RUZKA INDONESIA โ Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh menyatakan, wacana koalisi permanen yang digulirkan Partai Golkar dapat dipertimbangkan sepanjang memiliki tujuan besar untuk kemajuan bangsa.
Keinginan Partai Golkar tersebut disoroti Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul Jakarta M Jamiluddin Ritonga. Menurutnya, bagi Surya Paloh, tujuan Golkar mendorong membentuk koalisi permanen tampaknya belum jelas. Hal itu wajar karena selama ini Golkar memang belum pernah menjelaskan secara utuh tujuan membentuk koalisi permanen.
“Wajar bila Surya Paloh meminta kepada Golkar untuk menjelaskan tujuan yang sebenarnya. Sebab, Surya Paloh tak mau menyetujui koalisi permanen layaknya membeli kucing dalam karung. Itu artinya, Surya Paloh tak mau masuk dalam jebakan Batman permainan Golkar. Surya Paloh sebagai politisi kawakan tampaknya dapat membaca arah Golkar mendorong koalisi permanen segera terbentuk,” ungkap Jamil kepada RUZKA INDONESIA di Jakarta, Senin (23/02/2026) pagi.
Jamil juga melihat Surya Paloh tampaknya tak mau menunjukkan prasangka negatif terhadap usulan Golkar tersebut. Secara lebih bijak, Surya Paloh meminta Golkar memperjelas tujuan membentuk koalisi permanen.
Menurut Jamil, kejelasan tujuan itu diperlukan agar nantinya partai yang masuk koalisi permanen tidak salah arah. Setidaknya partai yang bergabung dalam koalisi permanen tidak terjebak dalam permainan dan perangkap Golkar.
“Tidak tertutup kemungkinan Golkar ngotot menginginkan koalisi permanen mempunyai motif tersembunyi. Bisa saja agendanya untuk mengamankan Gibran Rakabuming Raka tetap menjadi pendamping Prabowo Subianto pada Pilpres 2029. Kemungkinan itu bisa saja terjadi karena Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia merupakan loyalis berat Joko Widodo. Bahkan Bahlil sangat memuja Jokowi dengan menyebutnya “Raja Jawa”,” tandas Jamil.
Di lain pihak, Jokowi dengan tegas menyatakan Prabowo-Gibran dua periode. Untuk mengamankan titah “Raja Jawa” ini, bisa saja Bahlil melalui Golkar mendorong pembentukan koalisi permanen.
“Melalui koalisi permanen, bisa saja Golkar menginginkan agar partai yang bergabung di dalamnya nantinya masuk perangkap mengusung Prabowo-Gibran. Dengan bergabung ke koalisi permanen, setiap partai sudah tidak punya pilihan selain memilih pasangan Prabowo-Gibran. Kalau itu motif tersembunyi Golkar mendorong koalisi permanen, maka partai yang masuk ke koalisi berarti masuk jebakan Batman. Bisa jadi, hal ini yang dikhawatirkan Surya Paloh sehingga meminta kejelasan tujuan membentuk koalisi permanen,” ungkap mantan Dekan Fikom IISIP Jakarta ini.
Hal itu semakin logis, karena hingga saat ini Golkar belum menyuarakan capres dan cawapresnya pada Pilpres 2029. Karena itu, kehawatiran membeli kucing dalam karung dalam hal koalisi permanen semakin logis.
“Jadi, agar tidak ada sakwasangka dari partai lain, Golkar harus menjelaskan tujuan besar membentuk koalisi permanen secara transparan. Dengan begitu, tidak ada dusta politik di antara partai koalisi pendukung Prabowo. Hal ini akan menumbuhkan semakin percaya di antara partai koalisi pemerintahan Prabowo,” pungkas Jamil. (***)
Editor: Ao S Dwiyantho Putra
Email: aodwiyantho@gmail.com


Komentar