Galeri Kolom
Beranda ยป Berita ยป Yusuf Susilo Hartono Mengendap di Galeri Cemara

Yusuf Susilo Hartono Mengendap di Galeri Cemara

Penulis Dimas Supriyanto (kiri) dan Yusuf Susilo Hartono (kanan). (Foto: Dok RUZKA INDONESIA)

RUZKA INDONESIA — Saya sungguh tidak menyangka perjalanan dan pencapaian Yusuf Susilo Hartono bisa sampai sejauh ini. Dia semakin ‘ngedan’ – menggila – dalam kiprah seninya.

Kami rekan seperjalanan, kami sama sama reporter era 1980-โ€˜90an, sama sama giat liputan lapangan di TIM, Balai Budaya, Mitra Budaya, Bentara Budaya, Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) menyambangi berbagai galeri seni di Jakarta, bertemu dengan banyak seniman dan pejabat, selain liputan umum tentang sosial politik, pentas konser dan semacamnya.

Sebagai wartawan dia bekerja untuk โ€˜Surabaya Postโ€™ dan saya membuat liputan hiburan di โ€˜Pos Kotaโ€™ di Jakarta. Dia berkantor di Menteng saya di Jalan Gajahmada Jakarta.

Kami karib. Seiiring sejalan. Senasib sepenanggungan. Seia sekata dalam banyak hal.

Meski karib, kami punya perjalanan berbeda. Sejak sama sama meliput, dia melakukan hal lain, melukis sketsa.

Harmoni Angklung PWI Depok 2026 Berakhir Sukses, Kenanga Angklung Tangsel Juara I

Alih alih menyimak pidato membosankan dan memotret pejabat, Yusuf melukis podiumnya, gerak tangan pejabatnya dan suasana sekitar.

Seperti wartawan era abad 18, sebelum fotografi ditemukan, dia merekam suasana wilayah liputannya – dalam goresan sketsa.

Sketsais Ternama

Saya suka sketsa. Saya menyimak karya Henk Ngantung dan Ipe Maโ€™ruf, sketsais ternama, era 1050-an-1970an. Dan dari Jusuf ada kesamaannya.

Garisnya tidak terlalu detail, tapi menjelaskan isi, nafas, nada, dan suasana yang diabadikan olehnya.

Saya menjadi saksi ketika Yusuf membawa karyanya ke Maestro Affandi di TIM, seingat saya, di ujung 1980an, dan dia mendapatkan fatwa yang kemudian menjadi kredonya berkarya: “Wis wayahe ngedan!” kata Pak Affandi lirih, setelah mencermati karya wartawan peliput seni ini.

Catatan Cak AT: Hadiah Bibit Korupsi

“Sudah saatnya menggila” katanya. Dan Jusuf manggut manggut takzim.

YSH – Yusuf Susilo Hartono kemudian โ€˜menggilaโ€™, mengikuti anjuran Sang Maestro, dengan produktif berkarya, meski terus meliput bersama saya – dan kami – kawan kawan peliput seni, kebudayaan dan hiburan.

Sebegitu produktifnya sehingga dia memberanikan diri pameran tunggal dan berhasil. Pameran demi pameran dia jalani, penghargaan demi penghargaan dia raih.

Meski โ€˜menggilaโ€™ di dunia seni sketsa, dia tak meninggalkan karir jurnalistiknya. Setelah โ€˜Surabaya Postโ€™ dia naik kelas menjadi Pemimpin Redaksi di majalah seni bergengsi โ€˜Visual Artโ€™. Majalah bulanan dengan kertas lux, membahas senirupa, sesuai bidangnya.

Pelukis Juga Menggila

Pencapaiannya sebagai pelukis juga โ€˜menggilaโ€™. Karyanya tampil di Pameran Besar Seni Rupa Indonรฉsia 2008, masuk Manifesto di Geleri Nasional Indonรฉsia, Pameran Warna-Warni Jakarta, di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki.

Grebek Serentak Kampung Ambon-Boncos, Aktivis Puji Ketegasan Kapolri

Pendeknya, masuk jajaran pelukis prestisius level nasional. Pada Kompetisi Seni Lukis Philip Morris Indonรฉsia Art Awards, dia masuk jajaran Finalis.

Sementara itu, dunia literasi tak ditinggalkannya. Dia juga banyak menulis puisi berbahasa Jawa (Geguritan) dan di sana pun meraih penghargaan Sastra Rancagรฉ 2012 untuk kumpulan kartya Geguritannya “Ombak Wengi” di Semarang. Pencapaian yang paripurna.

Pekan lalu, melalui WA, wartawan dan seniman kelahiran Bojonegoro, 18 Maret 1958 ini, kembali mengundang saya menghadiri pameran tungal.

