Info Kampus Lingkungan
Beranda ยป Berita ยป Pupuk Hayati Solusi Menciptakan Tanah Sehat Demi Pertanian Berkelanjutan

Pupuk Hayati Solusi Menciptakan Tanah Sehat Demi Pertanian Berkelanjutan

Studi menunjukkan bahwa penggunaan pupuk hayati terhadap komoditas seperti padi, jagung, dan sayuran mampu meningkatkan produksi panen 20-30%. (Foto: Republika/Dok RUZKA INDONESIA)
Studi menunjukkan bahwa penggunaan pupuk hayati terhadap komoditas seperti padi, jagung, dan sayuran mampu meningkatkan produksi panen 20-30%. (Foto: Republika/Dok RUZKA INDONESIA)

RUZKA INDONESIA โ€“ Kerusakan atau degradasi tanah pertanian telah menjadi permasalahan global selama beberapa dekade terakhir. Degradasi tanah tersebut terjadi dalam beberapa bentuk, antara lain kesuburan tanah menurun, polusi, erosi hingga terjadinya penurunan kapasitas tanah untuk menyimpan udara. Adanya degradasi tanah tersebut menjadi tantangan besar dalam pertanian modern. Padahal ketersediaan tanah yang sehat dan subur penting untuk merealisasikan produksi pertanian yang berkelanjutan.

Kerusakan kualitas tanah pertanian tersebut telah disuarakan Guru Besar Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Iswandi Anas Chaniago sejak 2022. Ketika itu Iswandi mengingatkan, sebanyak 70 persen tanah pertanian Indonesia sudah rusak lantaran tingginya penggunaan bahan kimia pertanian secara terus-menerus. Padahal tanah merupakan fondasi bagi industri pertanian yang menopang pertumbuhan tanaman. Tanah yang sehat dalam pertanian sangat vital terutama berkaitan dengan program pemerintahan Prabowo Subianto yakni ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Penelitian Puspitasari (2015) terhadap lahan pertanian di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo menunjukkan, penggunaan pupuk kimia (urea dan TSP) dan pupuk organik (pupuk kotoran ayam) pada lahan yang sudah diolah lebih dari 5 tahun mengakibatkan kandungan bahan organik menurun dari 7,08 persen menjadi 6,88 persen. Sedangkan kandungan pH tanah turun dari 5,97 menjadi 4,50. Penurunan kandungan bahan organik dalam tanah dan pH tanah tersebut mengakibatkan kepadatan populasi cacing tanah menurun dari 1-10 ekor/m2 menjadi 0 ekor/m2.

Adapun lahan yang sudah diolah lebih dari lima tahun memiliki tingkat kerusakan tanah yang lebih parah dibandingkan lahan yang diolah kurang dari lima tahun. Kerusakan tersebut terlihat dari pH tanah yang tergolong rendah (4,50-5,97), rendahnya kandungan bahan organik dalam tanah (6,88-7,08 persen), serta tidak ditemukannya cacing tanah. Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda diperoleh bahwa kegiatan usaha pertanian dengan menggunakan pupuk kimia dan organik secara langsung dan tidak langsung mempengaruhi kepadatan populasi cacing tanah yang dapat mengindikasikan pencemaran tanah.

Salah satu solusi yang efektif untuk memperbaiki kondisi tanah adalah penggunaan pupuk organik yang mampu menambah bahan organik tanah, meningkatkan aktivitas mikroorganisme, dan memperbaiki kondisi fisik tanah. Pemanfaatan mikroorganisme sebagai pupuk hayati dapat menjadi solusi mengatasi kerusakan kualitas tanah pertanian akibat penggunaan pupuk kimia secara berlebihan.
Penggunaan pupuk kimia memang dapat membantu meningkatkan produksi pangan namun bila berlebihan bukan hanya meningkatkan keasaman tanah tapi juga mengakibatkan mikroorganisme berkurang.

