RUZKA INDONESIA — Siapa sangka, di sebuah padepokan domba di Kabupaten Majalengka, pengunjung bisa menemukan domba-domba unggulan yang menyandang nama tokoh dunia hingga filsuf ternama.
Mulai dari Malcolm X, Nelson Mandela, Che Guevara, Rocky Gerung, hingga nama-nama yang kental dengan budaya Sunda seperti Saktinata, Manikmaya, Dipalaksana, dan Batulawa.
Domba-domba tersebut merupakan koleksi milik H. Ateng Sutisna, Anggota DPR RI dari Fraksi PKS yang bertugas di Komisi XII.
Puluhan domba unggulan itu terpelihara di Padepokan Domba Tangkas Condra Wisesa yang berada di Selagedang, Kabupaten Majalengka.
Tak hanya menjadi tempat pembibitan dan pelestarian Domba Garut, padepokan tersebut juga milik desain layaknya sebuah galeri yang memadukan unsur peternakan, seni, budaya, dan sejarah.
Menurut Ateng, penamaan domba-domba tersebut bukan sekadar untuk menarik perhatian.
Ia ingin menghadirkan identitas sekaligus memperkuat budaya pencatatan silsilah atau trah domba Garut yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat Jawa Barat.
“Kita ingin mengangkat kearifan lokal. Karena di Jawa Barat ini antara ternak dan pertanian dari dulu sampai sekarang tidak pernah terpisahkan dari seni dan budaya,” ujar Ateng saat menjelaskan konsep yang dikembangkan di padepokannya.
Tradisi Masyarakat Sunda
Ia menuturkan, dalam tradisi masyarakat Sunda terdapat berbagai ritual dan istilah budaya yang berkaitan dengan kehidupan agraris, mulai dari pertanian hingga peternakan.
Kekayaan budaya tersebut, menurutnya, perlu terus dikenalkan kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan zaman.
“Di masyarakat kita ada banyak istilah dan tradisi yang berkaitan dengan pertanian maupun peternakan. Ada kawin batu, kawin cai dan berbagai tradisi lainnya. Itu menunjukkan bahwa sektor ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga bagian dari kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat,” jelasnya.
Lebih jauh, Ateng menjelaskan bahwa salah satu tujuan utama pendirian padepokan tersebut adalah memperjelas rekam jejak genetika atau silsilah Domba Garut.
Melalui sistem pencatatan yang lebih tertata, setiap domba dapat tertelusuri asal-usulnya, mulai dari garis keturunan pejantan, indukan, hingga prestasi yang pernah teraih dalam berbagai kontes atau ketangkasan domba.
“Kita ingin memperjelas silsilah domba. Jadi orang tahu domba ini trahnya dari mana, dulu jawaranya siapa, bagaimana rekam jejak bapaknya, ibunya. Itu yang ingin kita budayakan supaya menjadi acuan dalam pengembangan bibit,” jelasnya.
Keunikan padepokan tersebut tidak berhenti pada penamaan domba dan pencatatan silsilah. Ateng bahkan menyiapkan fasilitas khusus berupa kamar pengantin untuk domba-domba unggulan yang akan dikawinkan.
Ruang tersebut memiliki nama Jatukrami Mepende Peler (Bridal Room). Keberadaannya menjadi bagian dari konsep besar yang ingin terbangun, yakni menggabungkan proses pembibitan modern dengan sentuhan budaya Sunda.
Tentukan Garis Keturunan Domba
Menurut Ateng, kamar pengantin tersebut terbuat untuk mendukung proses reproduksi sekaligus menjaga ketertelusuran garis keturunan domba secara lebih profesional.
“Makanya di sini ada kamar pengantin domba yang kami beri nama Jatukrami Mepende Peler atau Bridal Room. Ini bagian dari upaya membangun budaya peternakan yang tertib, terdata, sekaligus tetap dekat dengan nilai-nilai budaya Sunda,” ujarnya.
Menariknya, Ateng juga mengembangkan konsep unik yang terinspirasi dari tradisi pernikahan Sunda. Dalam sejumlah prosesi simbolik yang ada dalam padepokan, terdapat pembalikan peran antara domba jantan dan betina.
“Kalau dalam budaya manusia ada pengantin laki-laki yang datang, di sini justru kita balik. Yang dipapag itu perempuannya, yang membawa seserahan juga perempuannya, bahkan yang membayar mahar pun perempuannya,” ujarnya sambil tersenyum.
Konsep tersebut, kata Ateng, sengaja membuatnya sebagai bagian dari edukasi sekaligus hiburan bagi pengunjung yang datang ke padepokan.
Dengan pendekatan budaya yang terkemas secara kreatif, ia berharap masyarakat semakin tertarik mengenal Domba Garut sebagai salah satu warisan khas Jawa Barat.
Keberadaan puluhan domba dengan nama-nama tokoh dunia dan budaya lokal itu pun menjadi daya tarik tersendiri. Selain menikmati koleksi domba unggulan, pengunjung juga dapat memahami sejarah, silsilah, serta nilai-nilai budaya yang melekat dalam tradisi peternakan Sunda.
Bagi Ateng, Domba Garut bukan sekadar hewan ternak. Lebih dari itu, ia merupakan bagian dari identitas budaya yang layak terjaga, dikembangkan, dan dikenalkan kepada masyarakat luas, termasuk generasi muda, Sabtu (30/5/2026). (***)
Jurnalis: Eko Widiantoro
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com




Komentar