Apa itu Bahaya Aquaplaning Bagi Pengendara Mobil, Ini Tanda-tanda dan Penyebabnya

RUZKA-REPUBLIKA NETWORK -- Pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi mobil untuk tetap memperhatikan aspek keselamatan berkendaraan, terutama saat melintasi jalanan yang basah akibat hujan yang masih kerap turun di sejumlah wilayah.
Salah satu potensi bahaya yang patut diwaspadai pengendara adalah aquaplaning, yaitu kondisi ketika ban kendaraan kehilangan traksi akibat melintas di atas genangan air, sehingga kendaraan bisa tergelincir dan sulit dikendalikan,.
Genangan air yang sering kali muncul akibat cuaca basah dan hujan dapat menciptakan kondisi jalan yang berbahaya, meningkatkan risiko terjadinya aquaplaning.
Baca juga: Dishub Depok Imbau Pemudik, Waspada Berkendaraan Saat Hujan, Bahaya Aquaplaning Mengintai
Apa itu aquaplaning?
Aquaplaning, atau yang dikenal juga sebagai hydroplaning, terjadi ketika air menumpuk di antara ban kendaraan dan permukaan jalan.
Kejadian ini mengakibatkan hilangnya traksi, sehingga pengemudi berpotensi kehilangan kendali atas kemudi, pengereman, dan akselerasi kendaraan.
Aquaplaning sering terjadi ketika kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi di jalan basah, dan ban tidak mampu memindahkan air di permukaan jalan dengan efektif.
Baca juga: Kemenko Polkam: Pergerakan Arus Balik Melalui Tol Cikampek Lancar Terkendali Dipastikan Lancar
Tanda-tanda aquaplaning:
1. Setir yang Terasa Lebih Ringan
Jika setir terasa lebih ringan atau kurang responsif, hal ini dapat menjadi tanda bahwa ban kehilangan traksi dengan permukaan jalan, akibat adanya lapisan air di antara keduanya.
2. Kendaraan Tidak Responsif terhadap Kemudi
Aquaplaning dapat membuat kendaraan sulit diarahkan sesuai dengan masukan kemudi pengemudi. Ban yang tidak bersentuhan langsung dengan jalan membuat respons kemudi menjadi kurang efektif.
3. Putaran Mesin Meningkat tanpa Peningkatan Akselerasi
Jika ban kehilangan cengkeraman dan berputar, putaran mesin dapat meningkat meskipun tidak ada peningkatan akselerasi. Hal ini menunjukkan bahwa ban tidak efektif bersentuhan dengan permukaan jalan karena adanya lapisan air.
4. Rem tidak Merespons Seperti Mestinya
Aquaplaning dapat mempengaruhi kemampuan rem untuk merespons sebagaimana mestinya. Rem mungkin tidak bekerja seperti yang diharapkan, dan kendaraan mungkin membutuhkan jarak pengereman lebih panjang.
Baca juga: Libur Lebaran 2025, Terjadi 30 Kasus Kebakaran dan Penyelamatan di Depok
5. Mesin Berisik Lebih dari Biasanya
Saat ban berputar karena aquaplaning, mesin kendaraan dapat terdengar lebih berisik dari biasanya. Ini dapat menjadi tanda peringatan bahwa kendaraan sedang mengalami aquaplaning.
6. Bagian Belakang Kendaraan Melayang dari Sisi ke Sisi
Aquaplaning dapat membuat kendaraan menjadi tidak stabil, sehingga menyebabkan bagian belakang kendaraan melayang dari sisi ke sisi. Kondisi ini dapat membahayakan kendali kendaraan.
Penyebab Terjadinya Aquaplaning:
1. Genangan Air
Aquaplaning terjadi ketika ada lapisan air tipis di permukaan jalan. Genangan air sedalam 2,5 mm sudah cukup untuk memicu aquaplaning.
2. Kecepatan Kendaraan
Semakin cepat kendaraan bergerak, maka semakin besar kemungkinan terjadinya aquaplaning. Kecepatan tinggi mengurangi waktu yang bagi ban untuk mengeluarkan air di bawahnya.
Baca juga: Libur Lebaran di Kota Religius, Mares Depok Dipadati Pengunjung, Antri Seperti 'Beli Daging' Dipasar
3. Kondisi Ban
Ban dengan kedalaman tapak yang rendah atau ban yang sudah aus tidak dapat menyebarkan air dengan efektif, sehingga meningkatkan risiko aquaplaning. Ban lebar dan low profile juga lebih rentan terhadap kondisi ini.
Untuk mengurangi risiko aquaplaning, penting bagi pengemudi untuk mengurangi kecepatan saat kondisi jalan basah, menjaga jarak aman dengan kendaraan di depan, dan memastikan kondisi ban selalu dalam keadaan baik. (***)