Bau! DLHK Depok Angkut 4 Ton Sampah Liar di Limo

Dampak lain, terjadi eutrofikasi perairan, bahkan bisa memengaruhi kesehatan manusia. Untuk itu perlu kesadaran dan komitmen bersama menjaga kualitas tanah pertanian bila ingin membangun pertanian berkelanjutan sekaligus mendukung Pertanian berkelanjutan dan ketahanan pangan nasional yang merupakan program prioritas pemerintah.

Tanah bukan sekadar media pertumbuhan bagi tanaman melainkan sebuah ekosistem yang dihuni berbagai mikroorganisme yang menguraikan bahan organik, menyediakan unsur hara, dan melindungi tanaman dari penyakit. Ketika aktivitas biologis tersebut menurun, fungsi tanah tidak lagi optimal. Pupuk hayati yang mengandung mikroba membantu pertumbuhan tanaman. Pupuk ini tidak hanya menyediakan unsur hara tetapi dapat mengaktifkan kembali kehidupan tanah.

Mikroorganisme seperti bakteri penambat nitrogen dari genus Bradyrhizobium, bakteri pelarut fosfat seperti Bacillus, serta cendawan antagonis seperti Trichoderma membantu tanaman memperoleh nutrisi secara efisien dan alami. Secara ilmiah, mekanisme ini masuk akal. Banyak unsur hara yang tersedia dalam tanah tetapi tidak dapat langsung diserap tanaman. Penggunaan mikroorganisme dapat menghasilkan enzim dan senyawa organik yang membantu melarutkan atau mengubah unsur tersebut menjadi bentuk yang dapat diserap tanaman.

Pengalaman di lapangan membuktikan penggunaan pupuk hayati sebagai bagian dari sistem pemupukan terpadu menunjukkan hasil menjanjikan. Pada budidaya padi, misalnya, penambahan pupuk hayati mampu mengurangi penggunaan pupuk kimia sebesar 20-30 persen dan hasil panen pun tetap bertahan. Pupuk organik yang diperkaya mikroorganisme juga bisa meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk kimia hingga 20-50 persen. Kualitas hasil panen pun meningkat, dapat membangun ketahanan tanaman serta memperbaiki kerusakan tanah.

Tanah yang lebih gembur dan aktif secara biologis memberi harapan bahwa produktivitas dapat dipertahankan dalam jangka panjang, bukan hanya satu atau dua musim tanam. Manfaat lain, penghematan pupuk kimia mengurangi biaya produksi sehingga efisiensi dana pembelian pupuk kimia dapat digunakan untuk kebutuhan lain.

Begini Rencana Tata Lingkungan di Depok, Capping TPA hingga Revitalisasi UPS Disiapkan

Meskipun terdapat beragam manfaat pupuk hayati, namun itu bukan solusi instan. Pasalnya, sebagai makhluk hidup, mikroorganisme membutuhkan special treatment. Misal, kondisi penyimpanan dan aplikasi yang tepat. Tak hanya itu, penggunaan pupuk hayati perlu pemahaman memadai agar memberikan hasil panen optimal. Dalam konteks tersebut dibutuhkan edukasi yang didukung penelitian berkelanjutan. Demikian pula pengawasan mutu produk berbasis pupuk hayati memengaruhi kualitas hasil panen.

Mendukung Pertanian Berkelanjutan

Bakteri penambat nitrogen merupakan bakteri yang mampu memfiksasi nitrogen bebas menjadi amonium atau nitrat, sehingga dapat diserap oleh tanaman. Penggunaan biofertilizer yang mengandung bakteri penambat nitrogen menjadi alternatif pengganti pupuk anorganik yang dapat mendukung tercapainya pertanian berkelanjutan (Sapalina, 2022). Hanya saja bila pemerintah ingin serius menggunakan pupuk hayati, perlu mengubah perspektif, bahwa pengelolaan tanah hanya sekadar memberi makan tanaman menjadi merawat ekosistem tanah.

Perubahan perspektif tersebut penting karena ketika tanah kembali aktif, mikroorganisme bekerja, akar menguat, dan tanaman tumbuh sehat, maka harapan terhadap masa depan pangan Indonesia pun ikut tumbuh.

