RUZKA INDONESIA — Saya sungguh tidak menyangka perjalanan dan pencapaian Yusuf Susilo Hartono bisa sampai sejauh ini. Dia semakin ‘ngedan’ – menggila – dalam kiprah seninya.
Kami rekan seperjalanan, kami sama sama reporter era 1980-โ90an, sama sama giat liputan lapangan di TIM, Balai Budaya, Mitra Budaya, Bentara Budaya, Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) menyambangi berbagai galeri seni di Jakarta, bertemu dengan banyak seniman dan pejabat, selain liputan umum tentang sosial politik, pentas konser dan semacamnya.
Sebagai wartawan dia bekerja untuk โSurabaya Postโ dan saya membuat liputan hiburan di โPos Kotaโ di Jakarta. Dia berkantor di Menteng saya di Jalan Gajahmada Jakarta.
Kami karib. Seiiring sejalan. Senasib sepenanggungan. Seia sekata dalam banyak hal.
Meski karib, kami punya perjalanan berbeda. Sejak sama sama meliput, dia melakukan hal lain, melukis sketsa.
Alih alih menyimak pidato membosankan dan memotret pejabat, Yusuf melukis podiumnya, gerak tangan pejabatnya dan suasana sekitar.
Seperti wartawan era abad 18, sebelum fotografi ditemukan, dia merekam suasana wilayah liputannya – dalam goresan sketsa.
Sketsais Ternama
Saya suka sketsa. Saya menyimak karya Henk Ngantung dan Ipe Maโruf, sketsais ternama, era 1050-an-1970an. Dan dari Jusuf ada kesamaannya.
Garisnya tidak terlalu detail, tapi menjelaskan isi, nafas, nada, dan suasana yang diabadikan olehnya.
Saya menjadi saksi ketika Yusuf membawa karyanya ke Maestro Affandi di TIM, seingat saya, di ujung 1980an, dan dia mendapatkan fatwa yang kemudian menjadi kredonya berkarya: “Wis wayahe ngedan!” kata Pak Affandi lirih, setelah mencermati karya wartawan peliput seni ini.
“Sudah saatnya menggila” katanya. Dan Jusuf manggut manggut takzim.
YSH – Yusuf Susilo Hartono kemudian โmenggilaโ, mengikuti anjuran Sang Maestro, dengan produktif berkarya, meski terus meliput bersama saya – dan kami – kawan kawan peliput seni, kebudayaan dan hiburan.
Sebegitu produktifnya sehingga dia memberanikan diri pameran tunggal dan berhasil. Pameran demi pameran dia jalani, penghargaan demi penghargaan dia raih.
Meski โmenggilaโ di dunia seni sketsa, dia tak meninggalkan karir jurnalistiknya. Setelah โSurabaya Postโ dia naik kelas menjadi Pemimpin Redaksi di majalah seni bergengsi โVisual Artโ. Majalah bulanan dengan kertas lux, membahas senirupa, sesuai bidangnya.
Pelukis Juga Menggila
Pencapaiannya sebagai pelukis juga โmenggilaโ. Karyanya tampil di Pameran Besar Seni Rupa Indonรฉsia 2008, masuk Manifesto di Geleri Nasional Indonรฉsia, Pameran Warna-Warni Jakarta, di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki.
Pendeknya, masuk jajaran pelukis prestisius level nasional. Pada Kompetisi Seni Lukis Philip Morris Indonรฉsia Art Awards, dia masuk jajaran Finalis.
Sementara itu, dunia literasi tak ditinggalkannya. Dia juga banyak menulis puisi berbahasa Jawa (Geguritan) dan di sana pun meraih penghargaan Sastra Rancagรฉ 2012 untuk kumpulan kartya Geguritannya “Ombak Wengi” di Semarang. Pencapaian yang paripurna.
Pekan lalu, melalui WA, wartawan dan seniman kelahiran Bojonegoro, 18 Maret 1958 ini, kembali mengundang saya menghadiri pameran tungal.
Kali ini pameran tunggalnya yang ke-14 di Cemara 6 Galeri-Toeti Heraty Museum, Menteng, di Jalam HOS Tjokroaminoto, Jakarta Pusat.