Kali ini pameran tunggalnya yang ke-14 di Cemara 6 Galeri-Toeti Heraty Museum, Menteng, di Jalam HOS Tjokroaminoto, Jakarta Pusat.

Sebanyak 45 lukisan, sketsa, ilustrasi, dan gambar dari beragam medium serta tahun dipamerkan dalam satu rangkaian.

Pameran diresmikan oleh Maya Saraswati Rizano, profesional komunikasi korporat dan pecinta seni.

Muara dari Perenungan Batin dan Perjalanan Spiritual Seorang YSH

Dr. Citra Smara Dewi, kurator pameran, menyebut pameran tunggal YSH ke 14 ini bukan sekadar sublimasi visual atas dinamika ketubuhan dan keurbanan.

Melainkan muara dari perenungan batin dan perjalanan spiritual seorang YSH.

โ€œMelukis dan menulis bagi YSH, yang juga dikenal sebagai wartawan senior, telah menyatu menjadi satu tarikan napas kontemplatif untuk mengendapkan nilai-nilai moralitas dan kebajikan,โ€ ujar Dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu.

Dari 45 lukisan akrilik itu, dibuat selama 24 tahun sejak 2002 hingga 2024. Acara itu dilabeli โ€œnegosiasi tubuh, urban, tradisi, warisan, dan gaya hidupโ€.

Citra Smara Dewi, anggota Tim Kurator Galeri Nasional Indonesia itu, mengatakan, melalui pertaruhan estetis dan etis dalam pameran Negosiasi Tubuh Urban ini, YSH mengajak publik untuk memandangi cermin sosial perkotaan kita sendiri.

Saya hanya menyimak samar samar pidato sang kurator, lantaran sibuk menyalami pengunjung, para sahabat lama, jurnalis senior rekan sepeliputan yang hadir.

Ada Burham Abe ‘Male Magazine’, FX Mulyadi, Ilham Khori dan Arya Gunawan ‘Kompas’, Bambang Bujono ‘Tempo”, John Sinyal โ€˜Suara Pembaruanโ€™, Indah majalah โ€˜Dewiโ€™, dll – selain teman teman gaul di masa lalu.

Seniman pelukis Ireng Halimun dan para perupa komunitas Pasar Baru juga nampak di tengah hadirin.

Tanda Apresiasi

Galeri Cemara lantai atas penuh sesak, Jumat (09/10/2026) sore itu. Tanda apresiasi melimpah pada Jusuf Susilo Hartono. Pembukaan pameran dipandu jurnalis โ€˜Editorโ€™ dan penyiar Delta FM yang bersuara merdu, Rita Sri Hastuti.

Pameran terbuka untuk umum dan gratis. Sejumlah program publik juga disiapkan selama pameran berlangsung.

Berupa diskusi dengan pembicara Citra Smara Dewi dan Dhianita Kusuma Pertiwi mengangkat tema Kedaulatan Tubuh dan Budaya Urban, pada Jumat (14/10/2026) dengan moderator Hilmi Faiq yang merupakan jurnalis atau seniman.

Sebelum ini, saya diundang juga di pameran tunggalnya di Museum Nasional atau Museum Gajah, Jakarta 9-13 November 2022 lalu. Saya hadir bersama almarhum pelukis Hardi bertajuk “Among Jiwo’ itu. Saat itu ia memperingati 40 tahun berkarya, yang digelar Jakarta.

Pemandangan lain dari pameran, selalu ada yang cantik hadir di pembukaannya. Di Gedung gedung CSIS Tanah Abang, saya dipertemukan lagi dengan model dan bintang film Indah Gita Cahyani.

Di Museum Gajah Jakarta saya ketemu Putri Indonesia Indira Soediro, kemarin saya jumpa lagi dengan Neno Warisman, penyanyi dan aktivis yang kini jadi staf Ahli Menteri Kebudayaan.

Saya tidak sempat pamit ketika pulang dari Galeri Cemara, karena Jusuf masih dikerubungi fans. Tapi saya mengirim foto kebersamaan kami di WA.

“Matur Nuwun, ” tulisnya di WA. “Saya nunggu fatwamu tentang karyaku, ” katanya lagi.

Wah, edan iki! He..he..he.. (***)

Penulis: Dimas Supriyanto
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

05

Galeri Indonesia Kaya, Gelar Konser Kidung Natal Indonesia, Semangat Inklusivitas Berjalan Beriringan dalam Harmoni Musik Keroncong

06

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Primaya Hospital Bekasi Barat Luncurkan Wellness Center

07

Komunitas Bakul Budaya Meriahkan Pembukaan Pameran Arsip Bagong Kussudiardja

Sorotan



Yogi Kurniawan, dari Suporter Jadi CEO Klub




Kolom