Dari sisi ekonomi, penggunaan pupuk hayati dapat menekan biaya pupuk (pembelian pupuk kimia) sehingga menghemat biaya sekaligus meningkatkan keuntungan petani. Meski pada awalnya biaya produksi pupuk hayati bisa lebih tinggi daripada langsung membeli pupuk kimia, tetapi dalam jangka panjang bisa memberikan efisiensi secara signifikan.

Atasi Lonjakan Distribusi Barang, Peneliti UPER Raih Pendanaan RIIM KI untuk Kembangkan Kendaraan Otonom Logistik

Pengurangan penggunaan pupuk kimia dan pestisida setidaknya mampu menurunkan biaya input hingga 40%. Artinya, dengan adanya peningkatan hasil panen membuat pendapatan petani meningkat. Dari perhitungan ekonomi Return on Investment (RoI) lebih baik. Manfaat lain, penggunaan pupuk hayati mampu mengurangi risiko gagal panen yang disebabkan penyakit atau kondisi tanah buruk. Padahal petani membutuhkan tanah dan tanaman lebih sehat agar perencanaan produksi lebih stabil dan pasti.

Studi menunjukkan bahwa penggunaan pupuk hayati terhadap komoditas seperti padi, jagung, dan sayuran mampu meningkatkan produksi panen 20-30%. Peningkatan tersebut lantaran penyerapan nutrisi oleh tanaman lebih efisien. Tanaman pun lebih tahan stres. Kualitas hasil panen juga lebih baik. Buah dan sayuran cenderung memiliki ukuran lebih seragam, warna lebih cerah serta memiliki kandungan gizi lebih tinggi sehingga dapat meningkatkan nilai jual tanaman di pasar.

Pengunaan pupuk hayati pada padi mampu meningkatkan jumlah anakan dan berat gabah. Bila digunakan pada tanaman jagung, pupuk hayati dapat memperbaiki pengisian biji dan ketahanan terhadap kekeringan. Sedangkan pada tanamaan sayuran, pupuk hayati bisa meningkatkan ukuran buah dan mengurangi cacat.

Dalam konteks kebutuhan pangan nasional, terutama beras, memang secara data stok beras nasional relatif aman untuk mencukupi kebutuhan masyarakat hingga akhir tahun 2026. Namun, stok pangan harus tetap terjaga sepanjang tahun, bukan hanya hingga akhir tahun. Terlebih populasi penduduk Indonesia sangat besar mencapai 287,198 juta jiwa (data Badan Pusat Statistik per 6 Februari 2026). Artinya, persoalan ketahanan pangan menjadi krusial dan harus diproduksi setiap tahun.

Tidak bijak jika stok pangan (beras) masyarakat mengandalkan ketersediaan beras impor. Padahal potensi produksi beras dalam negeri bisa lebih dikembangkan, salah satunya dengan komitmen menggunakan pupuk hayati.

Untuk membangun ketahanan pangan jangka panjang membutuhkan ketersediaan tanah pertanian berkualitas sehat. Pada titik ini pemanfaatan mikroorganisme sebagai pupuk hayati merupakan solusi alternatif bila kita ingin serius menciptakan lahan pertanian yang sehat. Pemanfaatan pupuk hayati semakin diperlukan petani lantaran setiap musim tanam, biaya pupuk kembali naik, sementara hasil panen belum tentu ikut meningkat. Agar permasalahan tersebut tidak selalu terulang setiap tahun, perlu komitmen pemerintah serta payung hukum penggunaan pupuk hayati dalam industri pertanian nasional. (***)

Penulis: Reni Nurjasmi
Mahasiswa Program Doktor Mikrobiologi FMIPA IPB University

Editor: Ao S Dwiyantho Putra
Email: aodwiyantho@gmail.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Berlaku Nasional, Polres Garut Imbau Masyarakat Manfaatkan Layanan Gratis Contact Center 110

05

Suzuki Carry Minivan 2026, Irit dengan Kegagahan dan Kenyamanan

06

Depok akan Bangun Pabrik Pengelolaan Sampah RDF di TPA Cipayung

07

Warga Dukung Pembangunan Jogging Track Diatas Air Situ 7 Muara Depok, Benarkah Itu?

Sorotan






Kolom