RUZKA INDONESIA — Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia (UI) bekerja sama dengan Komoenitas Makara dan Urban Spiritual Indonesia menyelenggarakan kegiatan Majelis Nyala Purnama edisi ke-12, atau tepat 1 tahun penyelenggaraannya, selasar gedung Makara Art Center UI, Depok, Senin (11/05/2026).
Kegiatan yang rutin tiap bulan ini merupakan ruang teduh untuk merayakan keberagaman, serta pelestarian nilai-nilai kebudayaan Indonesia.
Giat menyajikan pertunjukan musik, tari, pembacaan puisi, musikalisasi puisi, orasi budaya dan berakhir dengan meditasi.
Adapun pada kesempatan dalam rangka memperingati Hari Kartini, Hari Pendidikan Nasional, dan juga menyambut Hari Kebangkitan Nasional ini acara mengusung tema: โMenghidupkan Spirit Kartini dalam Pendidikan dan Kebangsaan Kaum Perempuan Era Digitalโ.
Dalam acara ini hadir sejumlah narasumber dan penampil, di antaranya: Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Dra. Hj. Arifatul Choiri Fauzi, M.Si , Wakil Ketua MPR, Dr. Lestari Moerdijat S.S, M.M.
Lalu, Dr. Ngatawi Al Zastrouw, Dr. Rima Agristina, Dr. Turita Indah Setyani, Fitra Manan, Tri Mumpuni, Zera Zetira Putrimawika S.Pd, Hadrah Banjari Assalam, Swara SeadaNya, dan Indonesiana Ayuningtyas.
โKartini adalah sosok pemberani, berani berfikir kritis, berani bersuara, berani memperjuangkan kemanusiaan, ini dilakukan saat masa ketika akses pendidikan sangat terbatas. Kartini memperjuangkan agar pendidikan dapat dirasakan oleh masyarakat Indonesia,” ujar Menteri PPPA, Dra. Hj. Arifatul Choiri Fauzi, M.Si dalam sambutannya.
Ibu Kartini memiliki kemampuan untuk menerjemahkan apa yang ada dalam filosofi Jawa untuk bisa diterapkan dalam komunikasi.
“Kartini juga memiliki kemampuan untuk menerjemahkan bahwa seorang Perempuan itu adalah pusat dan struktur, karena dari Perempuan lah manusia itu lahir, dan dari Perempuan lah pusat tatanan dan sistem itu bekerja,โ tambah Wakil Ketua MPR, Dr. Lestari Moerdijat S.S, M.M.
โKartini memperjuangkan pendidikan perempuan walaupun menderita, namun penderitaannya saat ini berhasil diambil manfaatnya oleh kaum Perempuan yang menemukan Cahaya di masa kini,” tutur Wakil Kepala BPIP Dr. Rima Agristina
Kartini bukan sekedar tokoh emansipasi yang memperjuangkan kesetaraan kaum perempuan, tetapi juga pejuang pendidikan dan kebangsaan.
“Kartini menggunakan jaringan dan kedekatan dengan bangsa Barat untuk negosiasi dalam perjuangan kebangsaan,” jelas Direktur Kebudayaan Universitas Indonesia Dr. Ngatawi Al-Zastrouw
Menghidupkan kembali spirit Kartini di era digital artinya adalah memberdayakan perempuan untuk menguasai teknologi sebagai alat perjuangan intelektual.
Pendidikan berbasis literasi digital saat ini adalah salah satu kunci utama dalam mempersempit kesenjangan gender dan memperkuat peran kebangsaan perempuan.
“Dengan kreativitas dan kecerdasan digital, perempuan Indonesia mampu meneruskan estafet emansipasi demi kemajuan bangsa yang inklusif,” ungkap Ketua Komoenitas Makara Fitra Manan.
Ibu kita Kartini, Putri sejati Indonesia, bukan hanya harum namanya, dijuluki Pendekar bangsa, Pendekar kaumnya, Putri mulia, tetapi juga Putri jauh hari oleh Wage Rudolf Soepratman.
Sebab Kartini memperoleh pencerahan jauh melampaui pemikiran orang kebanyakan pada masa itu. Refleksi spiritualitas Kartini, dengan ungkapan yang populer: โhabis gelap terbitlah teranโ itu berawal dari pembelajaran beliau tentang Islam secara mendalam kepada KH. Saleh Darat.
‘Ungkapan tersebut terinspirasi dari ayat yang amat menyentuh nuraninya โAllah-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahayaโ (Minadh-Dhulumaati ilan Nuur; Al-Baqarah: 257),” tambah Pamomong Urban Spiritual Indonesia Dr. Turita Indah Setyani. (***)
Sumber: Pusinfo Direktorat Kebudayaan UI dan Humas Komoenitas Makara
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com



Komentar