Sebanyak 45 lukisan, sketsa, ilustrasi, dan gambar dari beragam medium serta tahun dipamerkan dalam satu rangkaian.
Pameran diresmikan oleh Maya Saraswati Rizano, profesional komunikasi korporat dan pecinta seni.
Muara dari Perenungan Batin dan Perjalanan Spiritual Seorang YSH
Dr. Citra Smara Dewi, kurator pameran, menyebut pameran tunggal YSH ke 14 ini bukan sekadar sublimasi visual atas dinamika ketubuhan dan keurbanan.
Melainkan muara dari perenungan batin dan perjalanan spiritual seorang YSH.
โMelukis dan menulis bagi YSH, yang juga dikenal sebagai wartawan senior, telah menyatu menjadi satu tarikan napas kontemplatif untuk mengendapkan nilai-nilai moralitas dan kebajikan,โ ujar Dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu.
Dari 45 lukisan akrilik itu, dibuat selama 24 tahun sejak 2002 hingga 2024. Acara itu dilabeli โnegosiasi tubuh, urban, tradisi, warisan, dan gaya hidupโ.
Citra Smara Dewi, anggota Tim Kurator Galeri Nasional Indonesia itu, mengatakan, melalui pertaruhan estetis dan etis dalam pameran Negosiasi Tubuh Urban ini, YSH mengajak publik untuk memandangi cermin sosial perkotaan kita sendiri.
Saya hanya menyimak samar samar pidato sang kurator, lantaran sibuk menyalami pengunjung, para sahabat lama, jurnalis senior rekan sepeliputan yang hadir.
Ada Burham Abe ‘Male Magazine’, FX Mulyadi, Ilham Khori dan Arya Gunawan ‘Kompas’, Bambang Bujono ‘Tempo”, John Sinyal โSuara Pembaruanโ, Indah majalah โDewiโ, dll – selain teman teman gaul di masa lalu.
Seniman pelukis Ireng Halimun dan para perupa komunitas Pasar Baru juga nampak di tengah hadirin.
Tanda Apresiasi
Galeri Cemara lantai atas penuh sesak, Jumat (09/10/2026) sore itu. Tanda apresiasi melimpah pada Jusuf Susilo Hartono. Pembukaan pameran dipandu jurnalis โEditorโ dan penyiar Delta FM yang bersuara merdu, Rita Sri Hastuti.
Pameran terbuka untuk umum dan gratis. Sejumlah program publik juga disiapkan selama pameran berlangsung.
Berupa diskusi dengan pembicara Citra Smara Dewi dan Dhianita Kusuma Pertiwi mengangkat tema Kedaulatan Tubuh dan Budaya Urban, pada Jumat (14/10/2026) dengan moderator Hilmi Faiq yang merupakan jurnalis atau seniman.
Sebelum ini, saya diundang juga di pameran tunggalnya di Museum Nasional atau Museum Gajah, Jakarta 9-13 November 2022 lalu. Saya hadir bersama almarhum pelukis Hardi bertajuk “Among Jiwo’ itu. Saat itu ia memperingati 40 tahun berkarya, yang digelar Jakarta.
Pemandangan lain dari pameran, selalu ada yang cantik hadir di pembukaannya. Di Gedung gedung CSIS Tanah Abang, saya dipertemukan lagi dengan model dan bintang film Indah Gita Cahyani.
Di Museum Gajah Jakarta saya ketemu Putri Indonesia Indira Soediro, kemarin saya jumpa lagi dengan Neno Warisman, penyanyi dan aktivis yang kini jadi staf Ahli Menteri Kebudayaan.
Saya tidak sempat pamit ketika pulang dari Galeri Cemara, karena Jusuf masih dikerubungi fans. Tapi saya mengirim foto kebersamaan kami di WA.
“Matur Nuwun, ” tulisnya di WA. “Saya nunggu fatwamu tentang karyaku, ” katanya lagi.
Wah, edan iki! He..he..he.. (***)
Penulis: Dimas Supriyanto
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com



Komentar