bersama sejumlah rekan, Thayeb Gobel mendirikan PT Transistor Radio Manufacturing Company. Dari perusahaan kecil itu lahir radio bermerek Tjawang, salah satu pelopor radio produksi dalam negeri yang beredar di pasaran Indonesia. Nama itu diambil dari nama lokasi produksi pertamanya.

Tjawang bagi banyak orang hanyalah sebuah merek. Bagi Gobel, ia adalah pernyataan: bahwa bangsa ini bisa membuat sesuatu, bukan hanya membeli.
Ketika menjawab pertanyaan Soekarno, Gobel sesungguhnya tidak sedang berbicara tentang teknologi semata. Ia berbicara tentang siapa yang berhak merasakan kemajuan. Di balik kotak kecil bertenaga baterai itu tersimpan gagasan yang jauh lebih besar: bahwa teknologi seharusnya menjadi jembatan, bukan tembok. Bahwa setiap kemajuan yang gagal menjangkau mereka yang paling membutuhkan adalah kemajuan yang belum selesai.
Gagasan itu tidak lahir dari ruang kuliah atau konferensi bisnis. Ia lahir dari pengamatan seorang perantau muda yang cukup jujur untuk melihat apa yang kurang, dan cukup berani untuk memilih jalan yang belum banyak orang lalui.
Ada keberanian khusus dalam memilih melayani yang jauh daripada yang dekat. Bahwa ketika industri muda itu mulai berdenyut, yang pertama kali Gobel bayangkan bukan pelanggan di kota-kota besar yang sudah terhubung listrik, melainkan mereka yang hidup di balik bukit, di pulau-pulau yang namanya belum tercetak di peta resmi mana pun.
Inilah yang membedakan sebuah gagasan bisnis dengan gagasan kebangsaan: bukan pada skala keuntungannya, melainkan pada siapa yang ia pilih untuk dilayani.
O: Optimisme yang Menembus Batas
Tahun 1957. Sebuah program bernama Colombo Plan membawa Thayeb Gobel menyeberangi lautan menuju Jepang.
Jepang saat itu sedang dalam pembuktian paling dramatis dalam sejarah modernnya. Dua belas tahun setelah kekalahan di Perang Dunia II, bangsa itu bangkit bukan dengan sentimentalisme, melainkan dengan disiplin yang hampir mustahil: investasi besar pada manusia, transfer ilmu yang konsisten, dan rasa malu yang diubah menjadi tekad. Kota-kota yang pernah rata dengan tanah kini penuh dengan pabrik dan laboratorium yang berdetak siang malam. Di jalanan, bukan hanya lalu lintas yang ramai, semangat pun terasa seperti benda padat yang bisa disentuh.
Kemajuan di sana bukan retorika. Ia adalah benda yang bisa dilihat, diraba, dan didengar.
Pengalaman itu membuka cara pandang Thayeb Gobel tentang bagaimana industri dapat menjadi motor kebangkitan sebuah bangsa, dan bagaimana Indonesia, yang juga sedang bangkit dari reruntuhan sejarahnya sendiri, bisa belajar dari jalan yang telah dibuktikan orang lain. Di Jepang pula ia bertemu Konosuke Matsushita, pendiri Matsushita Electric Industrial Co., Ltd., yang kelak dikenal dunia melalui merek National dan Panasonic.

(Foto: Dok. Gobel Group)
Pertemuan itu bukan sekadar pertemuan bisnis antara dua pelaku industri dari dua negara berbeda. Ini adalah pertemuan antara dua orang yang, meski terpaut oleh usia dan skala usaha, berbicara dengan bahasa yang sama: bahwa perusahaan lahir bukan hanya untuk menghasilkan laba, melainkan untuk memberi manfaat nyata kepada masyarakat yang menghidupinya.
