RUZKA INDONESIA — “Kerja sama global membuka ruang pembelajaran bersama dalam pengelolaan perguruan tinggi.”
Pesan tersebut disampaikan Rektor UI, Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., IPU., saat membuka Akademi Kepemimpinan Pendidikan Tinggi (AKPT) 2026 Tahap IV di Universitas Indonesia (UI).
Menurutnya, internasionalisasi krusial dalam memperkuat kapasitas institusi sekaligus meningkatkan kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab berbagai tantangan global.
Rektor UI menegaskan bahwa internasionalisasi perlu berjalan seiring dengan pengembangan kampus yang menjunjung prinsip berkelanjutan.
Ia mencontohkan UI GreenMetric yang diinisiasi UI dan kini diikuti 1.745 universitas dari 105 negara sebagai salah satu bentuk kontribusi Indonesia dalam percakapan global mengenai kampus yang berkelanjutan.
“Perguruan tinggi tanah air perlu aktif saling berbagi praktik baik mengenai gagasan yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan institusi,” pungkas Prof. Heri, mengapresiasi pentingnya pelaksanaan AKPT Tahap IV.
Usung Tema Global Engagement & Future University
Mengusung tema Global Engagement & Future University, AKPT Tahap IV yang berlangsung di Science Techno Park (STP UI) pada 22 dan 23 Oktober 2026 menjadikan internasionalisasi sebagai salah satu fokus utama pembahasan.
Forum ini mempertemukan para pimpinan perguruan tinggi dari berbagai wilayah di Indonesia untuk mendiskusikan penguatan kemitraan global, peningkatan mutu pendidikan tinggi, pengembangan tata kelola universitas masa depan, serta berbagai strategi guna meningkatkan daya saing global perguruan tinggi Indonesia.
AKPT kali ini juga menghadirkan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) RI, Prof. Stella Christie, A.B., Ph.D.
Ia menekankan pentingnya menentukan prioritas dalam pengembangan perguruan tinggi, khususnya dalam menyeimbangkan kualitas, keterjangkauan, dan kuantitas pendidikan.
“Setiap perguruan tinggi memiliki kondisi, tantangan, dan tujuan pengembangan yang berbeda. Karena itu, pemimpin perlu memahami keadaan institusinya sebelum merumuskan strategi,” jelasnya.
Senada dengan itu, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek, Prof. Dr. Khairul Munadi, S.T., M.Eng., menegaskan bahwa internasionalisasi tidak boleh berhenti pada visibilitas atau pengakuan semata, melainkan harus menghasilkan kontribusi dan dampak nyata.
Pentingnya Membangun Perguruan Tinggi
Ia juga menyoroti pentingnya membangun perguruan tinggi yang adaptif dan didukung kepemimpinan yang mampu menggerakkan perubahan di tengah dinamika geopolitik global.
Untuk memperkaya pembahasan, AKPT Tahap IV menghadirkan sejumlah pakar dari kalangan pemerintah dan akademisi, antara lain Dirgayuza Setiawan, B.A., M.Sc., Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M.Met., Prof. Dr. Ir. Riri Fitri Sari, M.M., M.Sc., Prof. Chan Basaruddin, Ph.D., dan Prof. Dr. Mukhamad Najib, S.TP., M.Si.
Melalui pemaparan “Globally Connected, Nationally Impactful,” Dirgayuza Setiawan menekankan pentingnya pemahaman geopolitik dalam menghadapi dinamika global yang semakin kompleks.
Menurutnya, perguruan tinggi perlu membekali mahasiswa dengan kemampuan membaca keterkaitan antara politik, ekonomi, teknologi, dan kepentingan nasional agar mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan global.
Sementara itu, dalam diskusi “Membangun Strategi Internasionalisasi Perguruan Tinggi Indonesia yang Berdampak dan Berdaya Saing Global”, Prof. Anis mengajak para peserta yang terdiri atas berbagai rektor perguruan tinggi untuk mendiskusikan bagaimana internasionalisasi dapat mengakselerasi mutu pendidikan, produktivitas riset, inovasi, dan daya saing lulusan.
Menurutnya, internasionalisasi tidak boleh diukur dari banyaknya aktivitas, tetapi dari manfaat yang dihasilkan bagi institusi dan masyarakat.
Rekognisi Global
Pada sesi kelas gabungan, Prof. Riri menekankan bahwa rekognisi global perlu dibangun dari keunggulan nyata yang dimiliki perguruan tinggi serta dapat dibuktikan manfaatnya bagi masyarakat.
Sementara itu, Prof. Chan Basaruddin membahas berbagai level internasionalisasi menuju reputasi global, sedangkan Prof. Mukhamad Najib memfasilitasi diskusi interaktif mengenai penguatan internasionalisasi akademik dan kemitraan global.
Secara keseluruhan, diskusi yang berkembang dalam AKPT Tahap IV menegaskan bahwa internasionalisasi perguruan tinggi perlu bergeser dari orientasi pengakuan menuju kontribusi nyata.
Internasionalisasi harus berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan, riset, inovasi, dan daya saing lulusan.
Pada saat yang sama, perguruan tinggi perlu memahami dinamika geopolitik global, membangun keunggulan yang relevan dan berkelanjutan, serta memastikan bahwa seluruh upaya global engagement tetap berakar pada kebutuhan nasional dan pembangunan Indonesia.
Dengan terselenggaranya AKPT Tahap IV, UI menjadi ruang perjumpaan para pemimpin perguruan tinggi untuk berbagi praktik baik, bertukar pengalaman, dan merumuskan strategi internasionalisasi yang relevan dengan tantangan masa depan.
Forum ini diharapkan dapat mempercepat lahirnya perguruan tinggi Indonesia yang tidak hanya kompetitif di tingkat global, tetapi juga mampu berkontribusi nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, dan pembangunan bangsa.
(***)
Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com



Komentar