Dalam bukunya, Qonita mengulas secara mendalam struktur sistem politik Indonesia, peran partai politik dalam proses kaderisasi, hingga tantangan kultural yang masih dihadapi perempuan. (Foto: Dok RUZKA INDONESIA)
RUZKA INDONESIA — Kehadiran perempuan di ruang-ruang kekuasaan tidak boleh berhenti pada pemenuhan kuota semata, tetapi harus disertai kapasitas, kompetensi, serta integritas yang kuat.
Hal tersebut diungkapkan panjang lebar terkait peran perempuan dalam sistem politik Indonesia oleh Ketua Badan Kehormatan (BK) DPRD Kota Depok, Qonita Lutfiyah dalam buku karyanya berjudul Perempuan dalam Sistem Politik Indonesia.
Buku yang baru saja diluncurkan tersebut diharapakan akan menjadi kontribusi nyata dalam mendorong peningkatan kapasitas dan kesadaran politik perempuan.
“Buku tersebut lahir dari kegelisahan saya melihat keterwakilan perempuan dalam politik yang dinilai belum sepenuhnya substantif,” ujar Qonita dalam keterangan yang diterima, Ahad (01/03/2026).
Menurut legislator dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), kehadiran perempuan di ruang-ruang kekuasaan tidak boleh berhenti pada pemenuhan kuota semata, tetapi harus disertai kapasitas, kompetensi, serta integritas yang kuat.
โPerempuan harus memahami sistem politik secara komprehensif, mulai dari proses legislasi, fungsi pengawasan, hingga etika jabatan. Dengan pemahaman itu, perempuan tidak hanya hadir, tetapi mampu menentukan arah kebijakan,โ jelas Qonita.
Dalam bukunya, Qonita mengulas secara mendalam struktur sistem politik Indonesia, peran partai politik dalam proses kaderisasi, hingga tantangan kultural yang masih dihadapi perempuan.
Dia juga menyoroti persoalan stereotip gender, keterbatasan akses pendidikan politik, serta minimnya ruang pengembangan kapasitas yang kerap menjadi hambatan.
“Liiterasi politik merupakan fondasi utama lahirnya kepemimpinan perempuan yang berintegritas,” terang Qonita.
Tentu, Qonita meyakini bahwa perempuan memiliki keunggulan dalam pendekatan yang lebih humanis, dialogis, dan solutif.
“Ketika kapasitas intelektual berpadu dengan nilai moral, kepemimpinan perempuan dinilai mampu melahirkan kebijakan yang lebih responsif, terutama bagi kelompok rentan,” tuturmya.
Tak hanya menempatkan perempuan sebagai calon pemimpin, Qonita Lutfiyah yang juga dikenal sebagai anak seorang tokoh Prof.KH. Syukron Ma’mun ini menegaskan peran strategis perempuan sebagai pemilih.
“Kualitas demokrasi sangat ditentukan oleh kualitas pemilihnya karena itu, peningkatan literasi politik menjadi agenda penting dalam memperkuat demokrasi yang sehat dan bermartabat,” tegasnya.
Politik itu sejatinya adalah ruang pengabdian bukan sekedar perembutan kekuasaan. Dan, perempuan harus hadir dalam pengabdian ilmu untuk kehidupan bangsa dan negara.
” Perempuan harus hadir dengan ilmu, integritas, dan nurani. Jika literasi tumbuh dan kesadaran terbangun, maka lahir kepemimpinan yang cerdas sekaligus bermoral,” pungkas Qonita. (***)
Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com


Komentar