Di satu sisi berdiri seorang industrialis Jepang yang telah membuktikan gagasannya di panggung dunia. Di sisi lain, seorang pemuda Indonesia dari Gorontalo dengan optimisme tanpa batas dan visi yang masih mencari bentuknya. Perbedaan usia, skala usaha, dan reputasi tidak menghalangi lahirnya ikatan, sebuah hubungan yang kemudian berkembang jauh melampaui kepentingan bisnis, menjadi persahabatan sekaligus kemitraan jangka panjang antara dua bangsa.
Kemitraan itu bukan sekadar perjanjian di atas kertas. Transfer teknologi dan alih pengetahuan mengalir ke Indonesia. Sumber daya manusia dilatih, dibimbing, dan dipersiapkan untuk menguasai pengetahuan yang sebelumnya hanya ada di luar negeri. Produk-produk baru masuk ke kehidupan sehari-hari masyarakat selama beberapa generasi. Apa yang bermula dari sebuah pertemuan di Jepang berkembang menjadi salah satu jembatan kerja sama industri paling berpengaruh dalam sejarah modern Indonesia.
Pada 1981, Kaisar Jepang menganugerahkan kepada Thayeb Gobel penghargaan Third Class Order of the Sacred Treasure, pengakuan atas jasanya dalam mempererat hubungan ekonomi kedua negara.
Namun, bagi Gobel, penghargaan itu hanyalah simbol luar dari sesuatu yang jauh lebih penting: bukti bahwa seorang anak Gorontalo, yang pernah berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain sebelum akhirnya menemukan jalannya, mampu menjadi bagian dari sejarah hubungan ekonomi dua bangsa.
Optimisme bukan berarti naif. Optimisme adalah kemampuan melihat jalan ketika orang lain hanya melihat tembok. Dan Thayeb Gobel membuktikan hal itu bukan dengan ucapan, melainkan dengan perjalanan nyata yang meninggalkan jejak di dua negara sekaligus.
B: Bakti Melalui Industri
Menjelang Asian Games IV Jakarta 1962, sebagian besar keluarga Indonesia belum pernah melihat televisi dari dekat, apalagi memilikinya. Layar kaca itu adalah kemewahan yang rasanya lebih dekat ke cerita daripada kenyataan, sebuah kotak ajaib yang ada di berita, bukan di ruang tamu. Sesuatu yang hanya dimiliki orang lain, di tempat yang entah di mana.

tersebut dari layar kaca. (Foto: ANRI/Arsip Nasional Republik Indonesia)
Gobel melihat celah itu. Dan ia mengisinya.
Melalui kerja sama dengan mitra dari Jepang, Gobel dipercaya memproduksi sekitar sepuluh ribu pesawat televisi hitam-putih yang disiapkan pemerintah untuk menyambut Asian Games IV Jakarta 1962. Untuk pertama kalinya, jutaan masyarakat Indonesia bisa menyaksikan peristiwa olahraga besar dari layar kaca. Sebuah pengalaman yang, bagi banyak keluarga, terasa seperti pintu yang tiba-tiba terbuka ke dunia yang jauh lebih luas dari yang pernah mereka bayangkan.
Namun bagi Gobel, ini bukan sekadar pencapaian bisnis. Ini adalah pengejawantahan konkret dari satu kalimat yang menjadi kompas hidupnya:
“Utamakan berbakti kepada negara melalui industri.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Di balik kesederhanaannya tersimpan komitmen yang berat: bahwa setiap kerja sama yang dibangun harus membawa pulang pengetahuan, bukan sekadar produk. Bahwa setiap pabrik yang didirikan harus melatih manusia, bukan hanya memproduksi barang. Bahwa industri yang sejati bukan hanya soal apa yang dihasilkan, tetapi tentang apa yang dibangun dalam kemampuan, kepercayaan diri, dan kemandirian bangsa yang sedang tumbuh.
Nilai-nilai itu tidak hanya hidup di masa Thayeb Gobel. Dalam buku Praksis Pancasila: Pengamalan Ideologi di Perusahaan Gobel yang ditulis Nasihin Masha dan terbit pada Juni 2025, digambarkan bagaimana Thayeb Gobel secara konsisten menerapkan nilai-nilai Pancasila ke dalam dunia bisnis melalui apa yang ia sebut Manajemen Pancasilais, sebuah pendekatan mengelola perusahaan yang berakar pada ideologi bangsa, bukan sekadar teori impor dari buku teks asing.
Dalam bedah buku tersebut, Rachmat Gobel, anak kelima sekaligus putra laki-laki pertama Thayeb Gobel, menegaskan perbedaan yang tampaknya sepele namun sesungguhnya sangat mendasar: membangun pabrik berbeda dengan membangun industri.
Pabrik menghasilkan produk. Industri membangun ekosistem, dari hulu ke hilir, dari teknologi hingga manusia yang menguasainya, dari hari ini hingga generasi yang akan datang sesudahnya.
Itulah cara berpikir yang tidak berhenti pada satu generasi. Ia hidup dalam setiap keputusan bisnis, dalam cara menjalin kemitraan, dan dalam keyakinan bahwa kemajuan yang sejati hanya bisa diraih jika dibangun di atas fondasi manusia yang terlatih, dipercaya, dan dihargai.
E: Empati yang Menjadi Jiwa
Ada sesuatu yang tidak lazim dalam cara Thayeb Gobel memandang perusahaannya.
Di banyak tempat pada masanya, bahkan hingga kini, karyawan adalah variabel dalam persamaan produksi. Mereka datang pagi, bekerja sesuai target, pulang sore. Penting untuk angka, namun jarang diposisikan sebagai manusia yang ikut menentukan arah. Gobel memandang berbeda. Ia menyatakannya tanpa basa-basi:
“Kekuatannya adalah satu, bukan hanya di tangan pimpinan, tetapi ada di tangan karyawan-karyawan.”
Sebuah laporan Majalah TEMPO berjudul “Perginya Sang Induk” (Edisi 22/14, 28 Juli 1984) yang terbit beberapa hari setelah wafatnya Thayeb Gobel, mencatat gambaran yang tidak mudah dilupakan. Di tengah ribuan pekerja yang berada di bawah naungan perusahaannya, Gobel tetap memilih hadir secara langsung: memberikan pengarahan kepada sekitar tiga ribu karyawan, bukan sebagai pemilik yang menjaga jarak, melainkan sebagai pemimpin yang ingin memastikan setiap orang memahami tujuan yang lebih besar dari pekerjaan mereka.

Gobel memilih hadir. Benar-benar hadir.
Bukan untuk mengontrol. Melainkan untuk menanamkan sesuatu yang tidak bisa diukur dengan angka produksi: rasa memiliki, kebersamaan, dan keyakinan bahwa pekerjaan yang mereka lakukan memiliki arti yang lebih besar dari sekadar upah bulanan. Bahwa mereka bukan roda kecil dalam mesin besar, mereka adalah mesinnya sendiri.
Empati itu tidak berhenti pada pidato dan pengarahan. Enam tahun sebelum wafatnya, Gobel menyerahkan sebagian saham yang dimilikinya kepada karyawan Kelompok Gobel yang telah mengabdi lebih dari lima tahun. Di banyak perusahaan, kepemilikan adalah sesuatu yang dijaga rapat. Di tangan Gobel, sebagian darinya justru dibagikan kepada mereka yang selama bertahun-tahun ikut membangun perusahaan dari dalam. Bagi Gobel, karyawan bukan sekadar tenaga kerja, mereka adalah bagian dari rumah yang sedang dibangun bersama.
Warisan itu kemudian meresap ke seluruh ekosistem Gobel Group hingga kini. Forum Free Talk memberi ruang bagi karyawan untuk menyampaikan pendapat secara terbuka, sesuatu yang di banyak perusahaan lain masih dianggap tabu, sesuatu yang terasa berbahaya untuk diizinkan. Fasilitas kesehatan, koperasi, pusat pengembangan SDM, program kesejahteraan yang menjangkau pekerja beserta keluarganya. Bahkan keberadaan daycare yang secara diam-diam mengakui bahwa seorang karyawan adalah juga seorang ibu, seorang ayah, seorang manusia yang kehidupannya tidak berhenti di gerbang pabrik.
Rachmat Gobel merangkum warisan ayahnya dalam satu kalimat yang terasa seperti manifesto:
“Di perusahaan Gobel berlaku prinsip memanusiakan manusia, bukan mempekerjakan manusia.”
Dan ada satu pesan lain yang diwariskan keluarga Gobel, singkat namun tajam seperti pisau yang tepat sasaran:
“Bagi pengusaha, penuhi hak sebelum bicara target.”
Dua kalimat itu, berdampingan, membentuk gambaran utuh tentang siapa Thayeb Gobel sesungguhnya. Bukan hanya seorang industrialis yang membangun pabrik dan menghitung laba, melainkan seorang manusia yang percaya bahwa kemajuan hanya bermakna jika orang-orang di dalamnya ikut maju. Bukan tertinggal sebagai penonton. Bukan pula menjadi korban dari kemajuan yang justru mereka bangun sendiri.
Mungkin itu pula yang menjelaskan mengapa nilai-nilainya tidak lekang oleh waktu: karena ia tidak hanya membangun perusahaan, ia membangun kepercayaan. Dan kepercayaan, tidak seperti pabrik, tidak mudah roboh oleh perubahan zaman.
L: Legasi untuk Masa Depan Negeri
Menjelang akhir hidupnya, Thayeb Gobel berulang kali mengulang sebuah perumpamaan sederhana di hadapan karyawannya.
“Jauh sebelum pohon pisang mati, ia telah memproses kehidupan anak turunannya sebagai generasi penerus.”
Kalimat itu bukan lahir setelah ia wafat. Ia adalah falsafah yang telah lama ia hidupi dan kelak menjadi warisan paling khas dari seluruh perjalanan hidupnya: falsafah pohon pisang.
Tidak ada yang terbuang dari pohon pisang. Buahnya dimakan. Daunnya digunakan. Batangnya memberi manfaat. Akarnya menahan tanah agar tidak terkikis hujan. Ia tumbuh di mana saja, tanpa banyak syarat, tanpa menunggu kondisi sempurna. Dan yang paling penting: sebelum masa hidupnya berakhir, pohon pisang telah lebih dulu menyiapkan tunas baru yang akan melanjutkan kehidupan. Tidak perlu perintah. Tidak perlu pengumuman. Cukup tumbuh, memberi, dan menyiapkan.
Sebagaimana dicatat Ramadhan KH dalam buku Gobel: Pelopor Industri Elektronika Indonesia dengan Falsafah Usaha Pohon Pisang, falsafah ini bukan sekadar metafora yang indah untuk disimpan di bingkai kaca. Ia adalah cara Thayeb Gobel mendefinisikan kepemimpinan: bukan seberapa lama seseorang bertahan di puncak, melainkan seberapa baik ia menyiapkan yang akan datang sesudahnya.
Tujuh puluh tahun setelah langkah-langkah awal itu dimulai, pertanyaannya bukan lagi apakah warisan Thayeb Gobel bertahan. Pertanyaannya adalah: dalam bentuk apa ia terus hidup?
Tunas itu bernama Rachmat Gobel.
Anak kelima Thayeb Mohammad Gobel itu tidak sekadar mewarisi kursi pimpinan, melainkan juga cara berpikir yang diwariskan sang ayah. Komitmen terhadap pembangunan manusia yang sejak awal menjadi fondasi Gobel Group terus diterjemahkan ke dalam inisiatif yang nyata dan terukur.

Pada November 2024, misalnya, Panasonic HVAC Training Center (PHTC) di BBPVP Bekasi diresmikan sebagai pusat pelatihan dan sertifikasi bidang Heating, Ventilating, and Air Conditioning (HVAC) bagi masyarakat umum dan pencari kerja. Langkah ini melanjutkan keyakinan lama: industri tidak cukup hanya menghasilkan produk, ia juga harus melahirkan manusia yang mampu menguasai teknologi yang digunakannya.
Semangat itu tidak berhenti pada generasi pendirinya. Dari Yayasan Pendidikan Matsushita Gobel yang dibangun untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia, hingga kemitraan dengan sekolah-sekolah vokasi yang memberi kesempatan praktik kerja industri bagi siswa teknik audio-video melalui PT Gobel Dharma Nusantara.
Bahkan PT Gobel Sarana Karya lahir bukan semata untuk menyediakan layanan katering, melainkan juga membuka ruang penghidupan bagi para istri karyawan. Dengan cara-cara seperti itulah nilai yang diwariskan Thayeb Gobel terus menemukan bentuk baru sesuai kebutuhan zamannya.
Nilai tidak pernah diwariskan secara otomatis. Ia harus dipilih, setiap hari, oleh mereka yang datang sesudah pendirinya. Bahwa pilihan itu terus dibuat oleh generasi Gobel berikutnya adalah bukti paling nyata bahwa falsafah pohon pisang bukan sekadar metafora, melainkan cara hidup yang dipilih dengan sadar, di setiap simpang jalan antara keuntungan jangka pendek dan pengabdian jangka panjang.
Dari radio transistor yang pertama kali membawa suara ke pelosok kepulauan. Dari layar televisi hitam-putih yang untuk pertama kalinya menampilkan Asian Games kepada jutaan keluarga yang belum pernah menyaksikan dunia dari layar kaca. Dari tiga ribu karyawan yang berdiri di hadapan pemimpin mereka, bukan sebagai bawahan yang menunggu perintah, melainkan sebagai manusia yang diajak bicara, didengar, dan dihargai martabatnya.
Semuanya berakar dari satu sumber yang sama.
Dari jawaban seorang pemuda Gorontalo kepada presidennya, di sebuah ruangan yang mungkin sudah tidak ada lagi, namun percakapannya masih terus bergema. Seperti suara radio yang tak pernah dimatikan.
“Supaya pidato Bapak dapat sampai kepada orang-orang di desa, di tempat yang jauh terpencil, di kaki gunung, di pulau-pulau, meskipun di tempat-tempat tersebut belum ada listrik, Pak.”
Ia tidak sedang berbicara tentang radio transistor. Ia sedang berbicara tentang manusia.
Tentang hak mereka untuk mendengar, untuk mengetahui, untuk merasakan bahwa kemajuan juga milik mereka, bukan hanya milik mereka yang tinggal dekat pusat, yang terhubung listrik, yang namanya ada dalam daftar prioritas pembangunan mana pun.
Tujuh puluh tahun kemudian, gagasan itu masih berdenyut. Dalam cara kerja yang memanusiakan. Dalam industri yang tidak lupa kepada siapa ia sesungguhnya mengabdi. Dalam legasi yang—seperti pohon pisang itu—tidak menunggu dikenang untuk terus memberi.
Sebuah keyakinan yang terbukti: bahwa gagasan dapat melahirkan optimisme, optimisme dapat diwujudkan menjadi karya, karya dapat berkembang menjadi pengabdian, pengabdian berakar menjadi empati, dan empati pada akhirnya menjelma menjadi legasi yang hidup melampaui zamannya.
Pohon pisang tidak meninggalkan nisan. Ia meninggalkan tunas. Dan tunas itu terus tumbuh, bahkan ketika akar asalnya sudah lama menyatu dengan tanah.
Begitu pula dengan apa yang ditinggalkan Thayeb Mohammad Gobel yang di lingkungan keluarganya dikenal dengan panggilan Ebu: bukan sekadar perusahaan yang masih berdiri, melainkan cara pandang yang masih hidup, tentang apa artinya membangun, tentang untuk siapa sebuah industri seharusnya ada, dan tentang bagaimana kemajuan yang sejati diukur bukan dari seberapa tinggi gedung yang berhasil didirikan, melainkan dari seberapa banyak manusia yang berhasil ikut naik bersamanya.
Dan mungkin, di situlah jawaban sesungguhnya atas pertanyaan yang pernah diajukan Soekarno puluhan tahun silam. (***)
Jurnalis/Editor: Djoni Satria





Komentar